
"Kamu ibu tirinya Imah mbak Tati?", tanya Lili.
"Iya mbak. Tapi sekarang udah enggak. Saya capek mbak, jadi admin tukang bayarin utang bapak nya Imah. Biarin aja si Farah sama aziz yang beresin. Saya sudah capek mbak. Bertahun-tahun bodoh, di perbudak atas nama cinta. Tapi tuduhan pelakor masih melekat dalam diri saya, apalagi bayangkan ibu tiri jahat seperti di sinetron. Aaaahh....Farah sialan!"
Tati memukul pahanya sendiri.
"Sabar mbak Tati...."
"Maaf mbak!"
"Sebenarnya hubungan Imah sama aziz itu gimana?"
"Aziz itu anaknya mas Abisatya, dan Imah anaknya mas Setiawan. Adiknya Abisatya."
"Lalu mbak Tati?"
"Dulu, sebelum papa nya Imah menikah dia lebih dulu menikah dengan ku. Sayang nya keluarga Nugroho tak menyetujui nya karena aku cuma seorang pembantu. Keluarga Nugroho meminta mas Setiawan menikah dengan Ismaya, mama nya Imah. Aku yang istri pertama justru seolah-olah jadi pelakor dan perusak rumah tangga mereka. Aku sempat hamil kala itu, tapi...Maya mendorongku. Membuatku kehilanganmu bayiku, dan juga rahimku. Sebagai gantinya, aku bawa Imah dan mas Setiawan dari kehidupan mereka."
Tati menceritakan masa lalunya pada Lili, majikannya.
"Kasian sekali kamu mbak Tati."
Tati hanya mengangguk pelan.
"Mbak Tati tau, saya juga masa lalunya Aziz."
"Oh ya?"
"Heeum."
"Mantan pacarnya?"
"Lebih dari itu mbak Tati."
"Maksud nya?"
"Aku pernah dekat dengan aziz. Tante Farah pun sempat setuju agar aku dekat dengan Aziz, meski Aziz sudah menikahi Diandra. Terus...aku menjebak aziz agar mau berhubungan badan denganku!"
Tati menakupkan tangannya di wajahnya.
"Aku sempat membuat video panas kami. Istri Aziz sempat shock. Mereka hampir bercerai. Tante Farah menyalahkan aku. Dia tak membelaku sedikit pun. Sejak saat itu, aku sangat membenci Tante Farah."
"Sayangnya, Diandra terlalu baik dan terlalu pandai. Aku hamil. Tapi hamil bukan anak Aziz. Mereka terlalu jeli mengahadapi situasi ini."
"Sejak saat itu...aku makin terobsesi dengan Aziz, dan semakin membenci Tante Farah!"
"Sabar ya mbak Lili!", ujar Tati.
"Bagaimana kalau kita kerja sama saja mbak Tati?", tanya lili.
"Kerja sama apa ya?"
"Kamu balas dendam pada Tante Farah, dan aku berjuang mendapatkan Aziz kembali!"
"Caranya?", tanya Tati.
******
"Mas, Imah boleh ya cari kontrakan biar ibuk bisa tinggal sama Imah?"
"Kamu sudah nggak betah di sini mah?"
"Bukan gitu mas, tapi Imah kasian sama ibuk."
Aziz menghela nafasnya dengan berat.
"Mas tahu, kamu merasa hutang Budi sama Bu Tati. Tapi...dia sendiri yang sudah memutuskan untuk tidak berhubungan dengan mu lagi kan imah?"
"Imah akan bujuk ibuk mas."
"Tapi...kalau dia tetap tidak mau gimana?"
"Setidaknya Imah mencoba dulu mas."
"Terserah kamu saja lah mah!"
"Kamu marah mas?"
"Enggak."
"Terus?"
"Nggak ada terus-terusan!"
Imah terdiam dalam lamunannya.
"Mana daftar belanjaan nya? Aku mau ke R*xy dulu!"
__ADS_1
"Ini mas!", Imah menyerahkan catatan apa saja yang harus Aziz beli.
"Mah.....!", panggil Tati.
"Ibuk!", Imah terperanjat.
"Ibuk, tinggallah sama imah. Imah janji bakal cariin kontrakan buat kita!"
"Nanti ibu pikirkan. Ibu cuma minta tolong, benerin ponsel ibuk. Rusak. Nggak mau nyala terus."
Imah meraih ponsel ibunya.
"Buk, ponsel ini memang sudah rusa buk. Imah beliin yang baru saja ya buk?"
"Nggak usah, nanti kalau ibuk gajian ibuk bisa beli sendiri."
"Ibuk kan baru kerja sama mbak Lili, pasti gajiannya masih lama buk!"
Tati terdiam.
"Ya udah, Bu Tati ikut saya saja. Saya belikan ponsel yang baru buat Bu Tati. Nanti urusan pembayaran biar jadi tanggungan Imah."
"Iya buk, ibuk ikut mas Aziz saja. Ibuk bisa pilih sendiri ponsel yang ibuk mau."
"ibuk nggak mau urusan sama anak si Farah!"
"Bu Tati, saya nggak akan bilang sama mama."
Tati terlihat ragu.
"Saya ambil mobil dulu ya, Bu Tati tungbi disini saja!"
Aziz pun meninggalkan kios, mengambil kunci mobilnya.
"Buk, ibuk mau kan tinggal sama Imah?"
"Nanti ibu pikirkan lagi Mah!"
Mobil Aziz sudah berhenti di depan kios.
"Ayo Bu Tati?!", ajak Aziz. Tati pun hanya menurut, duduk di sebelah Aziz yang mengemudi.
Perjalanan dari rumah ke R*xy cukup jauh. Tidak ada obrolan apa pun di antara mereka berdua.
"Kita ke toko Xxxxx Bu! Itu toko langganan saya."
"Koh...cari ponsel, buat Tante saya...!" ,ujar Aziz .
"Owh ...silahkan tante, mau yang gimana?",tanya si engkoh.
"Terserah kamu ziz!"
Aziz sendiri bingung, tidak tahu ponsel apa ybg cocok untuk Bu Tati.
"Kalau yang ini , Bu Tati mau?"
Aziz menyodorkan sebuah ponsel merek shomey 😊.
"Terserah."
Aziz menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Ya udah koh, ini aja gak apa-apa!"
Usai melakukan transaksi, Aziz menuju tempat ia berlangganan voucher. Bu Tati mulai merasa bosan.
"Aziz, saya mau pulang duluan ah!"
"Nanti saya antar Bu, sebentar lagi ya?"
Aziz pun menerima barang belanjaannya.
"Bu Tati mau saya antar ke mana?"
"Ke apartemen mbak Lili!"
Aziz membuang nafas kasar. Kenapa harus berhubungan lagi dengan Lili sih?
"Mbak lili kalau jam segini belum pulang kantor", ucap Tati datar.
Aziz mengangguk pelan, sepertinya Tati sudah tahu cerita tentang ia dan Lili.
Mobil berhenti di pelataran apartemen.
"Saya antar sampai ke sini saja ya Bu Tati?", ujar Aziz.
"Masuk saja sebentar, saya masak rawon tadi pagi. Kamu ambil dan bawa pulang buat Imah dan istrimu!"
__ADS_1
Tati melangkah pergi menuju apartemen Lili. Mau tidak mau, Aziz pun mengekor Tati.
Tati membuka pintu apartemennya.
"Kamu duduk dulu saja. Saya buatkan minum sebentar!"
"Nggak usah Bu Tati..."
Tapi Tati masih saja meninggalkan Aziz di sofanya. Tak lama setelah itu, Tati menyodorkan minuman itu untuk Aziz.
"Saya bungkus dulu rawon nya!"
Aziz mulai menikmati minumannya. Aziz menunggu Bu Tati yang dirasa sangat lama sampai dia merasa sangat mengantuk. Setelah itu, Aziz tertidur pulas.
Tati keluar dari bilik dapur, mengintai apakah Aziz sudah terlelap. Setelah memastikan Aziz tertidur, Tati menghubungi Lili.
*****
Aziz sudah berada di ranjang lili. Dan kini lili sudah berada di samping lelaki yang sangat dia inginkan.
Jemari lentik Lili mengusap pipi mulus Aziz. Lili sudah tidak bisa menahan hasratnya ingin kembali bercinta dengan Aziz.
Posisi Aziz yang masih tertidur, membuat Lili leluasa untuk mencumbu dan ******* bibir Aziz. Baginya, Aziz adalah candu.
Aziz melenguh dan memegangi kepalanya yang terasa berat. Matanya mengerjap perlahan sampai akhirnya ia terbangun dan sadar kalau sekarang dia ada di atas ranjang, bersama.....Lili.
Lili duduk bersandar di kepala ranjang, senyum liciknya tersungging.
"Sudah bangun kamu mas?", ucap lili dengan nada dibuat manja.
"Astagfirullah...apa lagi ini?", Aziz bergumam.
"Kamu masih hebat lho mas, sangat hebat. Ini yang bikin aku ketagihan."
"Lili...jangan bilang kamu menjebakku lagi!"
"Kalau iya, kenapa?"
"Kamu....!", hardik Aziz.
"Jangan munafik kamu ziz, kamu mau lihat lagi seperti apa saat kau mengagahiku tadi hem....?"
"Lili !"
"Mas Aziz sayang, aku tidak akan bertindak bodoh lagi. Aku sudah merekam semuanya seperti kemarin, tapi...tidak akan ku tunjukan padamu melainkan.... kuberikan langsung pada Diandra!"
''Keterlaluan sekali kamu Lili!"
Aziz bangkit dari ranjang. Dia tidak merasa melakukan apapun dengan Lili. Dia bersyukur, dia masih memakai pakaian lengkap. Itu artinya, dia tak melakukan apapun dengan lili.
Aziz pun bergegas meninggalkan apartemen Lili. Dengan langkah terburu-buru ia menuju ke mobilnya.
Tati sudah menunggu di parkiran mobil.
"Bu Tati!", bentak Aziz. Si empunya nama pun menoleh.
"Apakah Bu Tati bekerja sama dengan lili untuk menjebak ku?"
"Menjebak mu bagaimana?"
"Jangan berpura-pura Bu Tati!"
Bu Tati mengeluarkan ponsel barunya yang Aziz berikan tadi. Menunjukan sebuah rekaman video Lili yang tengah mencumbu Aziz di saat ia tertidur.
"Bu Tati!"
"Berhenti berteriak padaku Aziz!"
"Apa salah saya ke Bu Tati hah?"
"Ku bilang berhenti berteriak padaku, atau kupastikan istrimu akan melihat semua ini!"
Astagfirullah...Aziz menjambak rambut nya sendiri. Meski di video itu hanya menunggu adegan dimana Lili menciumnya, tapi tetap saja rasa bersalah kepada Diandra kembali menghampirinya. Aziz merasa kembali mengkhianati istrinya. Padahal, ini juga bukan keinginan nya.
"Mau Bu Tati apa?"
"Aku tak menginginkan apa pun dari mu. Aku hanya membantu lili untuk bisa bersama mu."
"Anda begitu jahat Bu Tati!"
"Iya, saya sudah terbiasa dengan tuduhan jahat. Sebaiknya memang aku harus menjadi jahat seperti yang kalian pikir selama ini!"
Aziz masuk kedalam mobilnya. Dia meluncur dengan cepat untuk sampai ke rumah nya.
'Maafin aku Di. Kesalahan-kesalahan ini kembali terulang. Kali ini, kumohon Di!'
Pikiran Aziz sudah tidak menentu. Hanya pasrah yang bisa ia lakukan saat ini.
__ADS_1