Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Allah yang mempertemukan kita


__ADS_3

Sejak mam tahu kalau Imah itu sepupu mas Aziz,beliau lebih sering ke sini.Tak lupa selalu membawakan buah tangan untuk ku. Entah itu makanan ringan atau sekedar buku bacaan.


Hari ini mas Aziz pergi belanja ke agen langganan kami. Awalnya aku ingin ikut, tapi mama melarangku. Iya, perutku sudah semakin membesar.


"Jangan kemana-mana nak.Inget usia kandungan mu.Bukan mama mendoakan yang tidak-tidak,namanya lahiran meskipun sudah ada tanggal prediksinya bisa juga lho lahir sewaktu-waktu." Mama menasehati ku. Jadi,mas Aziz terpaksa belanja sendiri.


"Di, sini deh.Lihat deh,ada box bayi,baju bayi, stroller....ih... banyak yang lainnya nih. Mama beliin ya buat calon cucu mama?", tanya mama menunggu persetujuanku. Padahal biasanya a dia yang suka memutuskan segala sesuatu tanpa bertanya padaku. Ya Allah Alhamdulillah,semoga mama memang sudah berubah menjadi lebih baik.


"Coba tan,Imah yang pilih...!", Imah turut milih gambar yang ada di aplikasi belanja online mama.


"Terserah kalian saja lah.Dian pasrah aja."


Mereka berdua begitu bersemangat memilihnya.


"Bagus semua kan pilihan Imah ?", tanya Imah ke tantenya,mama mertuaku.


"Iya...iya....seleramu lumayanlah."sahut mama.


"Kan diajarin sama mbak Di.Beruntung sekali Imah bertemu kalian disini." Kata Imah dengan nada sendu. Kami bertiga berpelukan seperti Teletubbies.


"Oh iya tan, boleh Imah tanya?", tanyanya ke mama.


"Kenapa?", tanya beliau.


"Tante kenal sama ibu?Maksud Imah Bu Tati?", tanya Imah. Aku menyimak obroalan mereka.


"Begini ceritanya imah...Dian....",kata mama mulai bercerita.


(Cerita mama)


Ismayanti,saat itu hamil Imah.Karena kehamilannya semakin besar, keluarga meminta Setiawati untuk mencarikan art untuk isma. IRt itu ,Bu Tati. Waktu itu,Bu Tati masih muda. berstatus janda beranak satu.Janda ditinggal sama suaminya. Namanya laki-laki, kalau lihat yang bening sedikit pasti tergoda apalagi istrinya tengah mengandung.Dia merasa kurang puas.Isma mengetahui perselingkuhan Setiawan dan Tati. Lalu Isma pun melahirkan Imah.Karena Keluarga kakek merasa malu dengan kelakuan Setiawati,maka kakek pun mengusir mereka.


Setiawan pun dengan senang hati meninggalkan rumah keluarga besar kami,asalkan membawa Imah. Isma mulai sakit-sakitan karena Setiawan memaksa membawa Imah.Perlahan-lahan kondisi isma semakin menurun. Hingga akhirnya ia meninggal,tanpa dia tahu anaknya dibawa kemana oleh Setiawan.


Sekarang,justru Imah dipertemuan kembali dengan keluarganya setelah ia dewasa. Kakek nenek serta papa Aziz pun sudah ga ada. Yang dia punya hanyalah Aziz dan aku saat ini.




"Halo?Iya Bu....", Imah mengangkat telpon dari Bu Tati.



"Imah kan belum punya uang Bu.Sesuk ya kalau udah ada....",kata Imah pelan.



.........



"Pasti ibu mu minta uang lagi?", tebakku. Imah mengangguk.



"Tati meminta uang padamu'?", tanya mama.



"Iya Tante, sudah kewajiban saya menafkahi ibu


Meski bukan ibu kandung saya tapi karena beliau saya bisa sebesar ini."



"Hemm....iya sih,"mama mendesah.



"Sekarang ibumu tinggal di malang sama siapa?", tanya mama lagi.

__ADS_1



"Sama suami barunya.Sejak Imah lulus SMP,Imah kan kerja Tante.Jadi hampir nggak pernah dirumah. Pas pulang, ternyata ibu sudah menikah lagi",jawab Imah.


"Kamu disekolahin cuma sampe SMP?Tati udah menikah lagi?",tanya mama heran.



"Iya...ibu kan belum terlalu tua lah bu.Lagipula,hutang ibu banyak waktu alm bapak menjalani pengobatan.Jadi,sudah kewajiban Imah buat bayarinnya."



"Memang berapa lagi hutang bapakmu?Coba tanya sama si Tati!"titah mama.



"Sekarang Tante?",tanya Imah ragu.



"Iya... sekarang lah."



Lalu Imah menelpon ibunya kembali.



"Assalamualaikum...".



"Walaikumsalam. Piye wis enek duite?",tanya Bu Tati dari seberang sana.



"Memang hutang bapak berapa lagi sih Bu?",tanya Imah.




"Ya banyaknya berapa?Kan Imah juga pengen ngerti Bu. Masa udah 9 tahun Imah kerja nggak lunas-lunas."



"Kamu tuh ya mah,nggak tau diri banget. Memangnya selama ini kamu bisa gede dengan sendirinya?Iya? Siapa yang kasih kami makan sejak kecil kalau bukan ibu?Mulai perhitungan kamu sama ibu?Apa gara-gara majikanmu itu melarang kamu buat transfer ibu?",cerocos Bu Tati.



ya... Allah....aku kebawa-bawa,batinku. Tapi sejauh ini aku masih cukup menyimak.



"Kok nyalahin mbak Di.Imah kan tanya baik-baik,hutang bapak berapa lagi.Itu saja Bu."Imah mulai emosi.



"Masih tujuh juta lagi.Puas?",bentak ibu dari seberang telepon.


Mama meraih ponsel Imah.



"Heh Tati Hartati.Enak banget kamu ya meras keponakan saya.Kamu pikir kamu siapa hah?",teriak mama.



"Kami yang siapa?Jangan ikut campur urusan keluarga saya!", kata Bu Tati ketus.


__ADS_1


"Mulai sekarang,jangan pernah minta-minta uang sama anaknya Setiawan.Adik saya!",sahut mama tak kalah ketus.



"Ka... kamu siapa?", suara Bu Tati gemetar.Iya, kami tidak menggunakan panggilan video call.



"Aku farah. Istrinya mas Satya."jawab mama tegas. Tiba-tiba saja panggilan dimatikan oleh Bu Tati.Mama mengembalikan ponsel Imah.



"Mulai sekarang,jangan pernah kirim dia uang lagi mah."pinta mama.



"Kenapa tan?Kan utang nya masih ada?", tanya Imah.



"Anggap saja sudah lunas.Si Tati pernah mengambil perhiasan dan uang Isma, nominalnya lebih dari itu. Ya.... Allah nak,kasian banget sih kamu."Mama memeluk Imah. Lagi-lagi aku terharu melihat perlakuan mama kepada Imah.



"Tante...ada yang iri,pengen dipeluk juga."Imah melirikku yang sedari tadi memperhatikan mereka ngobrol. Aku yang baru 'Ngeh' pun tersadar.



"Mau mama peluk juga anak perempuan mama?", tanya mama padaku. Akupun memeluk mama mertuaku.



"Bagaimana masa kecil kamu di Malang nak?"mama mulai bertanya lagi.



"Ya seneng Tan.Cuma....kasian bapak.Dulu bapak sering diomelin sama ibu kalau pulang kerja nggak bawa uang."



"Memangnya bapakmu kerja apa?",tanyaku.



"Bapak kuli panggul dipasar."jawab Imah singkat.



"Kalau bapak pulang nggak bawa uang, aku nggak dikasih makan sama ibu."Imah mulai menunduk kan kepalanya. Untung nya kios dari tadi tak terlalu ramai,hanya sekali dua kali ada pembeli.



"Imah ketemu nasi sama ikan asin bakar aja sudah seneng banget Tante.Kadang pengen gitu kaya temen yang lain.Jajan pake uang limar atus perak aja ga nibanin sebulan sekali. Hhahaha....miris banget ya mbak ...Tante....", Imah menertawakan kisah kelamnya sendiri.



"Ya Allah....Imah....", aku menepuk pundaknya.



"Tapi....Imah suka dimintai tolong sama tetangga.Misalkan disuruh beli beras atau apa gitu ke warung.Kadang suka ada sisa,nanti Imah kumpulin biar bisa beli buku atau jajan."



"Coba aja Tante ketemu kamu dari dulu ya mah."



"Nggak ada yang perlu disesali tante.Alhamdulillah,Allah menuntun Imah bertemu mba Dian dan mas Aziz, sampai ketemu Tante pula.Hal ini yang paling membuat Imah bahagia banget."


__ADS_1


Kami bertiga kembali slaing berpelukan. Mereka memang tak ada hubungan darah denganku,tapi mereka adalah keluarga ku.


__ADS_2