Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 244


__ADS_3

Mas Damar menelpon ku?


[Assalamualaikum]


[Walaikumsalam. Stev? Apa mas mengganggu mu?]


[Em...aku mau mandi mas,tapi masih nunggu Faiz selesai]


[Kamu masih di rumah Daddy?]


[Iya mas]


Terdengar suara ******* nafas Damar di seberang sana.


[Dengan atau tanpa restu dari orang tua ku, kamu tetap akan menikah dengan ku kan Stev?]


Deg! Apa yang sejak tadi ia pikirkan kini ia dengarkan langsung dari Damar.


[Mas ...aku....]


[Aku tahu, kamu baru saja bisa membuka hatimu buatku. Tapi kamu justru di hadapkan dengan restu orang tuaku]


[Mungkin sebaiknya kamu turuti keinginan orang tuamu saja. Aku tak pantas mendampingi mu mas]


Suara Hayu sedikit bergetar.


[Nggak. Aku nggak akan lepasin kamu Stev. Bertahun-tahun aku menunggu untuk bisa bertemu dan bersama mu. Nggak mungkin mas mundur begitu saja hanya karena papa dan mama ku]


[Tapi mereka benar Mas, aku hanya seorang janda]


Suara Hayu semakin tertahan karena dadanya bergemuruh dan air sudah menggenang di kelola matanya.


[Apa pun status mu. Aku nggak peduli Stev. Aku yang sudah merenggut segalanya milikmu. Aku akan bertanggung jawab atas perbuatan ku di masa lalu. Akan ku tebus semua kesalahan ku Stev]


[Tapi bagaimana dengan orang tuamu mas. Mereka pasti akan kecewa padamu]


[Jika memang mereka menyayangi anaknya, pasti mereka akan memenuhi keinginan ku untuk menikah dengan mu Stev. Lagipula, Daddy juga setuju jika aku bersamamu]


Kini keduanya terdiam. Suara Faiz yang membuka pintu kamar mandi, membuat Hayu beralasan untuk mengakhiri percakapan mereka.


[Maaf mas. Aku mau mandi]


[Nanti malam aku ke rumah Daddy. Aku akan bawa penghulu. Kita akan menikah malam ini. Assalamualaikum]


Hayu terperangah, dia tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan.


[Walaikumsalam]


Hayu menjawab salam itu ,meski damar sudah menutup panggilan nya.


"Umi...umi kok bengong? kenapa?", tanya Faiz yang sudah tampan dengan pakai barunya. Hanya saja ia belum menyisir rambutnya.


"Umi nggak bengong kok sayang. Eh, rambut nya di sisir dulu. Abis itu solat ya Nak!"


"Iya umi."


Faiz pun menuruti perintah uminya. Sedangkan Hayu melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


.


.


[Maaf om, damar mengganggu]


Damar menelpon Stevan yang dari tadi membujuk Lili.

__ADS_1


[Nggak apa-apa Dam. Kenapa?]


[Em...saya minta ijin om]


[Untuk?]


[Menikah dengan Stevi secara siri. Untuk sementara om. Sampai mama dan papa merestui pernikahan kami. Maaf jika damar tidak sopan membicarakan hal ini lewat telpon om]


Stevan mengusap-usap perut lili. Istrinya yang tengah hamil ingin selalu di manjakan olehnya. Lili hanya mendengar obrolan suami nya dan calon menantunya. Lili tidak ingin peduli dengan kisah mantan sahabatnya yang kini justru jadi anak tirinya.


[Kapan?]


[Malam ini, jika om mengijinkannya.]


[Stevi sudah tahu?]


[Sudah om]


[Ya sudah, datang lah bersama penghulu. Meski om tidak bisa menjadi wali Stevi]


[Di rumah om?]


[Iya. Datanglah nanti malam]


[Iya om. Damar pasti datang]


Damar dengan semangat empat lima mengiyakannya.


Panggilan itu terputus. Damar pun bersiap-siap untuk mencari Ustaz yang bersedia menikahkan nya dengan Stevia.


Selesai membersihkan dirinya, Damar keluar dari kamar. Di dapati nya kedua orang tuanya akan makan malam.


"Kemana kamu?", tanya Mama Damar.


"Ada urusan!", sahut Damar datar. Dia tak ingin berdebat lagi dengan perempuan yang sudah melahirkan nya. Sedangkan papa nya hanya diam menikmati makan malamnya. Damar pun berlalu meninggalkan ruang makan.


Damar pun menghentikan langkahnya lalu berbalik badan menghadap mamanya.


"Damar tidak ingin berdebat ma. Nggak usah tungguin damar. Malam ini damar tidak pulang!"


"Apa maksudmu?", tanya Mamanya sambil berdiri dari bangkunya.


"Sudah lah mah. Damar sudah dewasa, biarkan dia pergi. Biasanya juga begitu. Paling juga pulang ke apartemen!", papa akhirnya bersuara.


"Tapi Pa....!"


"Mama, duduk!", titah Handoko. Mau tak mau sang istri pun menurut. Damar pun meninggalkan rumahnya. Dia akan meminta salah seorang temannya untuk membawa penghulu ke rumah Stevan.


.


.


Hayu baru saja selesai solat isya. Faiz sudah berada di bawah dengan opanya. Faiz memang anak yang menyenangkan, dia mudah sekali di sayangi karena lugu dan pandai bergaul. Dari atas hayu bisa melihat seorang Lili bisa tertawa melihat tingkah bocah kecil itu yang sedang bercanda dengan Daddynya. Sebenarnya dulu lili sahabat baik Hayu, tapi mungkin karena kelakuan hayu pula yang menjadikan Lili seperti sekarang.


Hayu turun perlahan mendekati mereka. Masih dengan atasan mukenah nya.


"Sayang, kamu nggak ada hijab lagi?", tanya Stevan.


"Iya Dad!", kata Hayu sambil mendekati Stevan dan lili serta Faiz.


"Umi, opa lucu juga ya ternyata hahaha...", Faiz tertawa riang memuji opa nya.


Kehadiran hayu merubah raut wajah Lili yang tadi sempat bercengkrama dengan wajah sumringah, kini berubah masam.


Lili bangkit dari sofanya.

__ADS_1


"kamu mau kemana Liliana?", tanya Stevan.


"Ke kamar!", ucap lili datar. Stevan hanya memandangi punggung istrinya yang menjauh masuk kedalam kamar.


"Susul saja Dad! Wanita hamil pasti sensitif."


"Nggak usah. Nanti juga reda sendiri."


Tap tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Lili membawa plastik berisi pakaian yang masih tersegel rapi.


"Ambillah?! Aku belum pernah memakai nya!", kata Lili menyerah kan pakaian yang masih di packing plastik.


Dengan ragu, Hayu menerima pakaian itu dari Lili. Stevan pun mengangguk , pertanda setuju jika Hayu menerima nya. Hayu pun membuka salah satu plastik itu. Di rentang kan pakaian itu.


"Gamis?", gumam Hayu. Lalu menatap Lili. Yang di tatap justru melengos.


"Kamu punya gamis?", tanya Hayu pada Lili.


"Hem. Pernah ada keinginan untuk memakainya, tapi sekarang tidak lagi!"


Iya, Lili tidak akan memakai pakaian syar'i begini.


"Aku hanya pernah mencoba seperti Diandra, tapi...aku tetap aku. Tidak perlu menjadi orang lain untuk mendapatkan perhatian orang lain pula."


Nih anak tumben lempeng! Batin Hayu.


"Makasih Li!" Hayu menghambur ke pelukan Lili. Hayu merasa Dejavu. Mereka Owen berada di momen seperti ini.


Lili melepaskan pelukan Hayu.


"Iya!", sahut Lili singkat. Meskipun di hati nya ia pun merasa jika Mereka pernah menjadi sahabat.


Suara bel berbunyi.


Seorang art pun membuka pintu ruang tamu. Setelah mempersilahkan tamunya masuk, sang art pun menghampiri Stevan.


"Maaf tuan, di depan ada tuan Damar!", kata Si art.


"Iya bik. Saya ke depan!", ucap Stevan meninggalkan istri,anak dan cucu nya.


Damar berdiri saat Stevan masuk ke dalam ruang tamu.


"Kamu menepati janji mu?", tanya Stevan.


"Iya Om. Maafkan Damar jika hal ini membuat om...."


"Tidak masalah! Kita lakukan di dalam saja!", pinta Stevan. Lalu damar mengajak dua orang yang bersama nya tadi mengikuti Stevan.


Di ruang tengah, hayu dan Lili sedang duduk berhadapan. Mata Hayu membulat melihat kedatangan damar dengan seseorang yang pasti itu adalah penghulu. Damar tidak main-main kali ini.


Ternyata Stevan sudah mempersiapkan tempat untuk melakukan ijab qobul.


"Silahkan duduk, sebentar saya panggil putri saya dulu!", Stevan pun undur diri.


"Nak, mari lakukan ijab qobul. Damar sudah menepati janjinya!" kata Stevan menggandeng tangan putrinya.


"Tapi Dad ....!", suara Hayu menggantung.


"Percaya lah, damar adalah lelaki yang tepat untuk mu!"


Hayu awal nya terdiam. Tapi akhirnya dia pun mengikuti sang Daddy. Tangan kiri Stevan meraih tangan lili.


"Dampingi anak mu untuk menikah Liliana!", titah Stevan. Lili pun menuruti Stevan. Faiz tanpa di ajak sudah mendahului mereka.


Setelah sampai di tempat yang daddy sediakan, mata Damar dan Hayu saling bersitatap.

__ADS_1


****"


Yakin mereka menikah?????


__ADS_2