Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 197


__ADS_3

"Bagaimana Fa?", tanya Zaki pas Syifa.


"Maaf Bi, Rahayu tidak mau menerima pinangan Abi."


Syifa tertunduk takut pada suaminya.


"Alasannya apa? Apa karena ada pria lain?", tanya Zaki lagi.


"Dia memang belum memutuskan nya Bi. Tapi...pria itu seorang dokter, teman mas Aziz sekaligus teman kuliah nya dulu."


"Dokter?"


"Iya Bi."


"Ya udah terima kasih. Nanti Abi yang akan menemui Hayu sendiri."


Syiga pun meninggalkan Suami yang ada di ruang tamu.


Perasaan nya lega saat hayu menolak pinangan suaminya itu.


.


.


.


[Assalamualaikum. Mas!]


Hayu menelpon damar kali ini. Dia sudah berpikir berulang-ulang dari tadi.


Sedangkan damar, yang tiba-tiba di telpon oleh pujaan hatinya pun bersorak kegirangan.


[Walaikumsalam. Stev?? Ya Allah, mimpi apa aku semalam di telpon sama kamu sepagi ini]


Hayu menghela nafasnya.


[Bisa kita bertemu mas?]


[Bisa!]


Damar langsung menyahut pertanyaan Hayu.


[Kalau kamu sedang tidak berdinas, datang lah ke kios mas]


[Tentu, aku akan ke sana sekarang. Jadwal dinas ku nanti sore kok.]


[Terimakasih. Assalamualaikum]


Belum dijawab Damar, panggilan itu udah di putus.


Damar yang masih bergelung di bawah selimut pun melompat ke kamar mandi. Dia semangat sekali akan bertemu Stevi, pujaan hatinya selama ini.


Tapi, damar juga berpikir. Ada apa Stevi menghubungi nya sepagi ini?


Apakah.... Stevi sudah memaafkan nya? Mau memberikan kesempatan untuk nya???


Wajah damar berbinar-binar. Dia tak peduli apa yang akan Stevi katakan nanti. Yang penting, Stevi mau menelpon nya saja sudah kemajuan yang signifikan baginya.


Hanya dalam hitungan meniti, Damar pun meluncur ke kios Aziz.


.


.


.


.


"Sayang...rumah mama Selly gede juga ya? Kita butuh art nih?", kata Fai.


"Iya sih. Tapi nanti lah gampang. Kalau kita sudah selesai resepsi. Memangnya....mas mau kegiatan panas kita terganggu oleh kehadiran orang lain?", tanya Mika sambil mengalungkan tangannya di leher Fai.


"Apa kamu sedang menggodaku sayang???"


"Apa perlu jawaban dariku?", Mika membalikan pertanyaan.


Dan....pagi menjelang siang itu menjadi sangat panas bagi sepasang pengantin baru ini.


Keduanya mandi bersama usai menyelesaikan ritual mereka berdua. Rumah baru, status baru.

__ADS_1


"Sayang....aku harus ke showroom. Dadan kado beli mobil."


"Oh ya. Aku ikut!"


"Ayok!"


Mereka berdua pun bergegas menuju showroom. Rumah mama Selly memang lebih dekat ke showroom dan rumah sakit di bandingkan dengan rumah papa Umar apalagi rumah Abah.


Sesampainya di showroom, Dadan baru saja menjatuhkan bobot nya d kursi tunggu.


"Assalamualaikum!", sapa Fai tiba-tiba.


"Walaikumsalam. Bro? Kok cepet banget udah sampe sini aja?"


"Iya lah. Pantas!"


Dadan melirik Mika yang dari tadi diam.


"Kenapa mika? Sariawan?", tanya Dadan.


"Nggak sih A Dadan. Cuma sedikit perih bibir nya!", keluh Mika.


"Makanya bro.... jangan kasar-kasar mainnya lah....kasian kan anak orang!", tegur Dadan.


"Kaya Lo nggak aja sih Dan!", kata Fai besungut-sungut.


"Hahaha... habisnya enak sih!", jawab Dadan. Dan mika hanya tertawa melihat tingkah konyol dua sahabat itu.


Anak-anak menyambut bos dan istri nya itu dengan penuh suka cita. Dari semenjak Fai menikah, dia baru datang ke showroom nya.


"Velly....!", panggil Fai.


"Siapkan faktur pembelian mobil Avanza xx atas nama ....?"


"Eh ...Lo pake nama siapa?", tanya Fai ke Dadan.


"Nama Lo aja!", kata Dadan santai.


"Enak aja Lo. Lo mau gue kena pajak progresif gara-gara mobil Lo satu ini?"


"Dih....lagak Lo? Lo nggak nyadar, barisan mobil Lo di rumah Abah?!"


"Banyak alasan Lo Ferguson!!!"


"Dih ...sejak kapan nama gue di ganti."


Di tengah perdebatan duo sahabat itu, ponsel mika berdering. Mika pun mengangkat sambung telpon itu.


"Mas....maaf, aku harus ke rumah sakit."


"Kenapa?"


"Ada pasien yang membutuhkan pertolongan Ki mas.... diijinin kan???"


"Tapi...kalau kamu pergi sekarang, nanti sore nggak piket kan!?"


"Liat nanti saja mas. Aku pinjem mobil mu mas!", mika menadahkan tangan nya.


"Mas anterin!", Fai berdiri dari kursinya.


"Nggak usah. Kamu kan juga harus mengecek pembukuan showroom. Udah berapa hari coba."


"Tapi....''


"Timbang ke rumah sakit bro. Deket ini. Kaya di tanggal ke mana aja sih. Lebay!", ledek Dadan.


"Bisa diem nggak Lo!", gertak Fai.


"Mas...aku ke rumah sakit Deket situ aja."


"Ya udah. Hati-hati!"


"Jangan manyun dong!"


Fai tersenyum menunjukkan gigi rapihnya.


Mika pun meninggalkan ruangan Fai. Dan segera menuju rumah sakit.


"Gimana bro? Bisa di korting kan?"

__ADS_1


"Nggak. Nggak usah ngarep!"


"Ayolah Fai, sepuluh juta doang!", kata Dadan merayu.


"Doang? Teman ya teman. Bisnis ya bisnis lah!"


"Lo bro! Nggak kasian Lo sama gue yang miskin ini!"


"Mana ada miskin beli mobil. Cash pula!"


Dadan cengengesan.


"Mana sini duitnya!"


"Dih....ijo banget sih Lo sama duit! Nih....!", Dadan menyerahkan uang nya pada Velly yang bingung dari tadi melihat dua pria tampan di hadapan nya.


"Hitung Vel!", sahut Fai cepat.


"Dih... najong! Itu dua ratu! Enam juta nya gue transfer! Kapan-kapan hahahahah.....!"


Velly menggeleng kan kepalanya.


"Lo bener-bener ya! Kalo bukan iparnya Aziz gue ogah tahu transaksi nggak jelas begini!", kata Fai mengumpat.


"Bodo amat!", ledek Dadan. Mereka berdua seperti Tom dan Jerry. Padahal dulu saat Fai masih jadi guru ngaji Farhan, mereka tak seperti ini.


'Owh...ini iparnya mas Aziz? Adik iparnya mantannya Mas Fa'i dong? Batin Velly.


"Vel, tolong kamu yang urus ya. Urusan bonus, minta ke dia langsung!", titah Fai pada Velly.


"Siap bos!"


"Terserah Lo Fai!", kata Dadan.


"Eh, abis gue resepsi kita jadi honeymoon ke Bali?", tanya Fai.


"Insyaallah", jawab Dadan lesu.


"Lo kenapa?", tanya Fai.


"Mak gue, Mak gue pengen Imah buruan hamil. Lo tahu kan emak udah sepuh. Tapi...kami aja kan baru nikah sebulan. Masa iya harus buru-buru kejar setoran buat bikinin Mak Cucu."


"Ya... sabar aja lah bro. Kali aja abis bulan madu, Lo di kasih momongan."


"Lo juga kan?"


Fai mengangguk.


"aamiin....!", mereka berdua kompak mengaminkan doa yang sama.


Ponsel Fai berdering.


Damar calling.....


[Hallo... assalamualaikum!]


[walaikumsalam. Kenapa Lo?]


[Gue otw ke rumah Aziz]


[Terus? Urusannya sama gue apa?]


[Ish...Lo dasar ya! Gue di telpon stevi tadi pagi. Dia mau ketemu gue!]


Suara damar terdengar begitu riang dan memekakkan telinga. Untung aja loud speaker. Jadi nggak langsung nempel di kuping.


[Baru di telpon aja gitu amat senengnya!]


Dadan ikut komen.


[Eh...ada bos soto! Lagi pada dimana sih?]


[Gue sama Dadan di Showroom. Abis beli mobil nih kang soto]


[Widih.... banyak duit lho bro!]


[Iya lah...gimana nggak banyak duit. Miara tuyul aja banyak kok!]


Hahahah mereka kompak tertawa bersama-sama.

__ADS_1


__ADS_2