Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 109


__ADS_3

Fai memasuki rumahnya yang sepi. Tidak ada Abah dan umi yang duduk di ruang tengah. Mungkin beliau berdua sudah masuk ke kamar. Fai melangkah ke lantai dua, menuju kamar pribadinya.


"Fai...!", tiba-tiba Abah memanggil.


"Bah, Fai kira sudah tidur."


"Abah nunggu kamu. Kamu dari mana?"


Fai pun kembali menuruni tangga.


"Dari rumah aziZ bah, nemenin mika ngasih seragam buat mereka."


"Duduk, Abah mau bicara sebentar."


Fai pun mengekor abahnya duduk di sofa.


"Kamu sudah benar-benar yakin kan kalau kamu setuju untuk melamar Mika? Abah tidak mau kalau kamu cuma mau main-main!"


"Mana ada sih Fai main-main bah?"


"Alhamdulillah. Sejak kamu bilang setuju dengan perjodohan ini, Abah justru semakin berpikir. Apa benar kalian akan melanjutkan ke jenjang yang lebih serius?"


"Abah, insyaallah Fai sama Mika akan saling membuka hati Bah. Abah tenang saja. Kami sudah dewasa."


Alhamdulillah, batin Abah.


"Ada lagi bah?"


"Nggak. Istirahat lah. Abah juga mau istirahat."


Fai pun kembali menuju ke kamar nya. Bebersih sebentar lalu merebahkan diri. Sudah lama dia tak menyambangi kosannya sejak bertemu dengan mika.


Ting...Ting...


[Mas, sudah sampe rmh?]


Chat dari Mika.


[Udh. lagi rebahan!]


[Oh. sukur deh kalo gitu.]


[Ada apa?]


[Nggak ada apa2 mas!]


[Bohong!]


[Iya deh. Tadi papa nanya lg soal keseriusan kita mas]


[Sama. Abah juga. Lalu?]


[Ya mika jawab klo Qt berdua memang sdh setuju mas]


[Mereka cemas, dikira kita main-main mika.]


[Iya.]


[Ya udah, km istirahat y. Smpe ketemu bsk]


[Iya mas. I LOVE U]


Fai menyungginggkan senyum nya. Pasti seperti orang gila nih, cengar-cengir sendiri.


[Kok nggak d bls sih mas, di baca doang?]


[Iya. Makasih ya.]

__ADS_1


Ah, mas Fai mah gitu. Apa dia itu susah ya buat ngomong sayang kek cinta kek, walopun cuma buat nyenengin aku. Batin Mika.


Malam ini mika tak bisa tidur. Memikirkan hari esok saat lamaran yang menjadi impian nya selama ini menjadi kenyataan.


Tak berbeda jauh dengan Fai. Pria tampan itu tak bisa memejamkan matanya barang sesaat.


Abah saja takut, bagaimana denganku? Fai bermonolog.


Mika gadis yang sempurna. Jika di bandingkan dengan dirinya? Siapa lah seorang Ahmad Rifai jika bukan karena anak Abah Sulaiman Al Munawar?


******


"Umi, besok kita mau makan enak? Faiz naik mobil dan pakai baju baru?", cerocos Faiz.


"Iya sayang, kamu mau ikut kan?"


"Insyaallah umi.Faiz suka naik mobil."


Andaikan ya nak....pasti umi bawa kamu kelilingi kota naik mobil.


"Anak pinter. Udah malam, bobo ya!"


"Iya umi."


Faiz pun tidur di kasurnya, membiasakan diri agar Faiz bisa tidur sendiri. Besok-besok saat Faiz beranjak besar, menyiapkan kamar untuk nya adalah PR yang harus di lakukan.


Mas Fai akan melamar Mika? Mas Aziz dan Diandra pasti akan datang sebagai pasangan yang sangat memukau. Jika boleh jujur, siapa yang tidak iri dengan mereka?


Suami tampan dan Soleh. Istri cantik dan Solehah, serta di karuniai anak yang sehat dan tampan.


Sempurna sekali hidupmu Diandra!


Ya Allah, semoga aku tidak memelihara rasa iri ini ya Allah. Tolong...jaga hatiku, jangan sampai aku khilaf dan dengki melihat kebahagian Aziz dan Dian.


*****


Siang hari sebelumnya di rumah sakit


"Hei Mika, kenapa?"


Kami sudah sama-sama menyelesaikan praktek kami.


"Bisa kita bicara kak?"


"Iya...ya...udah, ayok."


"Sambil makan siang mau?"


"Boleh deh, tapi di kantin aja ya Mik?"


"Terserah kak damar aja deh!"


Kami berdua berjalan beriringan menuju kantin. Tidak ada obrolan apa pun diantara kami berdua. Sesekali berpapasan dengan sesama rekan dokter atau perawat.


Kami duduk di bangku yang tak jauh meja kasir.


"Mbak, nasi rames ya minuman nya es teh tawar." Panggil Damar ke pelayan.


"Kamu pesan apa mika?"


"Nggak mas, jus alpukat aja deh!"


Pelayan pun undur diri guna menyiapkan makanan pesanan damar dan mika.


"Apa yang ingin kamu sampein Mika?"


Mika menyerahkan paper bag itu pada damar.

__ADS_1


"Apa ini mika?"


"Pakaian yang harus kak damar pakai besok saat mas Fai melamar ku!"


Damar terdiam. Dia memang tebu rencana lamaran mereka, tapi dia tidak tahu kenapa dia juga harus menerima dress code nya.


"Mbak Hayu juga menerima pakaian yang sama persis dengan mu Kak!", ucap mika bergetar.


"Hayu?", mika tahu soal itu?batin damar.


"Mika...aku....", damar menggantung kalimatnya.


"Jadi...karena Hayu kan kak?"


Damar tak merespons ucapan Mika. Pikirannya terfokus pada gadis pujaan hatinya itu. Gadis yang sudah ia kecewakan sekaligus ia renggut masa depannya.


"Lima tahun aku mengejar mu ya kak", mika menahan sesak di dadanya.


"Tolong mika....".


"Tapi tak apa kak. Aku akan belajar dari Diandra dan mas Aziz. Mereka patut di contoh."


"Apa maksud mu?"


"Bukan apa-apa kak."


"Mika, maafkan aku. Tapi...dari awal kamu tahu, aku tidak bisa membuka hatiku untuk perempuan manapun termasuk kamu."


"Iya. Aku saja yang bodoh Kak. Berharap terlalu lama, lima tahun waktu yang cukup lama ku sia-siakan."


Makanan yang mereka pesan pun datang. Untuk beberapa saat, mereka menikmati makan siang mereka.


"Aku akan membantu kak damar untuk bersama Hayu!", ucap mika di sela-sela ia sedang menyedot jus nya.


Damar berhenti mengunyah makanannya. Lalu menatap manik mata seorang gadis yang bertahun-tahun mengejarnya.


"Mbak Hayu perempuan yang cantik dan lembut. Hanya laki-laki yang tak waras yang tidak tertarik padanya."


"Apa yang kamu tahu mika?"


"Anak dari hubungan di luar nikah???" skakmat dari seorang mika.


Mika tahu itu?


"Kamu tahu dari mana?"


"Dari kalian sendiri. Aku tak sengaja mendengar nya saat berada di rumah mas Aziz."


Mika ada disana?


"Berjuanglah kak, untuk mendapatkan nya kembali. Tidak seperti aku. Aku sudah menyerah. Dan tidak akan pernah mengganggu mu apa lagi menanti kan mu. Insyaallah mas Fai adalah pilihan terbaik untuk ku."


"Fai laki-laki yang baik mika."


"Iya kak. Dia laki-laki terbaik yang kelak akan ku cintai dan juga mencintai ku. Mungkin, untuk saat belum ada rasa apa pun. Tapi, insyaallah rasa itu akan datang. Aku bisa bahagia dengan melupakannya perasaan ku padamu, begitu juga mas Fai yang akan mencintai ku dan melupakan Diandra. Aku dan mas Fai sama-sama mencintai dalam ketidakmampuan kami. Bedanya...Fai adalah serpihan masa lalu Diandra , pernah berharga dan hidup dalam hati Dian. Sedangkan aku? Aku bahkan tak pernah berada di bayangan mu kak."


"Mika...aku minta maaf jika aku menyakiti mu. Tapi aku akan jauh lebih menyakiti mu kalau...kalau kamu tidak mendapatkan apa-apa dariku."


"Iya kak. Mungkin aku harus bersyukur. Setidaknya, aku bisa lebih mudah melupakan mu ya kak."


Mika kembali memasang senyum manis nya.


"Aku mau pulang kak. Mas Fai akan menjemput ku."


"Iya mika. Terima kasih untuk pakaian nya."


"Iya kak. Sama-sama!"

__ADS_1


Akhirnya ada perasaan lega saat ia bisa mengungkapkan isi hatinya. Terlalu sesak jika di pendam terlalu lama.


Fai ! Aku berjanji akan segera mencintai mu mas Fai! Mika berbicara sendiri.


__ADS_2