
Sebuah mobil Honda jazz berwarna putih berhenti di depan sebuah gerbang yang kokoh dan tinggi. Dengan memberikan suara klakson, seorang satpam membuka gerbang itu sedikit.
Fai pun melongonkkan kepalanya dari jendela mobil.
"Pak, tolong buka gerbangnya ya?!", sapa Fai.
"Oh...mas Fai toh, siap mas!", satpam pun buru-buru membuka lebar pintu gerbangnya.
Mobil Fai pun melintas, tak lupa ia mengucapkan terimakasih pada pak satpam.
Mobil sedan Abah sudah terparkir di sana. Fai turun dari mobilnya langsung menuju ke ruang tamu.
"Assalamualaikum!", Fai memberikan salam kepada penghuni ruangan itu. Hanya ada Abah dan Papa Umar, sedangkan Mika tak terlihat.
"Walaikumsalam, yang di tunggu datang juga!", kata Papa.
Fai menyunggingkan senyumnya. Lalu mencium punggung tangan calon mertua.
"Kamu nggak ngajar Fai?", tanya Papa. Sontak Fai melirik Abah, dan abahnya malah bersikap santai seolah-olah Fai lah yang harus menjawab. Ya...emang Fai sih, kan yang di tanya Fai.
"Iya Pa...anu ..Fai udah nggak ngajar."
"Oh ya? Kenapa?", tanya papa heran. Oh, berati Abah memang belum cerita ke papa.
"Fai mau fokus ke bisnis aja pa."
"Oh ya? Bagus itu! Kalau bisa mah, selain di showroom kamu bisa juga kali bantu papa di kantor?", tanya Papa.
"Hah? Kantor papa? Hemm...nggak tahu pa."
Fai gugup sendiri.
"Biasa aja kali Fai, nggak usah gugup gitu. Kan kamu tahu sendiri, Mika sudah fokus di bidangnya. Mana mau dia ngurusin perusahaan papa. Makanya, mantu papa aja yang ngurusin. Betul begitu pak haji?", tanya papa ke Abah.
"Saya mah terserah kalian saja", jawab Abah.
Yang bener aja? Di sekolah aja aku jarang ke showroom, gimana di kantor Papa????
"Oh iya, tadi Abah dan papa udah ngobrol. Soal hari pernikahan kalian!", kata Abah.
"Terus?", tanya Fai.
"Dua Minggu lagi", jawab papa mantap.
"Hah?", pekik Fai.
"Kenapa Fai? Ada masalah?", tanya papa sambil memajukan badannya.
"Ah, nggak pa. Fai nurut aja ,itu juga kalau Mika setuju!", jawab Fai pelan.
"Mika setuju kok!", mika tiba-tiba datang di antara kami.
Mika setuju aja tanpa bertanya dulu padaku..???Batin Fai.
Kedua pria yang sudah mulai sepuh pun melempar senyum.
"Nih mas, aku tadi tuh lagi cari tempat yang free buat kita bikin resepsi pernikahan."
Mika memberikan ponselnya pada Fai. Fai pun menerimanya. Bukan tempat atau gambar apa pun yang ditampilkan di layar ponsel mika, melainkan pesan yang di tulis tapi tidak di kirimkan.
kita bilang aja setuju sekarang mas, sambil kita pikirkan nanti gimana. Aku juga nggak mau maksa kamu sekarang2. Aku nggak seagresif yang kamu pikir kali mas. Setelah ini, kita bicara berdua.
Mika mengambil lagi ponselnya. Sedangkan Fai justru malah membeku.
"Tuh kan? Mika saja setuju Fai!", kata Papa.
"Iya Fai, mau nunggu apa coba?", Abah menimpali.
"Kami sudah mulai tua, wajar dong kalo kita pengen segera punya cucu. Bener kan pak Haji?",ledek papa.
__ADS_1
"Bener lah....!", sahut abah.
Mika dan Fai saling berpandangan. Gimana mau ngasih cucu? Ya kali kaya mendoan, ditepungi, celup minyak goreng sreeengggg.... Mateng deh!
"Pa, Bah...mika mau ngajak ngobrol Mas Fa'i di balkon kamar ya? Tenang aja, kita nggak bakal ngapa-ngapain kok!", kata Mika.
"Kenapa harus di balkon kamar kamu?", tanya papa.
"Pa, kalau disini...yang ada Abah sama papa dengerin Ding obrolan kami."
"Kenapa harus di balkon kamar kamu? Rumah kita luas?", tanya papa lagi.
"Ya udah di kamar papa aja, boleh?", tanya Mika melipat tangannya di dada.
"Yang papa kamu tanya itu kenapa harus di kamar kamu Mika?"
"Karena mika cuma punya kekuasaan di kamar Mika."
Mika pun menggandeng tangan Fai. Kedua pria dewasa itu pun saling melempar senyum.
Fai hanya menurut dengan ajakan Mika. Mereka berdua naik ke lantai dua lalu masuk ke kamar Mika. Kamar bercat cream, di dominasi dengan furnitur berwarna putih. Terlihat sekali jika pemilik kamar ini adalah seseorang yang memperhatikan kebersihan.
"Masuk mas!", kata Mika. Fai pun mengekor dibelakang mika.
"Mau ngobrol apa sih mika?", tanya Fai yang masih mengikuti Mika sampai ke balkon.
"Ngobrol soal kita lah mas!", kata mika sedikit ngegas.
"Oke!", Fai melipat tangannya di dada.
"Kita mau menikah dua Minggu lagi kan? Apa ada yang pengen kamu sampaikan ke aku?", tanya mika terlihat serius.
"Maksud kamu apa sih sayang???", tanya Fai sambil mengusap kepala Mika.
Mika yang di panggil sayang malah jadi salting.
"Sayang di mulut doang juga!", sanggah Mika ketus.
"Emang harus gimana dong? Dengan tindakan? Kan belum halal, yang ada nanti malah di katain mesum!"
"Heheheh nggak gitu juga kali mas....!"
Mereka berdua tertawa bersamaan.
"Kalau kamu belum siap juga nggak apa-apa Mika. Kita bisa mengundurnya."
"Yang nggak siap itu, aku apa kamu mas?", Mika menaikkan salah satu alisnya.
Lagi-lagi Fai hanya melempar senyum. Fai tahu, Mika hanya sekedar menggodanya.
"Kita sudah sama-sama siap. Kita pacaran setelah menikah. Kita....."
"Stop....!", mika membuat Fai berhenti ngoceh.
"Kenapa Mika????", tanya Fai .
"Kamu yakin?"
"Insyaallah, niatnya lilahita'ala."
"Bukan karena mencoba untuk... melupakan Diandra?"
"Mika, dari awal kita sudah membicarakan nya. Kamu berusaha melupakan Damar, aku melupakan Dian."
"Bisa?", tanya mika ragu.
"Hem... insyaallah bisa, kalau kita sudah bersama-sama."
Mika tersenyum kecil. Tidak salah memang, tapi juga tidak sepenuhnya benar.
__ADS_1
"Kalau pernikahan kita saja tidak dilandasi cinta, apa ke depan nya....."
"Insyaallah, kedepan nya Allah yang akan menuntun kita!", sahut Fai mantap.
Mika menatap wajah tampan calon suami nya itu. Mas Fai terdengar serius.
"Mas...!"
"Hem..."
"Kasih tahu Mika, bagaimana caranya biar kamu bisa jatuh cinta sama aku?"
Fai menatap manik gadis cantik di hadapan nya.
"Kamu bisa melakukan itu tanpa harus bertanya Mika."
"Kenapa? apa aku harus tanya ke Diandra? Dia seperti apa sampai kamu terlalu dan selalu jatuh cinta padanya?"
Pertanyaan menohok dari seorang Mika membuat Fai sedikit berpikir.
Fai mengusap lagi kepala gadisnya itu.
"Kamu tetap jadi dirimu sendiri Mika."
"Apa aku bisa mas?", mika sedikit ragu.
"Kenapa tidak? Aku saja bisa kan membuat mu jatuh cinta, iya kan???"
"Mulai deh pede nya!", Mika memanyunkan bibirnya.
"Hehehe iya, percaya saja sama rencanaNya. Kita bisa saling mengenal, jatuh cinta dan saling memiliki."
"Lalu, bagaimana perasaan kita sendiri sebelumnya? Perasaan ku dengan kak damar dan perasaan mu ke Dian?"
Fai menatap langit yang berwarna biru di pagi menjelang siang itu.
"Perasaan kita ke mereka....???"
"Iya mas!"
"Kita akan mencoba menguburnya dalam-dalam."
"Mencoba? Kalau gagal?", tanya mika.
"Ya di coba lagi lah...kamu sih anak orang kaya jadi nggak tahu mainan lotre yang di jual gopean, yang ada tulisannya 'COBA LAGI, ANDA BELUM BERUNTUNG', " Fai menjawab sambil tersenyum.
"Mas...aku serius....!"
"Kamu pengen ngerasain kan circle pertemanan ku dengan mereka??? Beginilah! "
"Kamu bilang aku suruh jadi diri sendiri."
"Yang maksa kamu jadi Imah atau Dian juga siapa?"
"Mas...iiihhh!", Mika geregetan sendiri.
Fai membalikkan badan Mika agar mereka saling berhadapan. Kedua tangan Fai memegang bahu sang calon istri.
"Ini lah aku Mika. Aku pun sama seperti yang lain. Aku suka bercanda, suka bikin kesal dan...."
"Suka bikin kangen....!", Mika menunjukan gigi putih nya yang menawan.
"Gombal kamu ah....!", kata Fai.
"Kamu yang ngajarin kan mas???"
Tangan Fai spontan mengusap kepala mika. Andaikata sudah halal....
"Kita ke papa dan Abah lagi yuk!", aja Fai. Tidak baik berlama-lama berdua dengan gadisnya. Bisa-bisa nanti khilaf, apalagi setelah melihat kissmark di leher Aziz. Otak 'waras' nya kembali bekerja.
__ADS_1
"Ya udah, kita balik ke sana!"
Mereka berdua kembali menemui dua pria yang hampir sepuh itu.