Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 189


__ADS_3

"Selamat sore, Bu Dian...pak Aziz!", sapa beberapa karyawan yang berpapasan dengan kami. Saat ini memang sudah memasuki jam pulang kantor, jadi kami pun bersiap-siap menuju rumah.


"Dek, mas pesan taksi dulu ya."


"Iya mas."


"Maaf pak, Bu... saya antar saja ya?", Julian menawarkan diri.


"Nggak usah Mas Jul. Kita naik taksi aja."


Mas Aziz masih mengutak-atik ponselnya. Tapi sepertinya dari tadi, taksi yang tersedia justru berada di jarak yang cukup jauh dari kantor. Karena memang ini jam macet luar biasa.


"Tapi di jam sekarang biasanya susah dapat taksi pak", kata Julian lagi. Mas Aziz menatap ke arah Julian. Dan Julian jadi salah tingkah.


Beberapa saat kemudian, Sharen muncul di belakang Julian. Entah kenapa tiba-tiba Aziz punya ide untuk mengerjai asisten nya Dian itu.


"Kamu mau anterin kami?", tanya Aziz pada Julian. Aku mencium gelagat iseng dari mas Aziz setelah tahu ada Sharen di situ.


"Iya pak Aziz", jawab Julian.


"Sayang, kita kan mau pulang bareng", kata Sharen merajuk pada Julian. Tapi sepertinya Julian tidak nyaman dengan apa yang Sharen lakukan.


"Tuh...kan...udah, nggak usah anterin kami. kami bisa naik taksi kok. Kasian tunangan kamu Jul."


Julian jadi merasa tidak enak hati.


"Maaf pak Aziz, Bu dian...."


"Nggak apa-apa mas. Nggak usah merasa nggak enak begitu lah. Kan memang tugas Mas Jul bukan nyupirin kami."


"Sekali lagi maaf pak, Bu. Kalau begitu biar supir kantor yang antar. Atau...anda bawa mobil inventaris?"


"Nggak usah. Kami naik taksi aja. Garasi kami kecil. Nggak bisa nampung mobil banyak-banyak."


Ditengah perdebatan kami yang alot hanya karena kendaraan untuk pulang, datang lah pahlawan kesiangan.


"Assalamualaikum!", sapa Fai.


"Walaikumsalam."


Hadehhh....nih makhluk astral kenapa ada di sini sih? Batinku.


"Kamu ngapain di sini?" tanyaku.


"Suami mu yang wa gue. kebetulan gue lewatin daerah sini."


"bener gitu mas?"


"Iya. Dari tadi nyari taksi susah. Kebetulan kan dia lagi lewat sini. Ya udah deh!", jawab Aziz.


"Memang nya kamu nggak sibuk mas? Emang nggak jemput Mika?"


"mika praktek sampe malam. Aku nunggu di sana ga boleh. Aku juga jenuh mau ngapain."


Mika? Oh...jadi ini suaminya mika? Batin Sharen.


"Ya udah, kita balik", ajak mas Aziz.


"Mas ...!", aku menarik tangan mas Aziz. Tapi dia tetap menarik ku mengikuti Fai yang berjalan di depan kami.


"Kami duluan ya....!", pamit ku pada Julian dan Sharen. Mereka berdua pun menganggukkan kepalanya.


Sesampainya di parkiran, kami di panggil oleh pak Budi.


"Mba dian, mas Aziz....!", panggil pak Budi. Sedangkan Fai sudah berada di sebelah pintu mobilnya.


"Ya pak Budi!"


"Saya minta maaf....!", kata pak Budi.


"Maaf untuk apa ya pak?", tanyaku.

__ADS_1


"Saya nggak tahu kalau mba Di itu CEO baru perusahaan ini. Saya bertindak kelewatan. Sok akrab, sok menasehati kalian. Saya benar-benar minta maaf!", kata pak Budi sungguh-sungguh.


"Ya Allah pak Budi. Pak Budi sudah Dian anggap bapak sendiri lho. Jangan sungkan-sungkan lho?!"


"Tapi saya nggak enak mbak!"


"Stttttt....pak Budi, tolong bersikap lah seperti biasanya."


Pak Budi pun tersenyum pada ku dan mas Aziz.


''Terimakasih mbak!"


"Sama-sama pak Budi."


Di dalam mobil, Fai memanggil kami berdua.


"Ziz, Di....ayok!", ajak nya.


Aku dan mas Aziz pun mengiyakan.


"Ya udah pak, kami balik duluan ya", kata mas Aziz sambil menepuk bahu pak Budi.


Pak Budi pun tersenyum dan kembali mengangguk.


"Maaf, mas....itu yang di mobil kaya pernah lihat, siapa ya?''


"Rifai pak Budi, mantan nya Diandra!", jawab mas Aziz.


"Nggak usah pakai penekanan kali ngomong mantan nya !!!", kata ku ngegas.


"Masyaallah.... kalian bisa seakrab ini?", tanya pak Budi heran.


"Iya lah pak. Kami kan memang bersahabat."


Pak Budi semakin mengagumi sepasang suami istri itu.


"Kami pulang ya pak?!"


"Silahkan, hati-hati ya."


Kami pun menuju mobil Fai. Dia sudah memasang bibirnya yang manyun.


"Lama deh....!", kata Fai ngomel.


"Iya...maap. Tadi pak Budi noh nanyain Lo!", kata Aziz sambil membuka pintu mobil bagian belakang untuk ku. Saat dia mau mendarat kan bokong nya, Fai memanggil nya.


"Lo pikir, gue sopir lo Ziz? Depan!" titah Fai.


"Ya elah bro, nggak seneng amat sih liat gue seneng."


Mas Aziz pun pindah duduk disamping Fai.


"Pak Budi siapa sih?",tanya Fai.


"Liat aja, masih kenal nggak Lo?"


Mobil Fai pun mengitari tempat parkir sampai dekat ke Pak Budi yang sedang berdiri.


"Sore mas Fai!", sapa pak Budi.


"Ah, iya. Pak Budi sehat?", tanya Fai yang baru ingat pada pak Budi.


"Alhamdulillah sehat mas."


"Saya duluan ya pak....?!"


"Iya, silahkan. hati-hati."


Mobil pun keluar dari area parkir. Jalanan mulai padat di jam pulang kerja seperti sekarang.


"Jadi, Lo dari siang nemenin Mika di rumah sakit?", tanya Aziz memulai obrolan.

__ADS_1


"Iya. padahal kan dia harusnya masih cuti", jawab Fai lemas.


"Resiko pekerjaan mas", aku menimpalinya.


"Iya sih. Mika juga bilang gitu."


"Lha terus , habis ini mau kemana Lo?"


"Anterin Lo ya pulang lah. Abis itu baru jemput Mika."


"Owh....gue pikir Lo mau numpang makan di rumah gue."


"Kalau boleh ya nggak apa-apa sih....!"


"Heeeemmmm mau Lo!!?"


"Emang....!", sahut Fai. Entahlah....kenapa mereka berdua masih sering seperti anak kecil.


"Oh iya Di. Makasih ya!" ,ucap Fai. Aziz melirik ke sahabatnya itu.


"Makasih buat ramuan semalam."


Aku mencebikkan mulutku.


"Ishhh....nggak usah bahas begituan ya?!"


"Lho...cuma bilang makasih doang kok malah ngegas sih Di???"


Mas Aziz malah cengengesan.


"Lo nggak usah bahas begituan di depan bini gue Lo."


"Kenapa emangnya? Toh ..dulu gue juga belum sempat nyobain. Nyicil atas nya doang....!", kata Fai.


Plukkk! Aku memukul bahu Fai dari belakang.


"Awww ....sakit Di!", kata Fai sambil mengusap bekas pukulan ku.


"Tadinya gue yang mau nimpuk, tapi keduluan sama Dian. Ya.... Alhamdulillah."


"Tapi sakit beneran deh....Di. Awww.....!"


"Sakit? Kan istri mu dokter. Minta obatin sama Mika lah."


"Kamu mah Di...kenapa sih jadi sensi gini. PMS ya? Makanya semalam Aziz di liburin? Padahal udah siap gempur!?" tanya Fai lagi.


Plakkkk.... lagi-lagi di tempat yang sama, Aziz menimpuk Fai lagi.


"Aww....sakit *ego! Kalian emang ya! Aww.....ssshhhh!!!!", desis Fai.


"Makanya, punya mulut tuh di rem. Kemaren aja malu-malu Lo. Sekalinya udah ngerasain begituan, di bahas Mulu di senggol Mulu."


"Apaan sih pada.... bener-bener deh. Kalian emang kompak! Kompak ngeselin nya. Bukannya ucapan makasih yang gue dapet, malah di timpuk sana sini. Nyesel gue jemput tadi", kata Fai besungut-sungut.


Aku memajukan badanku untuk mendekati mereka.


"Yakin nyesel jemput aku mas? Hem???", tanyaku.


"Hah? Nggak Di. Ikhlas kok. Beneran ikhlas!", jawab Fai.


"Ya udah, nggak usah ngedumel kalo gitu!",kataku ketus.


"Dah....gue aja yang pawang nya kalah. Apalagi Lo bro!",. bisik Aziz.


"Iya, untung gue pernah cinta ya. Bukan jadi bini gue. Kalo nggak , remek kali ni badan", Fai pun tak kalah berbisik pada mas Aziz.


"Aku dengar lho.....!", kataku sambil melipat dada.


Kedua pria itu pun tidak berani lagi bicara.


******

__ADS_1


Cuma peringatan.


Jangan sekali-kali ngajak wanita berdebat. Lo nggak bakal menang. Lo bener aja di salahkan, gimana kalau salah beneran??????


__ADS_2