Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Cari hadiah buat Aziz


__ADS_3

Aktivitas berjalan seperti biasa. Usai menyiapkan sarapan, aku memandikan Diaz terlebih dulu.


Iya, aku membiasakan Diaz mandi pagi agar badannya senantiasa segar. Di usianya yang sudah tiga bulan, kini Diaz makin aktif. Badannya sesekali telungkup, tiba-tiba telentang. Melihat perkembangan anak dari 0 bulan hingga saat ini adalah kesenangan tersendiri bagi kaum ibu.


Sering sekali ingin mengeluh lelah, tapi tiap menyentuh kulit lembut nya pasti rasa lelah itu pudar.


"Anak bunda udah ganteng, udah seger... main-main dulu ya!"


Aku mendorong stroller nya dan membawa Diaz ke teras belakang. Belum terlalu panas untuk berjemur bagi bayi seusia Diaz.


Mas Aziz masih berada di kamar mandi saat aku memakai kan baju Diaz.


"Dek...?"


Mas Aziz memanggilku yang sedang berjongkok di depan stroller.


"Kamu sarapan aja dulu mas, aku nanti saja!"


"Kamu kan juga butuh tenaga buat mengurus rumah dan Diaz Dek!"


Mas Aziz turut berjongkok di samping ku.


"Ikutan jongkok, bisa bangunnya?", tanyaku.


Mas Aziz justru cengar-cengir. Untuk jongkok aja susah, apalagi bangunnya.


"Ya udah, kira-kira kapan mas mulai fitness ya dek?"


"Olahraga ngga harus fitness. Joging pagi atau sore juga bisa. Yang penting olahraga. Badan sehat."


"Tapi kalau fitness kaya dulu kan bisa ngebentuk badan. Kamu juga suka kan?"


"Bukan cuma aku yang suka, tapi para pemujamu juga mas!"


"Dek, ayolah...jangan bawa-bawa mereka. Aku cuma nggak pengen bikin kamu malu."


"Bikin aku malu?"


"Iya, malu! Sekarang aku gendud."


"Memang kapan aku mengeluh kamu gendut?"


"Ya enggak sih, tapi kamu suka meledekku begitu."


"Iya...aku minta maaf mas!", ku tepuk lengannya.


"Ya udah ayolah dek sarapan bareng."


"Iya iya....!"


Akhirnya aku dan mas Aziz sarapan bersama. Diaz pun turut menemani sarapan kami meskipun dia hanya berada di stroller.


"Mas ke kios dulu ya dek!"


"Iya."


Mas Aziz mengecup Diaz yang sedang tertawa dan memainkan ludahnya.


"Anak ayah yang pinter, ayah kedepan dulu ya. Jagain ibu lho! Dah sayang....!"


Aziz pun melenggang menuju kiosnya. Imah tengah sibuk melayani beberapa pembeli. Tanpa di minta, Aziz pun membantu Imah.


Setelah beberapa menit kios ramai pembeli, kini hanya tersisa Aziz dan Imah disana.


"Mas, boleh tanya sesuatu?"


"Hem?"


"Dulu...mas sahabatan sama mas Fai?"


"Sejak kapan kamu manggil dia mas?"


"Sejak kemarin mas. Dia nggak mau di panggil ustadz ."


"Oh... mentang-mentang Fai temen deket nya kang Dadan, kamu juga temenan sama dia?"


"Ya elah mas, temenan sama sopo wae boleh toh?"


"Iya lah!"


"Yo we ga sah nesu-nesu kalau Imah atau A Dadan temenan sama mas Fai."


"Dih...siapa yang marah...?"


"Nggak marah, tapi sewot!"


"Apaan sih! Tadi mau nanya apa?"


"Mas Aziz temen deketnya mas Fai dulu ya?"


"Iya! Tapi itu dulu banget!"

__ADS_1


"Kenapa sekarang kalian nggak berteman lagi kaya dulu?"


"Kamu sudah tahu ceritanya, ngapain masih nanya?"


"Mas, menjalin silaturahmi dan persahabatan itu wajib lho!"


"Tapi dengan siapa dulu Imah!"


"Memangnya seberapa besar kesalahan mas Fai sampe peyan benci banget sama dia?"


"Benci sih enggak. Cuma nggak suka aja dia masih ngarepin Dian. Udah tahu Dian itu istriku!"


"Iya, imah juga denger sendiri dia bilang masih cinta sama mbak Di."


"Nah, itu kamu denger sendiri kan? Terus, mas mu suruh berbaik hati gitu sama laki-laki yang jelas-jelas cinta sama istri mas?"


"Ya ...bukan maksud yang gimana-gimana sih mas, kenapa mas nggak hadapi santai aja?"


"Emangnya mas gontok-gontokan sama Fai?"


"Sekarang belum, mbohhh sesuk...!"


"Maksdumu apa sih mah?"


"Iya, peyan tuh jangan terlalu nganggepin mas Fai berlebihan yang ujung-ujungnya bikin peyan emosi dewek toh mas?"


"Suami mana yang nggak marah sih mah liat istrinya terang-terangan di sukai sama laki-laki lain?"


"Marah ya wajar mas, tapi mas juga harus cool ngadepin mas Fai. Jangan menjatuhkan diri mas di depan mbak Di dong!"


"Menjatuhkan gimana?"


"Mas tuh main yang elagen mas."


"Main elagen apa sih mah? Elegan maksudnya?"


"Iya itu maksud Imah ih....!"


"Cara nya gimana?"


"Kalau mas Fai mancing-mancing soal kecintaannya sama mbak Di, mas biasa saja. Tahan aja marahnya. Nah, kalau kebetulan ada mbak Di... perlakuan mbak Di melebihi biasanya tapi nggak pakai lebay. Bisa kan?"


"Ngomong gampang imah, prakteknya susah. Liat Fai liatin istri cantik ku aja mas marah. Gimana mau biasa aja?"


"Makanya di coba dulu atuh!"


"Iya...iya...ah!"


"Gitu dong! Ayo pertahankan cintamu mas!"


"Lha Iyo...aku kan sayang sama kalian berdua. Kalian orang-orang yang sangat berharga buat hidup Imah!"


"Hem....!"


Usai obrolan itu, beberapa pelanggan membeli pulsa dan accesoris ponsel lainnya.


******


Udah tanggal segini, bentar lagi mas Aziz ulang tahun. Kasih hadiah apa ya?


Mau beliin jam tangan, punya nya masih baru. Lagian udah nggak ke kantor pula. Kemeja? Baju? Tas? Ah...biasa banget!


Aku menghampiri laptopnya. Kulihat jejak pencarian. Mas Aziz beberapa kali melihat-lihat motor besar keluaran sekarang. Ada sejenis Nmx, PCX dan entah apa itu.


Aku gugling sebentar, mencari merk dan harga pasaran nya.


Harga yang lumayan, tapi insyaallah tabunganku cukup. Aku masih ada matic Var*o yang sudah ku beli lima tahun lalu.


Oke, aku akan beli motor buat mas Aziz. Jadi, kalau kemana-mana sendiri dia lebih ringkas.


Nanti aku akan menuju showroom motor untuk melihat secara langsung, syukur-syukur langsung ku bayar dan bisa ku bawa pulang 😂😂😂


****


"Dek, kamu mau kemana?"


"Ada urusan sebentar mas. Nitip Diaz ya?"


"Urusan apa? Kemana?", cercanya.


"Ke situ doang bentar! Udah ya, assalamualaikum!"


"Dek...dek... walaikumsalam."


Aku berjalan ke depan menunggu ojol. Selang berapa lama pemotor berjaket hijau berhenti di depan ku.


"Dengan mbak Diandra?"


"Iya saya pak. Mari pak!"


Aku meminta abang ojol agar secepatnya jalan jadi aku bisa segera sampai di showroom motor.

__ADS_1


Aku sudah berada di showroom motor yang tak jauh dari kompleks rumahku. Cukup naik ojol lima belas menit.


"Selamat siang Bu... selamat datang di Nusa Motor!", sapa SPG di showroom.


"Siang mbak!"


"Ada yang bisa kami bantu mbak?"


"Gini mbak, saya mau cari motor model sekarang. Yang body nya besar mbak!"


Si mbak SPG memandang ku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Aku yang dipandang seperti itu juga paham.


"Bukan buat saya mbak. Buat Suami saya. Saya tahu kok badan saya mungil."


"Maaf ya...mbak...bukan maksud saya...!"


"Nggak apa-apa mbak, santai saja! Boleh saya lihat langsung?"


"Tentu mbak, silahkan!"


Aku mendekati deretan motor dengan model dan merk yang berbeda. Sampai aku berhenti di sebuah motor yang kulihat di laptop mas Aziz.


"Kalau ini, cash berapa? kredit berapa?"


Lalu si mbak SPG mengajakku duduk. Dia memberikan informasi tentang harga dan deskripsi dari produk Motor tersebut.


"Kalau saya bayar cash, kira-kira saya minta dua atau tiga hari diantarkan bisa?"


"Hari ini pun bisa mbak sekalipun kredit lho."


"Hehehe saya pengen bikin kejutan buat ulang tahun suami saya mbak!"


"Mbak nya romantis banget....!"


"Enggak lah, itu kan juga uang dari suami heheheheh."


"Jadi, keputusan mbak udah final, yang ini?"


"Iya mbak!"


"Kalau begitu, saya persiapkan semua yang di butuhkan ya mbak!"


Aku pun mengikuti prosedur yang ada. Sambil menunggu mbak SPG, aku berjalan-jalan melihat-lihat motor yang lainnya.


"Di...!", suara mas Fai memanggilku.


"Mas Fai?"


"Kamu ngapain di sini Di? sendiri?"


"Ah... aku lagi pengen liat-liat aja mas."


Aku menjauh dari tempat nya berdiri.


"Diandra!"


"Tolong mas, jangan dekat-dekat sama aku. Aku ngga mau nanti terjadi fitnah diantara kita. Apa lagi aku sedang tidak bersama suamiku!"


"Mbak Diandra?", panggil mbak SPG.


"Iya mbak!"


"Sudah selesai mbak, tinggal melanjutkan transaksi nya!"


"Baiklah!", aku mengekor di belakang mbak SPG.


Alhamdulillah...semua berjalan lancar. Tidak sampai satu jam, aku sudah bisa segera pulang.


"Diandra! Aku antar?!"


"Tidak terima kasih!"


"Tapi Di...!"


"Aku sudah pesan taksi. Trimaksih!"


Aku pun bergegas menuju ke pinggiran jalan untuk menunggu taksi pesanan ku.


Fai pun masuk kembali ke dalam showroom.


"Velly, Diandra beli motor apa?"


"Ini bos, PC* 160. Cash lho pak. Puji Tuhan, syaa dapat bonus lebih dong pak!"


"Hemmm..."


"Mbak Diandra romantis sekali ya pak bos. Beli motor ini buat hadiah ulang tahun suaminya. Wah.... beruntung sekali jadi suami mbak Dian. Kira-kira seperti apa ya tuh orang?"


"Nggak beda jauh sama saya. Bedanya, perut suami Dian sekarang lebih maju!"


"Lho, bapak kenal sama suaminya mbak Dian?"

__ADS_1


"Iya. Diandra mantan pacar saya!", Fai melenggang menuju ruangan nya.


Si Velly dan kawan-kawan nya hanya mampu melongo, melihat pak bos nya yang biasa dingin bisa curcol seperti itu. Pantesan aja gak nikah-nikah , orang mantannya cakep begitu sayang nya udah bersuami, gumam Velly.


__ADS_2