
Usai mengakhiri video call grup dengan para sahabatnya, Dadan baru menyadari jika istri tercinta nya tidak ada di samping nya.
"Kemana si Neng teh?!", gumam Dadan.
Dadan pun bangkit dari ranjang nya keluar dari kamar. Kakinya melangkah menuju ke arah dapur, benar saja istri cantiknya tengah memegang secangkir teh yang sepertinya sudah dingin.
Dengan perlahan Dadan menghampiri Imah. Di tepuk nya dengan pelan bahu sang istri.
"Astagfirullah!", Imah terlonjak.
"Maaf Neng, AA ngagetin ya?", tanya Dadan lalu duduk disebelah Imah.
Imah tak menjawab pertanyaan dari suaminya itu.
"Sayang....kamu masih marah Hem?", tanya Dadan sambil mengusap kepala Imah. Tapi Imah segera menepis nya.
"Hei...neng nya AA nu geulis tea. Ulah ngambekan wae atuh!"
Dadan mengusap pelan lengan sang istri yang masih saja mendiamkan nya.
Dadan menghela nafas. Seperti nya Imah masih sangat kerasa kepala padahal Dadan sudah berusaha meminta maaf padanya.
"Neng? AA kudu kumaha deui atuh?", tanya Dadan sambil menatap Imah. Imah sendiri tak ingin menjawab pertanyaan dari Dadan. Dia sendiri tak tahu harus bagaimana. Di satu sisi, dia tahu tanggungjawab nya terhadap suami tapi di sisi lain dia tidak bisa serta merta cuek kepada orang yang sudah baik kepada nya selama ini sebelum menikah dengan Dadan.
"Sebaik nya, Imah dan Mak tinggal terpisah. Minimal, kami jarang bertemu jadi tidak lagi bertengkar A. Dan kamu tidak perlu bingung ingin berpihak pada siapa!", kata Imah tenang.
"Ya Allah neng! Kenapa kamu punya pikiran seperti itu?", suara Dadan meninggi. Hal itu membuat Mak sedikit terganggu karena kamar Mak ada di dekat meja makan.
"Mana ada seperti itu Neng!"
"A....maaf Imah hanya ingin tenang A. Imah nggak mau kalau Mak tiap hari emosi liat Imah. Kasian Mak darah tinggi nya kumat terus."
Mak mendengar dengan seksama pertengkaran anak dan menantunya itu.
"Justru itu Neng, kamu harusnya mengalah sama Mak. Mendekati Mak. Bukan malah menjauh begitu sayang?"
"Imah bukan maksud untuk menjauh A. Imah hanya menjaga kestabilan kesehatan Mak. Biar Mak nggak emosi sama Imah gara-gara Imah nggak hamil-hamil."
Imah pun meninggalkan meja makan lalu beranjak ke kamar mereka. Dadan pun menyusul sang istri. Di dalam kamar, Mak merenung atas apa yang menantu nya katakan. Di tengah malam begini, anak dan menantunya justru bertengkar gara-gara keinginannya yang berharap segera memiliki cucu. Padahal dia sendiri merasakan seperti apa saat orang sekitarnya mencerca dirinya yang hampir lima tahun tak kunjung hamil Dadan. Dan saat ini, Imah sedang berada di posisi itu. Yang membedakan hanyalah kuantitas waktu nya saja. Imah baru menikah bulan lalu. Tak seharusnya Mak menuntut keturunan dari nya. Anak itu rezeki dari Allah, kenapa harus memaksa nya?
Di dalam kamar, pertengkaran di lanjutkan....
"Neng? Dengerin Aa!", Dadan memegang kedua bahu istrinya yang sedang emosi itu.
"Apa lagi A? Imah salah lagi?", tanya Imah dengan suara yang bergetar.
"Bukan....bukan itu Neng! Dengerin Aa ya, pisah rumah justru akan memperumit semuanya sayang. Bagaimana kamu mau mengakrabkan diri sama Mak kalau kamu saja jauh?"
"Setidaknya Imah nggak perlu mendengar Mak yang menuntut Imah segera memiliki anak. Imah juga pengen punya anak A. Tapi kan Imah nggak bisa maksa Gusti Allah buat ngasih sekejap. Imah juga butuh ketenangan A. Tolong ngerti Imah juga. Ada saat nya kok Imah ngurusin Mak. Selama jadi menantu mak, imah juga sudah memenuhi kebutuhan Mak kan? Imah hanya belum memenuhi keinginan Mak, yaitu hamil!", kata Imah keras.
"Astagfirullah Neng.... istighfar!", kata Dadan.
"Maaf a. Mungkin Imah bukan istri yang baik. Bukan menantu idaman. Tapi Imah tahu yang namanya balas budi A! AA bisa membuang Imah kapan pun tapi tidak dengan keluarga yang sedarah!"
Dada Imah naik turun. Emosi nya kali ini benar-benar meledak.
Dadan mengusap kasar wajahnya. Lalu duduk di ranjangnya.
"Ya Allah neng. Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu sayang????"
"Kenapa? Segala kemungkinan itu ada A. Apalagi jika ternyata Imah memang benar-benar tidak bisa memberikan keturunan buat kalian. Pasti Imah bakal di hmppttttt.....!"
Dadan membungkam mulut istrinya dengan mulutnya. Dia akan sedikit memaksa meminta haknya kali ini meskipun Imah menolak nya.
Nafas Imah terengah-engah menghadapi serangan-serangan mendadak dari suaminya.
"Jangan menolak keinginan Aa Neng! Dosa!", ancam Dadan. Dan benar, kalimat itu mampu membuat Imah bertekuk lutut dan mengalah menurunkan egonya.
"Berhenti marah-marah, AA menginginkan mu neng. AA mohon ya?", Dadan menyelipkan rambut di sela telinga Dadan. Dengan pasrah , Imah pun menuruti keinginan sang suami.
.
.
.
Berbeda lagi dengan pengantin baru. Hayu sudah bangun sejak jam tiga pagi. Sudah mandi wajib dan sedang bermunajat kepada sang pencipta.
Tak habis rasa syukurnya ia panjatkan pada sang khalik. Siapa sangka, saat ini dia sudah menjadi istri seorang yang pernah merusak dirinya di masa lalu.
Semua seperti mimpi. Kebencian yang mendarah daging, kini luluh dengan sebuah kata 'pernikahan' antara dia dan Damar.
Usia solat malam, tak henti-hentinya ia menatap sang suami yang tampan. Terlihat tenang, meskipun raut kelelahan jelas tercetak di wajah nya dengan matanya yang terpejam. Tiba-tiba saja Damar membuka matanya. Pertama kali yang damar lihat adalah bidadari nya yang memakai mukenah sedang menatap dirinya. Damar pun melempar kan senyum. Lesung pipi nya menambah nilai ketampanan seorang Damar.
Damar pun bangkit dari tidurnya lalu duduk di hadapan sang istri yang masih bersimpuh di atas sajadah.
"Pagi sekali udah bangun sayang?", tanya Damar.
__ADS_1
"Udah terbiasa mas."
"Tapi ini masih jam tiga lewat sayang, kamu nggak kedinginan mandi jam segini?", tanya Damar.
Hayu menggeleng pelan. Entah kenapa sejak menikah dengan almarhum mas Royan, setiap jam segini Hayu terbangun seolah-olah ada alarm yang membangun kannya.
"Nggak mas. Aku sudah terbiasa seperti ini."
Damar merasa sangat bahagia bisa memiliki perempuan yang ia cintai dari dulu.
Damar meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang istri. Hayu sempat tersentak beberapa saat tapi tak lama kemudian dia bisa beradaptasi. Tangan kanannya spontan mengusap kepala suaminya.
"Maafkan mas ya Stev. Mas pernah sangat membuat mu terluka." Damar mendongak menatap sang istri. Hayu malah tersenyum simpul.
"Mas nggak bosen bilang maaf terus?", tanya Hayu.
Damar menggeleng pelan.
"Jutaan maaf dari mulutku tidak akan bisa mengobati luka mu sayang?!", Damar menenggelamkan wajahnya di depan perut Hayu.
"Tapi aku sudah memaafkan mu mas. Kita buka lembaran baru. Dan kedepannya, berusaha lah agar hubungan kita lebih baik lagi. Aku bukan perempuan sempurna tapi kenapa kamu begitu kekeuh menginginkan ku? Padahal di luar sana banyak perempuan cantik yang menunggumu?"
Damar tersenyum tipis. Tangan nya memainkan tangan kiri Hayu.
"Karena saat aku memutuskan berpisah dengan mu waktu itu, aku janji. Tidak akan membuka pintu hatiku buat siapa pun selain kamu."
"Andai kita tidak dipertemukan lagi seperti sekarang,gimana?"
"Mas memilih untuk hidup sendiri."
"Kenapa kamu bisa berpikiran seperti itu, bukannya Mika lama mengejar mu?"
"Iya. Tapi bagi ku, Mika hanya seorang adik. Sosok nya yang ceria dan pantang menyerah tapi tetap saja tidak bisa mencairkan perasaan ku. Urusan hati kan tidak bisa dipaksakan!"
"Iya mas. Mending sekarang kamu mandi mas. Masih sempat solat malam kok."
"Hemmmm.... nanti saja solat subuh sayang.... sekarang.... mas mau nambah lagi. Boleh kan?"
"Mas ...!", Hayu menowel hidung suaminya.
"Nanti kita pulang ya, sebelum pulang kita mampir ke rumah sakit dulu."
"Kamu ada praktek pagi mas?"
"Nggak, sore. Tapi.... mas pengen kita konsul ke dokter Lala."
"Dokter kandungan yang kemarin menangani Dian."
"Memang mau ngapain Konsul ke dokter Lala?"
"Merencanakan damar junior lah sayang."
"Kamu aneh-aneh saja mas. Kita saja baru melakukan nya semalam. Masa mau priksa?"
"Bukan priksa sayang, hanya Konsul! Mau ya?", bujuk Damar.
"Ya udah, tapi nanti pamit Daddy dulu ya."
"Ya dong sayang. Ayuk!!!", ajak damar.
"Tapi mas.....?!", Damar membukakan mukenah Hayu. Selanjutnya.....damar kembali menggarap lahannya.
.
.
Matahari sudah terbit di ujung timur sana. Aku mengerjap kan mataku beberapa saat. Badanku terasa lebih baik di bandingkan kemarin. Kulihat box Diaz sudah kosong. Begitu pula dengan mas Aziz yang sudah tidak ada di kamar.
Aku berjalan pelan menuju kamar mandi. Membersihkan diri sebelum keluar dari kamar .
Sepuluh menit berlalu, aku sudah mengganti daster ku dengan gamis rumahan tapi tak memakai hijab.
Aku pun keluar dari kamar ku. Meskipun pelan, aku bisa menjangkau dapur. Ku lihat teh Neng sedang sibuk membuat sarapan.
"Lho, mbak Di? Kok jalan sih? Kan masih sakit?", tanya Teh Neng lalu buru-buru menghampiri ku.
"Aku udah baikan kok teh. Teteh masak apa? Diaz di mana?"
"Cuma nasi goreng mbak Di. Sayang kan nasi semalam nggak di habiskan. Mending di bikin nasi goreng."
"Iya sih teh."
"Den Diaz sama mas Aziz ada di depan,tadi ngobrol sama kang Ujang mbak."
"Heumm....kirain teh kemana. Saya bangun kesiangan banget ini."
"Maklum lah mbak, kan lagi sakit. Nggak solat juga kan?"
__ADS_1
"Iya sih teh!"
Tak lama kemudian, mas Aziz datang membawa diaz dalam gendongannya.
"Kamu udah bangun sayang?", tanya Aziz sambil mengecup puncak kepalaku.
"Kenapa mas ngga bangunin aku? Kesiangan kan aku???", kataku manyun. Diaz langsung meminta haknya padaku. Mulutnya langsung mencari ke sumber pengkal dahaganya.
"Haus banget Yaz?", canda mas Aziz yang kini duduk di hadapan ku. Aku menanggapi nya dengan tersenyum.
"Sarapan nya mas, mbak...!"
"Makasih Teh. Em...kang Ujang udah di bawain bekal teh?"
"Udah masak tadi di rumah Mbak."
"owh....ya udah."
"Saya permisi ke belakang mbak. Jemurin pakaian dulu. Den Diaz masih Mimi Asi kan?"
"Teteh nyuci juga?", tanyaku.
"Nggak apa-apa mbak. Kan den Diaz juga anteng sama bundanya."
"Kasian teh Neng. Udah capek ngurusin Diaz di tambah lagi ngurus rumah ."
"Mbak Di mah gitu banget sih, tenang aja. Teteh seneng kok bantuin di sini."
"Makasih ya teh...."
"Sama-sama mbak."
Teh neng pun undur diri menuju tempat menjemur pakaian.
"Mas, gaji nya teh neng tambahin atuh!"
"Iya gampang itu dek!", kata Aziz sambil memakan nasi goreng.
"Hem...oke lah kalau begitu."
"Dek, habis ini mas mau ke dwp."
"Aku ikut?"
"Nggak. Kamu di rumah saja dulu. Istirahat."
Mas Aziz mengusap kepalaku.
"Memang ada kabar apa di DWP?"
"Banyak berkas yang harus di cek Dek. Nanti kalau memang ada yang perlu kamu tandatangani,mas bawa pulang berkas nya."
"Hem... ya udah."
"Mas dan Julian juga mau ke kantor polisi. Mau bikin laporan kasus kamu kemarin dek."
"Harus secepatnya Tah mas? Tapi...Sharen kan mau nikah mas? Kasian kalau om Ronald di penjara, Sharen gimana?"
"yang mau nikah kan Sharen sama Julian. Ya nggak gimana-gimana."
"Tapi mas.....?"
"Stop dek. Aku tahu kamu sangat baik, tapi tolong. Kali ini aja, kamu realistis! Tidak semua kejahatan selesai hanya dengan kata maaf!"
Aku hanya memikirkan perasaan Sharen jika dia menikah tak didampingi ayahnya.
"Sudah,nggak usah berpikir yang macem-macem. Mas dan Julian akan menyelesaikannya."
Aku mengangguk patuh.
"Oh iya mas, boleh nggak aku buka kios? Kasian para pelanggan kita Mas."
"Tapi kamu capek nanti dek."
"Nggak mas. Aku kan cuma duduk. Kalau capek ya tinggal tutup aja."
"Boleh. Tapi janji, kalau capek kios tutup! Karena saat ini kesehatan mu lebih penting."
"Iya mas."
Jam tujuh pagi, mas Aziz berangkat ke DWP. Dia sudah membuat janji dengan Julian untuk bertemu di kantor DWP.
.
.
Aku membuka kios kami. Teh neng pun menemaniku membuka kios sambutan menjaga Diaz. Benar saja, para pelanggan ku sudah menunggu ternyata.
__ADS_1
Bukan nominal uang yang ku prioritas kan dari kios ini, tapi....aku juga ingin membantu mereka yang membutuhkan jasa dan barang dari kiosku. Karena hal besar berawal dari hal kecil juga kan?????