
Tok...tok....
"Fai, Abah mau bicara!"
Fai pun membukakan pintu kamar nya untuk Abah. Tapi, dia berbalik lagi ke depan jendela kamar nya.
"Ada apa Fai?", tanya Abah.
"Tidak ada apa-apa Bah!", jawab Fai dengan masih memandang ke luar jendela.
Abah menepuk bahu anak lelaki satu-satunya itu.
"Apa kamu ragu lagi?", tanya Abah.
"Tidak Bah. Fai siap meminang Mika!", kata Fai pelan.
"Lalu ? Kenapa dari tadi kamu tidak keluar? Kami semua menunggu mu!"
"Tadi ... Fai sudah keluar Bah, hanya saja... melihat Aziz begitu erat menggenggam tangan Dian, ada rasa nyeri di dalam hati Fai."
"Bukankah kamu bilang kalau kamu sudah ikhlas Dian bersama Aziz?"
"Iya bah. Fai bahagia jika melihat Dian bahagia."
"Tugas mu sekarang adalah berusaha mencintai Mika, calon istri mu."
"Mika pun melakukan hal yang sama bah. Dia pun sedang berusaha melupakan perasaan nya ke Damar."
"Apa?" pekik Abah.
"Abah lihat perempuan anggun yang bersama Imah itu? Dia... perempuan yang Damar inginkan jadi pendampingnya. Fai dan mika hanya merasa senasib Bah. Bahkan kami memaksakan diri untuk berusaha saling mencintai, meskipun kami sendiri tidak tahu. Sejauh ini, kami hanya berusaha dekat dan saling terbuka."
Abah diam saja mendengar curhatan anaknya itu.
"Seandainya saja saat itu Fai tidak meninggalkan Dian ya Bah. Fai tidak akan sesakit ini melupakan gadis pujaan Fai."
"Nak, maaf kan Abah . Abah tidak tahu kalau... kalau perasaan mu seperti..."
"Sudah bah, lupakan saja. Fai masih ingin sendiri. Kita berangkat satu jam lagi kan? Biarkan Fai sendiri."
Fai kembali membalikkan badannya ke arah luar jendela.
Dengan langkah gontai ia menemui Aziz dan keluarga nya di bawah. Matanya beralih kepada Aziz dan Dian. Mereka terlihat sangat bahagia. Jika saja dulu dirinya tak egois, memaksa kehendak nya pada Rifai, mungkin Fai sudah bahagia bersama gadis pujaan hatinya. Rifai terlalu tunduk menjadi seorang anak yang berbakti pada orang tuanya. Penyesalan selalu datang di akhir.
"Rifai nya mana Bah?'', tanya umi.
Bukannya menjawab, Abah justru melihat ke arahku. Setelah itu beliau baru menjawab pertanyaan umi.
"Fai belum mau turun Mi. Abah cemas, dia akan berubah pikiran lagi." Abah menjawabnya tanpa rasa malu. Abah berpikir, mereka itu orang-orang terdekat Fai.
Mas Aziz memandangku dengan pandangan entah apa itu.
__ADS_1
"Umi akan membujuknya!", seru umi.
"Percuma Mi, kita tidak akan pernah Fai dengarkan."
Iya, umi sadar. Fai memang lebih dekat dengan Abah nya di banding dirinya.
"Aziz?", panggil Abah.
"Kenapa bah?", tanya Aziz.
"Apa kamu mengijinkan Dian untuk membujuk Fai?", tanya Abah ragu-ragu. Mas Aziz memandangku. Sedangkan aku, aku hanya menggeleng. Aku tidak ingin membuat kekacauan di sini. Bagaimana mungkin Abah memiliki ide seperti itu? Dan aku yakin, mas Aziz tidak akan mengijinkannya.
Dari sebelum kami berangkat saja dia sudah pasang mode cemburu. Bagaimana mungkin dia akan mengijinkan nya?
"Aziz ijinkan bah, tapi...terserah Dian saja!", jawab Aziz sambil menatap ku lagi.
Aku menggeleng pelan.
"Maaf bah, Dian nggak bisa. Lagi pula, kenapa harus Dian? Ada mas Aziz atau kang Dadan yang mungkin bisa membujuknya. Mereka sangat dekat."
"Abah tahu Dian, kamu pasti merasa tidak enak hati dengan suami mu. Tapi tolong Di, Abah rasa cuma kamu yang bisa membujuknya. Abah tidak ingin rencana ini gagal Nak! Tolong, kamu yakinkan Fai ya Dian!", kata Abah memohon.
Aku tak bergeming. Kenapa harus aku? Bukan kah aku juga turut bahagia dengan rencana ini?
Mas Aziz meraih bahuku.
"Dek, tolong Abah. Fai pasti akan mendengar ucapan mu. Kamu tidak ingin kalau Mika kecewa bukan?", tanya mas Aziz.
"Tapi mas...".
"Iya mas!"
"Mas percaya padamu. Kamu pasti bisa membujuk Fai. Kamu sendiri yang bilang, kalau kamu ingin membantu Mika berjuang untuk mencintai dan di cintai Fai?"
Aku mengangguk. Iya, aku ingin mika dan mas Fai bisa saling mencintai. Meski perlu waktu. Tapi, akan berusaha menyatukan mereka. Aku sendiri tak paham dengan perasaan ku.
"Baiklah mas!", akhirnya aku menyetujui nya.
Mas Aziz tersenyum mendengar jawaban 'mau' dariku.
"Tapi, apa ada yang akan menemani ku bicara dengan mas Fai?", tanyaku. Herannya, mereka semua kompak menggeleng.
"Ish....kalian jahat sekali!", kata ku sambil mendengus kesal.
"Mana kamar mas Fai Bah?",tanyaku.
"Naiklah, belok kiri pintu berwarna putih." jawab Abah.
Aku pun melangkah dengan ragu-ragu. Rumah ini mewah sekali. Berbanding terbalik dengan kosan mas Fai saat itu. Dia anak orang kaya yang pura-pura susah hanya untuk mendapatkan ku! Tapi dia jiga berhasil memporak-porandakan perasaan ku.
Dengan mengucap bismillah, aku coba mengetuk pintu kamar nya.
__ADS_1
Tok...tok...
"Jomblo akut, aku mau bicara!", kataku di balik pintu.
Fai yang tadinya masih memandang ke arah luar, langsung terkesiap dan melangkah kan kaki nya membuka pintu.
"Dian?"
"Boleh aku masuk? Eh, salah. Kita bicara di luar saja!", kataku.
"Bicara apa?", Fai melenggang masuk ke dalam kamarnya.
Tadi aku kan bilang bicara diluar. Tapi kenapa dia malah masuk???
Mau tidak mau aku pun masuk ke kamar nya. Sengaja ku buka pintu kamar nya lebar-lebar. Agar tidak terjadi fitnah. Apalagi ini di rumah orang tua mantan ku.
Mataku memandangi isi ruangan kamar Fai. Kamar yang luas, nyaman dan mewah. Berbanding terbalik dengan kosan nya dulu.
Aku melangkah mendekati meja di dekat lemari pakaian. Ini?
"Mas? Ini boneka....??"
"Iya, aku masih menyimpan nya."
Ada boneka, jam weker, bingkai foto yang berisi foto tangan ku dan mas Fai, serta kenangan-kenangan lainnya. Iya, tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Kami menyia-nyiakan waktu itu hanya untuk hal yang tidak pernah akan ada ujungnya.
"Kenapa tidak di buang saja?"
"Kapan-kapan akan ku buang!", jawab Fai singkat.
"Kamu dari tadi ngapain mas, kami sudah menunggu mu dari tadi."
"Nanti juga aku akan turun."
"Memangnya kamu nggak mau basa basi dengan kerabat mu yang lain dulu?"
"Untuk apa? Toh, yang penting ada kamu."
"Kenapa dengan ku?"
"Kamu senang aku akan menikahi Mika?"
"Tentu saja lah. Pertanyaan apa itu sih mas!"
"Apa sudah tidak ada rasa sedikit pun di hatimu Di?"
"Lupakan lah mas! Ayo kita keluar!"
Aku pun melangkah keluar, tapi tangan Fai mencegahku.
*******
__ADS_1
Bukan mahram, jangan pegang-pegang Rifai....
Selanjutnya apa ya?????