Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Sekarang Teman


__ADS_3

"Huamm....", Imah menguap setelah bangun tidur. Dia mengucek matanya perlahan. Sampai akhirnya terbelalak saat menatap jam dindingnya.


"Astagfirullah....!", teriak Imah. Sontak, teriakan nya membuat Farah terbangun yang juga tidur di sebelah Imah.


"Apaan sih Imah!", kata Farah kesal.


"Jam delapan lewat ma! Waduh...big bos pasti marah besar!"


"Hadapi dengan senyuman mah!"


"Nggak bisa lah ma, mana ada sih ngadepin anak lanang mamah pake senyum tok. Yang ada beuh....di kepret Imah ma."


"Udah, jangan khawatir nanti mama jinakkan."


"Gaya banget mau jinakin mas Aziz, semalam apa coba? Kalau bisa jinakin mah mama ga bakal tidur disini kali."


"Mama ngalah aja Mah, biar cepet bisa merem."


"Alesan mama. Udah ah, aku mau mandi."


"Iya udah sono, gantian!"


Hampir jam sembilan Imah dan Farah masuk ke dapur. Kondisi rumah sudah kembali aman. Semua sudah rapi seperti sedia kala.


"Udah beres ma, siapa yang beresin ya?"


"Mana mama tau mah!"


Ehem...


Suara deheman Aziz menggema di dapur. Imah dan Farah memutar badan.


"Sayang...maaf ya, mama kesiangan."


"Imah juga mas, hehehe..."


"Terus kenapa kalian mengendap-endap begitu?"


"Gak apa-apa Ziz. Ya udah mama mau ke kamar mama dulu." Farah pun meninggalkan Imah di dapur bersama Aziz .


"Kalau rumah udah beres Imah buka kios aja deh mas."


"Hey....suruh siapa?", tanya Aziz.


"Karepe Imah dewek mas. Pamali lho mas nolak rejeki. Hari Minggu gini biasanya rame lho."


"Nggak usah ngajarin mas mu ya?!"


"Heheheh ampun mas, iya maaf Imah kesiangan tadi. Maap ya....!"


"Terus?"


"Pasti mas Aziz sama mbak Dian kecapekan ya beresin berdua tok!"


"Nggak lah. ngapain nyusahin diri sendiri. Tinggal bilang ke tetangga belakang juga ada yang mau, yang penting ada imbalannya. Buktinya kalian bangun semua udah beres kan."


"Iya tapi kan...Imah nggak enak mas."


"Emang aku nyuruh kamu sama mama buat beresin ini semua?"


"Aish...masih marah-marah Mulu sih mamas ganteng ku ini." Imah mencoba merayu.


"Rayuan mu nggak bakal mempan mah!"


"Iya lah...wong aku bukan mbak Di , Feby, apalagi Lili. Weeekkkkk!"


"Eh...ngomong apa kamu?"


"Mas...mas Aziz, udah dong ah. Jangan berantem mulu. Bentar lagi dia jadi istri orang lho. Dia bakal ikut suaminya. Apa kamu nggak kangen kalau dia udah nggak tinggal sama kita lagi? Yang akur dong!", bujuk ku.


Kalau ibu negara sudah memberikan titahnya, aku bisa apa atuh. Begitu kira-kira batin Aziz.


"Mbak Di, bayik besar mu dijinakin pakai apa?", keisengan Imah kambuh. Aziz kini kembali melotot.

__ADS_1


"Rahasia dong mah, bukan untuk konsumsi publik. Ya nggak mas?"


"Hem...", sahut Aziz datar.


"Mbak Di...ah...nggak fren deh!"


"Biarin, sekali-kali kan boleh belain suami sendiri."


"Kalian emang pasangan yang waw emejing!"


"Lagak Lo emejang emejing kaya tahu aja!", kata Aziz ketus.


"Tahulah, warbiyasahhh....hahahaha"


"Hush!", bentak Aziz.


"Jadi cewek tuh yang elegan kenapa sih mah."


"Iya mas ,iya. Imah kaya gini kan cuma di depan kalian aja. Di depan orang enggak."


"Terus, kita bukan orang gitu?", tanyaku.


"Maksud Imah, orang lain mbak...."


"Wis...wis...udah pada sarapan sana, ajak mama sekalian!", pinta Aziz.


"Iya, Imah panggil mama. Jadi enak, bangun tidur langsung disuruh sarapan."


"Ya udah kalau nggak mau, kerja aja dulu sana!", kata Aziz keras.


"Nggak mas...enggak. Sekarang Imah panggil mama buat sarapan."


Imah pun menuju kamar mama Farah untuk sarapan bersama.


Aku dan mas Aziz kembali ke kamar.


"Kamu jangan ngelupain emosi kamu ke Imah dong mas."


"Siapa yang emosi?"


"Tiap hari juga berantem begitu kan?"


"Bener? Bukan gara-gara semalem kan?"


"Kenapa sih, Dadan harus akrab sama Fai?", tanya Aziz ketus.


"Ya...apa salahnya mereka berteman mas. Kamu aja kenal sama kang Dadan kan?"


"Tapi kenapa Dadan harus melibatkan Fai disini. Dadan kan tahu, aku sama Fai gimana."


"Memangnya mas cerita ke Dadan kalian gimana? Memangnya Mas Fa'i juga cerita hubungan nya dengan mu gimana? Nggak tahu kan?"


"Bela aja terus!"


"Ishhh...kirain mah udah jinak, masih aja marah-marah!"


"Mas nggak marah sama kamu!"


"Nggak marah sama aku, tapi aku yang jadi sasarannya."


"Maaf sayang....mas minta maaf!"


"Selalu begitu ujungnya cuma minta maaf!"


"Maunya minta apa heem?"


"Minta duit!", bentakku meninggalkan nya.


Yah...ngalamat nggak bakal dapat jatah dari Dian nih, gumam Aziz.


*****


Ditempat lain.....

__ADS_1


"Maaf ya pak Dadan gara-gara saya salah ngomong kemaren....",kata Fai ragu.


"Panggil aja Dadan , nggak usah pakai embel-embel pak."


"Ya udah berati sama dong, jangan panggil saya pak ustadz?!"


"Oke...mas Fai? Atau Fai?"


"Tanpa mas!"


"Baiklah. Dadan. Fai. hahahahah....."


Mereka berdua tertawa tanpa beban. Mereka tidak tahu diseberang laut sana ada laki-laki yang tidak suka dengan kedekatan mereka.


"Saya minta maaf ya Dan, saya sampe salah sebut nama!"


"Iya, saya maklum Fai. Tapi, kan sekarang mbak Di sudah jadi istri mas Aziz. Masa iya mau di lamar heheh."


"Heheh iya, saya nyesel Dan udah ninggalin Dian!"


"Namanya juga penyesalan Dateng belakangan, kalau duluan baru pendaftaran."


"Garing tahu Dan...."


Dadan menepuk guru ngaji anaknya itu.


"Terima kasih ya sudah bersedia melamar Imah buat saya."


"Sama-sama Dan."


"Mbak Diandra memang cantik, pantes aja mas Aziz sama kamu cinta banget kaya begitu."


"Bukan cuma cantik wajahnya saja Dan. Tapi dia itu periang, ramah ke semua orang. Dan...dia itu penyabar sekali."


Huffft.... lagi-lagi Fai menghembuskan nafasnya berat.


"Jalani aja sekarang Fai, siapa tahu nanti ada jodoh yang datang yang insyaallah lebih baik dari mbak Di."


"Tapi saya maunya Diandra gimana dong Dan?"


"Nggak boleh lah! Istri orang masa mau diminta gitu aja."


"Tapi selama ini saya masih mencintai Dian tau Dan. Gak bisa lupain Dian. Tiga tahun lho kita pacaran."


"Tapi kan situ yang mutusin, bukan mbak Dian?"


"Kok kamu tahu Dan?"


"Tahu lah, Imah yang cerita."


"Terus, Imah cerita apa lagi Dan?"


"Nggak ada. Itu doang!"


"Jangan boong."


"Pak ustadz...udah ga pake gelar ustadz sekarang malah kaya ABG alay gini sih?"


"Maaf Dan...."


"Sini hp canggih mu!", pinta Dadan .


Fai pun memberikannya pada Dadan.


"Buat saya aja ya hp nya?", tanya Dadan.


"Eh, nggak, enak aja. Duit kamu kan banyak, beli aja sendiri kenapa!"


"Ini kan cuma hp Fai? Bisa beli lagi! Lha kamu, pengen milikin mbak Dian yang jelas-jelas istri nya mas Aziz. Emang kamu pikir mas Aziz rela ngasih mbak Dian gitu aja? Nggak bakalan!"


Dadan meletakan hp nya dimeja lagi. Usai tanpa embel-embel ustadz dan pak, kini mereka menjelma jadi sepasang sahabat.


Benar kata Dadan, apa aku bisa merelakan Dian begitu saja? Tapi aku nggak rela waktu tahu Diandra pernah dikhianati Aziz, bahkan sampai tidur dengan perempuan itu.

__ADS_1


Ah...Diandra ku....


__ADS_2