
Aya nu kangen jeung kang Dadan teu????
Insya Allah, kalau ada bahasa daerah yang kurang umum, mau di sematkan artinya ya. Maaf kalau arti atau penulisan nya salah 🙏🙏🙏. Terimakasih yang sudah memberikan kritikan yang membangun buat saya 😉
*****
Dadan sudah mulai sibuk mempersiapkan hari pernikahan nya. Rencananya, dia akan melangsungkan ijab kabul nya di rumah sederhana nya. Tepatnya bersebelahan dengan warung soto mie nya.
"Dan, cincin nya teh sudah maneh siapkeun?", tanya Enak .
"Sudah Mak."
"Naon deui Dan? Emak ngabantuan naon?"
(Apa lagi Dan? Emak bantuin apa?)
"Mak. Mak istirahat. Capek Mak. Kadieu!(Kesini)"
Dadan meminta maknya duduk.
"Mak, biarin Dadan yang nyiapin semua nya. Mak tenang wae nyak. Yang penting Mak sehat terus, ulah capek-capek teuing."
"Karunya atuh Jang!", kata Mak memelas.
(Kasian lah Jang)
"Mak, pokoknya mah...Mak santai wae. Mak terima beres."
"Nya nggeus atuh! Iraha si Imah balik kadinya?"
(Ya udah lah! Kapan Imah balik ke sini?)
"Engke penting Mak!"
(Nanti malam Mak)
"Malang teh jauh ya?"
"Iya Mak. Di Jawa timur."
"kapan-kapan kita ke sana ya Yah?!", kata Farhan tiba-tiba.
"Lho, kamu udah pulang nak? kok nggak ngasih salam?", ucap Dadan.
"Poho yah heheheh. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam. Ya udah, sana cuci tangan ,ganti baju terus makan ya!"
"Iya yah!"
"Mak juga istirahat di dalam ya."
"Iya."
Mak dan Farhan pun masuk ke kamar mereka masing-masing.
Akhirnya, setelah melalui masa sulit itu aku dan Imah bisa menikah. Alhamdulillah. Semoga Imah memang jodoh yang terakhir untuk ku. Dan...aku juga berharap, Imah akan menjadi ibu yang baik untuk Farhan. Tidak hanya untuk Farhan, tapi juga untuk anak-anak kami kelak.
Dengan pengalaman dan masa lalu yang sama, Farhan dan Imah merasa ada kecocokan. Sama-sama menjadi anak yatim! Kadang, Imah bisa menempatkan diri menjadi seorang kakak sekaligus seorang ibu.
Meski kadang kelakuan Imah yang absurb bin konyol, tapi justru dia menunjukan apa adanya seorang Imah.
Dadan kembali merapikan barang-barang yang di siapkan untuk calon istrinya. Dia sudah tidak sabar menunggu Minggu depan. Apalagi, besok juga dia dan Imah akan menghadiri acara lamaran sahabatnya, Fai!
Dadan berjanji dalam hati, jika semua sudah selesai. Dia akan menyiapkan mobil untuk Imah. Mungkin memang tak sebagus apalagi semewah mobil Fai. Tapi, setidaknya jika Dadan, Imah ,Farhan dan Emak ingin pergi sudah ada kendaraan yang akan dia pakai.
Tidak ingin kredit seperti orang-orang, Dadan hanya ingin membelinya sesuai dengan kemampuan nya.
Rumah sederhana ini, jerih payahnya sendiri setelah berpisah dengan Feby. Selesai kuliah, dia merintis usaha ini hingga sesukses sekarang. Dadan ingin, kelak istrinya tak merasa kekurangan saat mendampingi hidupnya.
*******
"Mas...!", panggil Fai yang sedang menyetir mobilnya.
"Kenapa Mika?"
__ADS_1
"Apa kamu sudah merasa ada sedikit rasa cinta ke mika?"
Fai menatap heran ke calon istrinya itu.
"Pertanyaan apa sih Mika?"
"Jawab mas. Udah belom?", tanya mika lagi.
"Belom Mika! Maaf, tapi kan kamu juga tahu...kita butuh proses."
"Tapi...aku udah jatuh cinta sama kamu mas!"
Wajah Fai bersemu merah. Gadis agresif ini kaya lagi nembak aja deh.Batin Fai.
"Benarkah? Bagus dong!", Fai mencoba menutupi kegugupannya.
"Iya. Berati, aku boleh cemburu dong?"
"Cemburu sama siapa?"
"Sama...sama perempuan lain lah mas!", kata mika merengek.
Setiap mendengar mika merengek begini, rasanya ingin sekali aku mencubit pipinya itu. Gemes!!!! Batin Fai.
"Iya, perempuan siapa? Dian? Kamu kan sudah tahu dari awal mika sayang....!" kata Fai geregetan.
"Apa mas...ulangi coba?"
"Ulangi apa nya?"
"Tadi....! Mika sayang gitu!"
"Kapan aku bilang kaya gitu?", Fai masih fokus menyetir.
"Tadi mas ayo ulangi lagi!"
"Nggak ah. Nggak ada siaran ulang."
"Mas Fai mah gitu!"
"Bilang mika sayang gitu, kaya tadi mas....!", Mika kembali merengek.
Dasar gadis agresif, jangan-jangan besok kalau udah sah jadi istri dia yang bakal minta hak nya duluan. Oops....! Mikir apa sih kamu Fai!
"Iya...iya...Mika sayang. Calon istri ku! Udah?"
"Hehehe gitu dong, kan aku senang mas."
Fai reflek mengusap kepala Mika.
"Apa kamu memang manja Mika?"
"Biasanya sih nggak mas. Tapi ...aku boleh kan manja sama kamu?"
"Untuk sekarang-sekarang ya jangan dulu lah. Kan kita belum sah!"
"Setelah kita menikah baru boleh gitu?"
"Iya. Mau manja atau mau apa pun terserah kamu. Insyaallah, kalau aku bisa pasti akan ku penuhi."
"Habis nikah, umroh ya mas?"
"Emang boleh? Kan masih pandemi?"
"Ya udah, bulan madu!"
Ya salam....lamaran aja belum, apalagi nikahnya. Eh, udah mikir bulan madu.
"Emang mau ke mana bulan madunya?"
"Capadocia? its my dream mas!", kata Mika terkekeh.
"Deket amat ? Kenapa nggak ke Greenland atau ke mount Everest?"
"Emang capadocia kurang jauh mas? Turki lho mas!"
__ADS_1
"Oh...kirain salah satu daerah di Jawa barat gitu!"
"Mas Fai mah....emang nggak pernah nonton serial itu tuh, Layangan Nyangkut? Seru tau mas!"
"Nggak tahu lah. Kapan nonton serial nya."
"Kan bisa nonton lewat aplikasi di hp mas."
"Oh...nggak pernah."
"Pantas aja, mas kurang gaul."
"Iya, mas bisanya menggauli!", jawab Fai sekenanya.
"Apa? Coba ulangi lagi?"
"Nggak ada siaran ulang!"
"Heummmm....gitu kamu mas! Baiklah, dari acara lamaran langsung berubah jadi acara ijab qobul aja gimana? Mau nggak?"
"Apaan? Nggak salah?", kata Fai tiba-tiba menghentikan mobilnya.
"Lho...bukankah lebih cepat lebih baik mas? Niat baik kan harus disegerakan!"
"Tapi yang namanya nikah kan nggak bisa buru-buru juga kali mika."
"Yang buru-buru siapa? Masih ada hari ini buat daftarkan diri di KUA. Tinggal minta surat-surat kamu dan aku. Beres kan?"
"Mika...! jangan bercanda!"
"Aku serius mas....!"
"Nanti apa kata orang, di kira aku udah ngapa-ngapain kamu lagi."
"Ngapain gimana sih? Kamu aja nggak pernah megang aku kan? Paling banter ngusap kepala ku doang."
"Mika....!", panggil Fai pelan.
"Mas, aku cuma mau kita sama-sama melupakan mereka mas. Biar kita nggak perlu berpura-pura lagi kalau kita baik-baik saja. Kita buktikan kita bisa bahagia juga seperti mereka."
"Mika, dengerin mas ya. Mas mau menikahi kamu. Sungguh! Tapi ...tidak bisa buru-buru seperti ini. Kamu tahu, Imah dan Dadan juga akan menikah Minggu ini."
Mika terdiam. Semoga pemikiran nya tidak neko-neko lagi.
"Mika, dengarkan mas! Mas akan menikah sama kamu, insyaallah akan ada cinta diantara kita. Oke, kamu bilang kamu sudah jatuh cinta sama mas. mudah-mudahan mas juga secepatnya bisa jatuh cinta sama kamu. Bersabarlah Mika!", mas Fai kembali mengusap lembut kepala mika.
"Iya mas!" , kata Mika lirih.
"Tidak akan lama mika. Insyaallah secepatnya, setelah kita mempersiapkan segala sesuatunya."
Mika terdiam lagi.
"Sudah sampai!"
Mobil Fai sudah berada di depan rumah Mika.
Tanpa suara, mika pun mencoba turun dari mobil Fai. Tapi ternyata pintunya belum bisa di buka.
"Buka pintu nya mas!"
"Kalau kamu masih ngambek, mas nggak mau buka!"
"Oh, jadi...kita mau berduaan sampai pagi si mobil? Oke! Dengan senang hati."
"Eh....nggak...nggak...iya. mas buka!"
Mika tertawa dalam hati, emang enak gue kerjain.
"Sampai jumpa besok sore!,", kata mika melambaikan tangannya.
"Iya. Masuklah. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
Mobil Fai menuju rumah Abah lagi. Dia teringat dengan Mika yang merajuk ingin secepatnya menikah dengannya. Dasar gadis agresif!
__ADS_1