Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 229


__ADS_3

Mas Aziz datang tepat waktu. Setelah visit dokter, beliau memastikan aku bisa pulang siang ini.


"Sudah siap untuk menemui putra mu dek??"


"Siap dong mas. Siap banget malahan."


Mas Aziz mendudukan ku di kursi roda. Saat keluar dari ruangan, ku lihat empat orang pengawal masih setia di depan pintu.


Aku meminta mas Aziz menghentikan dorongan nya sementara.


"Mas... bilang ke mereka, istirahat dan pulang lah. Mereka pasti lelah. Aku kan udah nggak apa-apa. Dan aku yakin, om Ronald tidak akan berbuat macam-macam mas."


"Mereka orang-orang nya Julian dek, jadi mereka hanya mendengar perintah bos nya."


Mas Aziz kembali mendorong kursi roda ku menuju parkiran. Ternyata, mas Jul sudah menunggu di sana. Dia sedikit menundukkan kepalanya sambil sedikit tersenyum. Aku pun membalasnya senyumnya.


"Mas, mobil kita mana?"


"Ada di rumah dek. Tadi mas kan di antar mereka."


"Terus? Kita pulang nya gimana?"


"Biar saya antar Bu. Nanti anak-anak mengikuti dari belakang dan sebagian lagi mengawal di depan mobil kita."


Aku menghela napas. Ampun deh ah....masa mau nyaingin pak Jokowi yang di kawal Paspampres sih????


"Mas Jul. Jangan berlebihan lah. Kita pulang bertiga aja. Biarkan mereka istirahat. Kasian kan dari kemarin gantian berjaga. Mereka kan juga butuh ngisi tenaga lagi", kata ku tanpa memandang Julian.


Mas Aziz memberi kode agar Julian mengiyakan permintaan bos nya itu. Akhirnya Julian pun menyetujuinya.


Lalu ku dengar Julian meminta anak buahnya untuk kembali ke markas mereka.


Sekarang hanya ada kami bertiga.


"Silahkan pak, Bu....!", Julian membukakan pintu untuk ku. Mas Aziz memapah ku untuk duduk. Dan tak lama kemudian, mas Aziz duduk di samping ku.


Julian memutari mobil lalu duduk di belakang kemudi.


Untuk beberapa saat, tidak ada obrolan apa pun di antara kami bertiga. Hanya sesekali aku melihat Julian memainkan ponselnya sambil menyetir.


"Hati-hati mas Jul. Lagi nyetir jangan main ponsel. kalo emang ada yang penting, mendingan kita minggir sebentar."


Julian mengangguk saja sambil meletakkan kembali ponsel ke dalam saku jasnya.


Habis sakit, bawelmu makin menjadi saja bos! Julian hanya mampu berkata dalam hati. Mana berani dia bicara di depan orang nya langsung.


"Sayang, mau beli sesuatu?", tanya Aziz.


"Nggak mas. Aku cuma mau cepetan sampe rumah. Kangen Diaz mas....!", kataku sambil menatap ramainya jalanan yang padat di j satu siang ini.


"Oh iya mas Jul, kamu masih bisa menghandle perusahaan kan? Kalau memang butuh bantuan, katakan saja. Mungkin saya bisa bantu!", kata Aziz.


"Masih bisa pak. Jika nanti ada yang saya tidak bisa, baru saya libatkan anda. Untuk saat ini, sebaiknya anda fokus pada kesehatan Bu Dian. Agar beliau segera pulih dan bisa kembali ke kantor", kata Julian.


"Baiklah kalau begitu. Jangan sungkan ya, takutnya saya juga sibuk di butik."


"Tentu saja pak?!"


Suasana kembali hening.


"Em..mas Jul?!"

__ADS_1


"Iya Bu?"


"Bisa Carikan aku sekretaris?", tanyaku.


Sekretaris? Apa aku belum mampu memenuhi semua yang dia butuhkan?


"Sekretaris Bu?"


"Iya. Aku mau cewe mas."


"Apa kinerja saya kurang Bagus?", tanya Julian penasaran.


"Bukan. Kerjamu malah terlalu baik mas. Hanya saja...."


Aziz memandang ku sekilas. Mungkin dia memang ingin agar aku menyampaikan nya sendiri.


"Lalu, kenapa anda ingin mengganti saya?"


"Saya nggak ganti posisi kamu mas Jul. Saya kan perempuan, kan lebih baik sekretaris juga perempuan. CEO cowok aja sekretaris nya perempuan kok."


Apa dia mau menghindari gue?


"Apa ini ada kaitannya dengan om Ronald?"


"Ya ...aku cuma nggak mau pertunangan kamu gagal hanya karena calon istri mu cemburu dan mengadu ke papa nya lagi mas Jul."


Julian menatap ke arah depan.


"Jangan salah sangka mas Jul. Sharen juga berhak cemburu lho!"


Julian tersenyum tipis.


"Iya bu. Nanti saya Carikan secepatnya!"


Julian sedikit terkekeh. Begitu juga mas Aziz.


''Kenapa malah pada ketawa?"


"Dek, kamu kan yang punya. Masa ijin sama Aspri mu?"


"Ish....bukan gitu mas. Kita kan harus tanggung jawab sama kerjaan kita. Mentang-mentang yang punya, terus mau seenaknya wudelnya dewek???"


Kedua pria itu cuma mengangguk dari pada jadi 'santapan' ku yang baru saja sembuh ini.


Di sisi lain.....


Mika baru saja keluar dari ruangan direktur. Meskipun dia sudah memberikan undangan pernikahan secara tertulis waktu itu, tapi dia memilih untuk menemui sang direktur untuk berkenan datang ke hari istimewa nya.


Saat ia melanjutkan langkahnya menuju loby, Damar memanggilnya.


"Mika ...!", panggil Damar.


"Eh...iya kak!", sahut Mika.


"Dari mana?"


"Dari ruang Dirut kak. Gimana juga kan beliau jadi tamu kehormatan aku hehehe....!"


"Owh...gitu. Kamu sendiri? Nggak sama Fai?", Damar celingukan mencari keberadaan sahabatnya.


"Em...mas Fai ke showroom kak. Tadi dianterin kok. Kan besok mau sibuk. Jadi hari ini mau nyelesein kerjaan dulu katanya."

__ADS_1


"Hemmm...Gimana rencana kalian, sudah selesai semua kan? Tinggal hari besok lho. Biasanya kan lagi sibuk-sibuknya di tempat sana. Malah masih sibuk aja ngurusi kerjaan."


"Nggak apa-apa lah kak. Ini kan tinggal resepsinya aja. Acara sakral nya udah sebulan yang lalu heheh."


Mereka berjalan beriringan.


"Kak damar mau langsung pulang?"


"Em..mau ke rumah Aziz."


"Gitu ya. Dian baru aja pulang tadi kan?"


"Iya, aku ke sana juga mau ketemu Stevi."


Mika mengernyitkan dahinya.


"Kemajuan nih???", ledek Mika meskipun ada rasa teriris sedikit di hatinya.


"Bisa aja kamu Mik. Ya... Alhamdulillah lah ,om stevan juga udah ngasih restunya. Tinggal bujukin Stevinya biar mau membuka hatinya buat aku."


"Benerannn? Alhamdulillah. Selamat ya kak!", kata Mika sambil mengulurkan tangannya.


Tapi Damar malah menurunkan tangan Mika.


"Belum pantas di kasih selamat mika. Kan aku belum sukses dapetin hatinya Stevi?!"


"Iya sih....tapi minimal...sudah ada dukungan dari Daddynya kan? Itu artinya, hubungan antara mbak hayu dan Om stevan sudah membaik juga kan?"


"Iya Mika. Om stevan juga bilang gitu."


Mika berusaha menunjukkan senyum nya yang seakan-akan dia turut bahagia. Tapi siapa yang tau, di sudut hatinya ada luka yang masih tersisa. Meskipun luka itu ia ciptakan sendiri. Miris banget hidup Lo Mika!!!! Udah suaminya masih mikirin istri orang, eh...orang yang pernah bikin Lo jatuh hati sedalam-dalamnya jatuh, malah sedang berbinar gegara perempuan pujaannya.


"Mika....!"


"Hem?"


"Kenapa sejak malam itu, aku nggak liat Fai ke sini jenguk Dian. Kalian bertengkar?", tanya Damar menyelidik.


"Hah? nggak kak. Bertengkar kenapa? Kan besok kita mau adain resepsi masa berantem sih, nggak banget deh hahahah...."


Damar menatap mata si pemilik senyum manis itu.


"Aku mengenalmu sudah bertahun-tahun, kamu masih belum pinter menyembunyikan perasaan mu Mika!"


Mika tersenyum tipis.


"Memang kakak seberapa mengenal ku?"


Damar tak mampu menjawab.


"Kak damar hanya tahu aku, tapi nggak mengenal ku sedekat itu."


"Itu menurut mu, tapi tidak dengan ku."


Damar berjalan meninggalkan Mika. Tapi dia berbalik sebentar.


"Kamu salah mika, semakin kamu mengekang suami mu menemui Dian yang ada suamimu makin merindukan nya. Kalau boleh aku bilang. Biarkan dia melangkah dengan hatinya sendiri. Kamu hanya tinggal memberi kepercayaan padanya. Jika memang dia ditakdirkan bersama mu, dia akan kembali padamu. Bukan maksud ku menggurui mu. Semua hanya soal waktu Mika."


Setelah itu, damar benar-benar meninggalkan Mika.


Kak Damar.....

__ADS_1


*****


Makasih buat komen dan masukkan nya ya gaes πŸ€—πŸ€—πŸ€—. Semoga bisa nulis yang lebih seru ya ☺️✌️


__ADS_2