
Aku duduk bersandar di kursi tunggu. Bibirku tak henti-hentinya mengeluarkan kalimat memuji asmaNya.
Mika masih bersama ku saat ini. Dia tak meninggalkan ku barang semenit pun.
"Di, kamu kan masih dalam pemulihan sebaiknya kamu makan dulu ya? Aku tahu, kamu pasti sama sekali belum makan kan? Kamu harus jaga kesehatan mu sendiri Di, ada Diaz yang harus kamu pikirkan juga!", Mika menasehati ku.
"Iya, sebentar lagi", sahutku di sela dzikir ku.
"Aku pesenin makanan ya?", kata mika beranjak.
Aku menggeleng. Lalu menarik Mika duduk disebelah ku lagi.
"Kenapa?"
"Aku sudah banyak merepotkan kalian semua. Padahal harusnya hari ini kalian sedang menikmati masa liburan kalian."
"Di, kenapa kamu bicara begitu? Kami ini saudara mu, bagaimana kami akan bersenang-senang sedang kan saudara kami sendiri sedang mendapat musibah? Berhenti lah memikirkan orang lain . Pikirkanlah perasaan mu sendiri Di?!"
Kami berdua terdiam sampai dokter Revan dan beberapa perawan keluar dari IGD dengan membawa mas Aziz. Seketika aku bangkit dari dudukku.
Astagfirullah..... kutakupkan kedua tanganku di mulut. Kondisi mas Aziz sangat mengenaskan. Aku ingin berlari, menghambur ke arah nya. Tapi Mika melarangnya. Air mataku meluncur begitu saja.
Kamu pasti sakit banget ya mas?
"Dok, mas Aziz mau di pindah ke ruang rawat?", tanya mika.
"Ke ICU dokter Mika", jawab dokter Revan. Matanya tak terlepas menatap wanita yang ia cintai selama ini.
Kami pun ikut di belakang brankar mas Aziz yang di dorong perawat .
Ruang ICU tak terlalu jauh dari tempat tadi. Ku lihat damar dan Fai berlari tergopoh-gopoh ke arah kami. Mereka menenteng makanan , sepertinya.
Mas Aziz sudah masuk ke icu. Aku hanya bisa memandangi nya di balik dinding kaca.
"Mas....bangun lah mas....!", isakku sambil menatap mas Aziz yang terbujur lemah di atas brangkar. Alat-alat medis memenuhi raganya.
Sakit sekali dadaku melihat keadaannya seperti itu.
"Di, kamu makan dulu ya?! Kamu pasti belum makan sama sekali dari pagi, kamu masih dalam masa pemulihan!", ucap damar memberikan nasehat, sama seperti yang Mika ucap tadi.
"Aku nggak laper mas." Mataku tak beralih dari memandang mas Aziz.
Fai hanya menghela nafasnya. Lalu mendekati istrinya.
"Kita ke mushola dulu yuk sayang, sebentar lagi magrib. Kamu belum solat ashar kan?", tanya Fai kepada Mika.
"Iya mas!"
"Ya udah Fa, kamu temenin mika ke mushola. Biar Dian bersamaku!", kata Damar. Fai dan Mika pun mengangguk.
"Dian ...duduklah!", titah Damar. Aku pun menuruti ucapan damar.
"Aku tahu, kamu pasti merasa betapa beratnya beban mu. Ingatlah, Allah tidak akan membebani umatnya melebihi kemampuannya. Kamu harus yakin, kamu bisa melewati ini semua."
Aku terdiam.
"Tadi via telepon sama aku, jenazah keluarga mu baru sampai. Dan secepatnya akan segera dimakamkan."
__ADS_1
Air mataku lolos begitu saja mengingat mama yang menelpon ku kemarin. Dia berpamitan tidak bisa ikut lebaran bersama ku, ini maksudnya? Dan mbak Imas, sudah hampir dua tahun ini aku sama sekali belum bertemu secara langsung dengan nya.
"Dan Diaz....Diaz rewel terus. Apa kamu mau video call sama Diaz? Teh neng nggak berani hubungin kamu Di!", kata Damar.
"Aku nggak tega lihat Diaz mas. Bisakah mbak hayu mengirimkan video Diaz saja?"
Damar mengangguk pelan.
"Ya, nanti aku minta Stevia merekam Diaz."
"Makasih!", jawabku singkat.
Suasana kembali hening. Hingga akhirnya, seseorang menghampiri kami.
"Permisi mbak Dian?", sapa nya.
"Kang Ujang?", sahut ku pelan.
"Ini mbak, mbak Imah meminta saya mengantar pakaian dan makanan buat mbak Dian."
Ujang menyodorkan tas kecil itu padaku.
"Makasih Kang ujang!", ujarku. Imah masih saja mengingat apa yang ku butuhkan saat ini. padahal dia sendiri pasti sedang sibuk di rumah. Mengurus pemakaman mama, mengurus Diaz.....
"Mbak Di, kalau gitu saya langsung pulang ya? Sebentar lagi jenazah akan segera di makamkan."
"Makasih banyak kang Ujang.... makasih....titip Diaz juga ya kang....!", kataku. Bagaimana pun kang Ujang dan teh Neng juga sangat membantuku di situasi ini.
"Sama-sama mbak."
Ujang pun meninggalkan kami.
"Percaya lah, Aziz akan melewati masa kritis nya", Damar menepuk bahuku.
Aku pun meninggalkan damar. Kulihat ia menerima panggilan telpon. Tapi kaki ku tetap jauh melangkah.
.
.
[Hallo Dad?]
[ Apa yang terjadi dengan Aziz Dam?]
[ Ada yang berusaha mencelakai Aziz Dad]
[Lalu, bagaimana keadaan Aziz sekarang?]
[Masih kritis Dad]
[Ya Tuhan....]
[Dan...mama Farah....]
[Farah? Kenapa? Stevia di mana?]
[Mama nya Aziz, kakak dan kakak iparnya, serta keponakan Aziz meninggal. Malam ini akan di makamkan karena jenazah nya baru sampe tadi sore dari Surabaya.]
__ADS_1
[Ya Tuhan....]
Lagi-lagi Stevan hanya mampu menyebut nama Tuhan.
[Stevia di rumah Aziz, menemani Imah mengurusi pemakaman. Damar ,mika dan Fai di rumah sakit menemani Dian. Karena...tidak mungkin jika Damar membiarkan Fai menemani Dian sendiri.]
[Ya, kamu benar Dam.]
[Iya Dad. Damar hanya berusaha membuat situasi lebih terkendali.]
[Baiklah, Daddy ke rumah Aziz sekarang.]
[Em...Faiz gimana Dad?]
[Faiz begitu akrab dengan Oma mudanya, dari pagi mereka bermain bersama.]
[Maaf ya Dad, sudah merepotkan Daddy dan.... Mommy....]
[Nggak usah sungkan, Faiz kan cucu Daddy juga. Ya udah, Daddy akan bersiap ke sana]
Panggilan antara menantu dan mertua pun berakhir.
.
.
Mika baru saja menyelesaikan solat ashar nya. Dia mendapati suaminya tengah menelepon seseorang, eh... telpon dari seseorang lewat ponsel Mika.
Saat sedang mendengarkan, Fai sempat memandang Mika sesaat lalu memberi salam.
"Siapa mas?", tanya Mika.
"Papa, beliau baru tahu tentang kecelakaan Aziz dan juga berita meninggalnya Tante Farah."
"Owh....papa mau ke rumah mas Aziz?", tanya Mika.
"Bilang nya begitu sayang!", Fai mengusap lengan istrinya.
Aku tahu mas, kamu pasti ingin memeluk diandra. Memberikan kekuatan untuk nya, tapi karena aku ...kamu tak melakukan itu semua. Aku hanya berusaha untuk mempercayai mu Mas, aku tak ingin egois! Mika berkata dalam hatinya.
"Kita kembali ke sana!", ajak Fai sambil menggandeng tangan sang istri. Mika pun hanya mengekor di belakang Fai.
"Dian mana kak ?", tanya Mika pada damar.
"Di kamar mandi, sedang membersihkan diri. Tadi Ujang mengantarkan pakaian untuk Dian."
Sepasang suami istri pun mengangguk. Ketiga nya pun kini duduk berdampingan.
Selang berapa lama, dokter Revan menghampiri mereka.
"Dok....!", Damar dan Fai sama-sama bangkit dari duduknya.
Revan pun duduk di bangku seberang nya.
"Saat ini, saya bicara bukan hanya sebagai dokter dari pasien Aziz", kata Revan memulai. Damar DNA Fai pun kembali duduk.
"Apa yang ingin anda sampai kan?", tanya Damar.
__ADS_1
*****
Apa ya kira2 yang mau di sampai kan dokter Revan?