
"Lepas mas!",aku membanting tangannya yang mencengkeram pergelangan tangan ku.
"Dian, tolong bilang padaku kalau kamu sudah tidak ada perasaan padaku."
"Iya mas Rifai, aku tidak punya perasaan apa pun padamu. Aku sudah melupkan perasaan ku padamu."
"Bohong!"
"Ya udah kalau nggak percaya."
Aku berusaha untuk kembali ke luar kamarnya.
"Kamu masih ingat kenangan kita, kamu masih ingat barang-barang berharga kita. Aku tidak percaya kalau kamu bisa semudah itu melupakan ku."
"Kenapa tidak bisa mas? Aku punya masa depan. Punya mas Aziz dan Diaz. mereka masa depan ku, kebahagian ku."
"Dan aku hanya masa lalu mu?"
"Iya. Kita hanya punya masa lalu. Dan...mika adalah masa depan mu. Mika akan membahagiakan mu seperti mas Aziz sudah membahagiakanku."
"Kamu sama sekali tidak ada perasaan sedih sedikit pun dengan rencana pertunangan ku dan mika?"
"Kenapa sedih? Justru aku bahagia mas. Setidaknya, kamu berhenti usil pada suami ku."
Mas Fai tersenyum terpaksa.
"Kamu masih menyisakan rasa itu Di!"
"Sisa? Baiklah.Oke.Masih ada sisa. Dimana-mana yang namanya sisa itu sedikit kan mas? Tapi sayangnya semua sudah tak bersisa mas.Habis. Hilang. Sejak kamu memutuskan sepihak di hari itu. Di hari yang seharusnya kita lewati berdua. Kamu tak menampakkan batang hidung mu sekalipun. Kamu yang sudah menjadi seorang pecundang. Kamu yang sudah ku percaya untuk menjaga semuanya tapi kamu juga yang sudah menghancurkan semuanya. Sejak saat itu mas, perasaan ku sudah mati terhadap mu."
Aku meluapkan emosi ku yang ku pendam bertahun-tahun. Dia yang sudah memancing nya. Kenapa jadi begini sih? Niatnya kan aku hanya ingin menolong Abah membujuk Fai, kenapa malah jadi nostalgia begini? Dian...Dian...salah. Kamu salah!
"Maaf Di!", hanya itu yang mampu Fai katakan.
"Lupakan mas, kita keluar. Sebentar lagi kita berangkat kan? Siapkan saja mental mu!"
"Dian, aku memang masih mencintai mu. Sampai kapan pun. Mungkin, suatu saat nanti aku akan mencintai Mika. Tapi, perasaan ku padamu tidak akan pernah bisa berubah."
"Sudah sering ku bilang, jangan bicara cinta-cinta lagi padaku. Aku ini istri orang, istri sahabatmu mas!"
"aku akan menyimpan cintaku ini."
"Bodo amat lah. Buruan turun ah!"
"Baiklah aku turun, tapi....!"
__ADS_1
"Tapi apa lagi?"
"Tetaplah menjadi Dian ku yang dulu. Aku tidak ingin ada air mata di wajah mu. Pengkhianatan Aziz saat itu, aku harap menjadi hal menyakitkan terakhir dalam hidupmu."
"Kamu tak tahu apa pun tentang hal itu mas!"
"Aku memang tak tahu semuanya, tapi aku tahu seperti apa perasaan dan sakit hatimu."
Aku menatap tajam matanya yang merasa sangat tahu dengan perasaan ku.
"Iya. Aku sudah terbiasa sakit hati mas. Turun lah, kalau tidak..."
"Kalau tidak apa?"
"Aku akan pulang, jangan harap kamu bisa menginjakkan kaki di rumah ku."
"Harus nya kamu yang ada di sini Dian. Harusnya ini jadi rumah mu bernaung bersama ku."
"Cukup mas! Cukup cukup cukup. Kalau kamu tidak ingin turun bersama ku, terserah. Aku dan mas Aziz akan pulang!"
Aku pun meninggalkan kamarnya. Bahasan unfaedah yang dari tadi terjadi, harusnya tidak pernah ada. Aku menuruni tangga sendiri. Bodo amat lah, dia mau turun atau tidak. Aku tidak mau peduli. Tapi ternyata, Fai mengikuti di belakang ku.
Ah, tidak sia-sia obrolan tak penting tadi di kamarnya .
"Alhamdulillah, akhirnya kamu turun juga. Kita bersiap ya? Busnya sudah siap!", kata Abah senang. Fai hanya menurut saja pada abahnya.
Aku membiarkan yang lain masuk terlebih dulu. Sedangkan aku dan mas Aziz diam saja.
"Dek, kenapa? apa yang terjadi di dalam?"
"Nggak apa-apa."
Mas Aziz merengkuh bahuku. Mama sudah membawa Diaz lebih dulu masuk ke bus.
"Kamu berhasil membujuk nya. Pasti ada yang membuat nya menurut pada mu dek. Kalau mas boleh tau, apa itu dek?"
"Aku cuma mengancam mas!"
Mas Aziz mengernyitkan alisnya.
"Mengancam?"
"Iya. Kalau dia tak mau turun juga, aku dan kamu pulang mas. Dan aku melarang nya untuk sekedar datang ke rumah kita."
"Hanya itu?"
__ADS_1
"Iya. Kamu nggak percaya mas?"
"Bukan nggak percaya, masa iya sih Fai nurut begitu saja?"
"Gimana nggak, rumah kita udah kaya rumah ke dua buat dia."
Mas Aziz mengusap kepalaku.
"Kita masuk bus!", tangannya menggandeng mesra tangan ku. Mas Fai dan kedua orang tua nya duduk di belakang supir dan aku duduk di kursi agak belakang.
Entah kenapa aku seperti melihat mata mas Fai mengawasi ku saat aku melewatinya.
Dian, aku tahu seperti apa perasaan mu sayang. Kamu hanya berusaha menutupi nya. Tiga tahun bersamanya pasti tetep berbeda dengan ku yang sudah hampir enam tahun bersamamu. Aku tahu kamu mencintai ku, menyerahkan masa depan mu padaku. Tapi , Fai lah cinta pertama mu Di. Aku berusaha untuk bisa membahagiakan mu dengan caraku sendiri.
"Kamu kenapa mas?", tanyaku. Mas Aziz malah merengkuh bahuku, membuatku bersandarkan di bahunya.
"Maafkan mas...!", bisiknya pelan. Aku rasa hanya aku yang mendengar nya.
"Untuk?"
"Aku sering membuat mu menangis, sering menyakiti mu , belum bisa membahagiakan mu."
"Mas... kenapa kamu jadi cengeng begini?", aku mencubit perut nya. Tapi tangan ku yang masih ada di perut nya, dia genggam dengan erat.
"Tetaplah bersamaku Dek."
"Iya, memangnya aku mau kemana sih mas kalau bukan sama kamu."
Mas Aziz tersenyum. Meskipun aku tak melihat wajahnya tapi aku merasakan saat jakunnya bergerak.
"Maaf, saat dulu melamar mu...aku tidak mengadakan acara spesial, apalagi acara semacam ini!"
Aku pun membenarkan posisi dudukku.
"Memangnya aku memintanya?"
"Kamu memang tak meminta nya dek. Tapi...bahkan pernikahan saja tanpa pesta apa pun. Padahal aku mampu memberikan nya untuk mu."
"Aku yang ingin pernikahan kita tanpa pesta. Yang penting kita sudah sah di mata agama, di mata hukum dan negara."
Saat itu, mama Farah belum bisa menerimaku sepenuhnya. Aku hanya anak yatim piatu. Ditambah lagi karena aku pernah bersama mas Fai sebelum aku dan mas Aziz memutuskan untuk menikah. Banyak yang mama Farah pertimbangkan tentang aku. Tapi aku bersyukur, sekarang mama benar-benar sudah berubah. Menyayangi ku seperti anak nya sendiri.
"Sudah mas, nggak usah bahas kaya begini. Sekarang kita juga bahagia kan tanpa harus ada pesta meriah?"
"Iya. Mas bahagia. Mas beruntung memilikimu."
__ADS_1
Aku jadi merasa tersanjung dengan pujiannya. Sejenak aku lupa, kalau mas Aziz ku pernah tak sengaja menyakiti ku.
Bus pun melaju dengan kecepatan sedang menuju kediaman orang tua Mika.