Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 251


__ADS_3

Fai baru saja mengantarkan istri nya ke rumah sakit. Setelah mengantar Mika , tujuannya saat ini adalah Showroom nya.


Sedang mika sendiri, dia nampak berjalan santai menuju ruangan nya karena masih ada jeda setengah jam lagi sebelum memulai praktek.


"Dokter Mika....!", panggil seseorang. Mika pun menengok ke arah yang memanggil nya.


"Dokter Lala? Kenapa dok?", tanya Mika.


"Belom mau praktek kan? Kantin yuk? Mumpung belom puasa, besok kan mulai puasa!", kata Dokter Lala.


"Belom sih. Ya udah deh, ayok?!", merekam berjalan beriringan. Beberapa kali Mika menjumpai perawat yang berbisik dan menatap dirinya seolah-olah Mika yang sedang jadi bahan omongan mereka.


Setelah sampai di kantin, kedua dokter itu memilih duduk di kursi yang lebih dekat dengan kasir.


"Pesen apa Mik?", tanya Lala. Di luar jam kerja, tentu susah kan memanggil dengan titel juga?


"Aku lemon tea aja deh, em...sama somay boleh!", kata Mika.


"Aku juga samain deh!", sahut Lala. Lalu pelayan pun menghampiri mereka.


Setelah beberapa lama, pesanan mereka pun datang.


"Oh iya Mik. Tadi, dokter damar ke sini sama anak istrinya lho. Gue baru tahu dia udah nikah?!"


"Anak istri nya?", Mika menautkan kedua alisnya.


"Kak damar sudah menikah?", lanjut Mika lagi.


"Iya. Katanya baru nikah kemarin."


Lala menyeruput lemontea nya.


"Ah....iya, mungkin suamiku lupa mengatakannya padaku."


"Iya ya, suami mu kan sahabat nya Kak damar."


Mika mengangguk pelan, lalu ikut menyeruput minumannya.


"Cantik dan anggun ya istrinya.... meskipun...udah punya anak segitu gedenya", celetuk Lala.


"Iya. Stevia memang cantik dan anggun. Sikapnya dan sifatnya juga lemah lembut", kaya Mika sambil memainkan sedotannya.


"Heum! Gue setuju. Yah...apalah arti status, toh... setelah mereka menikah keliatan banget bahagia nya. Kak damar bucin akut hahaha....!", Lala tertawa tanpa beban. Dia tak menyadari ada hati yang teriris di hadapan nya.


"Apa kamu kenal istrinya juga?", tanya Lala penasaran.


"Iya. Kami berteman. Aku, Diandra, Stevia dan Imah. Kami bersahabat seperti suami-suami kami."


"Owh....!", sahut Lala.


"Dokter Lala....!", panggil seorang perawat.


"Ya?"


"Anda di panggil ke ruang Dirut!", kata si perawat.


"Oh...iya, makasih!", Lala pun berdiri.


"Gue ke ruang Dirut dulu ya Mik!", kata Lala sambil menepuk bahu rekan dokternya itu. Mika pun mengiyakan dengan anggukan.


Mika masih duduk di kantin dan memainkan sedotannya.

__ADS_1


"Mika...!", panggil seseorang yang sedang berada di pikiran Mika. Kak damar? Batin Mika.


"Boleh aku duduk di sini?", tanyanya.


"Boleh lah Kak!", sahut mika seriang mungkin.


"Iya. Besok siang kan kita udah mulai puasa. Mana ada bisa nongkrong beginian lagi", kaya damar sambil tertawa.


Bahagia sekali kamu ya Kak? Tawa mu sekarang lepas seolah tanpa beban.


"Oh iya kak, selamat ya untuk pernikahan mu dan mbak Hayu!", Mika menyodorkan tangannya di hadapan Damar. Damar pun menyambutnya dengan senang hati.


"Terimakasih Mika!"


"Kak damar pasti bahagia sekali ya, akhirnya...cinta kak damar bersambut! Semoga kalian jad keluarga yang bahagia dan sakinah!", tanpa Mika sadari setetes kristal meluncur di pipi mulusnya. Damar pun menyadari itu.


"Mika....!", panggil nya lirih.


"Aku ikut seneng kok Kak. Tenang saja!", Mika menghapus air matanya itu.


"Mika, kita sama-sama sudah menemukan pasangan hidup kita. Aku yakin, kami dan Fai saling mencintai. Kalian hanya butuh waktu untuk saling memahami."


"Iya. Tentu saja kami saling mencintai Kak. Tapi hati kami masih saling bertautan dengan hati yang lain. Maaf....maafkan mika Kak...Maaf.....!", Kini mika justru tergugu.


Harusnya, Mika bahagia bukan pria yang pernah ia kejar cinta nya selama ini sudah memiliki pasangan yang ia inginkan? Tapi kenapa hati ini masih egois? Dia sendiri sudah memiliki Rifai, kenapa dia harus merasa sakit melihat Damar bersama Hayu???Sadarlah Mika!!!


Mika bangkit dari kursinya meninggalkan Damar seorang diri.


Kita sudah menemukan kebahagiaan kita masing-masing Mika, kata Damar lirih.


.


.


.


[Walaikumsalam Mas. Kenapa?]


[Kamu masih buka kios?]


[Nggak. Lagi rebahan di lantai sama Diaz. Kenapa mas?]


[Nanti malam tarawih pertama, tapi....mas lembur Dek. Kayanya pulang malam]


[Owh....ya udah nggak apa-apa mas. Maaf ya, harusnya itu jadi kerjaan ku. Tapi kamu yang menghandle mas]


[Kewajiban mas kan memang bekerja dek. Kamu jangan capek-capek ya, ingat kondisi kamu masih dalam pemulihan]


[Nggak lah mas. Lagi rebahan gini masa capek]


[Iya. Pokoknya sebelum kamu benar-benar fit, biarin teh Neng yang masak dan ngerjain kerjaan rumah]


[Iya mas...iya.... Tapi, kamu tetap bisa puasa kan? Soalnya....aku kan belom bisa ikut puasa . Tapi tenang aja mas, aku temenin kamu makan sahur kok]


[Insya Allah dek. Puasa dari kamu dua bulan aja bisa , masa puasa makan siang nggak bisa]


[Mas ih....ya udah sana lanjutkan lagi kerjaan mu!]


[Iya. Ini lagi nunggu klien dari CV Agung. Paling bentar lagi sampe]


[Ya wis kalo gitu mah. Jangan lupa solat ya mas]

__ADS_1


[Siap nyonya]


Panggilan telepon pun di sudahi. Aku kembali ngelonin Diaz yang tertidur pulas.


.


.


Fai sedang berkutat dengan berkas pembukuan yang baru di sedangkan oleh Velly. Sejauh ini, pekerja Velly memang baik dan dapat di andalkan.


Fai melirik kalender di meja kerjanya.


April? Batin Fai.


Sebentar lagi kamu ulang tahun Di, tapi mulai saat ini aku harus benar-benar melupakan perasaan ku padamu. Kamu sudah memilih jalan mu bersama Aziz, begitu pun aku.


Fai memijat pelipisnya yang ia rasa semakin lebar saja. Sekilas, ia teringat tentang vocer bulan madu yang Dian berikan saat itu sebagai hadiah pernikahannya. Bukannya Dadan pun menerimanya? Muncul lah ide untuk mengajak Dadan berangkat di hari yang sama, double date gitu! Fai meraih ponselnya yang berada di kantong celananya.


[Assalamualaikum, Dan!]


[Walaikumsalam, kunaon bro?]


[Sibuk nggak?]


[Lagi bawa mobil, otw pulang dari Bogor. Habis anterin Mak]


[Owh....kirain di rumah]


[Ya paling sejam lagi sampe lah. Kenapa?]


[Mau bahas soal kado bulan madu dari Dian]


[Iya ya, udah kelamaan. Expired nggak tuh]


[Ya nggak lah Dan. Gimana kira-kira, kapan kita bisa berangkat?]


[Gue tanya istri dulu lah!]


[Sama, tau sendiri bini gue dokter sibuk]


[Nah, itu tahu dokter Mika sibuk. Kalo gue, gue...justru lagi mikirin istri gue]


[Imah kenapa? Sakit]


[Tadi muntah Mulu, kata Mak suruh beliin tespek, kali aja Imah hamil]


[Oh ya? Alhamdulillah kalo gitu mah]


[Kan baru dugaan bro!]


[Berdoa saja semoga iya Bro, gue ikut seneng]


[Aamiin.. makasih pak ustadz. Ya udah ya, gue lagi fokus nyetir dulu. Tahu sendiri gue belum mahir bawa mobil]


[Ya udah, hati-hati bro. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Fai menyadarkan punggung nya ke kursi kebesaran nya.


Hamil? Tiba-tiba senyum nya merekah. Usai datang bulan, Mika masuk masa subur kan? Semoga saja Mika lekas hamil, sehingga ada pengikat di antara mereka berdua.

__ADS_1


****


Terimakasih sudah berkenan membaca 🤗


__ADS_2