
Alhamdulillah, usaha kami maju pesat. Pelanggan kami pun sudah banyak. Tidak hanya warga sekitar, tapi juga orang-orang yang lewat. Bahkan teman-teman yang dulu kerja bersama kami pun menjadi pelanggan tetap.
Hari ini, kau berencana untuk memeriksa kandungan ku. Iya ,kini perutku sudah mulai membesar. Usianya sudah memasuki 5 bulan.
"Mas, aku mau pergi. jadwal periksa kandungan."
"Nanti malam saja ya dek. biar mas bisa nemenin."
"Ga usah mas. Ku bisa sendiri. Mas jaga konter aja. Aku bisa naik taxi."
"Tapi dek...",
"Udah , tenang aja mas. Aku berangkat ya mas?" pamitku.
Taksi pun sudah menunggu ku di depan.
Aku tak perlu mengantri lama karena memang sudah ada jadwal pemeriksaan.
Jam 11 siang aku sudah sampai dirumah. Konter pun terlihat ramai. Mas Aziz tampak kewalahan. Buru-buru ku kunci pintu gerbang.
Lalu mengahampiri mas Aziz dari pintu belakang konter.
Aku membantu mas Aziz untuk melayani pembeli. Akhirnya, pelanggan satu per satu pun pergi meninggalkan konter kami.
"Alhamdulillah ya dek . konter bkita ramai."
"Iya mas. Alhamdulillah. "
"Tapi mas, seperti nya kita butuh karyawan deh. Apalagi perutku semakin besar begini. Takut tidak maksimal membantumu."
"Iya sih dek. Bagiamana kalo kita cari warga sekitar saja. Kali aja ada yang mau dek?"
"Bisa juga sih. Ya udah mas, aku ke dalam dulu. ganti baju, risih pake ini. Mau pake baju dinas aja." kataku berlenggang ke rumah.
"Baju dinas dari mana? Daster aja , baju dinas!" dengus mas Aziz.
Hahah...dia tidak tau, seberapa nyaman pakai daster .
Aku membuat pengumuman di depan kiosku.
MEMBUTUHKAN KARYAWAN/TI UNTUK DI KONTER
Baru saja di pasang, sudah ada beberapa orang yang minat. Tapi, kami belum juga menemukan yang sesuai dengan kriteria kami.
Sampai pada akhirnya, datang seorang gadis yang ku taksir usianya 20 an. Menghampiri kami.
"Iya mba, ada yang mba butuhkan disini? Isi ulang atau....?" pertanyaan mas Aziz menggantung.
"Maaf mas...mba...saya sedang mencari pekerjaan. Saya dari Malang mas. Baru sampai ke sini tadi pagi. Saya ditipu, bilang nya saya mau diterima kerja di restoran. Nggak taunya pas saya kesana, alamat nya fiktif." katanya memulai cerita. Dari bahasanya, dia memang seperti orang Jawa timur pada umumnya.
"Sebelumnya kamu kerja apa?" tanyaku.
"Oh iya nama kami siapa?" tanya mas Aziz.
Dia mengeluarkan tanda pengenal nya.
Namanya siti khatimah. Usianya mendekati 23 tahun.
"Panggil saja saya Imah mas, mbak. Saya cuma lulusan SMP , sebelum nya saya kerja di rumah makan daerah malang. Tapi, ada orang yang nawarin saya kerja di kota ini. Nggak taunya saya malah ditipu." katanya. Terlihat ada air mata menggenang di pelupuk matanya.
"Mas, sudah terima saja dia disini. Gudangnya kita pakai saja buat dia tidur. Nanti ,isinya biar kita bawa aja di sebelah kamar kita yang kosong."
"Kenapa tidak kita ajak aja di rumah dek?" tanya nya mengernyit kan dahinya.
"Bukan mahram mu mas." jelasku..Mas Aziz pun tersenyum. Dia sepemikiran denganku.
"Ya sudah, ajak dia masuk dek." pinta mas Aziz.
Aku pun memutar lewat belakang pintu kios. Membuka pintu gerbang untuknya. Lalu ku kunci kembali.
"Makasih ya mba, sudah menerima saya. Saya janji ,saya akan bekerja sebaik mungkin. Barangkali sebelum saya bekerja di konter, saya bisa bantu-bantu di rumah mba."
Aku mengangguk-angguk. Dia pun berjalan di belakang ku menuju kios.
"Nah, mulai sekarang kamu bekerja disini. Kamu letakan saja tas mu di sana." kutunjukan gudang yang akan kami pakai besok.
__ADS_1
Dia meletakkan tas nya yang tak seberapa besar. Setelah itu kembali mengikuti ku.
"Ini mas Aziz , suami saya. Dan saya Diandra." kataku memperkenalkan diri.
"Terimakasih mas..mba...saya janji, akan bekerja dengan baik." katanya dengan semangat meskipun dialek jawanya begitu kental.
"Ya sudah, sini saya ajari."kata mas Aziz.
Lalu dia mengajari cara mengisi pulsa, daftar harga dan lain sebagainya. Meski dia cuma tamatan SMP, dia terlihat pintar. Apa iya cuma SMP? Ya Allah, jangan biarkan aku salah sangka.
"Oh ya Imah, maaf untuk sementara KTP kami pegang dulu ya. Nggak papa kan?" kata mas Aziz.
"Nggak papa mas." katanya sambil kembali menghafal barang dagangan kami.
"Untuk apa mas?", tanyaku.
"Imah, kamu jaga dulu ya. Saya mau bicara sama istri saya sebentar." imahpun mengangguk.
"Dek, kita kan tidak kenal dia. Alangkah baiknya kalau kita waspada. Apalagi kondisi kamu sedang hamil begini."
"Mas, jangan susudzon begitu."
"Bukan suudzon dek, lebih tepatnya antisipasi. Mas sudah pernah merasa di jebak. Mas tidak mau itu terulang lagi."
"Jebakan cinta nya lili maksud mu?" tanya ku iseng.
"Udah ah...pokoknya kamu nurut mas aja. Mas punya banyak kenalan di malang. Nanti mas cari tahu."
"Ya udah mas, tinggal di foto aja KTPnya. Ntar diserahin lagi. Kan bisa gitu?!"
Lalu dia memotret nya. Setelah itu, dia kembali ke kios. Mengembalikan KTP Imah.
"Ini, saya kembalikan KTP mu mah!" kata mas Aziz.
"Nggih.mas. makasih."
Ternyata sejak kami tinggal ngobrol tadi, Imah sudah melayani pelanggan.
"Tuh kan mas...mba...saya bisa jualan heheheh"
Kami berdua berpandangan. Apakah Imah selugu itu?
"Oh iya mah, mana ponsel kamu. Saya minta nomor ya." kataku.
Dia mengeluarkan ponsel Samsung J1 mini yang sudah luntur pinggirannya.
"Saya Ndak ada kuota leh mba. Jadi ga bisa miskol peyan."
Untung aku tahu maksudnya.
"Kamu ga bisa nyebutin nya?", tanyaku. Dia menggeleng.
"Coba sini saya pinjam hp mu!" ku raih ponselnya yang sudah terlihat buluk.
Kulihat aplikasi warna hijau nya. Lalu ku scan barcode nya. Kuserahkan kembali padanya ponsel mungilnya. Ponselnya pun bergetar saat ada panggilan masuk dariku.
"Owh...ini nomer mba Diandra?" tanya nya.
__ADS_1
"Dian saja gapapa kalo kepanjangan mah."
"Iya mba Dian."
"Ya udah mas, kasih aja Imah yang 11 ribu dulu. Hari ini free. Besok-besok bayar ya?!", candaku.
"Wah....suenenge aku rek lek ngene iki." wajahnya sumringah.
Dia langsung menggosok voucher nya lalu menekan tombol di ponselnya.
"Alhamdulillah..... akhirnya saya bisa ngabarin ibu saya di malang. Makasih mas...mba....ya Allah makasih, saya sudah dipertemuan dengan orang baik seperti mereka." katanya sambil mengutak Atik hp nya.
"Tapi ingat ya Imah. Kamu harus jujur, terus kalau kira-kira senggang baru main hp. Kamu sudah dewasa lho." nasehat ku keluar begitu saja. Iya, usia Imah berbeda sekitar 5 tahunan denganku.
"Saya wis tuwek mba. Saya juga sudah pernah menikah mba. Tapi , saya kabur. Lha wong saya Ndak suka di jodohin sama embah-embah le."
Aku dan mas Aziz berpandangan.
"Sek ..sek...tapi aku jeh perawan lho mba. Demi Allah, saya belum di apa-apain sama Mbah nya."
Aku dan mas Aziz meneguk liur bersamaan.
"Kalo suami kamu nyusul kesini gimana?" tanyaku.
"Ya Ndak bakal lah mba. Lha wong pas aku kabur , de'e kenek serangan jantung. Wes wassalam Saiki."
Aku dan mas Aziz tepuk jidat. Busetttt....mas Aziz harus di jaga dari janda kembang model inih.
"Mba Dian Ndak usah khawatir, aku sadar aku ini lebih cantik dan lebih muda dari mba Dian. Tenang aja mba, saya ga tertarik sama mas Aziz. bener deh. Saya sukanya tuh sama yang model-model Al Ghazali itu mas. Gantengnya berkharisma. " katanya sambil menahan dagunya dengan kedua tangannya.
Lagi-lagi aku dan mas Aziz berpandangan.
"Jangn ketinggian mengkhayal nya Imah." kata mas Aziz.
"Ora eh...mas. Sopo ngerti sesuk apa kapan mas Al mampir beli kuota ke sini."
"Terserah kamu deh Mah." kata suamiku pasrah menghadapi kelakuan Imah.
"Kalau mau makan, itu ya saya udah siapin." kataku.
"Siap mba bos!", katanya lantang.
Tiba-tiba ada sebuah mobil berhenti di depan kios kami. Sesosok Artis yang baru saja Imah khayalkan ada dihadapan kami.
"Ya Allah....mas Al. Mimpi opo aku mau bengi isi ketemu peyan mas. Ya Allah...ya Allah....", kata Imah heboh sendiri.
"Imah...Imah....", ku tarik lengannya.
"Iya mas, beli apa?"tanya mas Aziz, si Imah masih terpukau meliha Al ada disini.
"Ini mas kuota yang 35GB." dia menyerahkan uangnya. Dan mas Aziz pun memberikan vocer yang diminta. Sekelas Al Ghazali mampir beli vocer di kios ku?
Dari dalam mobil, seorang perempuan cantik membuka kaca mobilnya.
"Makasih mas, mba...",teriaknya dari dalam mobil.
Aku dan mas Aziz mengangguk.
"Masyaallah...cantik ya dek!",gumamnya.
__ADS_1
Ku tarik kuping mas Aziz. Dan Imah masih terbengong-bengong.