
Mobil yang dikendarai Fai memasuki halaman rumah Aziz. Seperti biasa, sahabat dekat mereka pasti akan masuk ke rumah lewat pintu belakang.
"Tunggu sayang Uma...!", panggil Fai sambil meraih tangan sang istri.
"Uma?", tanya Mika.
"Iya, Uma nya anak-anak Abi!", jawab Fai nyengir. Mika pun akhirnya ikut tersenyum. Keduanya melewati lorong penghubung rumah induk dengan kios.
Fai merengkuh bahu Mika. Rona bahagia jelas terpancar dari wajah pria tampan itu.
Tanpa komando, Fai meraih bibir sang istri. Dan istrinya pun hanya pasrah. Mungkin itu ungkapan kebahagiaan seorang Fai karena akan segera menjadi seorang ayah. Keduanya saling menikmati ciu*an mesra di rumah orang lain ðŸ¤.
Di dalam rumah, aku baru selesai mengeringkan pakaian ku di mesin cuci. Diaz dan mas Aziz sudah mandi. Keduanya kini sama-sama duduk di bangku meja makan menikmati cemilan khas lebaran.
"Mas, nitip Diaz ya. Aku mau jemur dulu!", kataku.
"Iya sayang!", sahutnya . Aku pun memindahkan jemuranku dari mesin menuju tempat menjemur di dekat pintu dapur.
Baru beberapa langkah di depan pot dapur, aku di kejutkan oleh sepasang suami istri yang tengah berci*man dengan mesranya.
Astagfirullah! Batinku terkejut. Tapi di saat yang bersamaan, Fai melihat aku yang terkejut dengan kelakuannya. Bukannya mengakhirinya ci*man nya dengan sang istri, dia justru semakin agresif. Seolah ingin menunjukkan nya padaku.
Secepatnya aku ingin kembali ke dapur tapi tiba-tiba Fai memanggil ku, seperti tak ada dosa saja sudah meracuni mataku.
"Di....!", panggil Fai. Mika yang tadinya sedang bergelayut manja pada sang suami pun terkejut.
Aku tersenyum canggung.
"Maaf, kalo aki udah ganggu!", kataku kikuk. Justru mika yang terlihat salah tingkah.
"Kami yang harusnya minta maaf!", kata Mika sambil mendekati ku yang baru saja menurunkan bak cucian. Aku membalas Mika dengan senyuman.
"Minal aidzin ya Di, maaf lahir batin!", Mika memeluk ku erat.
"Sama-sama Mika, maaf kalo aku selama ini punya salah baik yang di sengaja atau nggak!", kataku membalas senyumannya.
"Diaz mana Di?"
"Di meja makan sama ayahnya. Kalian masuk aja, sekalian makan ya. Tadi suami mu udah pesen katanya suruh sisain opornya khusus buat kamu!", lirikku pada Fai.
"Mas...ih...bikin malu aja deh!", kata Mika.
"Malu apa sih Uma....! Yang nggak apa-apa kan Di? Dari pada mubadzir?", sahut Fai ngga mau kalah.
"Iya, bener kata mas Fai, Mika. Udah masuk aja dulu, kebetulan udah aku angetin."
"Eum... makasih ya Dian."
"Heum! eh, ngomong-ngomong tadi kamu pingsan kenapa? Kamu ngga lagi sakit kan? Apa kecapekan selama di posko?",tanyaku beruntun.
Mika tersenyum manis meski terlihat wajahnya sedikit pucat.
"Ada berita bahagia pokoknya Di!", lirik Mika pada suaminya.
Aku mengernyit heran.
"Berita bahagia apa nih? Ngga mau bagi-bagi ke aku?"
"Hehehe...tentu dong Di. Sebentar lagi kamu Diaz punya adik!", kata Mika riang.
"Adik? Em... maksudnya???? Apa...kamu hamil Mika?", pekikku.
Mika mengangguk sembari tersenyum.
"Aaaah.....senengnya! Selamat Mika!", ku peluk erat sahabat ku.
"Makasih Di....iya kami seneng banget!", kata Mika. Fai pun tersenyum memandangi dua wanita di hadapan nya itu.
"Mulai sekarang, jaman terlalu capek. Kalo lagi kerja, luangkan waktu buat istirahat. Tanggung jawab kamu bukan cuma sama pasien, tapi sama nyawa yang ada di perut mu juga lho Mika!", kata ku sambil mengelus perut mika yang masih rata itu.
"Iya Di. Insya Allah!"
Aku dan mika masih berpelukan.
__ADS_1
"Kamu tahu Di, tadi mas Fai dateng-dateng ke ruangan ku nangis-nangis!"
Mika melirik suaminya, dan Fai menatapnya balik malah sedikit melotot.
"Oh iya... wajarlah kan panik istrinya tiba-tiba pingsan!", jawabku.
"Huum. Bukan hanya itu, dia nangis sambil terus ngelus-ngelus perut. Ada yang bahagia banget mau jadi ayah!"
"Bener? Ah...mas Fai, ternyata kamu melow juga!", candaku.
"Iya, namanya bahagia Di. Ngga bisa di gambarkan lah pokoknya!", sahut Fai.
"Eh, ya udah kalian masuk aja dulu. Aku beresin jemuran dulu ya. Langsung makan aja, udah siap di meja makan kok!"
Mika dan Fai mengangguk. Tapi Fai mengurungkan niatnya, karena tiba-tiba ada telpon.
"Uma masuk aja dulu, Abi ada telpon!", kata Fai.
"Ciye, panggilnya Abi Uma....!", ledekku. Keduanya nyengir-nyengir malu.
"Aku masuk ya Di!", aku mengangguk. Tinggalah Fai berjalan agak jauh ke depan untuk mengangkat telpon.
Sedang aku meneruskan menjemur pakaian kami. Fai sudah selesai menelpon lalu berjalan mendekati ku.
"Kamu lihat mas sama istri mas ciu*an tadi ya?", bisiknya pelan tak jauh dari telingaku. Aku pun sedikit memundurkan tubuhku.
"Heum?Iya, maaf. Aku ngga sengaja!", kataku dengan tetap meneruskan kegiatan ku.
"Iya kah? Tapi perasaan yang mas lihat tadi kamu malah 'menontonnya' dengan seksama!"
Aku melotot kesal ke arah matanya langsung.
"Nggak. Siapa bilang!", sahutku kesal.
"Nggak ngaku lagi. Jangan bilang kalo....kamu inget sama ciuman pertama kita ya? Inget betapa hotnya mas?", tanya Fai sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Astagfirullahaladzim! Dasar ustadz mesum!", aku menginjak kakinya.
"Rasain! Lagian tuh mulut bener-bener ya kaya ngga pernah masuk ponpes aja. Nggak inget lagi momen lebaran udah ta' ....euuuuhhhhgggg!", aku mengepalkan tangan ku.
"Becanda Dian....!", kata Fai manyun.
"Bodo!", kataku sambil masuk ke dalam rumah untuk meletakan bak cucian lagi di teras belakang.
Fai pun mengekor di belakang ku. Aku belok ke teras belakang, Fai masuk ke ruang makan.
"Udah Bi, telpon dari siapa?", tanya Mika.
"Dari Damar, katanya mau ke sini juga!", kata Fai sambil duduk di sebelah sang istri.
"Mas Aziz, aku bener-bener ngga nyangka lho kalo Revan bisa berubah sedrastis itu!", kata mika sambil mengambil cemilan di depannya.
"Ya , Alhamdulillah sih Mika. Minimal, su'udzon kita itu nggak terbukti."
"Iya, Alhamdulillah. Dan aku juga senang, kalo mas Aziz segera sembuh!"
"Aamiin....!", sahut Aziz.
"Doanya orang hamil insyaallah di ijabah lho Uma...!", kata Fai mengelus puncak kepala Mika..
Aziz yang belum tahu pun akhirnya bertanya.
"Doa orang hamil?", tanya Aziz.
"Iya Ziz, bentar lagi aku akan menjadi Abi!", kata Fai sambil mengelus perut istrinya yang masih rata itu.
"Owh...jadi kamu pingsan tadi karena.....?", Aziz menggatung pertanyaan nya. Mika dan Fai mengangguk bersama.
"Alhamdulillah, selamat Mika. Bro, usaha Lo selama ini udah membuahkan hasil!", Aziz menepuk bahu sahabatnya.
"Makasih bro!", Fai terlihat sangat bahagia.
Aku menghampirinya mereka sambil membawa beberapa makanan yang ada di dapur.
__ADS_1
"Bumil....makan yang banyak ya! Kalo pengen apa pun, bilang sama bapak nya utun!", kataku.
"Utun siapa Di?", tanya Mika bingung.
"Calon bayi mu lah Mika....!"
"Owh....iya...iya....!", kata mika semangat sambil menatap suaminya. Dan Fai mendadak merasa curiga.
"Apa sih Uma?", tanya Fai .
"Eum... kayanya bener Imah deh Bi!",kata Mika.
"Imah benar apanya?"
"Abi pake minyak telon aja biar wangi bayi Bi!", kata Mika nyengir.
Aku dan mas Aziz saling tatap.
"Jangan bilang Uma mau ,Abi pakai minyak telon kaya si Dadan???!!!", kata Fai sedikit meninggikan suaranya. Dengan wajah innocent....Mika mengangguk.
Aku dan mas Aziz tak tahan menahan tawa kami.
"Kamu harus mau Abi. Kang Dadan aja nurut lho sama Imah. Masa Abi ngga menuruti mau Uma."
"Uma...kenapa harus kaya Imah sih ngidamnya????!", kata Fai.
Tiba-tiba yang di sebut namanya pun muncul dari dapur.
"Ngapain nyebut-nyebut nama Imah???!!!", kata Imah lantang. Mode galak bumil satu ini ngga ada duanya. Dadan yang ada di belakangnya hanya tersenyum malu.
"Eh, Imah. Kapan datang!?", tanyaku.
"Tadi sore mbak. Eh, minal aidzin mbak!", kata Imah menyalami dan memeluk ku.
Lalu ia berpindah ke mas Aziz.
"Mas, maafin Imah ya?!", kata Imah sambil memeluk sang kakak.
"Sama-sama Mah!"
Imah memperhatikan kakaknya yang kini duduk di bangku,tidak di kursi roda lagi .
"Mas udah sembuh?", kata Imah.
Aziz mengangguk pelan.
"Aaaahhhh... senang nya. Alhamdulillah!", Imah memeluk kakaknya lagi.
"Imah ....udah nggak usah lebay, jangan lompat-lompat gitu. Ada dedek bayinya di perutmu lho?"
"heheh lupa!", kata Imah. Sekarang imag beralih ke Mika. Ia pun melakukan hal yang sama seperti yang ia lakukan kepada Dian.
Tapi tidak kepada Fai. Usai bersalaman, Imah malah ketus pada Fai. Untuk mengurangi keketusan pada Fai, Dadan menyalami kakak ipar dan sahabatnya itu.
"Tadi, mas Fai kenapa nyebut-nyebut Imah?", kaya Imah melipat dada.
Fai garuk-garuk kepala.
"Itu...Mika Mah. Alhamdulillah mika hamil, sayang nya....dia malah ngikutin kamu. Minta aku pake minyak telon kaya si Dadan!", kata Fai tak enak pada Dadan.
"Mbak Mika hamil? Wahhhh senengnya! Selamat mba Mika. Kita bisa hamil bareng-bareng gini!", kata Imah sambil memeluk Mika.
"Makasih Imah!", kata Mika. Lalu Imah menatap suami mika itu.
"Karma is real pak ustadz kawe!", kata Imah. Sontak kami semua tertawa, terkecuali Fai.
Ditengah canda tawa kami, ada sepasang suami istri juga yang masuk lewat pintu belakang.
"Assalamualaikum!", salam mereka berdua.
"Walaikumsalam!", sahut kami kompak yang otomatis tawa kami selesai.
Damar dan Hayu menyalami kami satu persatu. Aku melihat ekspresi wajah Hayu yang tidak seperti biasanya, sepertinya ia habis nangis. Tapi ...mungkin nanti dia akan menceritakan masalahnya. Karena aku tak ingin ikut campur urusan pribadi nya jika ia tak meminta. Lagi pula kami tak ingin merusak momen bahagia kami ini.
__ADS_1