Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Kenanglah aku...


__ADS_3

"Memang Imah kenapa mas, kok sampe nangis begitu?"


"Mas belum tahu dek, pas mas anterin Farhan ,Imah sama Dadan keluar dari rumah mereka udah pada sembab begitu."


"Apa...mereka putus?", tanyaku.


"Kenapa kamu bisa bilang begitu dek?"


"Tadi mas Fai cerita soal di kamar rawat Mbak Feby!"


"Oh...mas nggak tahu. Tapi, apa pun keputusan mereka... nantinya mereka yang bakal jalani."


"Memangnya...mbak Feby separah apa mas? Perasaan kemarin-kemarin pas dia hobi ganggu kamu, dia terlihat baik-baik saja!"


"Itulah dek, kadang kita nggak tahu. Orang lain bisa menyembunyikan penderitaan nya di depan orang lain pula. Tapi ..disaat dia benar-benar sudah terpuruk, bisa apa?"


"Kasian mbak Feby ya mas...!"


"Udah, nggak usah pikir kan Feby. Insyaallah dia bisa kembali sehat, asal jangan ganggu keluarga kita lagi."


"Kalau mbak Feby...nggak terlalu sih Mas, kalau mbak Lili...baru kerasa banget ganggunya!"


"Iya, yang penting kamu percaya sama mas. Mas nggak bakal tergoda sama makhluk itu!''


"Tapi pernah kan....?", ledekku.


"Nggak usah mancing kenapa sih dek!"


"Sopo seng mancing seh mas...Iki lagek Nang kios!", kataku sambil cengengesan mengikuti gaya Imah.


"Dek, kamu ketularan gesrek kaya Imah ya!"


"Iya, adikmu itu lho....!"


Aziz menggelengkan kepalanya. Istrinya bisa mengikuti gaya Imah, si Jawir.


"Aku mau mandiin Diaz ah mas. Udah sore!"


"Iya sana!"


Setelah itu, kios mulai ramai. Karena jam segini biasanya orang yang lewat pulang kerja sekalian mampir. Aziz membiarkan Imah istirahat hari ini. Dia yakin, adiknya sedang tidak baik-baik saja.


Satu jam berlalu, aku dan Diaz sudah mandi. Sekarang aku meminta mas Aziz yang mandi, jadi aku yang akan menjaga kios bersama Diaz. Aku bersyukur memiliki Diaz yang penurut, dia mengerti sekali kesibukan orang tuanya.


Baru duduk di bangku, si jomblo akut datang ke sini lagi. Dia mau apa lagi sih? Hobi banget ngajak perang suamiku.


"Dian...aziz mana?"


"Mandi, solat!", jawabku singkat.


"Kamu kenapa sih masih ketus sama aku, kayanya bukan kamu banget deh."


"Lha terus siapa kalau bukan aku? Kamu ngapain lagi ke sini mas? Mau ngajak ribut mas Aziz lagi?"


"Ya Allah Di, jangan su'udzon gitu kenapa. Iya, aku akui masih punya perasaan sama kamu. Tapi udah ku bilang kan, aku udah ikhlas kami bahagia sama Aziz."


"Tapi, omonganmu itu mas...suka ngeselin!''


"Aku hanya bercanda Dian,hanya ingin meledek suamimu!"


Ehem...suara mas Aziz terbatuk-batuk.


"Ngapain Lo ke sini lagi? Belum sejam acan!"


"Ya nyari Lo lah, masa nyariin istri cantik Lo!"


"Heh, ustadz kawe sekaligus jomblo akut. Bisa-bisanya Lo di panggil ustadz, kelakuan Lo aja begini!"


"Weeeiiits...jangan bawa-bawa ustadz dong. Ustadz kan emang sebutan lain dari guru. Gue guru, bukan ustadz penceramah Ziz!"


"Ilmu kamu selama nyantri di pondok nggak dipake, makanya begini!", Aziz makin ketus.


"Bro...urusan hadis hafalan and etc...Lo nggak usah cemas. Gue bisa. Masalahnya, Lo kan temen gue. Masa sama temen masih kaku juga? Biasa aja kenapa?", jawaban Fai makin melebar tidak jelas.


"Mas Fai, aku rasa kyai di tempat mu mondok dulu bakal sakit hati melihat santrinya kaya kamu sekarang! Sia-sia nyari ilmu tapi nggak di pake!", aku jadi ikutan gemas menghadapi mantanku ini.


"Kalian berdua memang serasi!"


"Emang...!", aku dan mas Aziz menjawab kompak.


"Udah buruan Lo mau apa lagi kesini?"


"Nih, gue udah dapet info dari orang kepercayaan gue!"


Fai melempar beberapa lembar foto.


"Apa ini?" tanya Aziz.


"Itu, potongan foto yang di ambil dari video cctv dimana Dian kecelakaan!"


Mas Aziz memperhatikan dengan seksama.


"Seperti dugaan kita sebelumnya Ziz, itu mobil Lili!"


Aziz meremas kedua tangannya. Dia benar-benar tidak habis pikir, kenapa lili bisa tega mencoba mencelakai istrinya.

__ADS_1


"Selanjutnya...kita apakan dia?", tanya Fai.


"Sudah, kalian tidak usah memperpanjang. Aku baik-baik saja kan?"


Aku hanya berharap, mereka berdua tidak membawa lili ke pihak berwajib.


"Kenapa tidak Dian? Dia sudah hampir mencelakakan kamu?", kata Fai berapi-api.


"Tapi lihatlah, aku baik-baik saja kan mas?"


"Dek, Fai benar. Kita harus memberikan lili pelajaran!"


"Sayang...mas Fai, udah. Nggak usah diperpanjang. Yang penting aku nggak apa-apa. Justru sekarang, kita harus fokus sama masalah Imah. Dia lebih membutuhkan perhatian kita mas!"


"Tapi dek....!"


"Mas, kita bisa mengajak lili bicara baik-baik tanpa harus tiba-tiba menyeretnya ke polisi kan mas? Kita coba saja dulu. Tapi, untuk saat ini...lebih baik kita urusi adikmu. Dia sama sekali belum keluar lho dari tadi siang!"


"Gimana Fai, kita tunda buat ngasih pelajaran Lili?"


"Terserah Lo, gue mah ikut aja!"


"Makasih ya Fai, Lo udah mau bantu gue cari tahu pelakunya."


"Geer, gue nyari tahu bukan karena lo. Tapi karena mantan gue!", sahut Fai enteng. Kali ini Aziz tak menganggap serius ucapan sahabat nya itu. Terserah apa alasan Fai, yang jelas Fai Sudah berjasa mencari pelakunya.


"Terserah apa kata Lo Fai, yang penting gue udah bilang makasih!"


"Oke ...gue terima makasih Lo. Tapi ada syaratnya!"


"Apa?", tanya Aziz.


"Gue pengen ngopi."


Aku melirik jengah pada mantanku itu.


"Iya, aku bikinin. Mas mau juga kopinya?"


"Mau lah sayang...masa buat masa lalumu doang, masa depan mu kan aku!"


"Nggak apa-apa Dian, ,nggak ada masa depan kalau nggak ada masa lalu!", sahut Fai nggak mau kalah.


"Kalian emang sama, sama-sama edan!"


Aku pergi meninggalkan mereka berdua. Aku masih sempat mendengar mereka berdua menertawakan ku. Yang benar aja, belum semenit mereka bertengkar, tiba-tiba saja mereka bisa bercanda seperti itu. Dua sahabat itu emang aneh!


"Nih, kopinya. Silahkan!"


"Makasih sayang...", ucap Aziz.


"Makasih mantan...!", Fai gak mau kalah.


Mas Aziz justru menertawakan ku. Suami macam apa dia, membiarkan istrinya di ledek mantan nya sendiri.


"Dek, kalau Fai ngomong kaya begituan jangan diambil hati. Dia cuma bercanda dek!"


"Siapa bilang, gue serius!", kata Fai.


"Sekali lagi Lo ngomong gitu nggak cuma disiram kopi tapi gue sambit Lo!"


"Udah ah, males sama kalian berdua! nih mas, titip Diaz. Aku mau nemuin Imah. Dia belum makan dari siang!"


Aziz pun menerima Diaz dalam pangkuan nya.


"Sini Ziz, gue mau gendong ponakan gue yang ganteng kaya gue!", Fai meminta Diaz dari gendongan Aziz.


"Bisa Lo, bawa bayi?"


"Bisa lah!"


Diaz pun terlihat nyaman di pangkuan Fai.


"Diaz, ini juga papa mu lho ya!", kata Fai sambil melirik Aziz. Aziz tahu, Fai hanya ingin memancing emosinya.


******


"Imah, mbak boleh masuk?"


"Boleh mbak!"


Saat aku masuk, Imah sedang tengkurap memainkan ponselnya.


"Kios rame ya mbak? Maaf, Imah lagi ga bisa kerja!"


Aku duduk di tepi kasur nya yang memang dilantai.


"Kamu kenapa Imah, cerita sama mbak?!"


Imah pun bangun dari tengkurap nya ,lalu duduk bersila di depan ku.


"Mbak... Imah membatalkan rencana pernikahan Imah dengan a Dadan."


"Batal? kenapa harus di batalkan Imah?"


"Mbak, Mbak Feby dan Farhan lebih membutuhkan A Dadan mbak!"

__ADS_1


Imah kembali menangis tersedu-sedu. Dia menyembunyikan wajahnya di bantal sambil duduk bersila. Aku membiarkan Imah menyelesaikan tangis nya.


"Kamu makan dulu ya. Nanti kita ngobrol lagi. Kamu belum makan lho!"


"Nggak mbak. Imah nggak laper!"


"Masih bisa cerita?"


Imah mengangguk.


"Imah udah balikin cincin pertunangan kami mbak. Imah tahu rasanya jadi Farhan. Imah nggak mau anak sekecil Farhan mengalami apa yang Imah rasakan. Cukup Imah aja mbak!"


"Farhan kenapa? Farhan punya ayah yang sangat menyayangi nya?"


"Tapi Farhan juga butuh namanya mbak. Apalagi melihat kondisi mbak Feby. Imah nggak tega mbak. Imah harus bahagia , sedang kan ada Farhan dan mbak Feby yang menderita."


"Kalian kan bisa memberi pengertian sama Farhan, dia masih kecil."


"Iya mbak, usianya memang masih kecil. Tapi cara nya berpikir, jauh...jauh lebih dewasa dari umurnya."


Aku menarik nafas panjang di depan Imah.


"Lalu? Kang Dadan setuju untuk menikah dengan mbak Feby?"


"Imah harap begitu mbak."


"Dia mau membatalkan pernikahan kalian?"


"Iya, kami sudah sepakat untuk mengakhiri semua nya!"


Aku memeluk Imah, aku tahu perasaan Imah sekarang seperti apa.


"Baiklah. Apa pun keputusan kamu, kami mendukung mu. Kamu hanya harus belajar ikhlas Mah! Semua akan baik-baik saja!"


"Iya mbak. Imah akan belajar ikhlas!"


Dia menyeka air matanya.


"Makasih ya mbak, Imah lega sekarang. Udah cerita sama mbak Di!"


"Syukurlah kalau kamu sudah lega."


"Iya mbak!"


"Ya udah, kamu makan ya?!"


"Nanti saja mbak, sekalian makan malam. Tanggung jam segini."


"Ya udah, mbak keluar ya."


"Emmm...mbak."


"Kenapa?"


"Mbak aja yang cerita ke mas Aziz ya?!"


"Iya... nanti mbak bilang sama mas mu!"


"Makasih ya mbak!"


Aku pun keluar kamar Imah. Sepeninggal mbak Dian , Imah menyala kan lagu dari Naff. 'Kenanglah aku'. Mungkin mewakili suara hatinya.


Mungkin suatu saat nanti


Kau temukan bahagia meski tak bersama ku


Bila nanti kau tak kembali


Kenanglah aku sepanjang hidup mu


"Imah kenceng amat nyalain lagu, galau tuh adikmu!", canda Fai.


"iya, biarin aja!"


"ya udah ,gue pulang. Diaz ,papa pulang dulu ya!" Fai menyerahkan Diaz pada Aziz.


"Papa apaan. Makanya bikin Sono, biar nggak ngaku-ngaku anak orang!"


"Ya... besok!"


"Udah sana pulang Lo, betah banget di rumah gue!"


"Hem...salam ya buat mantan terindah gue."


"Iye...sana Lo, sepet mata gue liat Lo mulu!


Akhirnya si jomblo akut pun meniggalkan kios.


"Tuh, bunda Dateng!", mas Aziz menyerah kan diaz padaku.


"Ada salam dek, dari mantan terindah mu!", kata mas Aziz.


"Mas....!", teriakku. Tapi mas Aziz malah berlari menuju rumah.


Bisa-bisanya dia meledekku begitu!

__ADS_1


*******


Kalau Fai di jodohkan sama Imah, kira-kira Diandra setuju nggak ya? 🤔


__ADS_2