Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 125


__ADS_3

Seorang pria dewasa menapaki lorong rumah sakit. Dia sudah mencari tahu ke bagian informasi dimana ia bisa menemui seseorang yang ingin di temuinya.


Istirahat makan siang pun sebenarnya sudah selesai sejak beberapa jam yang lalu.


Damar, baru saja akan masuk ke ruangan nya usai menemui rekan sesama dokter. Tangannya baru saja akan menyentuh gagang pintu, sampai ada suara seseorang yang memanggil nya .


"dokter Damar?!", panggil orang tersebut. Damar pun menengok ke arah seseorang yang memanggil namanya. Jantungnya mendadak berdetak cepat. Ayah dari perempuan yang di cintai nya ada di depan mata.


"Masih jam praktek? Saya ingin bicara berdua dengan anda!"


"Sebentar lagi saya selesai tugas om."


"Berapa lama?", Stevan melirik jam tangannya.


"Saat ini pun bisa om. Dimana kita bisa bicara? Apa mau di ruangan saya?", tawar Damar.


"Di sekitar sini, ada kafe atau resto?"


"Cukup lumayan om, jika om mau... kita bisa bicara di kantin. Tidak jauh dari sini."


"Baiklah. Kita bicara di sana."


"Iya om. Maaf, saya mau ke ruangan saya sebentar."


Stevan pun mengangguk. Damar melepaskan jas profesi nya. Lalu menggantung nya di tempat biasa. Damar berusaha bersikap biasa kepada ayah Stevi, tapi sepertinya tidak bisa. Padahal, keseharian Damar adalah lelaki cuek dan dingin. Berbeda saat ia bersama Aziz dan Rifai.


"Maaf, om!", kata Damar saat keluar dari ruangan nya.


"It's okay. Bisa kita pergi sekarang?"


Damar pun mengangguk. Di sepanjang jalan menuju kantin, tidak ada obrolan apa pun di antara mereka.


Sedangkan di lorong lain, Mika melihat seseorang yang pernah ia puja itu berjalan mengikuti ayah Stevi. Om Stevan mau ngapain ya sama kak Damar?


"Dokter Mika...!", sapa seorang pasien nya .


"Eh, iya ...mari masuk! Maaf, saya dari toilet."


"Nggak apa-apa dok!"


Niat hati ingin mengikuti Damar dan om Stevan pun batal. Jam praktek nya masih berlangsung selama setengah jam yang akan datang.


Dua laki-laki itu kini sudah duduk di bangku kantin. Mereka memilih tempat yang agak jauh dari tempat orang lalu lalang.


"Mau minum apa om, saya pesankan?"

__ADS_1


"Kopi saja!", jawab Stevan singkat. Damar pun minta kepada petugas kantin untuk membuatnya.


Ada rasa canggung yang damar rasakan. Sebenarnya, apa yang ingin om Stevan tanyakan pada ku?


"Maaf, mungkin... kedatangan om yang tiba-tiba membuat kamu tidak nyaman." Stevan memulai percakapan nya.


"Nggak apa-apa kok om."


Tak lama kemudian, kopi kami pun datang.


"Boleh om tahu sesuatu?"


Damar menoleh ke wajah laki-laki yang jika di lihat mirip sekali dengan perempuan pujaan hatinya.


"Tahu apa ya om?", tanya Damar ragu.


"Kenapa...saat melihat kita berdua, Stevi bisa semarah itu? Mungkin....om memang sudah berbuat kesalahan yang tidak bisa Stevi maafkan, yang jadi pertanyaan... kenapa dia jug membenci mu?"


Damar di buat bingung. Dari mana dia akan menceritakan tentang masa lalunya dengan Stevi.


"Apa kamu ada hubungan khusus dengan Stevi?"


Damar meneguk ludahnya perlahan. Tenggorokan nya seperti tercekat, ingin bicara....tapi bingung mau bicara apa .


"Oh ya? Sudah lama sekali. Sedekat apa?"


"Om...jujur, saya baru bertemu dengan Stevi beberapa Minggu belakangan ini. Saya tidak pernah bertemu Stevi lagi. Yang saya dengar dari teman-teman saya...dia sudah menikah dengan seseorang. Tapi... ternyata... takdir mempertemukan kami lagi. Stevia bekerja di kios Aziz, sahabat saya. Awalnya... saya juga tidak percaya dengan perubahan Stevi yang begitu besar. Bahkan...dia tidak ingin saya memanggil dia dengan menyebut Stevia."


Stevan menarik nafas nya kasar. Ia mengambil kopi di hadapan nya. Lalu menyesap nya perlahan.


Damar sudah mulai bisa menguasai dirinya. Dia bisa meyakinkan dirinya jika dia bisa berbicara pada om Stevan tanpa keraguan.


"Lalu, kenapa kalian bisa berpisah? Dan...siapa suami Stevia?"


"Saya mengenal Stevi sebagai gadis yang baik om. Lugu. Tapi...dia merasa dirinya sendiri di dunia ini. Saya dekat dengan Stevi, tidak hanya dekat om...kami...kami menerapkan kehidupan yang bebas!"


"Om tanya, kenapa kalian bisa berpisah? Dan...kenapa Stevi begitu membenci mu? Seperti dia membenci om?"


Damar mengusap wajahnya. Apa iya dia harus jujur pada om Stevan?


"Saya ...saya...sudah menyakiti Stevi Om!", kata Damar menunduk.


"Menyakiti yang seperti apa?", Stevan mendekatkan badannya ke meja.


"Saya... pernah menghamili Stevi Om."

__ADS_1


"Apa?", pekik Stevan. Nafas nya memburu.


"Dimana anak itu sekarang?"


Damar menunduk dan meremas kedua tangannya.


"Saya jahat om. Saya minta...Stevi menggugurkannya. Karena...saat itu kami sama-sama masih muda Om."


Bughhh!!!!!


Sebuah pukulan mendarat di ujung bibir Damar. Damar hanya mengusap sebentar.


"Om...saya berusaha untuk bertanggung jawab setelah itu om, tapi saya harus pindah ke kampus lain. Kami tak pernah berkomunikasi lagi, sampai akhirnya saya tahu kalau Stevia menikah dengan seseorang."


"Siapa laki-laki itu?", Stevan masih berdiri di depan meja.


"Namanya Royan om. Almarhum Royan, bekerja menjadi guru di sekolah yayasan milik Fai."


Stevan mengusap kasar wajahnya! Dia sendiri memilih harta yang berlimpah, bisa memanjakan Stevia. Memberikan apa pun yang dia inginkan. Berapa gaji seorang guru di sana?


"Dia meninggal beberapa bulan yang lalu om. Stevi mencari pekerjaan. Dan.... kebetulan Diandra menerima Stevi bekerja di sana."


Diandra...Stevi! Dua gadis yang sama-sama ia sakiti!


Tiba-tiba Stevan kembali melayangkan pukulan nya dan mengenai luka yang sebelumnya. Damar pun tersungkur di dekat meja. Banyak mata yang menatap kejadian ini. Stevan tak pernah ambil pusing, laki-laki arogan itu tak pernah liat tempat.


Dari kejauhan, mika berlari menuju dua pria itu. Ini bukan sebagai perkelahian, kak damar nggak memberi perlawanan apa pun.


"Om! Kenapa om memukul kak damar?", teriak Mika.


"Maaf Mika."


"Belajarlah untuk bersikap lemah lembut , ini bukan rumah om!"


"Kak, kak damar nggak apa-apa?", tanya mika sambil mengelap ujung bibir damar.


"Kakak nggak apa Mika"


"Alhamdulillah."


Kini Mika menatap pria tua itu.


"Jika om ingin menarik perhatian Stevi, om harus banyak belajar. Coba lah perbaiki diri sampai om siap berdiri di hadapan Stevi!" kata Mika lantang.


Stevan mematung. Mika benar! Batin Stevan.

__ADS_1


__ADS_2