Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 150


__ADS_3

"Terima kasih buat waktunya ya...mas...Jul!", kataku.


Julian menganggukkan kepalanya. Aku dan mas Aziz pamit untuk pulang ke rumah. Julian pun mengantar kami sampai di loby.


"Tolong kabari saya ya Bu Dian jika ibu sudah siap."


"Oke mas Jul!"


"Mas...boleh nggak aku ngomong berdua sama mas Julian?"


"Ya, silahkan!"


Aku dan Julian menyingkir dari kerumunan tadi.


"Kenapa Bu? Ada yang bisa saya bantu?", wajah Julian sedikit lebih serius.


"Maaf sebelumnya mas Jul. Mungkin... pandang orang terhadap saya, bagi mas Julian terlihat tidak sopan. Tapi biarlah mas. Saya hanya ingin, mereka menghormati saya sebagi sesama. Bukan karena saya atasan mereka, lantas mereka berpura-pura ramah terhadap saya."


"Tapi Bu Dian, maaf. Saya tidak respek kepada mereka yang menghina ibu."


"Tenang saja, saya sudah biasa menghadapi netijen mas Jul. Orang lain boleh menyepelekan saya, tapi mereka tidak tahu saya. Di saat tertentu, saya yang 'lemah' bisa berubah menjadi apa yang sama sekali mereka pikirkan. Tapi bukan wonder women lho mas Jul!"


"Bu Dian....!"


"Keep calm mister Julian!", kataku sambil tersenyum.


"Saya menaruh harapan besar demi kemajuan Perusahaan Bu Dian!"


"Perusahaan kita Mas Jul. Tanpa kalian, apakah semua akan berjalan? Tidak mas! Justru saya tidak tahu menahu selama ini. Saya yang seharusnya berterima kasih kepada kalian yang sudah berdedikasi tinggi di perusahaan kita."


"Terimakasih Bu!"


"Oh iya mas Jul. Mungkin, saya tidak bisa tampil elegan dan... berwibawa seperti om Kendra. Keras bukan berarti tegas. Mungkin, orang lain akan patuh dengan ketegasan kita di balik kekerasan. Tapi sisanya? Mereka patuh hanya karena takut, bukan karena menyadari dengan sendirinya."


"Saya paham Bu Dian!"


"Dan...tetap lah menjadi orang kepercayaan saya Mas Julian. Maafkan saya dan mas Aziz yang suka cengengesan. Tapi , kami hanya ingin membangun chemistry sama mas Jul biar nggak kaku-kaku amat lah! Jadi, kalau diluar pekerjaan silahkan bersikap biasa saja biar kita akrab. Karena mau tidak mau, kita saling terlibat demi kelanggengan perusahaan kita ini."


"Baik Bu Dian. Saya akan mencoba untuk lebih fleksibel", kata Julian.


"Ya udah kalo gitu kami pulang ya mas Jul. Untuk saat ini, sepertinya belum ada hal yang serius. Saya juga akan banyak belajar sama suami saya."


"Silahkan Bu. Maaf Bu....!"


"Ya?"

__ADS_1


"Mobil inventaris....!"


"Nggka usah mas Jul, kami masih bisa pakai mobil sejuta umat milik kami hahahaha."


"Mobil sejuta umat?", tanya Julian.


"Iya. Lihat saja!", kataku sambil berjalan menuju mas Aziz.


"Sama Bunda ya dek, ayah ambil mobil duluan."


Mas Aziz memberikan dampak Diaz padaku. Mas Aziz menuju ke parkiran mengambil mobilnya, dan aku menunggu bersama Diaz. TK lupa Julian dan kroni-kroninya.


Setelah beberapa saat, mobil itu berhenti di hadapan kami. Mas Aziz pun turun dan mebukakan pintu untuk ku dan Diaz.


Julian dan yang lainnya pun melongo. Ini yang bos nya bilang mobil sejuta umat?? Julian ingin tertawa. Benar! Kelas menengah saja mampu membelinya, apalagi nyonya besar? Pantas saja di bilang sejuta umat.


"Gimana mas Jul?", tanyaku dari dalam mobil.


"Iya Bu Dian. Sejuta umat?! Hahahaha!", kata Julian tertawa.


Sontak kroni-kroninya alias anak buah Julian tak menyangka, seorang Julian bisa tertawa seperti itu di depan bos baru mereka.


"Kami pulang ya."


"Silahkan Bu.... hati-hati!"


"Kenapa?", tanya Julian datar.


"Mister Julian bisa tertawa juga ya?", bisik salah seorang bawahan Julian.


"Saya mendengar nya!", kata Julian sambil berlalu dari mereka.


Bu Dian, anda memang beda! Batin Julian.


*******


"Diaz kecapekan kayanya dek."


"Iya mas."


"Kita mampir ke rumah Abah ya?!"


"Ngapain?", tanya Aziz.


"Mau balikin daster sama mukena umi. Mau dikasih ke aku juga nggak apa-apa sih, minimal kan aku balikin dulu."

__ADS_1


"Ngarep....!", kata mas Aziz nyengir.


"Dikit heheheh.....!"


"Dari tadi group komunitas ngajimu rame banget!", kata mas Aziz.


"Oh iya, mau NgaOs mas!"


"Apa itu?"


"NgaOs itu...Ngaji on the street. Tapi nggak di jalan beneran kok mas. Biasanya kopdar di masjid mana gitu."


"Owh...ya udah, Dateng aja. Nanti mas anterin."


"Hahah jauh mas, di Purwakarta. Mau?"


"Mau aja, kalau kamu mau mas anterin lah."


"Lain kali aja mas, kalo di sekitar sini aja deh."


"Emang komunitas ngajimu itu gimana sih dek?"


"Ya grup tilawah aja mas. Nanti ada adminnya yang ngingetin kita buat setor tilawahnya. Ada yang sehari satu juz. Ada yang target berapa surat atau ada juga yang sekedar mendengar ayat-ayat Nya. Terus di laporin ke grup."


"Kalau ngaji nya gegara terpaksa, alias karena deadline mungkin?"


"Awalnya banyak yang gitu mas. Tapi, seiring berjalannya waktu. Kalau belum ngaji, belum setoran...ada rasa yang kurang gitu lho."


"Emang apa grupnya?"


"ODOJ mas, one day one juz. Sudah tersebar di seluruh Indonesia lho!"


"Masyaallah. Istri Solehah!", kata mas Aziz mengusap kepalaku.


"Belum mas. Masih jauh. Mohon dukungannya ya!", kataku.


"Ya kali lagi turnamen!"


Kompak kami tertawa bersama-sama. Semoga kita selalu seperti ini ya mas.


Jangan pernah khianati aku lagi ya mas. Kalian terlalu berharga buat ku.


Aku memandangi satu persatu antara Diaz dan mas Aziz.


"Tolong, doakan mas ya dek. Biar Istikomah. Mas ingin selalu menjadi suami dan ayah yang baik buat kalian."

__ADS_1


"aaa....hhh...so sweeeetttt....!", kataku. Dan kami pun kembali tertawa.


__ADS_2