
Imah membawa Diaz kembali ke kios. Sepertinya bayi itu mulai mengantuk, Imah pun menimang-nimang sebentar. Benar saja, selang beberapa waktu keponakan nya telah tertidur pulas.
"Mah...!", panggil Hayu.
"Iya mbak? kenapa?", tanya Imah.
Aku melangkah kan kaki menuju kios untuk mengambil Diaz dari Imah. Pasti anakku sudah mengantuk saat ini. Tapi mendengar obrolan Imah dan hayu, aku berhenti di depan kamar Imah. Mendengar apa yang akan Imah dan hayu katakan.
"Apa mereka bertengkar karena aku?", tanya hayu cemas.
"Maksud mbak apa ya?"
"Dian dan mas Aziz bertengkar karena aku?", ulang hayu lagi. Terdengar suara Imah menghela nafasnya.
Aku terbengong-bengong mendengar apa yang hayu ucapkan. Apa dia mendengar nya?
"Tahu dari mana mbak?"
"Maaf, tadi nggak sengaja aku mendengar nya Mah!", jawab Hayu lesu.
"Tapi mereka sudah baikan kok mbak!"
"Jujur Mah. Memang , aku mengagumi mas mu. Entah ada perasaan apa tiap kali aku melihat mas Aziz."
Imah mengepalkan tangannya. Benar kan dugaan ku, batin Imah.
"Tapi, hanya sebatas mengagumi Mah. Tidak lebih. Bagiku, Dian dan mas Aziz sudah seperti keluarga ku. Apa mungkin aku tega mengkhianati mereka Mah?"
Imah tak menjawab pertanyaan Hayu.
"Aku hanya iri melihat kemesraan mereka, tapi tidak ada niat sedikit pun hadir di kehidupan keluarga mereka."
Hayu meletakkan tangannya di atas etalase.
"Kamu tahu mah, aku di besarkan oleh lingkungan yang jauh dari kata harmonis. Aku benci perselingkuhan. Aku benci pengkhianatan. Tiap hari, aku selalu berdoa. Aku tidak ingin memelihara perasaan lebih pada mas mu Mah."
"Daddy ku, mengkhianati mami ku. Dia selingkuh dengan istri orang. Dan...mami ku bunuh diri karena dia sudah tidak tahan dengan perlakuan daddyku. Usai kematian mami dan juga selingkuhan nya, kegilaan Daddy semakin menjadi-jadi. Main perempuan ,Gonta ganti pasangan. Aku sudah tidak tahan untuk bertahan dan berada di bawah kendalinya. Aku...aku..."
Hayu tidak bisa melanjutkan ceritanya. Bahunya terguncang. Imah pun meraih bahu Hayu.
"Maaf kan Imah mbak, Imah udah berprasangka buruk sama kamu Mbak Hayu."
Hayu menggeleng kan kepalanya.
"Kamu nggak salah, memang benar kan aku memiliki rasa sama mas mu. Tapi tidak ada niat atau obsesi untuk memilikinya. Dian... perempuan tangguh, perempuan yang baik. Dia lah satu-satunya perempuan yang pantas mendampingi mas mu."
Imah hanya bisa mengusap bahu hayu.
Ya Allah,maafkan aku yang sudah berpikir jelek pada Hayu. Maafkan aku ya Allah... batinku.
"Aku benci sama Daddy ku mah. Meskipun sudah banyak hal ku lakukan untuk bisa memaafkannya tapi nyatanya rasa benci itu tetap sama. Aku masih membencinya sampai sekarang. Dan Dian....dia menguatkan ku. Aku harus bisa berdamai dengan keadaan. Aku pasti bisa perlahan memaafkan daddyku."
Aku sudah tidak tahan untuk tidak masuk ke kios. Dengan cepat aku menghambur ke pelukan Hayu.
__ADS_1
"Aku minta maaf mbak!", kataku sambil terisak di bahu Hayu. Imah pun memilih meninggalkan kios, membawa Diaz yang sudah tidur untuk di bawa ke kamar.
"Nggak Dian. Aku yang minta maaf!"
Kami berdua sama-sama terisak. Kami cengeng? Iya. Aku pun duduk d samping hayu.
"Kemarin, aku masih bisa menasehati mu mbak. Untuk bisa memaafkan om Stevan. Tapi, aku sendiri tidak tahu. Apa aku bisa memaafkan Daddy mu?!"
"Maksud kamu apa Di?Maaf... maksud ku mbak dian", tanya Hayu.
"Panggil dian saja nggak apa-apa mbak."
"ya. Baiklah."
"Kamu tahu mbak, siapa perempuan yang menjadi selingkuhan Daddy mu?"
Hayu menggeleng pelan.
"Dia ibuku. Ibu yang tidak pernah mengharapkan kehadiran ku dalam hidup nya. Kisah cinta Daddy mu dan ibuku yang tidak usai setelah mereka sama-sama menikah."
Hayu menakupkan kedua tangannya di depan mulutnya.
"Aku pun sama terkejutnya mbak. Di hari kamu kehilangan Mamimu, di hari yang sama juga aku kehilangan ibu dan ayahku."
Aku dan Hayu sama-sama membeku. Nyatanya, perasaan kami sama. Sama-sama menjadi korban keegoisan orang tua kami.
"Aku pernah bolak balik ke psikiater. Aku hampir gila mbak Hayu."
Hayu menatap ku dengan pandangan iba.
Pantas saja, Fai terlihat masih sangat mencintai Dian. Ternyata, hubungan mereka memang sudah sedalam itu.
"Tapi....aku juga akan berusaha untuk memaafkan Om Stevan. Toh, semua sudah berlalu. Dengan atau memberikan maaf pada Daddy mu, mami mu dan kedua orang tua ku tidak akan hidup lagi kan? Tapi setidaknya, mungkin kita bisa lebih tenang. Karena kita tida punya beban, tidak punya dendam. Hanya saja....kita sama-sama butuh waktu mbak!"
Hayu mengalihkan pandangannya ke depan.
"Kita akan sama-sama mencobanya Dian?", tanya Hayu.
Aku mengiyakan dengan anggukan.
"Kita lebih dari sahabat, kita saudara kan mbak?", tanyaku.
Hayu memelukku erat, erat sekali.
"Terimakasih. Terimakasih sudah menjadi saudara ku Di. Maafkan atas perasaan ku pada suami mu. Tapi sungguh, aku tidak ada niat sedikit pun mengganggu rumah tanggamu."
"Iya mbak. Aku juga harus minta maaf padamu."
Kami kembali disibukkan dengan beberapa pelanggan kami.
"Oh iya. Besok kios tutup lagi. Kita ke akad nikahnya mas Fai dan Mika ya?"
"Sepertinya, aku ngga usah ikut Di."
__ADS_1
"Kenapa? Kita sudah berteman bukan?"
"Pasti ada mas damar dan Daddy kan?"
"Ya... sepertinya begitu!"
"Beberapa hari yang lalu, damar dan Daddy ke kontrakan ku."
"Hah? Masa? Mereka berdua ke sana?"
Hayu mengangguk.
"Lalu?"
"Daddy meminta maaf."
Ah, ku pikir om Stevan membuat ulah.
"Bagus dong!"
"Entahlah! Tapi aku rasa, aku... tidak perlu menghadiri pernikahan Mika dan mas Fai."
"Kamu mau menghindari mereka?"
Hayu terdiam.
"Semakin kamu menghindari, mereka tidak akan lelah untuk menghampiri mu mbak!"
"Tapi aku takut Di...aku takut kecewa."
"Aku tahu mbak, aku pun sama kecewanya denganmu kan?"
"Tapi soal damar? Aku nggak tahu Di. Perasaan ku teramat sakit mengingat perlakuannya padaku dulu."
"Iya, aku paham seperti apa sakit hatimu."
"Di nikmati, lalu di buang bagaikan sampah!"
Astagfirullah.... batinku.
"Beruntungnya aku, sampah yang dipungut oleh almarhum mas Royan. Yang menerima segala kekurangan ku. Sayangnya...dia juga sudah tidak bisa lagi menjagaku!"
Aku kembali merengkuh bahu Hayu.
"Kita hanya sedang menjalani takdir kan mbak? Aku tahu, kamu lebih mengerti di banding aku."
Hayu menggeleng.
"Aku pun sama. Pemahamanku tentang agama kita juga masih terlalu dangkal. Jauh dari kata 'mengetahui'. Hijrah ku belum lah seperti wanita shalihah di luar sana."
"Tap...besok kita ke rumah mika kan mbak?", tanyaku memastikan.
"Insyaallah Di."
__ADS_1
Kami berdua kembali melayani pelanggan kios kami.
Akhirnya, segala tuduhan, kesalahpahaman, dan prasangka buruk ku sudah terjawab hari ini.