
Ucapan Fai seperti silet yang menyeset tiap inci hatinya. Dian tak mempercayai aku? Aku ini suami mu Dian, kenapa kamu tidak menceritakan nya padaku?
"Boleh gue nanya Ziz?"
"Hem?"
"Apa sat kamu mengkhianati nya, maksud gue ...saat kejadian itu bersama lili. Apa Dian tak begini?"
Aziz menggeleng.
"Dian mendiamkan gue. Tidak mau bicara sama gue. Gue berjuang keras untuk mendapatkan maaf dan kepercayaan Dian, Fai."
Mereka berdua kembali diam.
"Gue pernah bertemu om Kendra. Dia kekeh ingin mengembalikan hak Dian. Tapi Dian juga tak mau kalah. Dia tidak ingin menjadi pewaris kekayaan ayahnya. Dian merasa, Dian tidak pantas menerimanya. Karena Dian bukanlah anak yang diinginkan ayah ibunya. Dian bahkan pernah meminta agar semua harta peninggalan orang tuanya, di hibahkan ke yayasan yatim piatu. Tapi om Kendra menolaknya secara tegas. Karena urusan yayasan yatim piatu sudah ada anggaran tersendiri."
"Dan...om Kendra meninggal, mau tidak mau Dian harus menerima nya. Itu maksudmu? Dan itu juga yang membuat Dian merasa tertekan? Selain karena bentakan gue?"
"Mungkin begitu!", jawab Fai singkat.
Aziz menghela nafasnya. Aziz pikir, Dian bahagia selama jadi istrinya. Aziz menikahi Dian dalam kesederhanaan. Dian hanya bercerita jika dia yatim piatu karena orang tuanya meninggal saat dia masih remaja.
"Apa dian begitu terbuka sama Lo?" tanya Aziz.
"Ya. Dian menjadi dewasa sebelum umurnya, mandiri di usia belia. Beberapa kali om Kendra membawa Dian ke psikiater. Dian memang mengalami trauma, tapi tidak terlalu berbahaya. Hanya saja, kita perlu menjaga kestabilan emosi nya. Dian mulai bisa menguasai dirinya saat dia mulai masuk kuliah."
"Lo tau Ziz?! Seperti apa hancur nya hati gue waktu gue mutusin Dian?", Fai bertanya pada orang yang salah, ya...Fai malah bertanya pada suami dari mantan kekasihnya. Jelas dia tak tahu!
__ADS_1
"Gue cuma ngechat Dian. Gue bilang, gue udah ga bisa sama Dian. Gue ada di tempat yang sama, tapi gue nggak sanggup melihat air matanya. Gue cuma bisa melihat Dian dari jarak jauh. Gue udah mengecewakan Dian Ziz. Dian berharap banyak sama gue. Gue tahu semua cerita nya yang menyakitkan baginya. Sayangnya...bodohnya gue melepaskan Dian, untuk membuktikan betapa gue jadi anak berbakti ke abah."
"Gue tahu, seperti apa terpuruk nya Dian saat Lo ninggalin dia. Dian sudah seperti orang yang tak punya pegangan hidup. Lo ngilang gitu aja. Nggak cuma sembunyi dari dian, tapi dari gue juga."
"Gue berusaha melupakan istri Lo Ziz. Tapi gue nggak bisa."
"Tapi sekarang Lo harus bisa, karena Dian istri gue. Dan Lo juga bentar lagi bakal nikah sama Mika!"
"Iya, insyaallah Ziz. Tapi gue nggak tahu, berapa lama waktu yang gue butuhin buat bikin mika jatuh cinta ke gue atau gue cinta ke mika."
"Pelan-pelan aja. Gue juga sama kok. Gue berjuang, membuat Dian jatuh cinta ke gue!"
Fai menatap sahabatnya itu.
"Dian menikah sama gue saat Dian belum memiliki perasaan apa pun. Dian cuma bilang, dia merasa nyaman saat bersama ku. Pria mana yang tidak jatuh cinta sama gadis seperti Dian Fai?"
"Dian tidak ingin pacaran Fai. Mungkin, karena Lo!"
"Heum! Iya, gara-gara gue!", Fai memanyunkan mulutnya.
"Lo tahu Fai? Berapa lama gue menunda malam pertama kami?", Aziz tersenyum mengatakan itu pada Fai.
"Ish...nggak usah ngasih tahu juga. Yang penting gue, cowok pertama yang cium bini Lo!"
Plakkk! Aziz menepuk lengan sahabatnya itu.
"Sakit ego!", bentak Fai.
__ADS_1
"Gue tunda malam pertama gue sampai tiga bulan setelah kami menikah.Bisa bayangin bro???"
Fai mengernyitkan alisnya.
"Mana ada begitu!"
"Nggak percaya kan Lo? Gue cuma minta ke Dian, kalau dia benar-benar bisa membuka hatinya buat gue dan dian siap untuk menjalani kehidupan bersama gue, gue mau melakukan itu ke dia. Dan...ya begitulah!"
"Omongan Lo jadi ngelantur Ziz! Lo kan tadi nanya soal Om Kendra? Kenapa malah jadi ngomongin malam pertama Lo? Na*is gue denger nya!"
"Oke...oke...sorry kalo gue keluar jalur. Ya udah, besok kita melayat ke sana. Lo tahu rumahnya?"
"Lo tuh....ih...Om Kendra tinggal nggak jauh dari rumah Lo. Kendra Sastro, pengacara yang terkenal itu."
"Hah? Yang rumahnya mewah itu?"
"Tau ah...!"
"Gue mana tahu Fai!"
"Udah sono balik ke kamar. Tapi, Lo berdua nggak usah ngapa-ngapain di rumah gue."
"Dih, serah gue lah. Bini...bini gue!"
"Sia*an Lo Ziz!"
Aziz kembali ke kamar nya di bawah. Posisi Dian masih memeluk Diaz. Sekarang, Aziz membaringkan tubuhnya di belakang Dian. Tangannya memeluk erat pinggang istri nya. Tak lupa pula, ia menciumi rambut istrinya itu.
__ADS_1
Maafkan mas ya dek! Akhirnya aziz pun turut tertidur sambil memeluk istrinya dari belakang.