
Suara musik pengiring terdengar syahdu. Menandakan sepasang suami istri itu sedang menuju ke pelaminan.
Mas Aziz mendekati ku. Lalu berjongkok di hadapan ku.
"Dek!"
"Heum?"
"Bisakah jujur sama mas, saat ini saja."
Aku menyipitkan mataku sedikit, heran dengan apa yang mas Aziz katakan tadi.
"Jujur? Memang aku bohong apa sama kamu mas? Bukannya soal masa laluku dan om Kendra sudah ku ceritakan semua?"
Suara musik dan MC yang mengiringi acara ini membuat kami sedikit kencang saat berbicara. Meskipun kami memilih untuk menyingkir ke tempat yang lebih longgar, tak terlalu banyak tamu yang berdiri.
"Iya. Soal itu memang kamu sudah jujur. Dan mas percaya!"
"Lalu, aku harus jujur apa? Dan.... tunggu! Kenapa mas tanya soal ' kejujuran' di sini? Ngga bisa apa kita bicara di rumah?"
mas Aziz menggeleng pelan.
"Jujurlah dengan perasaan mu dek!"
Deg!
"Jujurlah, katakan kalau kamu belum bisa sepenuhnya mencintai mas selama hampir enam tahun kebersamaan kita. Jujurlah jika di hatimu masih ada nama Rifai!", kata mas Aziz menggenggam tanganku.
"Astagfirullah....mas ....!"
Ku usap pelipis ku dengan beberapa jariku.
"Kejujuran apa yang kamu ingin kan mas?"
"Apa kamu masih mencintai Rifai?"
"Untuk apa kamu bertanya seperti itu? Bukannya kamu lihat sendiri? Kita dimana ini?"
"Tinggal jawab dek, apa kamu masih mencintai suami Mika?"
Dadaku terasa bergemuruh. Bukan karena soal pernikahan Fai, tapi tentang pertanyaan mas Aziz.
"Nggak!", jawabku cepat.
"Bohong!", kata mas Aziz masih dengan menggenggam tangan ku.
"Jadi...kamu berharap aku akan manjawab kalau aku masih mencintai Rifai begitu mas??? Hah?!"
"Dek ...!"
Ku lepaskan genggaman tangannya. Aku tak tahu kenapa suami ku menanyakan hal itu lagi. Dia tak tahu tempat saat ia menanyakan nya. Lagi pula, untuk apa dia bertanya soal hal yang sama berulang kali. Apa tak cukup lengan ku selama ini menjadi istri nya? Apa masih kurang pengorbanan ku padanya...?
"Dek,maaf...bukan maksud mas menyakiti mu. Mas hanya ingin meluruskan saja biar netijen nggak salah paham terus sama kamu."
"Siapa mereka? Terserah mereka lah mau menilai apa. "
"Kamu tahu dek! Mika sempat cerita, kalau di ingin membatalkan acara ini beberapa hari yang lalu?"
Aku tahu,tapi aku memilih diam.
"Bahkan, Mika sempat berpikir jika suatu saat nanti mereka bisa saja berpisah. Mika menyadari betul, betapa suaminya masih sangat mencintai mu dek."
Ku pejamkan mataku sebentar.
"Sejak kamu siuman, Fai sama sekali tak menjenguk mu. Karena apa? Karena mereka bertengkar Dek."
Aku tahu mas, Mika udah cerita.
"Fai berjanji akan menjaga jarak dengan mu. Mengurangi intensitas pertemuan nya dengan mu."
"Bagus lah mas." Aku pun punya niat yang sama seperti itu.
"Katakan pada mas jika perasaan mu itu...."
"Cukup mas!Kita bicara kan ini di rumah."
__ADS_1
Aziz pun terdiam. Rasa sakit yang pernah ia torehkan pada sang istri,tak sebanding dengan cemburu nya yang tak beralasan.
Tak beralasan? Tidak. Tentu saja beralasan, mata mereka tak bisa berbohong. Jika masih ada perasaan yang sama diantara mereka, hanya saja.... mereka mencoba menutupi nya.
Suara musik menggema dan MC pun terdengar sangat bersemangat membawa kan acara.
Aki melihat dari jauh kedua mempelai terlihat sangat menikmati acara ini. Baper?
Iya lah baper. Ternyata menitipkan jodoh itu benar adanya.
"Kita ke sana dek?", ajak mas Aziz memecah keheningan diantara kami berdua tadi.
"Kamu saja mas."
Aziz menghela nafas. Apa dia belum bisa menentukan kenyataan jika Fai menikah dengan mika?
"Kenapa dek? Kamu nggak ikhlas melihat kebersamaan mereka??"
"Kamu itu kenapa sih mas, dari tadi mancing-mancing terus? Kamu seneng banget ya kalo kita ini berantem?"
"Bukan gitu dek! Apa kata orang nanti jika mas sendiri ke sana menemui mereka. Terus...kamu sama siapa di sini?"
"Mas...bisa nggak sih kamu nggak negatif thinking sama aku? Oke, kamu cemburu. Itu wajar mas. Tapi kamu lihat dong ke sana.....!", aku menunjuk ke arah pelaminan.
"Lihat ke sana mas! lihat baik-baik. Apa kamu akan memapah ku menemui mereka? Berapa anak tangga yang akan ku naiki? Bisa kursi roda ku di dorong ke sana? Atau...kamu mau angkat aku ala-ala bridal style???"
Mas Aziz menatap apa yang ku tunjuk. Benar! Lumayan tinggi juga panggung pelaminan mereka.
Ku dengar mas menghela nafasnya. Apa kah dia sedang berpikir membenarkan ucapan ku, atau dia masih negatif thinking padaku?
"Baiklah, lebih baik mas di sini menemani mu."
"Anda ke sana saja pak, biar saya yang menemani Bu Diandra?!", kata Sharen.
Aku dan mas Aziz menengok bersamaan.
"Miss Sharen?", kataku dan Mas Aziz kompak.
"Iya. Saya akan menemani Bu Dian. Anda tak perlu cemas, saya tidak sejahat Daddy saya."
"Pergilah mas. Ada Miss Sharen bersama ku disini."
"Tapi dek....?!"
"Ada saya juga kok pak Aziz", sahut Julian yang menyusul di belakang Sharen.
"Julian?"
Julian pun mengangguk.
"Ya udah, mas ke sana sebentar ya dek."
Aku pun mengiyakan.
"Honey, bisakah kami bicara berdua saja?", tanya Sharen pada Julian. Julian pun menyetujuinya, lalu berdiri agak jauh dari kami tapi masih bisa memantau kami.
"Bu Dian....!", kata Sharen memulai.
"Dian saja. Toh ini di luar kantor."
"Boleh aku tanya?"
"Soal?"
"kamu dan suami Mika?"
Aku mengernyitkan kening ku.
"Untuk apa kamu bertanya seperti itu? Apakah ini ada hubungan dengan mu?"
"Hanya ingin memastikan."
"Apa?"
"Ucapan Daddyku tentang mu tidak benar!"
__ADS_1
Memang apa yang om Ronald katakan pada Sharen?
"Apa?"
"Kamu dan ibu mu?"
Dadaku bergemuruh. Om Ronald benar-benar menaruh dendam padaku karena almarhum ibu.
"Kami tak sama!", ucapku tenang.
Sharen tersenyum.
"Iya. Aku tahu itu. Dan aku membuktikan nya sendiri."
Aku menatap wajah indo nya yang cantik itu.
"Maaf...!", kata Sharen.
"Maaf untuk apa?"
"Daddyku yang sudah menyakitimu dan calon anakmu!"
Sharen yang pertama kali ku temui sangat berbeda dengan yang sekarang ada di hadapanku.
"Aku serahkan pada mu saja Diandra. Hukuman apa yang pantas untuk daddyku!"
Apa katanya? Hukuman buat Daddy nya?
"Maaf Sharen, aku belum memikirkan nya."
Ini kamu yang sebenarnya Di? Apakah aku pantas iri???
"Tapi...aku juga berterima kasih padamu Di."
"Untuk?"
Sharen tiba-tiba memeluk ku.
"Hei...kamu kenapa Sharen???", tanyaku heran padanya karena dia tiba-tiba memelukku.
Dia berjongkok di depan ku.
"Maaf, kamu harus melewati hal menyakitkan ini. Tapi...secara tidak langsung, karena mu..."
"Apa?"
"Karena mu , penantian ku selama dua tahun tak sia-sia!"
"Maksudnya?"
"Julian akan menikahi ku secepatnya!"
"Alhamdulillah....selamat ya Sharen."
Sharen mengangguk sambil menyunggingkan senyumnya.
"Tapi....kok karena aku sih?"
Sharen pun menceritakan saat ia bertengkar dengan Daddy nya dan setelah itu dia bertemu dengan Julian lalu kemarin mereka memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan.
"Sekali lagi terimakasih Dian. Dan... setelah aku menikah nanti. Aku mau resign."
"Kok resign?"
"Aku ingin jadi ibu rumah tangga saja seperti kak Karen, sahabat mu kan?"
Aku tersenyum. Lagi-lagi Sharen memelukku.
******
Ah....ini kan lagi kondangan....kenapa malah ceritanya begini???
Belum saat nya baper-baperan meskipun nanti mamak di hujaddd mamak2 😜✌️
Tenang pemirsah....Aziz dan Fai belum beraksi. Tenang ae, kagak ada adegan gontok-gontokan kok ✌️
__ADS_1