
"Mbak, Imah harus nyari ibuk dimana ya?", tanya Imah padaku.
"Udah sih mah, nggak usah nyari ibu tiri kamu itu. Biarkan saja kalau emang dia udah nggak mau urusan sama kamu. Besok kita tinggal hubungi orang-orang yang bersangkutan sama hutang papamu!"
"Iya ma!", jawab Imah lesu. Meskipun Tati bukan ibu yang baik selama ini, tapi karena Bu Tati juga ia bisa sebesar sekarang. Bu Tati yang sudah merawat Imah sejak bayi.
Kami berempat melanjutkan makan siang kami.
"Ya udah ,Imah ke konter lagi ya?"
Tanpa menunggu jawaban dari penghuni rumah yang lain, Imah bergegas menuju kios lagi.
Benar saja, di depan sana sudah ada pelanggan setia yang menanti untuk dilayani.
"Bagaimana mau maju tokonya kalau di tinggal terus?", kata Feby ketus.
"Tokonya masih stay di sini mbak, kalo maju ya nggak bisa buat mobil lewat. Apalagi mobil situ!"
"Aduh...kok bisa-bisanya Aziz menerima pegawai macam kamu. IQ rendah begitu!"
"Nggak apa-apa lah mbak, biar IQ rendah, yang penting kan akhlak nya nggak rendahan."
"Maksud kamu apa ngomong begitu?"
"Katanya orang pinter, masa gitu aja ga tau toh?"
"Halah Mah...mah...baru mau jadi bini nya Dadan aja udah belagu gitu. Apa bagusnya coba si Dadan."
"Ya nggak apa-apa toh mbak Feby, mendingan sama A Dadan, ketahuan udah sendiri. Dari pada mbak Feby, udah tau masku punya istri masih aja ngebet nyamperin ke sini."
"Heh Imah, tau apa kamu hah?", kata Feby berkacak pinggang.
"Kamu ngapain udah di sini Feb? Nggak punya kerjaan?", tiba-tiba Aziz masuk ke dalam kiosnya.
"Ya mau ketemu kamu lah sayang...", Feby kembali duduk di bangku nya.
"Hahahah sayang...sayang opo toh mbak? Mbok yao ngoco lho. Deloken Iki!", Imah memberikan cermin ke hadapan Feby.
"Peyan ncen cantik mbak, tapi kelakuan ko Yo mines. Apa gak iso, cari sana laki-laki yang single yang jelas-jelas masih sendiri. Jangan ngejar-ngejar mas Aziz terus toh Yo?!"
"Maksud mu, aku ngejar pacar mu itu? Ogah banget, kalau gue mau udah dari dulu kali mah. Ih...", Feby bergidik jijay.
"Gitu-gitu juga berjasa dalam hidup mu Feb, menutupi aib mu kan?",tanya Aziz.
__ADS_1
"Ya...itu bukan mau gue, bokap nyokap gue yang minta."
"Harusnya Lo ucapin makasih ke dia, bukan menghina begitu."
Aziz kini duduk di belakang meja kasir. Dia tidak ingin dekat-dekat dengan Feby yang duduk di depan etalase. Biarlah Imah jadi benteng pertahanan 😉.
"Apa yang kamu cari dari aku?" tanya aziz.
"Kamu punya segalanya yang aku ingin kan Ziz!"
"Tapi aku sudah beristri, jadi tolong jangan ganggu keluarga ku. Kamu cantik, lelaki manapun bisa kamu dapatkan", ujar Aziz. Imah masih memperhatikan dua orang yang sedang berdebat tentang hati mereka.
"Kamu bilang aku cantik? Kamu bilang aku bisa mendapatkan siapa pun lelaki yang aku mau? Tapi, buktinya kamu nggak mau sama aku!"
"Kita cukup menjadi teman, tidak lebih Feb. Kalau kamu tidak ada kepentingan disini, silahkan pergi dari sini!"
"Lo ngusir gue Ziz?"
"Iya. Aku pikir, setelah kejadian waktu itu kamu tidak akan menginjakkan kaki mu disini."
"Bagaimana mungkin, aku tuh cinta mati sama kamu ziz. Aku nggak masalah jadi yang kedua sekali pun asal aku bisa sama kamu!"
"Tapi masalahnya, aku cuma cinta sama Diandra! Istri ku! Sekali lagi, tolong jangan bikin masalah di sini Feb!"
"Berhentilah untuk bicara yang tidak-tidak Feby! Pergilah, perbaiki saja hidupmu. Kalau perlu, minta maaf lah pada Farhan. Sadarilah kesalahan mu di masa lalu, jangan jadikan Farhan sebagai pelampiasan egoismu!"
"Berhenti menasehati gue Ziz. Lo gak tau seperti apa rasanya jadi gue."
"Iya, aku nggak pengen ngerti. Kalau sudah selesai, silahkan pulang Feb. Jangan mengganggu ku lagi. Kalau ke sini mau belanja, silahkan!"
"Lo bener-bener keterlaluan Aziz!"
Feby menghentakkan kakinya, berlalu dari kios Aziz.
"Kasian mbak Feby mas....!"
"Kenapa kasihan? Kamu mau hidup kita berurusan terus sama dia?", ujar Aziz.
"Ya nggak sih, tapi ...kayanya dia cinta banget Karo peyan mas."
"Ogahhh....!", kata Aziz.
"Tenane?", tanya Imah penuh selidik.
__ADS_1
"Au ah....!"
Imah terkekeh geli mengerjai kakak sepupunya itu.
"Bagi pulsa mah!" ,suara yang Imah hafal ada di depan nya.
"Ibuk!", pekik imah.
"Ya Allah Buk, ibu dari mana aja? Ibuk Saiki tinggal di mana toh buk? Tinggal sama Imah aja ya, biar Imah cari kontrakan buat kita?"
"Saya mau beli pulsa, bukan mau cari tumpangan!"
"ibuk, Imah minta maaf buk!"
Imah memeluk Hartati dari sebelah etalase.
"Tati, lama banget sih? Eh...bocah Jawir, buruan isiin pulsa gue?!"
Lili terkejut mendapati art nya berpelukkan dengan Imah.
"Mbak Tati kenal sama calon adik ipar?", tanya lili. Aziz yang duduk di belakang kasir pun mendekat.
"Bu Tati, kenapa bisa sama Lili?", tanya Aziz.
"Nggak usah tanya apa-apa. Buruan isin pulsanya mbak Lili!", ujar Tati ketus.
"Wait...wait...gue bingung, kamu kenal sama mereka mba Tati?'', tanya lili.
"Bu Tati , ibu saya mbak Lili!", kata Imah.
"Hah? Masa? Ah...nggak mungkin! Mana ada sih mbak Tati punya anak Segede kamu!"
"Saya cuma mantan ibu tirinya Imah mbak. Sekarang udah nggak ada hubungan apa-apa lagi. Tidak ada sangkut pautnya dengan keluarga Nugroho!"
"Ibuk, ibuk tetep ibu Imah. Jangan begini buk. Balik Karo Imah ya buk?"
"Emoh...Ra sudi aku ndek kudu Urip Karo keluaran ne Farah!"
"Ibuk, kita bisa cari tempat tinggal lain buk. nggak tinggal disini buk!"
"Nggak! Cepet isiin pulsa mbak lili!"
Dengan malas Imah pun mengisi nomor ponsel Lili.
__ADS_1
Ada binar cerah di wajah Lili. Entah apa yang dia pikirkan, yang pasti dia punya ide yang pasti membuat ia merasa diuntungkan.