
"Mas Jul, masih ada kerjaan nggak buat aku?", tanyaku sambil mengusap pelipisku. Mas Aziz sedang keluar dari kantor untuk belanja kebutuhan kios di rumah.
"Bu Dian sakit?", tanya Julian dengan wajah cemasnya.
"Hah? Nggak kok. Cuma capek aja mungkin!", aku memejamkan mataku sebentar sambil menyandarkan kepala ku ke kursi.
"Sebenarnya masih ada pertemuan lagi Bu, tapi kalau anda memang sudah lelah sebaiknya memang istirahat saja. Biar saya yang menggantikan anda."
"Em...memang nggak apa-apa? Pertemuan nya nggak terlalu penting?"
"Bukan tidak terlalu penting Bu, ini hanya pertemuan rutin saja dengan investor kita bu."
"Mas Jul, kalau lagi ngobrol berdua begini nggak usah lah pake bahasa formal. Biasa aja lah kita, tau kan maksudnya?"
"Iya Bu, saya paham."
"Baiklah Bu, saya keluar saja. Silahkan beristirahat. Atau anda membutuhkan sesuatu?", tanya Julian.
"Em...ga tau kenapa aku kok pengen es cincau ya mas Jul?!"
"Hah? Es cincau apa Bu?", Julian mengernyitkan keningnya.
"Hahahha aku lupa mas, kamu kan bule ya. Mana ngerti minuman kaya begitu."
Julian mengusap tengkuknya sendiri.
"Gini aja mas, tolong bilang ke ob aja. Em...ob yang baru, namanya kang Ujang. Suruh dia ke sini deh mas Jul. Maaf, ya....aku malah nyuruh mas Jul gitu heheh ...."
"OB baru? Kalau Bu Dian mau, saya akan mencarikan nya untuk Bu Dian."
"Ngga usah mas Jul. Kasian mas Jul nyarinya, lagian mas Jul juga nggak tahu kan kaya apa es cincau itu?"
"Iya sih Bu!", Julian tersenyum tipis.
"Minta tolong ya, biar ob yang namanya Ujang ke sini. Kebetulan, kang Ujang itu suaminya teh Neneng yang jagain anak saya di rumah."
"Owh.... baiklah Bu, saya akan panggil kan."
"Makasih ya mas Jul. mendingan mas Jul balik ke ruangan nya deh. Nanti kalau mas Jul belum berangkat, terus kang Ujang dapet es cincau nya, aku kasih ke mas Jul deh!"
"I...iya Bu, terimakasih sebelumnya."
"Santai saja mas....!"
"Saya permisi Bu Dian."
"Silahkan.....!"
Julian pun meninggalkan ruangan ku. Aku menutup laptop ku. Memejamkan mataku sebentar. Tak berapa lama kemudian, pintu pun di ketuk.
"Masuk!", pintaku.
Ku lihat kang Ujang masuk perlahan keruangan ku dengan menunduk.
Aku mengambil selembar uang berwarna merah.
"Kang Ujang, minta tolong dong beliin es cincau. Ini uangnya!", aku memberikan uang itu di atas meja.
Ujang yang merasa mengenali suara itu pun mendongak.
"Mbak Di?", tanya Ujang.
"Iya???", tanyaku.
"Mmmaaff.... maksud saya, Bu Dian....?!", kata Ujang.
"Nggak apa-apa kang Ujang. Tolong beliin ya kang es Cincau nya."
"Jadi....Dirut yang di maksud itu...Bu Dian?"
"Iya. Geus atuh, ulah lila-lila teuing. Punten Kang, pameliken es cincau heula ayeuna!"
(Ya udah sih, jangan lama-lama. Maaf kang, beliin es cincau nya sekarang)
"Muhun Bu...!", Ujang pun menerima uang itu. Lalu meninggalkan ruangan ku.
Terakhir aku minum es cincau....ah...iya, saat aku pulang dari rumah sakit pas tahu aku hamil Diaz.
__ADS_1
Apa kali ini aku juga hamil????
Tapi, aku kan pakai kontrasepsi iud. Masa iya hamil? Apa bisa kebobolan juga? Lagian aku juga sudah lama nggak datang bulan.
Mungkin kalau sempat, aku mampir ke apotik deh buat beli tespek.
.
.
.
Di rumah sakit....
Mika baru saja menyelesaikan piket hariannya. Dia yang berjaga jadi dokter umum tentu saja wira-wiri piket jaga apalagi di masa pandemi seperti sekarang ini.
"Mika....!", sapa seseorang.
Mika pun menengok ke arah yang memanggil namanya.
"Kak Damar?!", kata Mika.
"Baru selesai tugas?", tanya Damar.
"Iya. Harusnya baru sore ini. Tapi tadi gantiin dr Sabrina."
"Owh....!Mau langsung pulang?",kata damar sambil memakai jas profesi nya.
"Belum sih. Kenapa?"
"Nggak apa-apa, nanya doang."
"Owh...kirain ada apaan."
Mika memasukkan kedua tangannya ke saku jas putihnya.
"Tadi, aku ketemu Fai di rumah Aziz."
"Oh...iya, tadi mas Fai juga telpon. Bilang kalau kak damar di sana, mau ketemu mbak Hayu kan? Mas Fai juga bilang, mau ke dwp. Nemuin Mas Aziz. Malah... barusan bilang, katanya ketemu papa di sana."
"Jujur banget ya si Fai. Nggak nyangka!", kata Damar.
"Ya nggak sih, aku pikir Fai diam-diam ke sana. Nggak cerita ke kamu."
"Hehehe...kak, kami suami istri. Harus saling terbuka. Apalagi...kami masih berusaha untuk saling mengenal. Tapi...kami yakin, kami akan bisa saling mencintai. Meskipun....belum sepenuhnya. Yang penting, kami sudah melaksanakan hak dan kewajiban kami. Bener kan kak?", tanya mika.
Pertanyaan seperti itu, membuat Damar sedikit tergagap.
"Mika...aku...."
"Gimana tadi ketemu sama mbak Hayu?", tanya Mika mengalihkan pembicaraan tentang nya pada damar.
"Mika... sebelumnya kakak bener-bener minta maaf. Kak damar tidak akan bosan meminta maaf sama kamu."
"Udahlah Kak, tenang aja. Mika udah bisa mendamaikan perasaan mika kok."
Damar melipat tangannya di dada.
"Tadi...kakak ketemu Stevia di kios. Dia minta tolong sama kakak."
Mika yang tadinya berdiri, kini ikut duduk di bangku depan ruangan nya.
"Mbak Hayu punya masalah apa? Kenapa minta tolong ke kak damar, bukan sama Dian, aku atau Imah?", cerca Mika.
Damar tersenyum cerah.
Ya Allah...selama aku mengenalmu kak, aku baru liat senyummu sedamai ini. Apakah dunia mu hanya tentang Hayu kak damar? Batin Mika.
"Masalah tentang masa depan Stevi."
"Masa depan?", Mika mengulangnya.
"Iya. Jadi, stevi di lamar sama istrinya ustadz Zaki untuk di jadikan istri kedua."
Mika menakupkan kedua tangannya di depan mulut.
"Terus? Mbak Hayu mau?", tanya Mika.
__ADS_1
"Ya nggak lah Mika."
"Lalu, apa hubungan nya sama kak Damar?"
"Jadi, Stevi minta kakak buat bikin Ustaz Zaki menjauh dari Stevi."
"Caranya..??"
"Tadinya mah...kami hanya baru ngobrol aja, eh... tiba-tiba tuh ustaz datang."
"Hah? Terus-terus?", Mika mulai tertarik.
"Ya... spontan, kakak bilang aja kalau ki udah nikah siri. Mau meresmikan secepatnya."
"Astagfirullah....Lalu, mbak Hayu?"
"Dia nggak bisa ngomong apa-apa. Sampe akhirnya, tuh Ustaz nanya kebenaranya. Dasar Stevi nggak bisa bohong. Dia gelagapan lah."
"Yah...gagal dong?", tanya Mika. Tapi lagi-lagi Damar tersenyum, Mika meleleh melihat senyum dari dokter yang selama ini ia kenal dingin.
"Nggak Mika. Justru itu... ditengah rasa penasaran tuh ustaz , tiba-tiba Faiz teriak 'UDAH'!"
"Kok bisa sih kak? Terus gimana reaksi tuh ustadz?"
"Tuh Ustaz langsung ngacir. Tapi Stevi tetep aja khawatir kalau tuh Ustaz masih usaha."
"Terus, gimana bisa Faiz bilang kalian udah nikah siri?"
"Hahaha ternyata Mika, Faiz teriak 'UDAH' gara-gara dia berhasil memasang Lego nya. Bahkan dia sama sekali nggak dengerin obrolan kami."
Damar kembali tertawa mengingat kejadian yang baginya sangat menggelikan itu.
"Kebetulan yang menguntungkan ya kak hahaha."
Mika pun turut tertawa, meski hatinya merasa tidak nyaman.
"Iya Mika. Mungkin udah petunjuk dari Allah. Dan waktu kakak tanya apakah Faiz mau punya papa kak Damar, Faiz setuju."
"Alhamdulillah....! Aku turut senang kak?", kata Mika.
"Makasih Mika. Tapi...kakak juga masih harus banyak berjuang. Stevi belum bisa sepenuhnya membuka hati nya buat kakak Mika..."
"Sabar lah kak Damar."
"Iya Mika. Tentu saja kakak akan menunggu Stevia sampai dia benar-benar memaafkan dan membuka hatinya untuk kakak."
Mika tersenyum getir. Perasaan yang selama ini ia tutupi, nyatanya masih saja tak bisa ia singkirkan sepenuhnya.
Kenapa masih terasa sakit mendengar bahwa kak damar akan menunggu Stevia? batin Mika.
"Maaf Kak, kayanya mika pulang dulu deh. Mas Fai udah di rumah."
"Oh iya. Hati-hati ya Mika."
"Iya kak. Assalamualaikum?!" pamit mika.
"Walaikumsalam", jawab Damar.
Mika menjauh dari Damar.
Ya Allah, kenapa aku begini? Apa aku berhak marah sama mas Fai jika ia masih memiliki perasaan pada Dian? Aku sendiri saja masih begini. Aku munafik! Aku belum bisa sepenuhnya melupakan kak damar. Aku sedih melihat kak damar begitu antusias bercerita tentang Stevia. Mas Fai, maafkan aku yang belum bisa menjadi istri yang baik buat mu mas.....
Tiba-tiba ponsel nya berdering.
[Assalamualaikum mas....aku baru mau ke parkiran.]
[Walaikumsalam. Ya udah, mas tunggu di rumah.]
[Iya mas.]
Mika menyandarkan kepalanya beberapa saat sebelum mobilnya benar-benar keluar dari area rumah sakit.
****
Dalam nya laut bisa di selami, dalam nya hati? Hanya kamu dan Tuhan yang tahu.
Maafkeunnnn...ya..mamak hobi pisan nyempilin nama panganan di episode-episode mamak.
__ADS_1
Hidup makan!!!! 💪💪💪💪