Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 238


__ADS_3

Mas Aziz melihat ke arahku lalu melambaikan tangannya padaku. Aku pun turut melambaikan tangan pertanda aku melihat nya.


''Sharen, mas Julian. Kalau mau ke sana juga nggak apa-apa."


"Nggak, kalo kami ke sana kamu sndirian ", sanggah Sharen.


"Memangnya kenapa sih kalau aku sendiri? Toh di sini juga ramai. Tenang aja sih!"


Sharen melirik Julian.


"Mas Jul, ajak calon mu bertemu Mika. Mika juga temenan sama Sharen kan?"


"Tapi kalau kami ke sana Anda....?"


"Nggak usah khawatir kenapa sih. Tidak akan ada apa-apa di sini. Tenang saja sih!"


"Baiklah, kami ke sana sebentar. Biar pak Aziz kemari!"


Aku mengangguk setuju. Mereka pun berjalan bergandengan menuju ke pelaminan itu melewati beberapa tamu undangan yang lain.


Aku sendiri menatap keramaian ini. Sampai ada seseorang yang menghampiri ku.


"Diandra Saputri?", sapa orang itu dan di sebelah nya ada seorang perempuan yang mungkin saja istri nya.


"Hem...iya. Profesor Handoko?", tanyaku girang.


Bagaimana tidak girang, dia adalah dosen favorit ku saat kuliah dulu.


"Iya. Kamu apa kabar?", tanya Handoko.


"Alhamdulillah baik prof."


"Kenalkan, ini istri saya Fatimah."


Aku pun bersalaman dengannya.


"Ma, Diandra ini salah satu mahasiswi kebanggan papa." Istri nya pun mengangguk. Di tengah obrolan kami, Hayu menghampiri ku.


"Di, kamu sendiri?", tanyanya.


"Nggak, ini sama profesor Handoko, dosen Ki dulu."


Hayu mengangguk dan mengatupkan kedua tangannya. Sepasang suami istri itu pun turut membalas senyumannya.


"Kamu sendiri mbak, Faiz sama mas Damar mana??"


Damar? batin Profesor Handoko.


"Faiz sama mas Damar lagi sama Abah dan umi nya mas Fai Di."


"Tunggu? Damar? Damar siapa yang kamu maksud Diandra?", tanya Handoko.


"Heum? Itu prof, teman kami dokter Damar."


"Dokter Damar Anggoro ?", tanya Handoko memastikan.


"Siapa nama lengkap mas Damar mbak?", tanyaku.


"Iya Di, dokter Damar Anggoro",jawab Hayu.


"Lalu, kamu siapa?", tanya Fatimah pada Hayu.


"Saya ..."


"Umi....!", teriak Faiz tiba-tiba menghampiri kami dan Damar sedikit berlari terburu-buru mengejar Faiz.


"Kan papa damar bilang, jangan lari-lari di sini Faiz", kata Damar terengah-engah.


"Apa? Papa?", tanyaku sambil tertawa. Damar jadi salah tingkah sendiri sampai akhirnya dia menyadari sepasang suami istri itu menatapnya penuh amarah.


"Damar!", panggil Handoko.

__ADS_1


"Papa...mama....!", kata Damar lirih.


Aku dan Hayu saling berpandangan. Jadi...profesor Handoko papa nya Damar?


"Siapa perempuan itu? Dan apa tadi? Papa Damar?", tanya Handoko dengan wajah garang nya.


"Pah...dia Stevi , calon istri damar!"


Deg!


Hayu meremas bahuku. Aku pun memegang tangan nya yang mencengkeram erat bahuku.


Faiz menggelayut manja di pangkuanku.


"Calon istri?", pekik mama Damar.


Belum juga terjawab, Mas Aziz menghampiri kami. Dia melihat ada ketegangan di sekitar istrinya berada.


"Dek, ada apa?", tanya Mas Aziz padaku.


"Lho, om Han? Apa kabar?", tanya Aziz pada papanya Damar.


"Diandra istrimu?", tanya Handoko.


"iya Om!", jawab Aziz singkat.


Cengkeraman tangan hayu semakin erat di bahuku.


Kini mata Handoko kembali menatap Damar.


"Ini calon istri mu? Seorang janda?", tanya Handoko.


"Pa! Apa pun status Stevi, Damar mencintai nya!"


"Hem....maaf semuanya, bisa kita pindah saja dari sini. Biar kita bisa leluasa ngobrol nya?", Aziz memberikan idenya. Dia tidak ingin sahabat nya merasa malu jika urusan pribadinya di konsumsi publik.


"Mas, kita ke sana saja ya?!", ajakku menuju ujung ruangan yang memang tampak lengang.


Dari kejauhan, Stevan memperhatikan putrinya bergerombol menuju sebuah sudut. Tiba-tiba dia mencemaskan keadaan putrinya.


"Liliana, Daddy mau menemui klien sebentar. Kamu tunggu di sini!"


"Iya dad!", lili hanya menurut. Lagi pula badannya yang makin berisi kini lebih mudah merasa lelah.


.


.


"Jelaskan sama Papa Dam! Apa dia alasan mu selalu menolak perjodohan dari kami?", tanya Handoko.


"Iya Pa. Damar mencintai Stevi!"


"Kamu sudah kehilangan akal? Kamu mau menikahi janda yang sudah beranak ini?", tanya Fatimah.


"Mah! Andai cucu mama masih hidup, bahkan sekarang dia harusnya sudah masuk SMP mah!"


"Apa maksudmu Dam?", bentak papanya.


Sedangkan hayu hanya mampu meremas jemarinya.


"Iya. Damar pernah memiliki anak dengan Stevi saat kami kuliah dulu pa!", kata Damar.


Plak!!!


Sebuah tamparan mendarat di pipi Damar. Aku dan yang lain pun terkejut. Damar mengusap pipi bekas tamparan Handoko.


"Ini semua karena papa! Papa yang memaksa ku pindah kampus agar aku bisa seperti sekarang.Bahkan papa Puas pa?"


"Jaga bicaramu Damar, kamu lupa dengan siapa kamu bicara?"


"Damar berbicara dengan orang tua yang otoriter!"

__ADS_1


Plak!


Kembali lagi pipi Damar mendapatkan tamparan, kali ini dari namanya. Hayu hanya mengatupkan bibirnya sambil menitikkan air matanya.


"Dengan atau tanpa restu papa, damar akan tetap menikah dengan Stevi!", kata Damar sambil meraih tangan Hayu.


"Dan saya, akan mendukung keputusan calon menantu saya!", tiba-tiba Stevan berdiri di belakang kami.


"Dad?!", kata Hayu lirih.


"Siapa anda?" tanya Handoko.


"Saya Stevanus Winata, ayah dari Stevia Winata calon istri dokter Damar!"


Stevanus Winata? Dia pengusaha yang terkenal itu? tapi.... sepertinya aneh, penampilan Stevi yang agamis berbanding terbalik dengan Stevanus.


"Jangan pernah hina status putri saya!", tukas Stevan.


"Stevi! Ikut Daddy pulang! Dan kamu Damar, Daddy akan menunggu mu menghalalkan putro Daddy!", kata Stevan sambil menggandeng tangan Hayu.


"Dad!!'', Hayu memelas sambil menatap damar dan aku serta mas Aziz.


"Umi....!", Faiz menarik tangan Hayu.


"Faiz ikut opa!", tangan kiri Stevan menggendong Faiz.


Aku dan mas Aziz hanya melongo. Ternyata kisah percintaan damar tak kalah dramanya dengan kehidupan rumah tangga kami.


"Kita pulang! Kita selesaikan di rumah!", Handoko pun meninggalkan kami Tanpa pamit.


Damar masih membeku. Aku meminta mas Aziz menenangkan damar terlebih dulu.


"Benar kata papamu, pulang lah. Kalian selesaikan di rumah. Perjuangkan Cinta mu Dam. Tapi ingat, mereka kedua orang tua mu yang harus kamu hormati. Jangan kasar terhadap mereka."


"Ya Ziz. Gue balik. Di, gue balik ya. Maaf gara-gara gue...Stevi di bawa daddy nya. Tidak tinggal bersama kalian lagi."


"Jangan bicara begitu mas. Ini semua pasti ada hikmahnya, perjuangan mu pasti akan berbuah manis. Insyaallah, niat yang baik akan mendapatkan hasil yang baik pula."


"Makasih Di. Ya udah, gue balik!"


"Ya!", kami berdua mengiyakan.


"Dek!"


"Hem?"


"Mulai sekarang, mas cuma mau laki-laki yang ada di pikiran mu cuma aku. Berhenti memikirkan masa lalu mu ya. Aku cemburu!",mas Aziz jongkok di depan ku.


"Jangan mulai lagi deh...!"


"Pokoknya jawab 'IYA' dulu dek."


Ampun, mode lebay nya kambuh!


"Ya nggak bisa lah mas!"


Aziz membelalakkan matanya.


"Laki-laki di hidupku kan nggak cuma kamu mas, ada Diaz juga!", kataku mencubit hidung nya. Wajah yang tadinya manyun kini berubah tersenyum.


"Kalau nggak ingat lagi di ruang terbuka begini, udah habis kamu dek!", bisik Aziz.


"Ish...lupa, puasamu masih lama mas. Ntar....sampe habis lebaran!"


Kami tertawa cekikikan sampai ada suara Fai memanggil namaku.


"Di....!", panggil Fai.


Aku dan mas Aziz menoleh. Melihat Fai yang menggandeng istrinya itu.


Mau apa mereka ?

__ADS_1


__ADS_2