Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Pengakuan Lili


__ADS_3

"Assalamualaikum!", Hayu memberi salam setelah Imah membuka kios.


"Walaikumsalam, masuk mbak Hayu!"


Imah menyeret salah satu etalase kaca didepannya. Hayu dan Faiz pun masuk ke dalam kios.


"Selamat pagi anak ganteng, udah sarapan?", tanya Imah pada Faiz.


"Udah Tante, tadi pagi Umi masak. Nih, Faiz juga bawa bekel lho!"


"Oh, iya??? Bekel lauk apa?", tanya Imah antusias.


"Ayam goreng lengkuas Tante. Umi kalau masak kaya gini enak banget deh. Ntar Tante Imah cobain ya?"


"Boleh!", kata Imah semangat.


"Mbak Imah, apa yang harus saya lakukan terlebih dulu mbak?"


"Imah sih biasanya beberes dulu mbak. Mengelap etalase, nyapu ngepel, ngecek dagangan. Terserah, kita bagi tugas aja. Mbak Hayu mau yang mana?"


"Ya udah, saya nyapu ngepel aja ya mbak Imah. Nggak apa-apa kan?"


"Eh, Mbak Hayu panggil Imah aja, Nggak usah pake embel-embel Mbak."


"Tapi kan...mbak Imah, adiknya mas Aziz. Bos saya kan?"


"Ya...tapi kan Imah lebih muda dari mbak Hayu. lagian, walaupun Imah adiknya mas Aziz tapi Imah disini juga kerja lho mbak. Dibayar! Ora gratisan hehehehe!"


"Masa sih?"


"Iya lah hahahah....!", Imah tertawa renyah.


"Imah, mas mau belanja. Udah di cek apa aja yang habis? Kayanya kemaren lumayan ramai?"


"Iya mas, Imah udah potong stok semalam."


"Semalam? Emang kapan nyetok nya?"


"Sebelum Imah tidur heheh kan biar pas mas Aziz minta, Imah udah siapin!"


"Anak pinter!", Aziz menepuk-nepuk bahu adik sepupunya itu.


"Jangan kenceng-kenceng atuh mas. sakit ih...ntar Imah aduin sama A Dadan!"


"Owh, ceritanya udah balikan sama kang Dadan?"


"Heheh belum sih, baru mau rencana!"


"Dih, nggak jelas banget sih!"


"Udah sana ah, mas berangkat aja!"


"Lo ngusir gue?"


"Heheh nggak dennng....!", Imah nyengir kuda. Aziz sampai lupa kalau ada Hayu di belakang Imah.


"Pagi mas ...!", sapa Hayu.


"Eh, iya. Pagi mbak Hayu. Maaf, saya nggak liat ada mbak Hayu!"


"Mosok seh, Segede Iki gak ketok mas?"


"Jawir, lu kalo ngomong ditranslete pakai bahasa yang semua orang tahu, bisa kan?"


"Iyo...Iyo....!"


"Maaf mbak Hayu, kami memang suka bercanda!", Aziz mengusap tengkuknya sendiri.Malu dong, masa nggak ada wibawa nya sama sekali di depan karyawan satu-satunya 😂. Kalo Imah kan cuma bala bantuan he....


"Nggak apa-apa mas!", kata Hayu sambil menunduk, tidak mau menatap bos nya.


"Jawir, mumpung gue pergi Lo mau nitip apa?"


"Emoh ah...Imah kangen soto mie nya A Dadan! Ntar mau minta di anterin aja."


"Dih...cewek kok gitu amat, kemaren aja nangis-nangis Bombay, minta di batalin nikahnya. Sekarang malah agresif, minta di samperin!"


"Biarin... kemaren-kemaren ya kemaren lah, Saiki Yo Saiki!", Imah memanyunkan bibirnya.


"Sekarepmu mah. Kumaha sia we!", kata Aziz meninggalkan imah dan hayu.


"Oh iya, assalamualaikum!", Aziz berpamitan.


"Walaikumsalam!", jawab Imah dan hayu.


*****

__ADS_1


[Iya ma, ya udah lain kali mama bilang ya kalau ke Surabaya.]


[Maaf Di, mbak mu ini lho...lagi ngidam. Pengen kerak telor katanya. Ya udah mama langsung otw Surabaya lah]


[Aduh, ngidamnya seru banget ya ma. Belinya di Jakarta, makannya di Surabaya heheheh]


[Tahu nih calon ponakan kalian]


Di Surabaya, Imas meminta ponsel mamanya.


[Dian...]


[Ya mbak Imas, kenapa]


[Aziz udah nggak macem-macem lagi kan?]


[Nggak mbak, mbak tenang aja. Adikmu itu udah dijinakkan kok]


[Makasih ya Di, kamu udah mau maafin Aziz]


[Jangan sungkan begitu mbak Imas, semua udah berlalu]


[Iya, tapi sekali lagi makasih ya Di!]


[Iya mbak Imas]


[Ya udah Di, kapan-kapan di sambung lagi ya?]


[Iya mbak]


[Yo wes. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Usai mandi pagi, Diaz sudah tertidur pulas. Jadi aku bisa mengerjakan pekerjaan yang lain. Memasak sudah kulakukan tadi pagi, sekarang saatnya menyetrika baju sambil menunggu mesin cuci menggiling cucian hari ini.


Nanti, setelah semua selesai aku baru akan membantu Imah dan mbak Hayu di depan. Yang penting kewajibanku sebagai ibu rumah tangga sudah ku penuhi.


*****


Saat ini kios lumayan ramai. Faiz yang dasarnya anak pengertian pun memahami kondisi uminya yang sedang bekerja. Dia cukup duduk di dekat meja sambil memainkan mobil-mobilan nya yang kecil.


Satu persatu pembeli pun meninggalkan kios.


"Setiap hari ramai begini Mah, sampai sore?"


"Umi, Faiz pinjem hp umi boleh? Sebentar aja kok mainnya...!", rayu Faiz.


"Janji ya, nggak boleh lama! Nanti matanya sakit lho!", Hayu menasehati putranya.


"Siap umi!"


Hayu pun memberikan ponsel nya yang memang sudah ketinggalan jaman. Imah memperhatikan Hayu dengan seksama.


Hayu itu perempuan yang manis, tidak terlalu putih juga tapi enak di pandang. Mungkin, karena dia memang rajin berwudhu kali ya? Kalau beli skinker kayanya enggak deh, buat makan aja susah. Boro-boro mikir skinker. Gumam Imah.


"Astagfirullah!", desis imah.


"Kenapa mah?", tanya hayu.


"Enggak mbak hayu, nggak apa-apa!"


"Mah...apa...mas Aziz dan mbak Dian sudah lama menikah?", tanya hayu memulai percakapan.


"Iya mungkin lima atau enam tahun mungkin. Kenapa mbak?"


"Enggak, penasaran aja."


"Ya...mereka memang beberapa tahun setelah menikah belum di kasih anak sih mba. Tapi Alhamdulillah, Diaz lahir di tahun ini."


"Alhamdulillah...!", kata Hayu.


"Kamu sendiri mah?"


"Imah? Imah juga sudah pernah menikah mbak!"


"Masa sih?"


"Iya, beberapa tahun yang lalu lah pokoknya. Tapi, pas mau malam pertama tuh aki-aki meninggal. Alhasil, Imah jadi janda tapi masih perawan heheheh!"


Hayu mengernyitkan alisnya. dia nampak berpikir.


"Sudah mbak, ngga usah di pikirin."


"Ah, iya Mah!"

__ADS_1


"Tapi, insyaallah...Imah mau menikah, sama A Dadan. Mbak tahu, warung soto mie yang di sana?", Imah menunjukan jarinya ke arah warung Dadan.


"Oh, warung soto itu? Iya, saya tahu!"


"Iya, pemilik warung itu. Niatnya kami menikah Minggu depan. Tapi, karena ada halangan jadi untuk sementara kami tunda."


"Oh...begitu....!"


"Mbak, boleh imah tanya?"


"Tanya apa?"


"Kenapa mbak Hayu nggak pernah liat mas Aziz langsung? Tapi mbak malah curi-curi pandang ke mas Aziz?"


"Enggak mah....!"


"Imah serius lho mbak nanyanya....?!", Imah mulai merajuk.


"Mah, mas Aziz kan suami orang. Masa saya mau liatin sih."


"Terus, kenapa curi-curi pandang.Imah liat lho tadi, waktu Imah sama mas Aziz sedang bercanda mbak Hayu liatin masku gimana....gitu!"


Hayu mencoba tersenyum.


"Maaf ya mah, kalau tingkah saya bikin kamu nggak nyaman."


"Nggak gitu mbak Hayu, Imah cuma takut aja. Kelamaan liatin mas Aziz, nanti mbak Hayu jatuh cinta lagi. Jangan ya...mas ku itu limited edition. Hahahaha!"


Astagfirullah, desis Hayu.


Hayu hanya berusaha tersenyum menanggapi ucapan Imah barusan. Dia tak tahu, apakah Imah benar-benar sedang mengingatkan nya atau hanya ingin bercanda dengannya.


Tapi, terus terang...entah kenapa, melihat kemesraan Dian dan Aziz kemarin ada rasa iri di hati, andaikata mas Royan masih ada....


"Mbak, mbak Hayu kok bengong? Itu, ada yang beli di depan mbak?!"


"Oh, iya...maaf...maaf...!". Hayu pun melayani si pembeli dengan cekatan


Apakah ucapan ku tadi membuat Mbak hayu tersinggung ya? Gumam Imah. Tapi, aku kan hanya antisipasi saja. Secara, dia nggak mau rumah tangga mbak nya terganggu.


"Tante Imah....", aku membawa Diaz ke dalam toko.


"Anak Tante yang ganteng wes Tangi."


Imah menghujani Diaz dengan ciuman. Sedangkan si bayi kecil itu justru kegirangan dengan polah imah.


"Gimana mbak Hayu, udah bisa kan?"


"Alhamdulillah, sudah di ajarin imah mbak Dian!"


"Oh, syukurlah."


Baru saja ku dudukan pantatku di bangku, tiba-tiba ada seorang wanita seksi berdiri di hadapan ku. Siapa lagi coba????.


"Hai, Di! Apa kabar Lo?", tanya Lili.


"Aku pikir, kamu sudah tidak akan menampakkan diri didepan ku Mbak !?"


"Hem...kamu pikir, dengan gambar itu...bisa jadi bukti heh?"


"Maksudmu?"


"Bisa saja itu mobilku, tapi yang membawa mobil itu bisa saja orang lain. Apakah polisi percaya begitu saja?"


"Lalu, mau kamu apa sekarang?"


"Belum ada rencana sih!" kata Lili sambil membuka kacamatanya.


"Mas Aziz sedang nggak ada di rumah!", sahut Imah yang sedang duduk di lantai bersama Faiz dan Diaz.


"Its okey...! Gue ga ada maksud buat bunuh Lo kok Di. Niat gue...gue mau bikin Lo celaka. Minimal cacat lah ya...biar Aziz ogah sama Lo."


"Astagfirullah....!"desis ku dan Imah berbarengan. Hayu hanya duduk bersama anaknya di bawah. Tidak ingin mencampuri urusan mereka.


"Oh, jadi...mbak Dian celaka itu gara-gara kamu ha? Dasar ulet bulu, nggak punya urat malu. Masih aja ngejar-ngejar laki orang!"


"Imah...udah Imah! Jangan main kasar begitu!"


Imah hampir saja menarik lengan Lili.


"Ya... sayangnya kamu beruntung sekali. Dua lelaki itu sama-sama menyayangi mu.Cih...entah apa yang ada padamu!"


Imah Kemabli mengepalkan tangannya.


"Pergi lah mbak lili! Jangan bikin ulah disini!", seru Imah.

__ADS_1


Suasana mendadak hening, Diaz dan Faiz pun bermain tanpa suara.


Lili mau bikin ulah apa lagi?


__ADS_2