
Matahari sudah menyingsing. Aku dan mas Aziz sudah ngeteh di halaman belakang. Tak lupa Diaz pun kami ajak. Hari ini, hari pertama aku akan memberikan MPASI.
Bukan dengan makanan pokok yang berat-berat. Aku masih mencoba sedikit-sedikit biskuit yang lembut jika terkena air.
Memberi sedikit pisang seujung sendok. Nanti akan ku coba juga memberikan ikan untuk Diaz.
Kan belum delapan bulan??? Baru enam bulan udah di kasih begituan. Nggak kasihan!
Justru, aku hanya ingin mengetahui apakah Diaz bisa menerima makanan itu sebelum ia benar-benar bisa menikmati makanannya.
Aku hanya antisipasi saja, jangan sampai aku memberikan makanan yang membuat diaz alergi. Kita kan tidak pernah tahu alergi bawaan bayi. Mencegah lebih baik bukan?
"Dek, nggak apa-apa Diaz di kasih pisang? Masih pagi banget lho ini."
"Nggak apa-apa mas. Dikit banget kok. Nanti semua di coba. Tapi.. aku belum bisa ngasih yang gurih-gurih dulu. Ada saatnya nanti!"
"Oh...ya udah, mas ikut aja. Yang penting semuanya terbaik buat anak kita,"
"Oh iya dek. Kita nutup lagi aja ya?"
"Kenapa?"
"Mas ingin punya waktu berdua sama kamu. Kamu kan masih punya utang penjelasan sama aku dek?"
Aku menarik nafas panjang.
"Kamu nggak usah mengulur-ulur waktu terus. Toh, kita sudah tidak di sibukkan dengan urusan Imah kan?"
Mas Aziz benar, kemarin-kemarin kami hanya ingin fokus dengan pernikahan Imah. Tapi sekarang kami sudah Free.
"Gimana sama mbak Hayu?"
"Mas bisa wa, dia libur aja lagi!"
"Oh, ya udah...atur aja mas!"
Aziz pun mengetik pesan untuk hayu agar dia libur hari ini. Tak lama balasan 'IYA' pun Aziz dapatkan dari Hayu.
"Oke, kita mau cerita dari mana mas?"
"Ya ... semuanya lah dek. Yang bikin kamu... depresi, yang bikin kamu selalu nolak warisan orang tuamu, dan.... hubungan mu dengan Fai. Seberapa dekat kalian, sampai Fai tau semuanya!Mas memang kenal kamu sebelum kalian putus, tapi kita belum terlalu dekat."
__ADS_1
Aku menarik nafas lagi.
"Kamu yakin mau dengar tentang masa lalu ku mas? Nggak nyesel?"
"Kenapa kamu bilang gitu sih? Aku menerima mu apa adanya sayang!"
"Soal kedekatan ku dengan mas Fai? Kamu siap denger juga?"
"Insyaallah!"
"Ah, ngga usah lah. Meragukan!"
"Dek....!"
"Aku takut kamu malah mikir yang enggak-enggak soal aku sama mas Fai mas. Aku nggak mau kita berantem!"
"Sayang.... percaya sama aku!"
"Kemarin aja kamu bentak aku sampai aku inget sama trauma ku mas!"
Mas Aziz merengkuh ku dalam pelukannya.
"Maaf, mas tidak tahu sayang! Dan seharusnya mas juga tidak melakukannya padamu!", mas Aziz mengecup kening ku.
"Urusan itu sudah selesai dek. ayolah...cerita sama mas. Apa pun itu. Sekalipun...kisah cinta mu sama Fai!"
"Lepasin deh mas, malu sama Diaz!"
Diaz tertawa girang di dalam stroller nya, tangannya terus saja memainkan boneka kecil nya.
"Tapi janji, kamu nggak akan ninggalin aku setelah tahu kalau...aku hampir gila mas???"
"Astagfirullah dek. Mas nggak akan pernah ninggalin kamu. Kecuali di panggil sama yang kuasa duluan!"
Aku mencubit perut buncitnya.
"Awww....sakit dek!"
Aku mendorong perlahan stroller Diaz lagi sampai akhirnya Diaz pun kembali tertidur karena Diaz sudah bangun dari sebelum azan subuh.
Sekarang, aku dan mas Aziz duduk bersebelahan. Mas Aziz merengkuh bahuku.
__ADS_1
Aku pun memulai kisah pilu di masa remaja ku.
******
Pagi itu, aku sarapan seorang diri. Ayah dan ibuku baru saja menghadiri pemakaman kakek dari pihak ibuku.
Aku mulai menikmati sarapan ku. Sampai akhirnya aku mendengar keributan di ruang tengah. Meski penasaran, aku tetap melanjutkan makan ku. Hari ini , aku akan mengambil ijazah SMP ku. Seharusnya, aku di dampingi oleh ibu atau Ayah ku. Sayangnya, aku sama sekali tidak masuk dalam daftar prioritas hidup mereka.
Prangggg!
Suara benda pecah sedikit menarik perhatian ku. Aku pun berjalan ke arah ruang tengah. Di sana, aku lihat kedua orang tua ku sedang bertengkar hebat. Apa karena adanya aku???
"Aku sudah peringatkan kamu Mutiara! Jauhi Stevan! Dia memang sahabat ku, partner bisnis ku. Tapi cukup! Cukup kalian bermain dibelakangku!", bentak Dirham kepada Mutiara, orang tua Diandra.
"Mas! Papa sudah nggak ada. Nggak ada lagi yang bisa halangin aku sama Stevan lagi mas. Termasuk kamu!", bentak mutiara.
Plak!!!
Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Mutiara.
"Sadar Mut, kamu itu wanita bersuami!"
"Aku sadar mas! Tapi aku tidak pernah mencintai mu!"
"Baiklah, kamu boleh saja tidak mencintai ku. Tapi lihatlah! Lihat putri kita? Apa kamu tidak kasihan dengan putri mu hah? Dan...dan Stevan juga sama-sama memiliki seorang putri. Tega kamu berbuat seperti itu?"
"Perse*an dengan semua itu. Aku hanya ingin mendapat kebahagiaan ku mas."
"Mut, pikirankan Rara mut. Kasihan dia."
"Aku tidak peduli dengan anak yang sama sekali tidak pernah aku inginkan. Camkan itu!"
Aku menutup mulutku dengan kedua tangan ku. Aku tidak salah dengar? Kenapa ibu sangat membenci ku?
"Mutiara!!!" bentak Dirham di depan wajah sang istri.
"Jangan berteriak di depan wajahku mas. Pendengaran ku masih bagus!"
"Mut! Coba...apa yang bisa aku lakukan sampai kita sama-sama ingin memperbaikinya."
"Mas! tidak ada yang bisa di perbaiki. Aku mencintai Stevan. hanya Stevan mas???"
__ADS_1
Suara nyaring itu masih terdengar di telingaku. Mereka bertengkar gara-gara aku?