
Imah kembali ke kios dengan bibir monyong nya.
"Eh, kok udah balik aja Mah?"
"Iya, diusir sama mbak Di!"
"Kok bisa?", tanya Aziz dan Fai berbarengan.
"Biasa aja keleus kagetnya!"
"Iya...iya...kenapa di usir sama mbakmu?"
"Imah cuma tanya, emang iya semalam mbak Di melayani mas Aziz sampe tiga kali? Emang nggak capek? Imah kan maksudnya mau belajar sama mbak Di!", kata Imah polos.
Pppfffff....Fai menahan tawanya. Beda lagi dengan Aziz yang siap-siap meraup muka isengnya Imah.
"Gimana mbak mu nggak marah kamu nanaya begitu Imah!", Aziz geregetan.
"Lha... ngapain marah, kan harusnya mbak Di bilang aja bla...bla...tadi aja ciuman di depan mbak Lili bisa percaya diri kok, masa cuma cerita sama Imah malah malu-malu!"
Pletak...jari Aziz kembali menyentil dahi Imah.
"Mas...tadi pagi kami nyentil, barusan mbak Di, sekarang imah di sentil lagi. Ini kepala tiap mau lebaran di pitrahin lho mas!", Imah mengusap-usap dahinya.
"Urusan kaya begitu nggak usah tanya-tanya Imah!"
"Ya...Imah cuma penasaran aja. Status Imah emang janda mas, tapi Imah kan masih perawan belum pernah ngapa-ngapain sama cowok."
"Ya udah sih, bentar lagi juga jadi istrinya Dadan. Nggak usah kepo sama urusan begituan orang lain. Nggak sopan!"
"Iya...iya...Mas Fa'i nggak mau daftar nyentil dahi Imah juga? Biar genep empat kali sehari?"
"Heheheh...nggak ah Mah, ntar di omelin Dadan malah panjang urusan nya."
"Oh... baguslah. Masih glowing kan jenongku?", kata Imah sambil bercermin di etalase.
"Masih, malah makin mengkilap Mah!", sahut Aziz.
Setelah itu, Fai pun pamit pulang.
******
"Mas, aku mau ke indopril dulu. Belanja kebutuhan Diaz."
"Ngapa kudu ke sana? Mas kan bisa anterin kamu ke supermarket?"
"Ada yang dekat ngapain yang jauh sih mas. Nitip Diaz ya?!"
"Diaz sama Imah aja, mas anter kamu dek!"
"Nggak usah mas. Liat tuh, Imah juga lagi sibuk. Lagian Diaz anteng kok tadi abis *****."
"Ya udah, jangan lama-lama."
"Iya, tapi kunci nya mana?"
"Kunci motor baru mu lah mas, aku mau coba?!"
"Berat dek motor nya!"
"Aku bisa lah mas, jangan meremehkan badanku. Aku sama Imah aja masih gemukan aku kok."
Aku meraih kunci dari tangannya.
"Tapi dek....!"
"Udah mas, nggak usah cemas. Kamu lupa aku suka ngebut-ngebut dulu?"
"Itu dulu dek, waktu masih muda. Lihat dong ada aku ada Diaz yang..."
"Sssstttt...udah. Aku bentar doang kok mas. Assalamualaikum."
__ADS_1
Aku meraih punggung tangannya.
"Walaikumsalam."
Aku mulai menjalankan motor ku. Tidak terlalu sulit, hanya kaki ku yang memang kurang panjang sedikit.
Aku melaju dengan kecepatan sedang, karena jika terlalu pelan aku justru tidak bisa mengimbangi body motor yang memang besar ini. Entah kenapa aku merasa ada mobil yang mengikuti ku di belakang. Aku tak mau ambil pusing, bisa saja memang kami searah.
Sampai akhirnya saat berada di tikungan mobil itu menyalip ku dan membuatku kehilangan keseimbangan. Aku tidak bisa mengendalikan motoe ku sampai ada kendaraan lain yang melintas di depan ku. Setelah itu aku jatuh tertimpa motor mas Aziz.
Seketika suasana menjadi ramai. Aku yang awalnya merasa baik-baik saja jadi merasa pusing. Apalagi saat ku raba, dahiku berdarah.
"Di...Dian...!", suara seseorang yang ku kenal menepuk-nepuk pipiku.
"Tolong...tolong bantu angkat motor nya!", seru laki-laki itu. Iya, itu suara Mas Fa'i.
"Tolong pak, bawa ke rumah sakit pak."
Setelah itu, aku tak ingat apapun lagi.
*****
[ Ziz!]
[Tumben telpon Fai, kenapa? salam dulu kek]
[Oke, assalamualaikum]
[Walaikumsalam]
[ Ziz, Lo ke rumah sakit sekarang!]
[ ke rumah sakit? Ngapain]
[Dian... Ziz!]
[Dian ? Dian kenapa?]
[Gue nemuin Dian kecelakaan Ziz. Gue nggak tahu kejadian nya seperti apa. Lo Dateng aja ke rumah sakit sekarang!]
Fai pun tak kalah panik. Bagaimanapun Dian adalah seorang yang istimewa di hatinya.
"Imah, mas pergi ke rumah sakit dulu. Mbak mu kecelakaan. Tolong jagain Diaz. Mas tutup kios aja ya. Kamu di rumah saja!"
"Iya mas!"
Imah bergegas menuju ke rumah induk sambil membawa Diaz. Dan Aziz menutup kiosnya.
Dengan terburu-buru ia meninggalkan rumah menuju rumah sakit. Pikirannya tidak karuan mendengar istrinya kecelakaan. Dari sebelum Dian pergi, firasat Aziz memang tak enak. Aziz menyesal kenapa membiarkan Dian pergi sendiri.
Setelah lima belas menit, akhirnya Aziz sampai di rumah sakit. Dia melihat Fai dan dua oranh laki-laki berada di ruang IGD.
"Fai!", panggil Aziz.
"Ziz, sabarlah Dian sedang ditangani dokter!"
Dua laki-laki yang bersama Fai menatap Aziz penuh tanya?
"Kejadian nya seperti apa Fai? jangan bilang kamu nemuin istriku diam-diam? Jawab!"
"Ya Allah Ziz, gue nggak kaya gitu!"
"Terus apa?", Aziz mencengkeram kerah baju Fai.
"Mas...mas...jangan bikin keributan disini. Istri mas lagi ditangani dokter."
Salah satu pria yang membawa Dian menasehati Aziz.
"Saya saksinya mas. Mas Fai ini datang bersama saya. Jadi dia tidak bersama istri anda."
Nafas Aziz masih memburu menahan amarahnya terhadap Fai.
__ADS_1
"Ziz, gue nggak diam-diam nemuin Dian. Masa Lo nggak percaya sama istri Lo sendiri?"
Aziz membeku.
"Mas, saya rasa memang ada yang sengaja menyabotase kecelakaan istri mas?"
"Apa?", Aziz dan Fai terkejut bersamaan.
"Saya lihat, mobil yang berada di belakang mbak Dian memang sengaja mengikuti. Sampai akhirnya mbak Dian lengah!", kata si bapak.
"Maksud bapak, ada yang sengaja mau mencelakai istri saya?"
"Saya rasa begitu pak, soalnya setelah mbak Dian terjatuh mobil itu pergi."
"Bapak ingat, mobil apa? Warna apa? Mungkin platnya?"
"Platnya saya lupa. Yang saya ingat, mobil Brio warna merah mas!"
Aziz dan Fai saling menatap.
"Lili?", gumam mereka berdua.
"Terimakasih atas informasinya pak! terimakasih juga sudah bersedia mengantar istri saya."
"Sama-sama mas. Tapi, ada yang membuat saya penasaran mas!!"
"Kenapa pak?"
"Mas Fai dan mas Aziz ini?", tanya bapak itu tersendat.
"Saya suaminya Dian, dan Fai mantan pacarnya Dian!"
"Owh...!", kata bapak itu membulatkan mulutnya. Bukan maksud hati ingin kepo, tapi melihat kedekatan dua lelaki itu jiwa penasaran si bapak bergejolak. Lalu si bapak dan temannya itu pun pergi meninggalkan rumah sakit.
Dokter pun keluar dari IGD.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?", tanya Aziz. Si dokter bingung, dia pikir yang tadi membawa pasien nya adalah suaminya.
"Dokter, dia suami pasien!", kata Fai memecah kebingungan dokter.
"Oh... Alhamdulillah, pasien tidak terlalu parah. Hanya saja perlu pemeriksaan di kakinya. Perlu di rongsen. Kakinya tertimpa barang yang berat."
"Ya Allah ,Di...!", gumam Aziz.
""Tapi, selain itu gimana dok? Baik-baik saja kan?"
"Iya, pasien pun sudah siuman. Anda bisa menjenguk nya!"
"Terimakasih dok!", Aziz pun gegas menemui Dian.
"Dek!", Aziz menghambur ke pelukan Dian. Menciumi wajahku.
"Mas, aku baik-baik saja!"
"Kamu bikin mas cemas dek! Pokoknya besok mas nggak mau ijinin kamu bawa motor sendiri lagi.
"Iya mas!"
"Mas Fai, makasih udah nolongin aku!", kataku pelan.
"Sama-sama Di!"
"Makasih ya Fai. Maaf sudah menuduh mu!"
"Nggak masalah Ziz!", Fai menepuk bahu aziz.
"Ya udah aku pulang ya, udah ada Aziz yang menjagamu Di."
"Iya."
Fai pun meninggalkan ruang IGD. Dia berjalan menuju lobi depan sampai matanya tertuju pada seorang wanita yang duduk di kursi roda.
__ADS_1
Itu bukannya ibunya Farhan?