
"Masak naon neng?", kata Dadan di belakang Imah yang sedang berkutat dengan peralatan tempur.
"Hehehe....cuma tumis kangkung A!", sahut Imah. Sedangkan di meja makan sudah ada kerupuk, tempe goreng dan ikan asin.
"Boleh juga. Tapi jangan kebanyakan ya. Mubadzir. Kan Farhan sama Emak lagi ke Bogor."
"Iya A, Imah tahu. Makanya....kita lauk begini tok gak opo-opo toh?"
"Heheh iya, lauk apa aja asal di temenin sama neng Imah hayo wae atuh!"
"Sekalipun masakan Imah nggak enak?"
"Em... ngga tahu sih, kan AA mah belum pernah coba masakan istri Aa."
Imah nyengir kuda. Iya lah, di rumah Dian Imah hanya tinggal makan aja.
"Oh iya A, di rumah kan nggak ada emak sama Farhan....gimana kalau.....", Imah menggantung kalimatnya.
"Kalau apa?", tanya Dadan sambil menatap Imah jail.
"Kalau...Imah main ke mas Aziz. Imah kangen sama Diaz mas....lagian sih, Farhan ikut sama Emak. Imah kan kesepian atuh."
Dadan menarik nafasnya. Ah, ternyata...Dadan salah sangka. Kirain mau memanfaatkan situasi rumah yang sepi karena nggak ada Farhan dan Emak. Tapi warung masih rame sama anak-anak.
"Ya udah, Diaz ajak aja ke sini."
"Emang mas Aziz sama mbak Di ngijinin?"
"Tanya heula atuh neng!"
"Iya, Imah ke sana. Kalau diijinin ya Imah bawa ya....?!"
"Iya."
"Tapi ada syaratnya Neng!", kata Dadan melingkarkan tangannya ke perut Imah.
"Apa sih A?"
"Mau makan!"
"Owh...iya emang kita mau makan dulu. Percuma dong udah masak nggak di makan."
"Bukan makan nasi, makan kamu!", bisik Dadan sambil menciumi leher sang istri dari belakang.
"AA mah, kan semalem udah....!", kata Imah pelan.
"Kan semalam, sekarang mah belum neng?!", kata Dadan manja.
"Ya udah, ntar malem lagi aja ya?!", Imah memberikan penawaran.
"Sekarang iya, ntar malem juga iya atuh?"
"Kok maruk amat toh A?"
"Biarin, sama istri sendiri!"
"Ya udah...tapi ntar dulu ya. Imah selesai masak. Malu atuh, bau bawang!"
"Ya udah, AA tunggu nggak pake lama!"
"Iya A....!"
__ADS_1
Dadan pun beranjak ke kamar. Sedangkan Imah menyelesaikan pekerjaan. Usai menata makanan di piring, Imah pun bergegas membersihkan diri dari bau bawang. Nggak seru kali kalau lagi mesra-mesranya eh...yang kecium malah aroma bawang.
"Lama nunggunya Tah A?", tanya Imah.
"Teu nanaon!", Dadan langsung menyergap Imah. Dan Imah pun turut mengimbangi sang suami. Pagi yang cerah ini, semakin panas dengan kegiatan panas mereka. Biar dedek nya Farhan segera hadir 😝😝😝😝✌️.
******
"Mbak Hayu, kami mau pergi dulu. Nggak tahu balik jam berapa. Lauk, aku simpan di lemari makan ya mbak. Ambil aja ! Takut ada kucing soalnya."
"Iya mbak Dian."
"Nitip kios ya Mbak Hayu!", kata Aziz.
"Ya mas!", sahut hayu. Lalu hayu pun melanjutkan pekerjaannya melayani pembeli.
Aku dan mas Aziz bergegas menaiki mobil kami.
"Dek, Diaz nggak apa-apa di bawa ke sana?"
"Kalau nggak di ajak, Diaz sama siapa mas?"
"Nitip Imah mungkin?"
"Nggak usah lah mas. Nanti kita kan bisa gantian jagain Diaz. Toh anak kita kan pinter. Ya nak Ya???", aku mengajak Diaz berkomunikasi. Si bayi kecil ku pun merespon dengan berceloteh riang.
"Mas jadi minder dek!", kata Aziz sambil terus fokus dengan kemudinya.
"Kenapa?"
"Ternyata...kamu punya segalanya, tapi mas malah mengajak mu hidup seperti ini."
"ya...begini, mas nggak bisa ngasih kamu kemewahan. Padahal mungkin kalau nggak sama mas, kamu bisa menikmati semuanya!"
"Astagfirullah mas...mas...kok kamu jadi mikir begitu sih? Ya udah, kita batalin aja ke kantor nya. Biar aku bilang mas Jul. Terserah perusahaan kita mau di akuisisi oleh perusahaan lain. Aku juga nggak mau mikirin nasib orang-orang yang kerja di sana."
"Eh, jangan dek...kasian mereka....!"
"Ya udah dong mas. Aku nggak mau kamu minder begitu. Kamu saja dari semenjak kita menikah tidak pernah telat menafkahi ku mas. Semua yang kamu kasih, lebih dari cukup untuk sekedar memenuhi kebutuhan keluarga kita."
Perdebatan yang singkat tadi berimbas pada perjalanan kami. Kami saling diam satu sama lain. Hanya terdengar ocehan Diaz di atas pangkuan ku.
Tapi, saat berhenti di lampu merah dekat kantor mas Aziz mengusap kepala ku.
"Mas minta maaf dek."
Aku pun tersenyum.
"Aku juga minta maaf ya mas!"
Mas Aziz mengecup kening ku. Lalu menowel pipi Diaz.
Perlahan, mobil kami memasuki pelataran gedung yang megah dengan beberapa lantainya.
Kami mengambil kartu parkir dan memasuki area parkir. Hampir semua mobil yang berjejer di sana mobil-mobil high class . Aziz jadi merasa minder lagi. Tapi tak ia ungkapkan pada sang istri.
Aku sendiri melihat gelagat suamiku yang terlihat sekali memperhatikan mobil di sekeliling kami.
Mas Aziz tersenyum kecil.
"Lihat lah Dek, mobil sejuta umat milik kita berada di tengah-tengah mobil mewah hahahaha."
__ADS_1
"Hahaha iya mas. Tapi kita kan bangga mas, beli nya cash. Belum tentu mobil mewah itu belinya cash kaya kita kan!? Hahaha"
"Hush! kamu tuh dek, urusan mereka punya cicilan ya biarin sih."
"Ya biarin lah, masa mau bayarin hehehe"
Kami melepas kecanggungan kami dengan menertawakan yang sebenarnya tidak lah lucu.
"Eh, mbak diandra ya?", sapa seorang sekuriti.
"Iya, pak Budi? Apa kabar pak? Masih awet ya kerja di sini? Di formalin pak?", candaku.
"Mba Dian masih aja suka begitu. Alhamdulillah baik mbak Dian. Ini...anaknya?", kata Pak Budi menanyakan Diaz.
"Iya Pak Budi."
"Ganteng banget ya kaya bapaknya? Itu...suaminya Mbak? Kirain...mbak Dian nikah sama mas Rifai !", celetuk pak Budi.
Aku dan mas Aziz sama-sama tersenyum menanggapi ucapan pak Budi.
"Ini suami saya pak, mas Aziz namanya. Kebetulan... sahabat mas Rifai juga kok pak!", kataku santai. Mas Aziz pun mengulurkan tangannya ke pak Budi.
"Oh ya??", kata pak Budi sedikit kaget.
"Pak Budi masih hafal aja sama Diandra pak, padahal kan Dian udah lama resign?", tanya Aziz.
"Orang cantik plus baik kaya mbak Diandra mah nggak bakal bisa gampang dilupain mas. Selain cantik mukanya, cantik akhlak nya juga !"
"Pak Budi, mujinya selangit. Ntar aku kegeeran lho pak!", kataku.
"Satu-satunya karyawan sini yang hobi ngasih makanan tiap Jumat ke para sekuriti dan on plus cleaning servis ya cuma mbak Dian mas. Mas beruntung sekali lho punya istri kaya mbak Dian."
"Benarkah? Wah... Alhamdulillah ya pak!",mas Aziz merangkul bahuku.
"Baru nyadar mas?", ledekku. Dan dengan gemasnya, mas Aziz memencet hidungku.
"Maaf mbak, kirain dulu mbak Dian bakal sama mas Fai. Eh, malah sama temennya."
"Kan saya emang jodohnya Dian pak, bukan Rifai. Besok, Fai baru mau nikah pak. Sama dokter!", kata Aziz tanpa melepaskan tangannya dari bahuku.
"Wah....keren....!", kata pak Budi.
"Iya pak. Beruntung ya mas Fai!", kata Aziz lagi.
"Ya...ya..kalian memang beruntung hahahah!"
Kami bertiga jadi turut tertawa.
"Ya udah pak Budi, Dian ada janji sama mas Julian."
"Mas Julian siapa mbak?"
"Mas Julian asistennya pak Kendra lah!"
"Hahah mbak Dian becanda. Orang mah pada manggil nya mister Julian mbak. Mbak Dian doang yang manggil beliau mas."
Aku dan mas Aziz saling tatap. iya, kamu nggak nanya dulu. Secara, muka Julian tuh Indo. Kok kami manggilnya mas Jul sih????
Akhirnya aku dan mas Aziz berpamitan kepada pak Budi untuk segera menemui mas Jul, alias mister Julian
Mengingat hal itu, aku dan mas Aziz kompak tertawa. Nanti,kami akan memperbaiki panggilan nya.
__ADS_1