
Hasil Rontgen menunjukan bahwa kaki ku sedikit ada keretakan, hanya saja tidak terlalu parah. Aku cukup mengkonsumsi obat secara rutin agar cedera ku lekas pulih. Mas Aziz membawaku ke mobil kami.
"Motor mu mas?"
"Udah, nggak usah cemas. Anak buah Fai sudah mengantarkan pulang!"
"Oh...!"
"Lain kali, mas nggak mau kamu kemana-mana sendiri. Harus sama mas!"
"Iya sayang....! Eh, Diaz gimana mas?"
"Sama Imah, kamu masih punya stok asi di freezer bukan? Mas minta Imah menghangatkan nya biar Diaz ngga rewel."
"Oh, syukurlah!"
"Kamu tahu dek, siapa yang mengikuti mu?"
"Mengikuti ku?"
"Iya, ada saksi yang bilang kalau ada mobil merah sengaja menguntitmu. Sampai akhirnya kamu begini."
"Aku nggak tahu mas!"
"Ya sudah, istirahat saja. Setelah Sampai rumah, mas yang urus Diaz."
"Aku bisa kok mas!"
"Apa kamu bisa menggendong Diaz sambil memakai tongkat?"
"Nggak tahu mas!"
"Udah, mas bisa kok jagain Diaz. Kamu cukup menyusui aja!"
"Oke ..oke..bos!"
****
Sampai dirumah, aku melihat Imah tidur memeluk Diaz di sofa depan televisi. Mas Aziz berniat membangun kan Imah, tapi ku cegah. Mungkin Imah lelah menjaga Diaz sekaligus cemas dengan keadaan ku.
"Kamu istirahat di kamar dek. Nanti kalau Diaz bangun, mas yang mandiin Diaz."
"Emang bisa?"
"Bisa lah! tenang aja dek!"
"Baiklah."
Aku pun berbaring di tempat tidur ku. Beruntung luka ku tak terlalu parah. Hanya sedikit lecet di tangan kaki serta dahiku. Tapi, tidak terlalu buruk. Kaki ku pun masih bisa di kontrol.
Benar saja, saat aku terbangun Diaz sudah dalam posisi mandi.
"Lihat, bunda udah bangun Nak!", sapa mas Aziz.
"Anak bunda udah ganteng aja!", kataku sambil meraih nya dalam dekapan ku.
Diaz langsung menelusup meminta haknya untuk di susui.
"Kamu yang mandiin mas?", tanyaku.
Belum di jawab sama mas Aziz, Imah sudah nyelonong masuk ke kamarku.
"Mana ada mbak! Yang ada imah takut kalau sampe Diaz kepeleset di bak gara-gara bapaknya gemetaran mau mandiin tok!"
Mas Aziz mengusap tengkuknya sambil cengengesan. Gayamu mas...mau mandiin bayi kecil ku.
"Makasih ya Mah. Maaf mbak udah ngerepotin kamu terus."
"Ya nggak lah. mbak kan mbaknya Imah yang paling Imah sayang!", kata Imah memelukku.
Aku pun menepuk pundak Imah pelan. Untung ada Imah di sini, bagaimana kalau nggak ada dia. Tadi pasti mas Aziz bakal bingung sendiri.
__ADS_1
"Mbak Di nggak apa-apa kan? Maksud Imah nggak ada yang parah kan?"
"Ya seperti yang kamu lihat, mbak mu strong mah hehehehe....!"
"Ah...mbak Di, bikin kita cemas tau nggak!"
"Iya, maaf ya... gara-gara mbak ngeyel mau pake motor baru mas mu, mbak jadi begini. Ujung-ujungnya merepotkan kalian."
"Tenang aja mbak, kami selalu bersamamu!", kata Imah dengan pedenya.
"Tapi bentar lagi kan kamu di bawa sama kang Dadan, kita nggak bisa sama-sama begini kan?"
"Ah...mbak Di...Imah nggak mau jauh deh dari kalian."
"Enak aja, sono jauh-jauh. Enak aja mau numpang disini terus. Suamimu itu kan juragan Soto mie. Masa mau numpang di rumah tukang pulsa!", kata mas Aziz sengit.
"Iiih ...mas Aziz lho nyebeli tenan!", kata Imah manyun. Mereka kalau sudah bercanda memang nggak pikir dulu. Apa nantinya ada yang sakit hati atau gimana, ampun deh!
"Ya wis, makan dulu deh mbak. Imah udah masak!"
"Kamu masak mah?", tanyaku ragu.
"Iyo...Imah bikin udang goreng Pete, sayur bening, sama tempe tepung."
"Tuh bisa masak Mah?"
"Cobain aja dulu dek, meragukan kalau Imah yang masak!", sahut Aziz.
"Jangan meremehkan Imah mas. Sana cobain dulu. Awas kalau nambah terus makannya!",ancam Imah.
"Rumah...rumah siapa? Makanan...makanan siapa?"
"Iya tau....! Tapi kalau nggak ada yang masak,emang jadi tuh makanan?"
"Udah deh, kalian berdua tuh kerjaan nya kok ribut Mulu sih? Udah sama-sama tua juga!"
"Enak aja mbak, mas Aziz aja yang tua. Imah mah masih muda keleus!"
"Dih...mendingan mas lah, merasakan tua udah lebih dulu ngerasain muda. Nah kamu, kamu belum tentu ngerasain tua!"
"Imah...umur kan ditentukan sama Allah. Bisa aja kan yang diambil sama Allah kamu duluan mbak belakangan, atau mbak belakangan kamu duluan!", kataku mengetes kejelian Imah. Sedangkan mas Aziz masih cengengesan.Sepertinya Imah baru 'ngeh' dengan ucapan ku.
"Ya Allah mbak....sama aja dong Imah duluan!"
Aku dan mas Aziz nggak bisa menahan tawa kami.
"Wes...wes...ayok kita makan masakan chief Siti Khotimah mas! Mubadzir lho udah di masak!"
"Ya udah ayok."
Aku meletakkan Diaz di stroller dan mendorong ke meja makan. Sebentar lagi magrib, jadi aku tidak akan membiarkan Diaz di kamar sendiri.
****
Di rumah sakit, saat Fai pulang.
Itu ibunya Farhan kan? Dia kenapa? Sakit apa?
Fai melihat Feby baru saja keluar dari sebuah ruangan khusus, dan kebetulan dokter yang dia kenal baru saja keluar dari ruangan tersebut.
"Damar!", panggil Fai.
"Hei, ustadz ganteng!", sapa dokter Damar.
"Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam!"
"Ngapain disini pak ustadz?", ledek damar.
"Lagak Lo! Eh, tadi nyonya yang pakai kursi roda itu pasien Lo kan?"
__ADS_1
"Gue nanya apa di jawab apa!", kata damar besungut.
"Oh...iya, gue...abis nemenin Diandra, tadi dia kecelakaan."
"Siapa? Diandra? Diandra...mantan Lo itu?"
"Iya!", jawab Fai singkat.
"Bukannya Dian itu udah nikah sama Aziz ya? Kok bisa Lo yang nemenin Dian? Emang Dian sama Aziz cerai? Lo balikan sama Dian?"
"Apaan sih Lo Dam! Ya nggak lah. Mereka baik-baik aja!"
"Lha, terus kok bisa Lo yang nemenin Dian, bukan lakinya?"
"Kebetulan gue yang nemuin Dian pas kecelakaan!"
"Waw... kebetulan yang disengaja seperti nya!", kata Damar.
"Lo gak usah mikir macem-macem. Lo tau gue cinta mati sama Dian, makanya gue nggak kawin-kawin. Tapi , nggak ada di kamus gue buat ngerebut bini orang!"
"Hahahah....makan tuh cinta Fai! Kaya nggak ada perempuan lain aja sih!"
"Ga usah bahas gue, gue nanya nyonya Feby pasien Lo?"
"Nona Fai, bukan nyonya!", kata damar.
"Kok nona sih, dia kan udah pernah nikah punya anak pula!"
"Mana ada? Statusnya masih single bro! Lo mau deketin? Jangan deh, dia udah kronis!", kata Damar membekap mulutnya sendiri.
"Maksud Lo?"
"Nggak! Udah ah, ini rahasia pasien . Bisa kena gue kalau nyalahin sumpah dokter gue!"
"Dam, separah apa sakitnya Feby?"
"Udah gue bilang bro, itu rahasia pasien. Lo kan bukan siapa-siapa nya!"
"Tapi , gue harus tahu Dam. Ini menyangkut masa depan anaknya lho!"
"Anak siapa?"
"Anak nya Feby lah!"
''Tapi...emang dia udah nikah?"
"Udah Dam, gue kenal banget sama anak dan mantan suaminya."
"Tapi, dia bilang belom pernah nikah!"
"Cerita nya panjang Dam. Dan asal Lo tahu, anak dan mantan suami Feby itu tetanggaan sama Aziz. Dan mereka mau jadi ipar, tau ?"
"Ipar nya Aziz?"
"Udah ah, bingung gue jelasin nya! Gue cuma mau tahu, Feby sakit apa? Gue nggak mau ada penyesalan nantinya. Kasian Farhan, anaknya Feby."
"Lo kan tau gue dokter spesialis apa? Masa masih Lo tanya sih!", kata damar manyun.
"Oke...tapi...separah apa? Soalnya selama ini gue liat, dia baik-baik aja!"
"Lo sering liat dia?"
"Nggak sering, pernah beberapa kali!"
"Ya...dia menjalani kemoterapi. Udah ,cuma itu yang bisa gue sampein ke Lo!"
"Separah apa?"
"Ya...gitu lah, udah ah...gue masih tugas! Lain kali ngobrol lagi ya pa ustad!"
"Oke...ya udah sana!"
__ADS_1
Dokter Damar pun meninggalkan Fai. Ada banyak pertanyaan di benak Fai. Apakah dia harus menyampaikan keadaan Feby kepada Farhan dan Dadan? Seperti apa pun Feby, dia adalah ibu kandung Farhan.
Ah...kenapa aku harus ikut campur sih? Gumam Fai.