
Hampir ashar aku bangun dari istirahat siangku.Kuregangkan kedua tanganku lalu menggeliat sesaat.Kepalaku kupatahka ke kiri dan ke kanan.Meski sudah tidur,rasa lelah masih saja menghinggapi ku.
Tiba-tiba kerongkongan ku terasa kering,aku keluar kamar menuju dapur.Tak kudapati mas Aziz di luar kamarku.Bodo amatlah...aku tak peduli.Kuteguk air bening yang kusimpan dala kulkas.Segar sekali rasanya.Gegas ku menuju kamar mandi,agar aku bisa segera menunaikan 4 rakaatku.
Samapi azan magrib,Mas Aziz tak kunjung namapak batang hidungnya.Apakah aku khawatir?Bohong kalo aku jawab tidak.Untuk apa aku peduli?Mulai sekarang aku tak mau tau apa yang dia lakukan.Nanti, saat tubuhku sudah mulai fit berkas perceraian akan diserahkan ke pengadilan agama.Aku harus yakin dengan keputusanku.
Sambil menikmati secangkir teh panas, aku duduk disofa ruang tamu.Sejak aku masuk rumah sakit,mungkin rumah ini belum tersentuh sapu.
Kuamati selembar amplop yang tergeletaj dilantai dekat sofa.Aku yakin,amplop itu milik Lili yang kemarin ia lemparkan pada mas Aziz. Dengan ragu kupungut amplop itu.Ku buka lalu kubaca.Tertera usia kandungan Lili menginjak usia 7minggu.Masih cukup muda dibandingkan dengan usia kehamilan ku.
Saat kumasukkan surat itu kembali kedalam amplop,pintu ruang tamu terbuka.
"Assalamualaikum....lho dek,kamu disini mas kira dikamar."
"Walaikumsalam."sahutku cepat lalu ku letakkan kembali amplop tadi.Aku bangkit dari sofa dan membawa cangkir teh ku.
"Dek...jangan begini. mas mohon....", cegahnya sembari mencengkeram tanganku.
"Aku butuh waktu mas.Tolong,jangan ganggu aku dulu.Aku mau sendiri."
Tapi mas Aziz meraih cangkir dari tanganku lalu ia letakkan diatas meja ruang tamu.Lalu menarikku duduk disofa kembali.
"Dek, mas minta maaf...beribu maaf...mas khilaf.Demi Allah,ga ada sedikit pun niat mas buat khianati kamu dek."
Aku mencoba menguasai diriku melihat keatap agar air mataku tak kembali jatuh.Mas Aziz memelukku erat.Salnya, justru aku menikmati pelukan suami pengkhianat ini.Andaikan dia tak melakukan kesalahan besar itu, aku pasti bisa memaafkannya.
Aku tak membalas pelukannya.Diam mematung adalah pilihan yang tepat saat ini.
"Dek, beri mas kesempatan sekali ini saja. Tolong.....!", ucapnya sambil menggenggam tanganku.Tapi tak lama, aku tepiskan perlahan.
Aku sangat mengenal suamiku, tapi sejak aku tahu dia mengkhianati ku aku merasa seolah-olah dia adalah orang asing dalam hidupku.
Dia melihat amplop milik Lili, memungutnya lalu membuka dan membacanya perlahan.
Diamati tulisan di kertas itu berulang-ulang. Sampai akhirnya ia menatapku.
"Dek, lihat ini.Lihat usia kandungan Lili.Baru masuk 7 Minggu dek.Dan mas yakin.Ini bukan benih mas."
__ADS_1
Aku menatapnya kembali.
Apakah aku harus bahagia dengan kenyataan itu?
"Dek, mas melakukan itu sudah lama dek.Saat mas kunjungan ke Malang. Sudah lebih dari 3 bulan lalu, kamu inget kan dek.Bahkan kamu yang menyiapkan segala kebutuhan mas."
"Lalu? mau mu aku gimana mas?"
"Dek, saat itu mas hilang kesadaran dek.Demi Allah, tak ada niat sedikit pun untuk mengkhianati kamu.Saat itu usai makan malam terakhir disana, tau-tau mas merasa 'ingin' sekali.Mas teringat sama kamu dek.Keinginan mas begitu menggebu.Dan... tiba-tiba diwaktu yang bersamaan, Lili masuk ke kamar mas. Mas juga ga tahu, bagaimana dia bisa mendapatkan akses masuk kamar mas. Dengan susah payah mas menahan hasrat mas dek. Tapi ....mas khilaf. Mas tak sanggup menahannya. "
Dia menangkupkan kedua tangannya diwajahnya.Kulihat ada Isak dan air mata penyesalan disana.
Hatiku bergejolak, apakah mas Aziz sudah berkata jujur?Terlepas janin itu adalah benih mas Aziz atau bukan,pergumulan mereka juga sudah terjadi.Video menjijikan itu sudah ku lihat.Apa masih pantas kumaafkan?
"Dek, percayalah mas cuma cinta sama kamu. Tolong.... kembali lah menjadi Diandra yang dulu. Yang....", belum selesai ia bicara sudah ku hentikan.
"Yang mau saja dibodohi dan dikhianati!",sahutku cepat.
"Harus dengan apa lagi mas minta maaf dek. Ampuni mas....", katanya sesegukan.
"Jangan minta ampun padaku,minta ampun lah sama Allah.Aku cuma manusia biasa yang bisa merasakan sakit hati."
"Mas, terlepas anak itu anakmu atau bukan yang jelas kamu sudah mengkhianati ku mas. Bahkan dengan mata kepala ku sendiri, aku lihat kamu begitu menikmati perbuatan menjijikan itu. Kamu masih berharap aku mau menerima mu kembali?"
Mas Aziz menunduk.Entah apa yang ada dalam pikirannya.
"Ada jaminan jika kami hanya sekali saja melakukan nya dengan lili 3 bulan lalu?"
Dia mendongak ke arahku.Matanya terlihat menahan emosi.
"Sudah mas bilang dek, mas khilaf saat itu saja. Tak ada niat untuk mengulangi nya lagi. Sumpah dek!"
"Berhentilah bersumpah mas!"
"Tapi kenyataan nya memang seperti itu dek. Mas tak pernah melakukan nya lagi. Bahkan sebisa mungkin mas selalu menghindar dari Lili meskipun mama meminta mas untuk kembali dekat dengannya."
Aku menutup mataku beberapa saat. Suasana hening menyelimuti kami berdua.
__ADS_1
Ditengah situasi yang hening ini, kudengar ada suara Abang jualan sekoteng membunyikan suara.
Ting...Ting...Ting...Ting....
Dengan sigap ku berlari, meninggalkan mas Aziz.
"Dek, tunggu dek kamu ke mana?Hati-hati jangan lari begitu.Ingat, kamu sedang hamil!"
Tak ku hiraukan ucapan mas Aziz.Aku hanya tak ingin bang sekoteng terlalu jauh dari rumahku.
"Abang sekotenggg....", teriakku.Bang sekoteng pun berbalik arah mendekati ku.
Mas Aziz juga sudah berada dibelakangku.
"Ya Allah dek,kirain kamu kenapa lari-lari." Tak kujawab omongannya. Malas. Ga penting.
"Bungkus aja 2 bang.!"
"Iya neng!"
"Kuraba-raba saku ku.Ya ampun aku lupa,tak ada uang sepeser pun dibajuku.
"Sebentar bang aku ambil uang dulu!"
Tapi tangan mas Aziz meraihku.Dia memberikan selembar 10ribuan pada bang Sekoteng.
Aku kesal dibuatnya.Ingin marah,tapi malu sama orang lain jika tau kami sedang tidak baik-baik saja.
"Ini neng!"
"Makasih bang."
Aku berjalan beriringan dengan bang Aziz. Dia merangkul pundakku.Sebenernya aku risih eits...emosi lebih tepatnya.Tapi, karena bang sekotenh sedang melayani orang juga aku terpaksa harus rela mas Aziz merangkul ku.
Setelah masuk rumah, kutepiskan tangannya dari pundakku.Tapi, kulihat dari ekor mata mas Aziz sedikit tersenyum.
Aku berjalan menuju dapur.Menuangkan sekoteng pada sebuah wadah besar.Lalu duduk dimeja makan.Begitupun mas Aziz mengikuti ku .
__ADS_1
"Lho...dek,sotonya dari siang ga dimakan? Ini soto kesukaan kamu lho."
"Mendadak ga suka."jawabku asal.Tapi kenyataan nya aku memang sedang tak suka. Tadi siang aku sudah minum 4 gelas cincau. Sekarang, semangkok penuh sekoteng.Apakah ini yang namanya ngidam?