
Kelanjutan masa lalu Dian...
"Mutiara!", bentak Dirham.
"Berhenti berteriak mas! Aku mau kita pisah!"
"Kalau kamu memang tidak pernah bisa mencintai ku, silahkan! Tapi jangan korbankan Rara! Dia tidak bersalah disini. Dia anak kita Mut!"
"Dia tidak salah. Iya kamu yang salah mas! Menanamkan benih di rahimku tanpa ijinku! Dan kesalahan terbesar dalam hidupku adalah melahirkan putrimu yang sama sekali tidak pernah aku inginkan!"
Plak!!!
Tamparan itu kembali Dirham layangkan kepada istrinya.
"Pukul mas... pukul aja terus. Sekalipun kamu membunuh ku, aku tidak akan merubah keputusanku."
Aku menakupkan tanganku di depan mulut. Ya Allah, sebenci itukah ibu padaku? Aku terisak di balik tembok penghubung ruang makan dan ruang tengah.
"Jaga bicara mu Mutia! Kamu tidak memikirkan perasaan anak mu hah???!!!"
"Perasaan? Kamu bertanya tentang perasaan? Kamu pikir aku tidak punya perasaan mas? Kamu pikir aku bertahan selama ini karena papa, tidak menyakiti perasaan ku sendiri mas? Pernikahan terpaksa seperti ini yang kamu harapkan mas? Iya?", suara Mutia semakin terdengar nyaring.
"Kita sudah lebih dari lima belas tahun menjalankan pernikahan ini Mut. Tolong, jangan seperti ini!", suara Dirham mulai melunak.
"Seperti apa pun kamu memohon mas, aku tetap akan mengurus gugatan cerai kita mas. Aku tidak bisa hidup bersama laki-laki yang sama sekali tidak aku cintai!"
"Mutiara!!!"
"Mas! Berhentilah meneriakiku! Kamu urus saja putri cantik mu itu. Aku tidak akan peduli!"
"Ya Allah, ibu macam apa kamu Mut!"
"Ibu??? Kamu bilang ibu? Hah!"
"Binatang saja lebih terhormat di bandingkan kamu!"
"Oh...kamu nyamain aku sama binatang?"
"Iya! Hanya demi laki-laki lain kamu tega membuang anak mu darah daging mu yang tidak bersalah!"
"Cih...anak itu anak mu! Kamu yang memaksa ku untuk mengandung nya. Bukan keinginan ku!"
"Astagfirullah Mutia! Dengan apa aku harus menyadarkan mu hah!!"
"Aku ingin kita pisah! Aku tidak butuh harta Gono gini dan semuanya. Aku hanya ingin bersama Stevan! Berikan saja semua harta yang menjadi hakku untuk anakmu itu. Kelak, dia akan berterimakasih karena sudah mendapatkannya dariku. Aku tidak bisa memberikan kasih sayang seperti yang dia harapkan!"
Ya Allah....air mataku luruh. Di usiaku yang baru menginjak lima belas tahun, aku di hadapkan dengan situasi ini. Aku pikir, ibu tak memperdulikan ku karena dia memang sibuk. Bukan karena membenci atau tak mengharapkan keberadaan ku.
"Kamu gila Mut. Kamu sudah tidak waras!"
__ADS_1
"Iya, aku gila mas. Gila karena selama aku hidup ,aku terkekang. Aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku tidak bisa memutuskan apa yang jadi keinginan ku. Aku lelah!"
"Mutiara!"
"Jatuhkan talak sekarang mas! Aku akan pergi!"
"Aku tidak akan menceraikan ku sampai kapanpun Mutia!", bentak Dirham.
"Baiklah. Terserah kamu. Yang jelas, akubsidah tidak tahan berada di dekat kalian!"
Mutiara menyeret kopernya.
Dirham berusaha mencegah nya.
"Mut...Mutia....!"
"Lepas mas!!!"
"Ayah...biarkan ibu pergi Yah. Biarkan ibu mencari kebahagiaan nya sendiri. Cukup ayah yang sayang sama Rara Yah!", aku meraih lengan ayahku.
Tapi ayah justru membanting tanganku yang bergelayut di tangan ayah.
"Diandra! Masuk! Kamu masih kecil. Jangan ikut campur urusan orang dewasa!", bentak ayah di hadapanku. Aku hanya bisa menangis mendapatkan bentakkan ayah. Tapi aku sadar posisi ayah, ayah terlalu menyayangi ku.
"Kami dengar mas, Rara saja tidak keberatan aku pergi dari sini. Lalu apa lagi???"
Mutiara kembali menyeret kopernya.
"Maaf kan ayah yang sudah membentak mu Nak. Tapi ayah mohon, masuk lah ke kamar. Biarkan kami selesaikan urusan kami nak! Menurut lah sama ayah!"
Aku membeku di tempat. Ayah pun lari mengejar ibu. Dan...aku pun turut ke depan rumah.
Di depan pintu gerbang, keduanya masih bertengkar. Hingga ada adegan saling dorong mendorong.
Di saat yang bersamaan, sebuah truk dari arah kanan yang membawa muatan batu mengalaminya pecah ban. Truk itu melaju oleng ke arah Dirham dan mutiara. Di sisi lain, ada pula kendaraan lain.
Rumah kami berada di komplek perumahan yang sedang di bangun. Jadi kendaraan besar hilir mudik di depan rumah kami.
Entah apa yang terjadi, tiba-tiba saja truk itu menghantam sepasang suami istri yang sedang bertengkar di depan pintu gerbang.
Suara dentuman dan benda yang bertubrukan menggema di telingaku.
"Ayah....ibu....!" , teriakku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Semua terjadi begitu cepat di hadapan ku. Bahkan , entah kenapa cincin pernikahan yang ayah pakai menggelinding tepat di hadapan ku. Aku membeku. Aku tak bisa berkata apapun.
Tubuhku jatuh terduduk sambil memungut cincin ayah.
"Ayah.....!"
Orang-orang yang berada di sekitar berusaha membantu mengeluarkan ayah dan ibu dari himpitan truk itu.
__ADS_1
"Aku tidak diinginkan. Aku yang membuat mereka meninggal."
Kalimat itu keluar berulang-ulang dari mulutku.
Hingga datang seseorang menghampiri ku.
Om Kendra!
Kendra yang tadinya akan mengadakan pertemuan dengan Dirham, kini di hadapkan pada situasi yang sangat tidak baik.
"Rara...sayang!", om Kendra memelukku.
"Om...semua karena Rara. aku tidak di inginkan om. Aku yang bikin mereka meninggal om."
Om Kendra semakin erat memelukku. Dia pun turut merasakan apa yang aku rasakan.
"Jangan bicara seperti itu nak. Jangan!", Isak Kendra.
"Tidak ada yang sayang padaku om. Ibu tidak pernah menginginkan ku om!"
"Jangan pernah bicara seperti itu Rara. Om Kendra sayang sama Rara!"
Suasana semakin ramai. Dan setelah itu...aku pingsan.
******
Di lain tempat
(Versi othor bukan Diandra ya...)
"Mas, belum cukup pengorbanan aku mas? Lihat lah Stevi mas!", ucap Margaret.
"Tapi aku tidak bisa meninggalkan Mutia!"
"Jadi, jika memang kamu ingin pergi dari kehidupan ku, silahkan. Aku tidak akan menahan mu!", kata Stevan ketus lalu meninggalkan sang istri di kamar.
Stevan mendapat berita bahwa Mutiara dan suami nya mengalami kecelakaan di depan rumahnya.
Saat Stevan bersiap-siap akan ke sana, suara jeritan sang anak dari kamar istrinya mengurungkan niatnya.
Stevan yang berada di kamarnya bergegas menuju kamar Margaret.
Badan nya lunglai saat mendapati Margaretha baru saja mengakhiri hidupnya. Dan yang lebih miris, Stevi lah yang menemukan mami nya sudah tak bernyawa.
Di hari yang sama, Stevan kehilangan wanita yang ia cintai ,Mutiara dan wanita yang mencintainya setulus hati, Margaret.
*****
Sedih ora son????
__ADS_1
kurang mendramatisir ya???
🤔