
Keenam orang yang baru saja mendarat di Bali berjalan tergesa-gesa keluar dari bandara. Fai masih terus berusaha menghubungkan Diandra. Kali ini, mika berusaha menempatkan dirinya untuk tidak egois. Tak ada cemburu yang terselip kali ini selain kekhawatiran nya terhadap sang sahabat yang menghadapi situasinya sendiri.
Tiba di area tunggu, Imah melihat berita yang membuat nya histeris.
"Ya Allah.....!", Imah menakupkan tangannya di bibir.
"Neng? kenapa neng???", Dadan luar biasa panik.
"Itu A.....!", Imah menunjuk televisi yang ada di bandara.
"Kenapa?", tanya Dadan lagi.
"Berita itu?? Itu....ruko dan butik mama yang terbakar A! Me.... mereka....semua...huhuhu.....!", imah kembali tergugu di pelukan suaminya. Belum reda tangisnya karena kejadian yang menimpa kakaknya, sekarang dia harus menghadapi kenyataan bahwa keluarga nya yang ada di kota itu meninggal.
"Innalilahi.....!", ucapan yang lain.
"Sabar neng....sabar?!", Dadan mengusap punggung istrinya. Mereka menjadi tontonan di dalam area bandara itu.
"Itu...ruko Mama Farah Mah?", tanya Fai. Imah hanya mampu mengangguk sambil menangis.
Ya Allah, ada apa ini? Kenapa ujiannya bertubi-tubi? Bagaimanapun keadaan kamu Di? Bisik Fai dalam hati.
.
.
Di rumah sakit....
"Assalamualaikum!", aku menyapa seseorang yang berada di depan IGD.
"Walaikumsalam. Nyonya istrinya pak Aziz?", tanya Orang tersebut. Aku mengangguk. Lalu ia menyerahkan ponsel mas Aziz padaku.
"Terimakasih pak, sudah menolong suami saya."
"Sama-sama Bu."
Selang berapa lama, ada dua polisi menghampiri kami.
"Selamat siang nyonya!", sapa salah satu polisi.
"Selamat siang pak."
"Pak, bagaimana kronologi kejadian nya pak?", jujur. Sebenarnya aku hampir tak mampu lagi berdiri. Meninggal nya mama dan mbak Imas saja sudah membuat ku terpukul di tambah lagi keadaan mas Aziz.
"Saya jelaskan kronologis nya nyonya....!", kata orang tersebut.
Aku mendengar dengan seksama penjelasan orang tersebut. Aku menakupkan tanganku di depan mulut ku. Aku hampir terhuyung sampai akhirnya aku bersandar di dinding.
"Kami akan segera menyelidiki nya nyonya?!", kata Polisi.
"Astagfirullah.... astagfirullah.... Astagfirullah....!", ku tekan dadaku yang terasa nyeri.
"Yang sabar ya Nyonya!", ucap si bapak yang mengantar ponsel mas Aziz.
Setelah itu, mereka berpamitan. Aku terduduk lesu bersandar di dinding. Air mataku luruh. Tubuhku terguncang mengiringi isakan ku.
Apa ini firasat mu dari kemarin mas? Apa kamu merasa akan meninggalkan ku? Jangan mas! Aku nggak bisa tanpa kamu mas. Aku nggak bisa! Aku kembali tergugu.
Aku teringat pesan nya tadi pagi, siapa orang pertama yang harus ku hubungi Jiak terjadi sesuatu pada suamiku.
Ku ambil ponsel ku. Banyaknya panggilan tak terjawab dari Fai menyadarkan ku. Apa Fai yang harus ku hubungi?
Ku lihat ponsel mas Aziz juga. Chat terakhir mas Aziz adalah antara dirinya dan mas Fai.
Pesan suara?
Aku menyalakan pesan suara dari mas Aziz kepada mas Fai. Kali ini aku sudah tak sanggup menggenggam ponsel ku sendiri.
Mas Fai?
Aku menghubungi mas Fai. Di panggilan pertama, mas Fai mengangkat nya.
[ Assalamualaikum Di? Kamu dimana? Kamu nggak apa-apa?]
Fai panik sekaligus lega karena Dian menghubungi nya.
[Walaikumsalam. Mas Aziz mas hiks ...hiks....]
[Sabar di. kamu di mana sekarang?]
[RS sejahtera mas. Mas ...mama Farah mas ....]
[Iya. Kamu sabar, kami ke sana sekarang!]
Fai menutup telponnya lalu mengajak yang lain menuju RS sejahtera.
.
__ADS_1
.
Aku bersandar ke dinding, melipat kedua kakiku. Bagaimanapun keadaan mas Aziz di dalam? Kamu baik-baik saja kan sayang?
Aku bermonolog.
Siapa yang menginginkan nyawamu mas? Apa yang membuat mereka ingin mencelakai mu mas?
Aku kembali tergugu! Kenapa semua terjadi bersamaan! Mama Farah? Mas Aziz! Apa yang sebenarnya terjadi?
Aku hanya bisa bertanya dengan diriku sendiri! Kalimat tahmid dan istighfar berulang-ulang meluncur dari bibir ku.
Ya Allah, seperti ini cobaan dari mu? Ku remas ujung gamisku.
Apakah ini ada hubungannya dengan.... orang-orang yang membenciku? Mereka membenciku lalu mencelakai orang-orang di sekitar ku yang aku sayang?
Aku menggeleng! Tidak!
Hal ini tak boleh terjadi lagi. Orang-orang yang menyayangi ku harus segera menjauh dariku. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada mereka karena aku! Aku pasti penyebab semuanya.
Tap...tap.... sekelompok orang berlari menghampiri ku.
"Mbak....!", Imah berlari menghambur ke arahku. Dia menangis memeluk ku erat. Di susul Mika dan Hayu.
"Mama Mah...mbak Imas.....!", kataku lirih. Imah mengangguk di pelukan ku.
"Mas Aziz mah....mbak nggak tahu keadaan mas Aziz Mah....sudah lebih dari sejam mbak disini Mah.....!", kataku lagi.
"Tenang Di, mas Aziz pasti tidak apa-apa!", kata Hayu menenangkan. Mika hanya menghapus air mataku, yang bahkan dia sendiri pun menangis.
Di sisi lain, Fai yang melihat perempuan yang masih bertahta di hatinya merasa teriris. Ingin sekali ia memeluk nya erat, memberikan kekuatan pada nya. Tapi apalah daya!Dia sudah tak berhak lagi. Selain itu....dia juga sudah berjanji untuk tidak akan menyakiti istrinya lagi.
Mika menatap suaminya yang terlihat gelisah. Kali ini, Mika benar-benar sudah mengalahkan egonya.
Mika bangkit menuju sang suami.
"Mas...kamu ingin bicara dengan Dian?", tanya Mika kepada Fai yang berada di hadapannya. Fai menggeleng pelan.
"Iya sayang. Tapi tidak sekarang. Dian pasti belum siap bicara apapun."
Mika mengusap lengan suaminya. Fai paham, istrinya hanya berusaha menempatkan diri di situasi ini.
Ponsel ku kembali berdering. Nomor polisi kota Surabaya yang tadi menghubungi ku.
Tapi tak ada yang mengangkat nya. Sampai akhirnya Damar berjongkok mengambil ponsel ku.
[.....]
Damar melirik ku.
[Baik pak. Antar ke alamat xxxxxxxx]
[......]
[Terima kasih pak]
Panggilan pun terputus. Damar berjongkok di hadapan ku.
"Maaf, aku lancang menyentuh ponsel mu!", kata damar sambil mengembalikan ponselku.
Aku mengangguk.
"Maaf juga kalau aku memutuskan sendiri tanpa persetujuan dari mu. Em....jenazah mama Farah, mbak Imas, mas Rasyid dan Aqeela akan di antar ke rumah mu. Tidak apa-apa kan Di?", tanya Damar.
Aku mendongak. Mengerjapkan mataku yang pasti membuat air mataku meleleh. Akhirnya ku anggukan kepala ku.
"Imah, kamu dan Dadan pulang ya untuk mengurusi pemakaman mereka?!", ucap Damar.
"Iya mas. Aku dan Imah akan pulang!", kata Dadan. Dadan adalah anggota majlis taklim di daerah itu. Dia lebih mudah berkoodinasi dengan rekan majlis nya.
"Mbak, Imah pulang dulu ya?", kata Imah mengusap lengan ku. Aku mengangguk.
"Sayang? Kamu pun sebaiknya ikut Imah saja ya, mas cemas sama Diaz juga!", kata Damar kepada istrinya.
Hayu pun mengiyakan.
"Aku pulang ya Di!", kata Hayu.
"Titip Diaz ya mbak !", kataku pelan. Hayu pun mengangguk. Mereka bertiga keluar dari area IGD.
Tersisa Mika yang masih memeluk ku. Damar dan Fai masih berdiri di depan pintu IGD.
Lampu IGD pun padam.Tak berapa lama, pintu pun terbuka. Seorang perawat pun keluar, setelah itu dokter pun keluar menyusul nya.
Aku tahu, dokter keluar dari ruang IGD. Tapi...aku takut....aku takut mendengar segala kemungkinan terburuk. Aku tak sanggup berdiri. Dan mika pun masih erat memelukku.
''Bagaimana keadaan pasien Dok?", tanya Damar.
__ADS_1
"Dokter damar?", tanya si dokter.
"Dokter Revan?", tanya Damar tak kalah kaget.
"Pasien kritis dok! Beliau kehilangan banyak darah, dan....luka dalam yang cukup serius."
Damar mengusap kasar wajahnya. Fai berdiri di belakang damar. Dia ingin banyak bertanya pada dokter itu, tapi dia sendiri bingung.
"Lalu... sekarang bagaimana keadaan Aziz dok?", tanya Fai pada akhirnya. Lalu mata Fai dan sang dokter saling bertatapan.
Aku tak asing dengan wajah pria ini?
''Beliau masih kritis. Semoga Tuhan memberikan keajaiban!", kata dokter Revan.
Pasien menyebut nama Diandra saat tak sadarkan diri tadi, apakah Diandra yang sama? Dan...pria itu... pria itu pun yang bersama Diandra dulu bukan?
Aku mendengar obrolan mereka. Kritis? Jujur aku ingin berlari menuju tempat di mana mas Aziz berbaring. Tapi aku takut!
"Di, kamu harus yakin Mas Aziz pasti bisa melewati masa kritis nya!", Mika mengusap bahuku.
"Aku nggak sanggup melihat mas Aziz seperti ini, Mika....aku nggak sanggup!", kataku meremas gamisku lagi.
''Ini semua pasti karena aku! Iya , aku! Aku yang sudah membuat orang-orang yang ku sayangi celaka!"
"Di....jangan seperti ini!", kata mika menenangkan.
Suara itu??? Dengan pelan, dia mendekat Diandra.
"Diandra?", kata dokter Revan lirih. Aku mendongak menatap lelaki berjas putih itu.
Siapa dia? Tapi wajahnya?
"Revan?", tanyaku. Dia mengangguk perlahan.
"Tunggu! Apa kamu ke sini ingin mengajak suamiku pergi bersama mu? Tidak! Mas Aziz masih hidup!"
"Dian...ini aku, Revan mu?! Aku masih hidup Dian??!!!", kata Revan terduduk di depan ku. Aku masih memeluk kedua lutut ku. Aku menggeleng.
"Pergi lah! Mas Aziz ku masih hidup! Jangan bawa dia pergi dariku!", bentakku.
Revan menghapus air matanya yang meleleh begitu saja. Pasien yang ia tolong adalah suami dari perempuan yang selama ini ia cari.
Sejak kecelakaan itu,orang tua Revan membawa nya keluar negeri. Mereka memanipulasi kematian Revan. Karena setelah di selidiki, kecelakaan Revan adalah kesengajaan.
"Diandra...tolong jangan seperti ini!", kata Revan lirih.
Revan bangkit dari jongkok nya. Lalu berdiri di hadapan Damar dan Fai.
"Apa Dian masih sering seperti ini?", tanya Revan pada Fai. Fai baru menyadari dokter Revan adalah Revan yang sama.
"Beberapa waktu lalu pernah, dan...kali ini kembali seperti ini!", jawab Fai lirih.
"Kalian saling mengenal?", tanya Damar. Fai dan Revan terdiam.
"Saya pikir anda sudah tiada saat itu. Karena anda, saya jadi mengenal Diandra!", kata Fai.
"Tuhan masih memberikan kesempatan kedua untuk saya!", kata Revan.
Aku mendongak mendengar ucapan Revan. Kesempatan kedua? Jadi....dia belum meninggal? Lalu....di mana ia selama ini?
Aku berusaha menguatkan kakiku. Mika membantuku berdiri dan berjalan mendekati tiga pria itu.
"Apa aku bisa menemui mas Aziz?", tanyaku. Aku sudah bertekad dan meyakinkan diriku untuk menghadapi situasi ini. Revan berbalik.
"Tidak untuk saat ini. Nanti setelah di pindah ke ruangan, kamu baru bisa menemui nya. Setelah....Aziz melewati masa kritis nya!", kata Revan.
"Tapi...mas Aziz akan selamat kan?", tanyaku pelan.
"Kita berdoa saja!", kata Revan. Aku memejamkan mataku.
Ya Allah....kenapa begitu berat ujian Mu! Pekik ku dalam hati.
Fai mendekati ku yang saat ini ditopang Mika.
"Kamu harus kuat Di. Ada Diaz yang menunggumu?! Turunkan egomu!", kata Fai. Ingin sekali ia memeluk Dian, tapi ia juga harus menjaga perasaan Mika, istrinya.
"Iya. Ada Diaz! Mas Aziz pasti selamat! Dia sudah berjanji padaku. Tidak akan pernah meninggalkan ku!", aku bermonolog.
Tatapan mereka yang mengasihani ku membuat ku merasa risih.
Mika mengajak ku duduk di kursi.
"Bangun mas ...aku ingin menagih janjimu! Kamu bertanya hadiah apa yang ku inginkan di hari ulang tahun ku kan mas? Aku tak ingin hadiah apa pun mas. Aku ingin kamu bangun, selamat dan bersama ku lagi. Kamu dengar aku permintaan ku kan mas? Kamu sudah berjanji akan memberikan apa pun yang aku mau!".
Mika menatap iba sahabat nya itu. Berat sekali cobaan mu Diandra, batin Mika.
****
__ADS_1
Kayanya ada yang salah deh di eps sebelum nya. Masa damar dan Dadan lagi nyari makan, kan lagi puasa? 🙈🙈😱😆😱 mamak ora konsen deh. Kalian juga ora ana yang komplen. Jadi malu deh mamak 🙈🙈🙈🙈😆