Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Sakit nya mencintai tanpa di cintai


__ADS_3

"Kamu suka gado-gado juga Mika?", tanyaku setelah aku meletakkan Diaz dalam box nya.


"Heum. Ya...dalam seminggu aku pasti makan menu ini", sahutannya dengan tetap mengunyah gado-gado nya itu.


Aziz ikut duduk di meja makan bersama dua perempuan cantik itu.


"Mas Aziz kenapa liatin aku gitu mas?", tanya Mika.


"Nggak. Apa saat kamu bertugas di rumah sakit, kamu juga begini?", tanya Aziz penasaran. Aku hanya memperhatikan mereka berdua.


"Hahaha tentu saja.... tentu saja tidak lah mas. Aku harus jaga imej dong di depan pasien dan pegawai rumah sakit yang lain."


"Oh...aku pikir, kamu sekoplak ini."


"Apa itu koplak?", tanya Mika.


"Entah, aku tak tau artinya apa hahaha...aku cuma ikut-ikutan Imah saja."


"Eh, ngomong-ngomong imahnya mana?",tanya Mika lagi.


"Masih di rumah kang Dadan. Calon suaminya."


"Owh....!", Mika menganggukkan kepalanya.


Tak lama setelah itu, Fai ikut bergabung bersama kami.


Aku, mas Aziz dan mika masih menikmati makan siang kami.


"Suruh siapa karedok ku di makan, jadi sekarang cuma bisa liatin kita makan kan?", ledekku pada Fai.


"Biarin. Yang penting aku udah kenyang duluan", sahut Fai santai.


"Eh, ngomong-ngomong kapan Lo mau melamar dokter cantik ini?", tanya Aziz pada Fai. Fai mendengus kesal mendengar pertanyaan Aziz.


"Minggu depan ya mas?!", sahut Mika. Entah itu permintaan atau pernyataan.


"Hah? Maksudnya?"


"Iya, semalam Abah udah kerumah. Bilang sama Papa ku, kita akan lamaran Minggu depan. Dan...menikah di bulan ini juga!", kata Mika santai.


Aku dan mas Aziz saling menatap? Benarkah dia akan menjadi istri seorang Fai? Mungkin ini pertanyaan yang sama, yang ada dalam benak kami.


"Menikah????", tanya Fai.


"Kenapa? Nggak mau?", kata Mika menatap mata Fai.


"Bu...bukan...gitu mika...ini... terlalu cepat. Iya... terlalu cepat!", kata Fai gugup.


"hahahaha....becanda mas! Kesannya aku ngebet banget nikah sama kamu ya mas!", kata Mika. Ekspresi nya sekarang berubah.


"Eh, iya aku tadi beli mainan buat Diaz lho Di. Sebentar ya, aku ambil di mobil!", kata Mika sambil berdiri. Lalu meninggalkan meja makan.


"Mas...kamu nggak mau ngejar dia? Katakan, kamu juga mau menikah dengannya. Ayo..kejar mika sekarang!", pintaku.


"Nanti dia juga balik. Cuma mau ambil mainan Diaz doang kan?", sahut Fai santai.


"Dasar! Laki-laki emang nggak peka!", aku berdiri lalu mengikuti Mika.


"Lo Fai, udah ada jodoh di depan mata gitu. Hargai usahanya lah. Dia hanya ingin menjadi dirinya sendiri di depan Lo!"


"Gue harus gimana? Gue aja nggak tahu perasaan gue kaya gimana!"

__ADS_1


"Fai, Lo berdua butuh waktu. Setelah kalian bersama, pasti cinta itu bakal hadir kok. Insyaallah, niat aja karena lilahita'ala."


"Tapi...gue bingung!"


"Kenapa?"


"Entah Kenapa, kalau gue liat Hayu...ah... wajahnya begitu teduh Ziz! "


"Astagfirullah...jangan bilang Lo...ada hati sama Hayu? Lo tahu, damar cinta nya kaya apa ke Hayu?!"


"Dan Lo juga nggak tahu , seperti apa perasaan Mika sebenarnya ke Damar?"


"Gue bingung sama Lo sumpah. Ruwet amat sih hidup Lo!"


"Tapi...gue tetep kok cinta sama Dian!",sahut Fai tersenyum jahil.


"Sialan Lo! Gue sumpahin Lo bucin sama Mika!"


"Hahahah....gue bucin sama Diandra Saputri, mantan gue, istri Lo!", teriak Fai ditelinga Aziz.


Karena sudah terlanjur emosi, Aziz meraup wajah Fai kasar.


"Makan tuh cinta sama mantan!",kata Aziz beranjak ke kamar.


Di luar ...


"Stev!"


Hayu menengok ke arah seseorang yang memanggil nya. Siapa lagi? Dokter Damar.


"Terimakasih mbak!", ucap Hayu saat melayani pelanggan .


"Stev...aku ingin bicara!"


"Tapi buatku, kamu tetap Stevi ku!"


"Maaf mas, aku rasa sudah tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan. Kemarin sudah jelas bukan?!"


"Tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Kita mulai dari awal Stev!"


"Aku nggak bisa mas?!"


"Aku tahu...aku sudah sangat menyakiti mu!"


"Kamu tahu itu, jadi tidak perlu menanyakan alasan ku kan? Ada perempuan yang juga mencintaimu mas. Bukan aku!"


"Apa maksud mu Stev?"


"Sudah lah mas. Tolong, jangan ganggu aku lagi. Kita jalani hidup kita masing-masing. Seperti kemarin, sebelum kamu menampakan diri di depan ku."


"Stev. Aku Kana berjuang mendapatkan hatimu lagi."


"Dan aku akan terus berusaha...untuk tidak bersama mu!"


"Tapi aku masih mencintai mu Stev. Selalu mencintaimu. Bertahun-tahun aku mencoba melupakan mu. Tapi aku nggak bisa! Aku sangat mencintai mu!"


"Mas, lupakan saja kalau aku pernah berharga di hatimu. Seperti kamu pernah meninggalkan aku dan anak kita!"


"Stev...!", kata Damar lirih.


******

__ADS_1


Mika...mika... bisa-bisanya kamu ngomong begitu di hadapan Fai. Memanga, sekarang tidak ada rasa apa-apa di antara kami berdua. Tapi , Allah sang pembolak-balik hati. Siapa tahu setelah menikah nanti, cinta itu hadir melebihi cinta-cinta yang sebelumnya.


Mika berjalan melewati lorong penghubung rumah dan kios. Tapi, langkahnya terhenti saat ia mendengar suara yang ia kenal sedang berbicara dengan karyawan Aziz.


Damar. Itu suara kak damar, batin Mika. Miak pun menghentikan langkahnya, berdiri di depan pintu kamar Imah. Mendengarkan obrolan dua orang itu.


Hati Mika terasa teriris saat Damar mengatakan kata-kata cinta pada Hayu.


Ya Allah, desis Mika. Ia bersandar di pintu kamar Imah. Ia bisa mendengar obrolan mereka tanpa harus terlihat dari luar.


"Mas, lupakan saja kalau aku pernah berharga di hatimu. Seperti kamu pernah meninggalkan aku dan anak kita."


Astagfirullah....anak kita? Mika menutup mulutnya sendiri. Jadi... mereka????


Apa Karena itu, Damar tak pernah memandang aku sedikit pun? Karena hati damar hanya untuk hayu? Bahu Mika terguncang.


*****


Aku berdiri di belakang Mika. Aku tahu di depan ada damar. Karena mobil damar terparkir di depan kios.


Jadi, sedalam itu cinta mu ke mas Damar Mika?


Mika menyadari kehadiran ku. Aku mengusap bahunya yang terguncang itu. Dibalik suaranya yang cempreng, candaan kepada mas Fai.... ternyata...dia serapuh ini.


Aku tahu rasanya patah hati seperti apa, tapi.... mencintai orang yang sama sekali tak mencintai kita pasti sangat menyakitkan.


Mika memelukku. Menangis sesegukan di bahuku.


"Menangis lah Mika. Karena setelah ini kamu justru akan lebih tenang." Aku mencoba menasehati nya. Mika pun menghapus air matanya.


"Tenang?"


"Iya. Kamu sudah tidak penasaran lagi kan, kenapa selama ini damar tak pernah memberikan kesempatan padamu?", tanyaku.


Iya, Diandra benar. Harusnya aku merasa lega. Rasa penasaran selama lima tahun sudah terbayar hari ini.


Mika pun mengangguk.


"Kamu buka lembaran baru, dengan Mas Fa'i. Aku yakin, dia akan jatuh cinta padamu. Dan kamu pun sama, akan jatuh cinta padanya seiring berjalannya waktu."


"Tapi, dia masih mencintai mu Di"


"Nggak Mika...dia hanya ingin mengerjai mas Aziz saja Mika."


Mika menggeleng.


"Mas Fai masih mencintai mu Di!"


Aku terdiam. Kenapa cinta mika dan Fai begitu rumit? Aku menarik nafas panjang.


"Dia akan mencintai mu Mika. Percaya lah!"


"Kamu mau membantu ku?", tanya Mika.


"Tentu saja, demi kalian. Sahabat-sahabatku!"


Mika sudah mulai tenang. Dia sudah menunjukkan senyuman nya.


Ah, lebih tepatnya mika...aku berharap....mas Fai bisa melupakan ku saat ia sudah bersama mu, jadi ...dia tak lagi mengganggu kehidupan rumah tangga ku lagi.


Seperti nya damar sudah pergi. Mika tetap melanjutkan niatnya mengambil mainan Diaz di mobil. Aku menemaninya sampai ke kios.

__ADS_1


Ada ekspresi kikuk di wajah mika saat memandang Hayu. Sedangkan Hayu sendiri hanya tersenyum.


Semoga...mereka pun bisa berteman , seperti aku dan Mika.


__ADS_2