
"Selamat pagi pak Aziz!", sapa Revan, dia datang sebagai dokter yang menangani Aziz. Jika sedang menjadi dokter begini, dia tak menyebalkan sama sekali. Cenderung ramah dan baik hati.
"Pagi!", sahut Aziz ketus.
"Sesuai pemeriksaan, saya memutuskan anda bisa pulang siang ini pak Aziz!", kata Revan.
"Alhamdulillah, makasih dok!", kata Aziz datar.
"Terimakasih dok!", kata ku.
Revan tersenyum tipis padaku.
"Mungkin anda bosan bertemu dengan saya, sayangnya setiap minggunya....anda harus check up dan tentunya kembali bertemu saya!", Revan tersenyum licik. Aziz membelalakkan matanya.
"Maaf dok, saya bisa pindah rumah sakit manapun yang saya mau!", kata Aziz. Aku mengusap tangannya, agar tak terpancing emosi.
"Bisa saja, kalo saya kasih rekam medis anda. Tapi...kalo saya nggak mau gimana? Rumah sakit lain akan mengecek anda dari awal lagi dan saya pastikan proses penyembuhan anda semakin lama!"
(Realitanya ngga bakal begini kan pemirsahhhhh???)
"Mau anda apa Dok? Anda mengancam saya?", tanya Aziz. Perawat yang mendampingi Revan pun terkejut di buatnya.
"Tidak!", jawab Revan santai.
"Tidak bisakah anda bersikap profesional Dok?", tanyaku.
"Mungkin kalau ke pasien lain bisa, tapi kalau ke suami kamu beda!", sahut Revan menyebalkan. Perawat yang mendampingi Revan pun ternganga. Dia tak menyangka dokter Revan yang di kenal jarang senyum dan jarang bicara bisa mengatakan kalimat seperti itu pada pasiennya.
Jadi, rumor yang beredar benar nih? Dokter Revan masih menaruh hati dengan istri pasien? Batin si perawat.
"Van!", bentakku.
Aku seakan ingin menampar pipi nya. Tapi sebisa mungkin ku tahan.
"Keluar sus!", titah Revan. Perawat itu pun mengangguk lalu keluar.
Duh, Dokter Revan mau ngapain sih? Kaya ngga ada perempuan lain aja, orang udah punya nya suami juga! Si perawat bergumam saat sudah keluar dari ruangan aziz.
"Diandra!", panggil Revan lembut. Lalu dia membuat jas kebesarannya.
"Sebenarnya apa mau sih Van? Suamiku lagi sakit, tolong hargai profesi kamu dong! Jangan mempermainkan pasien!"
"Aku tidak sedang mempermainkan pasien Diandra!", kata Revan santai.
"Sudah dek! Nggak usah ladenin dokter gila ini. Lebih baik kita bersiap untuk pulang. Minta jemput Julian ,Dadan atau Rifai kalo perlu!", titah Aziz.
"Iya mas!", jawabku sambil menghubungi kang Dadan. Tapi tiba-tiba Revan merebut ponselku.
Srekkkk....
"Van!", pekikku.
"Kembalikan ponsel istriku!", kata Aziz geram.
"Kalau aku tidak mau ,gimana?", kata Revan.
"Kamu udah gila ya Van! Kembalikan!", pinta ku.
"Iya. Aku tergila-gila sama kamu Dian! Kamu tahu gimana aku kelimpungan nyariin kamu. Tapi om kendra nyembunyiin kamu dari aku! Dan sekarang.... setelah aku ketemu sama kamu, aku harus lepasin kamu dengan lelaki lumpuh seperti ini?", tunjuk Revan pada mas Aziz.
Plakkkk!
Satu tamparan mendarat di pipi Revan. Revan mengelus pipinya yang bergambar tanganku.
"Jaga ucapan mu Van. Aku masih menghormati mu sebagai dokter yang menangani suamiku. Tapi aku tidak bisa mentolerir ucapan mu pada suamiku!".
__ADS_1
Nafasku memburu menahan emosi di dadaku. Ku rebut kembali ponsel ku.
Mas Aziz meraih tanganku! Menggenggam erat, memberikan kekuatan padaku.
"Kita lihat, seberapa lama kamu bertahan dengan keadaan suamimu lumpuh mu itu! Kamu masih muda Diandra! Kamu masih butuh kehangatan seorang pria. Tapi lihatlah? Apa kamu pikir suamimu yang tampan ini masih bisa memberikan mu nafkah batin?"
Aku beranjak ingin menampar Revan lagi, tapi mas Aziz menahanku.
"Sudah dek!", pinta mas Aziz.
"Tapi Revan keterlaluan mas! Mulutnya nggak bisa di jaga! Aku nggak nyangka seorang Revan bisa mengatakan hal ini. Apalagi dia seorang dokter! Yang banyak membantu orang lain. Tapi lihat lah mas!! Ucapan nya sudah mencerminkan kepribadian nya, betapa dia tak berakhlak!", kataku berapi-api.
Revan masih memegangi pipinya yang panas bekas tamparan ku.
"Cepat atau lambat, kamu akan menyadari Diandra! Dia tak pantas bersama mu! Aku yang akan bersama mu nanti! Camkan itu!", ancam Revan. Lalu ia pun meninggalkan ruangan mas Aziz.
"Astagfirullah.... astagfirullah....!", aku mendudukkan diri di bangku dekat brankar.
Mas Aziz mengusap kepalaku.
"Sayang, mas tahu kamu nggak akan pernah ninggalin mas!",kata Aziz. Aku meraih tangan nya, lalu ku cium punggung tangannya.
"Aku mencintaimu mas. Apa pun keadaan mu! Tapi apa pun akan ku lakukan agar kamu pulih mas! Kamu harus semangat buat aku, buat Diaz , buat Imah! "
Mas Aziz mengangguk.
"Iya, tentu saja mas akan semangat untuk sembuh demi kalian!", kata Aziz.
"Aku telpon kang Dadan dulu ya mas!"
Mas Aziz mengangguk.
[Assalamualaikum kang?]
[Walaikumsalam,mbak Di]
[Teu. Keur di warung. Aya naon mbak?]
[Bisa nggak kang Dadan jemput kami?]
[Mas Aziz teh sudah diijinin pulang?]
[Muhun Kang]
[Alhamdulillah. Ya udah atuh, tungguan heula nyak. Saya otewe]
[Makasih kang]
[Sama-sama mbak. Assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
"Dadan bisa jemput dek?", tanya Aziz.
"Bisa mas! Aku beres-beres bentar ya mas!"
"Iya dek!"
Aku pun membereskan beberapa barang kami. Aku senang mas Aziz di ijinkan pulang hari ini. Sudah kangen rumah.
"Dek...!"
"Ya mas?", aku hanya menengok sambil tetap merapikan barang-barang kami.
"Ke makam mama dulu ya?", kata Aziz lirih. Aku pun menghentikan aktivitas ku. Lalu berbalik menuju mas Aziz.
__ADS_1
"Kamu nggak apa-apa mas? Kalau masih belum fit bener, besok lagi aja ya?"
Mas Aziz menggeleng.
"Aku ingin ke sana dek!", kata mas Aziz lagi. Aku pun menghela nafas. Kupeluk suamiku yang masih berbaring. Ku kecup keningnya sesaat.
"Iya, kita ke sana. Kang Dadan pasti mau nganterin."
"Oh iya, biaya rumah sakit udah di urusin?"
"Udah mas. Sama Mas Jul!"
"owh, ya sudah"
"Dek....!"
"Heum? kenapa sayang?", kuusap puncak kepala nya.
"Andaikan kita sudah berusaha apa pun untuk kesembuhan ku, tapi aku nggak sembuh juga gimana dek?"
"Kamu itu ngomong apa sih mas?"
"Apa kamu akan meninggalkan ku, seperti yang Revan bilang tadi?"
"Astagfirullah mas. Aku mencintaimu mas. Mana mungkin ninggalin kamu sih?"
"Apa aku masih bisa memenuhi kebutuhan batin mu dengan kondisi begini? Berdiri saja tidak mampu!", kata mas Aziz lesu.
"Yang sedang tidak bisa berdiri kan kaki mu, yang lain nya masih bisa. Tadi aku lihat masih bisa berdiri tegak waktu di kamar mandi!", aku mencoba menetralkan kesedihan mas Aziz meskipun bahasaku mulai vulgar.
Mas Aziz memicingkan matanya.
"Maksud nya?"
"Iya kamu tahu lah mas. Apa pura-pura nggak tahu?"
"Kamu tuh dek!", katanya mencubit pipiku dengan gemas.
"Tenang lah mas. Nggak usah memikirkan seperti itu. Sekarang yang lebih penting adalah fokus dengan kesembuhan mu. Itu saja, urusan yang lain jangan di pikirin dulu." Mas Aziz pun mengangguk.
Tok...tok...
"Assalamualaikum!", Dadan masuk ke ruang rawat mas Aziz.
"Walaikumsalam", jawab kami berdua.
Dadan pun menghampiri kami.
"Alhamdulillah mas Aziz udah boleh pulang, Diaz sama imah pasti seneng banget!", kata Dadan.
"Iya, Alhamdulillah Dan!"
"Ya udah kang, kita langsung pulang aja yuk!", kata ku.
"Hayukk atuh...! Sini mas, biar saya yang bantuin duduk di kursi roda!", kata Dadan sambil memapah mas Aziz.
"Makasih Dan!"
"Sama-sama atuh mas!"
"Dari sini, langsung ke makam mama mau kan Dan?", tanya Aziz.
Dadan meliriknya sekilas. Ku anggukan saja, agar dia menuruti suamiku.
"Iya Mas!"
__ADS_1
Kami bertiga pun keluar dari rumah sakit, setelah itu baru mampir ke makam mama Farah.