Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 130


__ADS_3

Fai berjalan mendahului Aziz sebelum ia kena sasaran sahabat nya itu. Usai masuk ke kios, langkah nya terhenti karena Abah sudah ada di depan kios.


Bugh....!


Dua orang laki-laki dewasa yang hampir sama gedenya saling bertubrukan. Oh, tidak! Lebih tepatnya, Aziz menuntut Fai dari belakang.


"Eh...dodol! Ngapain berhenti di sini! Ngalangin jalan gue aja sih!", Aziz mengoceh tanpa memperhatikan ada siapa di depan. Sampai akhirnya dia tersadar, Abah sedang memperhatikan mereka berdua.


"Abah!", gumam Aziz dan Fai bersamaan.


"Kamu ngapain pagi-pagi udah di sini Fai?", tanya Abah penuh selidiki.


"Anu ...itu bah, ambil mobil. Sekalian ntar berangkat!", jawab Fai salting.


"Ntar? jam berapa ini Fai?", Abah mengetuk-ngetuk jam tangan yang ada di pergelangannya.


Wajah Fai pun mendadak pias.


"Iya, bah. sebentar lagi berangkat!"


"Nggak perlu!", sahut Abah ketus.


"Maksud Abah?", tanya Fai bingung. Aziz pun tak kalah bingungnya.


"Kamu tahu, pengajar kan harusnya ngasih contoh ke anak didiknya. Kamu, jam segini belum berangkat?", tanya Abah.


"Bah, kan nanti Fai mulai ngajar jam sembilan. Masih cukup waktu kok bah!", Fai memberi alasan.


"Banyak alasan! Mulai sekarang, kamu nggak usah lagi ngajar di sekolah. Urusi saja showroom kamu tuh!"


"Bah....!", kata Fai.

__ADS_1


"Abah akan mengurus ke bagian administrasi."


"Nggak bisa gitu dong bah! Fai kan....!"


"Keputusan Abah sudah bulat! Pokoknya kamu berhenti mengajar di sana, dan...Abah akan segera mempercepat pernikahan kamu sama Mika!"


"Ya ampun bah....!", Fai lesu menghadapi abahnya. Dulu, dulu sekali.... beberapa tahun yang lalu. Abah pun seperti itu. Memaksa ku agar mau belajar di ponpes tempat teman Abah. Hasilnya? Begini lah seorang Fai!!!!


"Maaf bah, bukannya mau ikut campur. Tapi...Abah pengen kan suatu saat Fai mau mengurus yayasan pendidikan Abah? Makanya waktu itu Abah masukin Fai ke pondok?", Aziz mencoba mencari celah di antara keduanya.


Meskipun Fai adalah sahabat yang menyebalkan, tapi Aziz tahu kalau Fai senang dan nyaman dengan profesinya sebagai tenaga pendidik tidak hanya sebagai bisnisman.


"Awal begitu Ziz! Tapi lihatlah, kelakuan sahabat mu semakin ke sini semakin menjadi. Apa pantas jebolan ponpes kaya begitu? Hobi banget nggrecokin rumah tangga temen nya sendiri."


Owh....Abah... ternyata Abah berpihak padaku., batin Aziz.


"Iya sih bah, aziz juga kadang nggak habis pikir. Kok bisa lulusan ponpes kaya begitu ya, pasti kyai nya malu ya bah!", Aziz malah mengompori Abah.


"Iya Bah, barusan aja minta bekel sama mbak Dian lho bah. Katanya mas Fai kangen masakan mbak Di", celetuk Imah tanpa rasa berdosa.


Ya ampun Imah....kagak usah di bilangin juga kali, Fai meremas wajahnya sendiri.


"Fai bilang gitu Imah?", tanya Abah menekan kan celetukan Imah.


"Bener Bah, tuh lihat...niat banget mau minta bekel ke sini. Katanya Umi nggak pernah masak!"


"Imah.....!", teriak Fai. Diaz yang digendong Imah malah tertawa sambil bertepuk sebelah. Seolah-olah apa yang di depan nya adalah tontonan yang menarik bagi seorang bayi bernama Diaz itu.


"Astagfirullah Fai, kamu udah tua Fai! Kelakuan mu bikin Abah malu aja sih. Kalau kamu mau minta sarapan selain ke umi, ngapain harus ke Dian. kenapa nggak ke Mika aja? Mika yang calon istri mu, bukan Dian!"


"Iya bah. Beneran tuh, segera nikahin aja si Fai bah. Otaknya udah konslet bah, mesum Mulu. Liat Aziz sama Dian mesra dikit, otaknya traveling tahu bah!"

__ADS_1


Ucapan Aziz membuat Fai kesal, di rangkul nya bahu sang sahabat. Tapi bukan rangkulan persahabatan, melainkan.... cenderung mencekiknya dari arah samping.


Hekkk....


"Lo mau bunuh gue Fai!", kata Aziz yang merasa lehernya tercekik.


"Iya! Ngomng aja terus!", ancam Fai.


"Oke...gue diem. Puas Lo!", Aziz membenarkan kaosnya. Abah melirik ke leher Aziz.


Pantas aja otak Fai treveling, liatnya kaya begitu. Semoga saja Fai nggak bayangin 'nganu' sama Dian, batin Abah.


"Ambil mobil mu, kita pulang. Langsung ke rumah Umar."


"Ngapain ke rumah papa Bah?"


"Kita rencanakan secepatnya,kapan kanu dan mika menikah. Cukup kamu gangguin rumah tangga sahabatmu! Abah duluan, Abah tunggu di sana. Assalamualaikum!"


"Walaikumsalam."


Fai merangkul sahabatnya lagi.


"Puas Lo hah!", lagi-lagi Fai seperti mencekik Aziz. Aziz malah tertawa tertahan.


"Udah, terima aja keputusan Abah. Bener kok kata Abah!"


Uhuk...uhuk....Aziz sampai terbatuk-batuk.


"Ngapain kalian peluk-pelukan begitu?",tanyaku heran sambil melihat dua lelaki masa depan dan masa laluku.


"Ini nggak seperti yang kamu pikir Di!", kata Fai segera melepas pelukannya.

__ADS_1


Imah dan Mika hanya menahan tawa nya saja.


__ADS_2