
" Biar mas aja yang buang sampahnya dek!"
"Nggak usah mas, aku saja. Tangan ku sudah terlanjur kotor. kamu jagain Diaz aja mas!"
"Kamu mau keluar seperti ini?", tanya Aziz.
Aku heran, seperti ini bagaimana? Apa yang salah dengan ku?
Mas Aziz mengambil pastan yang ada di jemuran. Ya Allah, aku lupa tak memakai jilbab sejak tadi karena jilbab yang sebelumnya ku pakai kotor dan basah.
Mas Aziz memakai kan pastan itu. Dia melakukan nya dengan sepenuh hati.
"Mas tidak rela, ada laki-laki lain yang melihat mahkota mu selain mas!"
Aku menatap manik matanya sesaat.
"Apa mas pikir aku rela ada perempuan lain menikmati tubuhmu mas?"
Tanpa membutuhkan jawaban apa pun dari mas Aziz, aku keluar membawa kantong sampah.
Sebenarnya tidak ada niat ku untuk mengatakan hal itu, hanya saja saat dia bilang tidak rela ada yang melihat rambut ku selain dirinya kata-kata itu spontan keluar dari mulut ku.
'' Maafin mas Dek!"
Sebelum ku buka pintu penghubung kios dan dapur, aku mendengar keributan di depan gerbang. Aku mendongakkan kepalaku lewat pintu lorong.
Ya Salam...dua ulat bulu itu sedang bersitegang di depan pintu gerbang rumahku. Mereka tak ada capek-capeknya memperebutkan mas Aziz ku.
Sebelum aku keluar, aku kembali ke mas Aziz.
"Kok balik dek? Kenapa?"
"Jangan keluar rumah! Ada dua ulat bulu di depan rumah. Tetaplah disini atau kalau perlu mainlah di kamar saja!"
Aku seperti prajurit yang ingin melindungi rajanya dari sang musuh. Dimana-mana wanita yang diminta berlindung, ini sebaliknya. Aku justru meminta mas Aziz agar dia yang bersembunyi.
Dengan langkah pasti aku membawa kantong sampah ku ke arah mereka berdua. Karena memang letak tong sampahku ada disana.
Aku membuka gembok gerbang, keluar lalu mengunci nya kembali.
"Lho...Dian... kenapa di gembok lagi?", tanya Feby.
"Rumah siapa? Rumah saya kan? Jadi terserah saya!"
"Gue mau ketemu Aziz, udah lama gak ketemu sama dia. Gue kangen."
__ADS_1
"Cih... kangen-kangen apaan Lo!", sahut Lili sengit.
"Kalian ngapain pada ribut di depan rumah saya?"
"Gue mau ketemu Aziz!", sahut Lili dan Feby kompak.
Waw...keren banget ya, nggak cuma kompak jadi pelakor. Mereka juga kompak bikin keributan di depan rumahku.
"Maaf ya, mbak-mbak pelakor yang cantik-cantik...suami saya lagi nggak bisa di ganggu. Lebih baik kalian pulang!"
"Di, jadi perempuan jangan egois dong. Gue cuma mau ketemu sama Aziz. Gitu aja!", sahut Feby.
"Terus kalau ketemu mau apa?", aku berkacak pinggang di depan mereka. Ya, postur badanku yang standar Indonesia dengan tinggi 155cm berdiri di hadapan mereka berdua seperti seorang anak SMP.
"Ya... ngobrol lah!", jawab Feby gagap.
"Memangnya kalian itu nggak ada kerjaan apa? Hobi banget kesini gangguin rumah tangga saya?"
"Dian, gue yakin Lo pasti habis berantem kan sama Aziz? Sayangnya Lo gak liat gimana permainan ranjang gue sama Aziz kemarin."
Lili memutari badanku. Feby terbelalak mendengar ocehan Lili.
"Pantas saja Lo ga mau berbagi Aziz sama gue, suamimu perkasa sekali!", bisik lili. Ingin kuremas mulut lemesnya. Jelas-jelas dia sudah berbohong. Imah dan mas Aziz saja mengaku tak ada adegan seperti yang Lili katakan.
"Maksud kamu? Kamu tidur sama Aziz lagi hah?", justru Feby yang tersulut emosi.
Mendengar ocehannya tadi sungguh membuatku merasa semakin jijik dengan Lili. Feby memang terobsesi dengan mas Aziz, tapi dia tidak melakukan hal bodoh seperti Lili.
"Lo.....!", telunjuk Feby mengarah ke wajah Lili.
"Kalian pergi dari sini, saya tidak mau ada keributan di rumah saya!"
"Gue bakal pergi setelah gue ketemu laki Lo!", ancam Lili.
Tapi tidak dengan Feby, entah kesal seperti apa yang dia rasakan hingga ia terlebih dulu meninggalkan rumahku.
Gilak! Gue kalah cepat sama si Lili brengsek itu, gumam Feby usai masuk ke dalam mobilnya.
"Saya tidak mengijinkan anda menemui suami saya. Apalagi ini rumah saya!"
"Tapi , biasanya juga tanpa ijin darimu, kami bisa bertemu. Bahkan bisa melakukan hal lebih gila lagi."
"Saya tahu kamu bohong! Mas Aziz tak melakukan apapun kemarin. Kamu yang terlalu agresif, terlalu aktif menggoda suamiku. Sayangnya, suamiku hanya tertidur tidak bisa membalas perbuatan kejimu!"
"Siapa bilang Di? Kamu masih percaya saja dengan mulut suamimu?"
__ADS_1
"Tentu aku percaya dengan suamiku. Dia tidak akan pernah berani membohongi ku lagi. Kesalahannya saat itu bukan semata-mata karena keinginannya, tapi karena ulah licikmu!"
"Hahahaha....kamu polos sekali Dian!"
"Iya, kamu yang terlalu hebat mbak Lili!"
"Kamu mau mengakui kehebatan ku?"
Aku tersenyum simpul.
"Sayangnya...kamu kalah pintar sama Imah mbak!"
"Imah?", lili memicingkan matanya.
"Imah yang sudah menghapus video itu dari ponsel Bu Tati."
"Apa? Nggak, nggak mungkin!", ucap lili lantang.
"Apa yang nggak mungkin mbak? Apa Bu Tati tak mengakui kalau Imah yang menghapus nya?"
"Mana mungkin bisa?"
"Buktinya bisa kan? Jadi, lebih pintar sedikit mbak Lili. Jangan menggunakan cara yang sama! Dan lagi, jangan harap bisa meruntuhkan dan merusak rumah tangga saya!"
Aku meletakkan kantong sampahku. Lalu masuk kedalam dan kembali mengunci gembok gerbang ku.
Aku melenggang masuk ke dalam rumah ku lagi. Mencuci tanganku yang kotor dan bau bekas sampah tadi.
Usai bebersih, aku melongok kamar ku. Kudapati mas Aziz tengah tertidur pulas di samping Diaz.
Dua laki-laki kesayangan ku terlihat sangat tampan.
Ya Allah... biaralah kami selalu bersama. Jadikanlah keluarga kami yang sakinah mawadah warohmah.
Tetapkan hati kami agar kami senantiasa berada di jalan mu. Mengikuti ketetapan mu. Kuatkan lah iman dalam diri kami.
Aku mendekati mereka berdua, lalu turut berbaring di sebelah Diaz.
Saat akan memeluk Diaz, mata mas Aziz terbuka.
"Maaf dek, mas ketiduran!"
"Nggak apa-apa mas! Kita istirahat saja mas sebentar."
Mas Aziz pun menurut. Dia menatapku penuh cinta.
__ADS_1
"Dek, jangan pernah tinggalkan mas ya!"
Aku mengangguk oelan.