
"Stev! Maaf kan Daddy nak!"
Hayu segera mendorong Stevan agar menjauh darinya.
"Tidak ada yang perlu di maafkan Tuan. Maaf anda tidak akan pernah mengembalikan Mami ku!", Hayu meneteskan air matanya.
Umar mendekati Stevanus, berusaha menguatkan sahabat nya. Umar tahu sekali jika perpisahan Stevan dan mami nya Stevi adalah hal yang sangat menyakitkan keduanya.
"Stev. Kembali lah pada Daddy nak."
"Tidak akan pernah."
Faiz yang melihat keributan yang melibatkan umi nya pun berlari menuju Hayu berdiri.
"Umi....!", Faiz memeluk erat Hayu. Stevan menatap Faiz yang memanggil umi pada putrinya. Apakah ini cucuku? batin Stevan. Stevan yang arogan, tidak memikirkan saat ini sedang ada dimana.
"Umi. Bukannya umi sudah janji tidak akan menangis lagi? Om itu lagi yang bikin umi nangis?", Faiz menunjuk Damar.
Hayu menggeleng kan kepala nya.
"Umi, kalau umi menangis begini, kita pulang saja. Faiz nggak jadi makan juga nggak apa-apa umi. Di rumah masih ada Nuget kesukaan Faiz kan? Kita pulang saja umi. Faiz nggak mau mereka bikin umi nangis lagi." Faiz memeluk pinggang ramping Hayu.
"Dia putra mu?", tanya Stevan.
Hayu diam tak menjawab pertanyaan Daddynya.
Tapi, kenapa Faiz bilang kalau laki-laki tadi pernah membuat Stevi menangis, siapa laki-laki itu?
"Faiz, kita makan dulu yuk. Umi nggak apa-apa kok. Tante Imah sama Farhan mau lihat ikan yang di samping sana. Kita makan di samping kolam aja, sambil ngasih makan ikan. Sama Aa Farhan kok. Ayok Faiz!", Imah berusaha membujuk Faiz yang sedang meminta pulang pada uminya.
"Tapi Faiz ngga mau kalau umi nangis lagi Tante Imah", kata Faiz.
"Umi nggak bakalan nangis lagi. Nih, kak Imah punya permen. Faiz kasih ke umi. Pasti umi nggak akan nangis lagi." Bujuk Imah lagi. Ya...kali...hayu anak kecil yang mau diam setelah di bujuk permen.
Akhirnya Faiz menerima permen dari Imah lalu memberikan nya pada Hayu.
"Umi, jangan menangis lagi ya."
hayu pun mengangguk.
Faiz pun setuju untuk ikut dengan Imah. Imah memang jagonya membujuk anak-anak.
__ADS_1
"Kamu? Siapa nya Stevi?", tanya Stevan.
"Saya... saya....!", kata damar tertahan.
"Kalian, kalian berdua adalah laki-laki yang sudah menyakiti ku dan menghancurkan masa depan ku!", Hayu pun meninggalkan mereka berdua.
"Seperti nya kita harus bicara!",ucap Stevan pada Damar. Damar pun hanya mengangguk.
Aku melihat Hayu yang setengah berlari.
"Mas, aku mau menemui Hayu sebentar. Nitip Diaz!"
Mas Aziz pun setuju.
Aku menghampiri Hayu yang menyingkir dari keramaian.
"Mbak Hayu...?"
Dia menengok ke arahku.
"Mbak Dian....?"
Hayu pun merangkul ku. Dia menangis tergugu di bahuku.
"Aku benci daddyku, aku benci mas Damar. Mereka yang sudah merenggut kebahagiaan mu. Sampai kapan pun aku tidak akan pernah lupa dengan apa yang mereka lakukan."
"Tapi, kalau boleh aku bilang mbak Hayu. Perlahan kamu bisa memaafkan mereka. Semakin kamu menyimpan dendam mu, kamu akan semakin sakit hati. Dendam mu akan semakin membuat mu luka. Hanya dengan berdamai dengan keadaan, kamu akan merasa lebih baik."
"Aku pernah berada di posisi tersakiti yang begitu dalam mbak. Memang, mungkin tak seberapa di bandingkan masalah mu mbak."
"Mas Fai meninggalkan ku tanpa kepastian. Padahal,aku sudah mempercayakan semua padanya. Merangkai masa depan. Tapi...hal yang paling menyakitkan buat ku mbak. Mas Aziz pernah mengkhianati ku, meskipun itu tak sepenuhnya salah nya. Dia di jebak oleh lili. Kamu tahu mbak seperti apa rasanya? Hatiku sakit, sakit luar biasa. Lili menunjukkan video mereka berdua yang sedang....ah...nyeri hati saya mengingatnya mbak!"
"Lili? Mas Aziz?"
"Iya. Mereka pernah bekerja di kantor yang sama. Keluar kota bersama. Lalu lili menjebak mas Aziz sampai mereka melakukan hal yang seharusnya tidak terjadi. Di saat yang bersamaan, aku sedang mengandung Diaz. Aku ingin menggugat cerai mas Aziz, tapi aku memikirkan masa depan anakku. Sampai akhirnya, aku berdamai dengan keadaan. Perlahan, kepercayaan ku pada mas Aziz kembali. Dan...memang, kesalahan yang dia lakukan bukan karena keinginannya sendiri."
"Aku tidak tahu kalau kamu melewati masa sulit itu. Aku pikir kehidupan mu dengan mas Aziz sangat lah sempurna. Aku saja iri padamu mbak Dian!"
"Maaf, aku jadi curhat ya mbak. Harusnya kamu yang curhat pada ku. Aku sudah membuka aib suamiku sendiri." Aku terkekeh setelah mengatakan curhatan ku pada Hayu.
"Tidak mbak! Aku malah seneng kita bisa berbagi seperti ini. Aku merasa, aku punya teman."
__ADS_1
"Mbak hayu... kamu kan bagian dari keluarga kami juga."
"Terimakasih mbak Dian."
"Sama-sama."
"Aku hanya belum bisa membuka hatiku buat mas damar. Dia sudah tega meninggalkan ku saat aku benar-benar terpuruk. Dan...Daddy ku, yang membuat Mami ku meninggal karena pengkhianatan Daddy!"
"Mbak hayu pasti lebih bijak. Memandang segala hal tidak hanya dari satu sisi. Mungkin ada yang mbak tidak tahu, alasan apa yang membuat mereka seperti itu. Ingatlah, ada Faiz yang akan selalu membutuhkan mu mbak!"
"Iya. Bagiku, saat ini Faiz adalah yang paling berharga yang ku miliki."
"Boleh aku tahu, kenapa kamu begitu membenci dan tidak bisa memaafkan mereka berdua?", tanyaku ragu.
"Daddy ku itu...bukan lelaki setia. Dia suka sekali bergonta ganti pasangan sejak dulu. Tapi, mami bertahan karena aku. Mami terlalu sabar, terlalu setia atau...mungkin lebih tepatnya terlalu bodoh! Daddy ku tidak pantas menerima cinta maniku. Sampai suatu hari, aku menemukan mamiku yang sudah tak bernyawa di kamar beliau. Dan sejak itu, aku keluar dari istana yang lebih mirip neraka bagiku. Keluar dari neraka itu, aku mengenal mas Damar. Sosok yang dewasa, lelaki yang begitu menyayangi ku. Sampai...aku menyerahkan hal berharga yang ku miliki. Aku pikir saat itu , damar lah yang kelak akan menjadi pilihan terakhir untukku. Dan... tanpa kami duga, ternyata aku hamil. Aku memintanya untuk bertanggung jawab. Tapi, damar memintaku untuk menggugurkan kandungan ku. Bodohnya aku, aku menurut saja apa yang dia katakan. Setelah menggugurkan kandungan ku, awalnya kami baik-baik saja sampai akhirnya...dia meninggalkan ku tanpa jejak. Dari situlah aku berubah menjadi semakin liar. Maaf, aku pernah menggoda suami mu mbak Dian....!", Hayu tertunduk.
"Lupakan soal itu mba!"
Hayu pun melanjutkan ceritanya.
"Setelah lili putus dari mas Aziz, aku berniat mengambil mas Royan. Jiwa liarku terkikis perlahan sejak mengenal mas Royan. Dia mengubah ku, sampai aku seperti sekarang. Sayang nya.... pernikahan kami yang sudah menginjak lima tahun, kami di kejutkan dengan kenyataan bahwa...mas Royan tidak bisa memberi keturunan untuk ku. Berulang kali mas Royan memintaku untuk meninggalkan nya, tapi aku tidak bisa. Bagiku ,mas Royan adalah satu-satunya lelaki yang aku miliki. Lalu, kerabat mas Royan ada yang meninggal, dan itu....orang tua Faiz. Kami memutuskan untuk mengadopsi Faiz."
Hayu menyudahi cerita nya. Kami berdua menyingkir dari keramaian acara keluarga kaya ini.
"Maaf mbak, ternyata...lukamu memang...."
"Tapi, aku sedikit tenang mbak Dian. Aku bisa menceritakan semua yang ku alami padamu."
Aku menepuk bahunya.
"Aku akan jadi teman dan saudara mu mbak Hayu!"
Hayu pun akhirnya tersenyum.
"Setelah ini, coba mbak hayu selesaikan masalah satu persatu. Mungkin masalah dengan Daddy mu atau mas Damar?"
Hayu ragu-ragu untuk mengiyakan usul ku.
Mereka terlalu membuatku sakit hati, batin Hayu. Aku memang tidak sempurna. Hijrah ku masih menggantung. Aku belum bisa seperti wanita shalihah di luar sana. Tolong hambaMu ya Allah....Teriak Hayu dalam hati.
******
__ADS_1