Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Manja


__ADS_3

"Assalamu'alaikum!"


"Walaikumsalam. Kamu dari mana aja sih dek?", tanya mas Aziz dengan nada cemas.


"Dari depan doang mas, biasa aja kali nggak usah cemas begitu."


"Maksud mas ,kamu ...."


"Aku ada keperluan tadi mas. Udah ah, ayok Diaz waktunya bobo siang sama bunda....!"


Aku langsung mendorong stroller nya. Payudara sudah terasa penuh karena sudah lebih dari satu jam Diaz belum menyusu.


"Imah, mas ke dalam dulu ya!"


"Siap bos!"


Aziz mengikuti ku di belakang. Setelah sampai di kamar, aku berganti pakaian dengan pakaian harian.


Mas Aziz sudah ada di samping Diaz lagi.


"Kamu ngapa disitu mas?"


"Mas penasaran, kamu dari mana dek?"


"Mas...apa aku nggak boleh ada keperluan lain mas?"


"Iya bukan nggak boleh, tapi kamu kan bisa minta tolong mas. Mas bisa anterin kemana pun kamu mau kan dek?"


"Sebenarnya yang mas khawatir kan itu apa? Toh sekarang kamu lihat aku baik-baik saja."


"Iya. Alhamdulillah. kamu sudah sampai rumah baik-baik saja tanpa kurang satu apapun."


"Terus yang kamu cemaskan itu apa mas?"


Mas Aziz tertegun memandangku. Apa ada yang salah denganku? Dia memeluk ku erat.


"Jangan lebay deh ah!"


"Mas takut kalau kamu...kamu...ketemu sama mantanmu."


"Astagfirullahaladzim mas...."


"Maaf...bukan mas nggak percaya, tapi kan kamu tahu sendiri Fai terang-terangan masih suka sama kamu."


"Terus, kamu pikir aku bakal sembunyi-sembunyi nemuin mas Fai gitu?"


"Ya...mungkin kamunya nggak, bisa aja kan Fai nyari kesempatan buat nemuin kamu mentang-mentang kamu pergi sendirian nggak bareng mas?"


Mas Aziz masih bergelayut manja di bahuku. Kenapa jadi dia yang posesif begini? Harusnya kan aku? Dia digandrungi dua ulet bulu yang gak ada capek-capeknya mengejar cinta mas Aziz. Bukan cinta, tepatnya terobsesi memiliki mas Aziz.


"Lepas mas, udah ah...nggak usah manja. Baru di tinggal sejam aja lebay gini."


"Mas kangen...!"


"Apaan sih, awas ah...nih Diaz waktunya nen."


Aku berusaha melepas tangannya yang melingkar diperut ku.


"Habis Diaz ,tinggal mas yang harus kamu manjain!"


Aku menggeleng frustasi. Kenapa suamiku jadi kaya begini sih?


"Iya nggak?", paksanya saat aku tengah menyusui Diaz.


"Iya apa nya sih mas?"


"Habis manjain Diaz, dan Diaz bobok. Kamu harus manjain mas!"


"Iya...!"


Dasar bayik besar! Nggak mau kalah sama anaknya aja sih. Ternyata mas Aziz masih setia menemani ku dikamar sampai Diaz benar-benar tertidur pulas.


Ku letakkan Diaz di dalam box nya. Meninggikan suhu AC agar tak terlalu dingin.


Mas Aziz sudah duduk di sofa kamar. Dia menepuk sofa sebelahnya, berharap aku duduk di sampingnya. Dengan gontai aku duduk di sampingnya.

__ADS_1


Setelah aku duduk, dia merebahkan kepalanya di pangkuan ku. Spontan tanganku mengusap rambut dan dahinya. Dia menatapku sambil tersenyum.


"Kenapa liatin aku begitu?", tanyaku sambil terus mengusap kepalanya.


"Istriku cantik. Cantik ininya...cantik ini pula!"


Mas Aziz menunjuk dadaku lalu mengusap pipiku.


"Emang baru sadar? Dari dulu kemana aja?", godaku.


"Hem, nggak juga sih. Udah lama tahu!"


"Ya udah, kamu tidur aja mas."


"Nggak, kalau aku tidur ntar kamu bangun dari sini!"


"Heh, terus...maunya kamu tidur, aku jadi bantalmu?"


"Hooh!"


"Ya berat atuh?"


"Ah...masa berat? Cuma kepala doang. Biasa ge ditindih lama nggak apa-apa, malah minta lagi!"


Cletak! Ku sentil jidatnya yang makin lebar. Tapi mas Aziz malah tertawa lebar. Dia memutar kepala nya yang otomatis menghadap perutku.


"Dek...!"


"Hem...!"


"Hamil lagi dong....!"


"Iya, besok-besok!"


"Tapi kalau bikinnya nggak harus nunggu besok kan?", tanyanya sambil menciumi perutku yang meskipun sudah tak gendut, tapi masih tersisa gelambir usai hamil Diaz.


"Kan semalem udah!"


"Kan semalam, sekarang belum!"


"Ayolah dek!"


"Kamu tuh mas kaya lagi puber aja deh. Masa mau main tiap hari? Capek akunya lah mas!"


"Tapi aku nggak capek!"


"Kamu itu doyan apa , posesif sama aku? Apa gara-gara mas Fai ,kamu takut aku berpaling sama dia? Gara-gara dulu aku yang sering minta hakku ke kamu?"


"Kamu nanyanya begitu sih dek!"


"Habisnya kamu mas, maunya tiap hari dikira nggak capek apa mas?"


"Tapi kan kewajiban istri dek.Kalau nolak ntar di laknat malaikat!"


Ah... andalan nya selalu kalimat itu yang nggak bakalan bisa aku tolak.


"Ntar malam aja lah mas...!"


"Janji?"


"Heem!"


"Terserah aku berapa kali?"


"Hah? Ya nggak lah!"


"Ya udah, makanya sekarang sekali ntar malem sekali!"


Aku mendorong kepalanya. Sampai akhirnya mas Aziz terbangun.


"Udah ah, aku mau angkat jemuran. Ngomongin kaya begitu Mulu sama mas mah nggak kelar-kelar!"


Mas Aziz tersenyum menanggapi ku, lalu menarikku duduk dipangkuannya.


"Nggak semudah itu sayang....!",bisik Aziz.

__ADS_1


You know lah.....what the next....!!!


*****


"Hem...ada yang seger banget nih!", ledek Imah.


"Seger lah!", sahut Aziz santai.


"Kirain mau berantem!"


"Kamu doain mas mu berantem sama mbakmu?"


"Heheh ya nggak lah mas!"


"Lha, terus kamu ngomong begitu?"


"Kirain aja mas....????!!!"


Mas Aziz mendengus!


"Mas...mas..!"


"Apaan sih?"


"Tadi A Dadan ke sini!"


"Terus? Ya paling nemuin kamu kan? Bukan nyariin aku?"


"Iiih...tadi A Dadan kesini sama mas Fai! Mau musyawarah soal tanggal pernikahan Imah sama A Dadan. Kira-kira kapan mau dilaksanakan?"


"Owh...ya...terserah, mereka kapan ada waktu buat ngobrol nya!"


Mas Aziz tidak begitu sensi jika membicarakan soal pernyataan Imah dan Dadan meskipun melibatkan Fai. Beda cerita kalau Fai datang untuk sekedar bertanya tentang Dian.


"Lusa bisa mas?"


"Bisa aja! Tapi nggak di sini, mas nggak mau Fai ketemu Dian!"


Sudah ku duga, batin Imah.


"Iyo mas....!"


"Terus, kenapa tadi kamu nggak panggil mas aja?"


"Gimana mau panggil peyan, wong peyan lagek bikin dedek buat Diaz toh?"


Mas Aziz melotot. Masa iya Imah tahu kalau Aziz baru selesai berbuat?


"Sok tahu!"


"Iya...nebak aja! Tapi iya kan...tuh... buktinya, keramas kan jam segini?"


"Dasar adek nggak ada akhlak!", bentak Aziz. Si Imah malah terkekeh geli.


"Imah juga bilang gitu sama mas Fai dan A Dadan. Mas Aziz lagi gak bisa di ganggu, lagi bikin dedek buat Diaz. Hahahahah!"


"Imah....!!!!!!"


"Weiiisss....weisshh...sabar mas bro...!"


"Otakmu sekarang sengklek ya mah! Dadan beneran harus secepatnya nikahin kamu biar nggak omes dan gesrek terus!"


"Kan mas yang ngajarin!"


"Astagfirullah, Imah!!!!"


"Hahahaha ampun mas...ampun!", Aziz memukulinya dengan beberapa lembar kertas.


"Mas tahu, gimana reaksi mas Fai?", kata Imah .


"Nggak tahu, nggak mau tahu!"


"Hahahah yakin? Liat aja di cctv mu mas!"


Imah kembali melanjutkan tawanya.

__ADS_1


Sebenarnya Imah tak tahu apa yang Aziz lakukan dengan Dian di rumah, Imah hanya asal ngejeplak. Tapi ternyata realitanya memang mas Aziz selesai keramas yang membuat pikiran Imah traveling, mensinkronkan omongannya sendiri dengan realita di depan matanya.


__ADS_2