Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 151


__ADS_3

"Eh, cucu umi dateng!", umi heboh dengan kehadiran Diaz di rumah Abah. Tak ayal, pipi gembul Diaz di hujani ciuman oleh uminya Fai.


"Iya Umi!", kataku mewakili Diaz .


"Kapan datang sih? Kenapa nggak bilang-bilang. Tau gitu kan umi masak yang enak-enak."


"Umi bisa aja, emang kami ke sini mau minta makan!", kata Aziz cemberut.


"Dulu kan iya Ziz, kalau ke sini kamu pasti makan."


Mas Aziz terlihat cengengesan.


"Abah sama Fai kemana Mi?"


"Lagi pergi, paling bentar lagi pulang.Diaz sama umi ya....??!!", umi meminta Diaz dari gendongan ku.


"Hati-hati umi, ntar encoknya kambuh. Diaz udah aktif banget lho!", kata Fai yang tiba-tiba datang bersama Abah.


"Aishhh... bukannya ngasih salam dulu."


"Eh, iya. Assalamualaikum!", kata Fai.


"Walaikumsalam!", jawab kami.


"Balik sendiri? Abah mana?", tanya umi.


"Kerumah Papa!"


"Owh ... kenapa kamu nggak ikut ke sana?"


"Ngapain Umi. Besok juga ke sana", jawab Fai sedikit ketus.


"Kamu lihat Ziz, sahabat kamu ini. Nggak sopan sama uminya."


"Apaan sih umi? Nggak sopan gimana?"


"Nah itu, ditanya gitu aja di jawab ketus. Nggak sopan kan namanya?"


"Ih...umi mah baperan!", kata Fai. Sambil mendekati uminya.


"Gimana ngga baper, anaknya umi ketus begitu. Ya Diaz ya???!"


Aku dan mas Aziz menonton interaksi antar ibu dan anaknya yang sudah beranjak tua....


"Sini, sama Papa Fai ya Diaz!", Fai langsung mengambil Diaz dari umi.


"Tuh kan...asal ngambil aja! Di kira boneka apa!"


"Ah, umi bawel deh sekarang. Mentang-mentang ada Aziz sama Dian!", kata Fai sambil menimang Diaz yang tertawa riang.


"Untung aja kamu nikahnya sama Aziz yang Dian. Bukan sama Rifai!", kata umi.


"Kok umi ngomong gitu? Fai batal nikahin Dian kan gara-gara Abah sama umi juga!", kata Fai yang merasa panas dengan ucapan uminya.


Ehemmmm! Aku berdehem untuk mengingat kan Rifai. Dan sepertinya mas Fai langsung menyadari nya.


"Ya udah deh, sama ayah dulu ya nak ya. Papa mau ganti baju!", kata Fai mencoba menyerahkan Diaz pada mas Aziz. Tapi sayangnya Diaz tidak mau turun dari gendongan mas Fai.


"Lho....Diaz nggak mau sama ayah?", tanya AziZ.


"Nggak mau ya dek y? Maunya sama Papa Fai y?"


"Besok kalo udah sah, langsung tancap gas. biar Lo nggak ngaku-ngaku bapaknya anak gue!"


Aku dan ini hanya mampu menggeleng dengan kelakuan dua pria tampan itu.


"Ya udah, Lo temenin gue ganti baju!", titah Fai.

__ADS_1


"Dih! Na*is! Emang apaan!", kata Aziz.


"Ya lu jagain Diaz pas gue ganti baju. Kalau dia jatuh gimana? Emang boleh, kalo Dian yang nemenin gue?", ledek Fai.


"Gue sambit bener deh Lo!", tapi detik itu juga Aziz mengikuti langkah Fai menuju kamarnya.


"Eh iya Dian, ngomong-ngomong ada perlu apa ya ke sini? Ada perlu sama Abah atau Fai mungkin?"


"Nggak Umi. Malah ada perlu sama Umi."


"Sama umi, Kenapa?"


"Ini Mi. Dian mau balikin daster sama mukena yang Dian pake waktu itu."


Ku serahkan paper bag yang tadi sudah ku siapkan.


"Kenapa harus dikembalikan sih Dian. Umi ikhlas ko, itu masih baru semua. Belum ada yang pakai. Udah, buat Dian aja!"


"Bener mi?", tanyaku memastikan. Sebenarnya ngarep juga sih hihihihi


"Ya bener lah. Kamu udah umi anggap anak umi sendiri."


"Makasih Umi....!", aku merangkul bahu umi nya Fai. Umi pun mengusap tanganku.


"Andai saja Fai itu menikah sama kamu ya Dian!", kata umi pelan.


"Ya Allah umi, kenapa umi bilang begitu?"


"Fai...sudah tega sama kamu Dian."


Apa mas Fai sudah menceritakan semuanya sama umi?


"Tega apa sih Umi?"


"Tega ninggalin kamu, dulu sih."


"Kalau Fai bilang udah punya kamu, kami pasti nggak bakal maksa Fai ke sana."


"Ya udah umi, semuanya sudah berlalu. Tenang aja Mi. Calon menantu umi lebih cantik ,lebih pinter dari Dian lho Mi."


"Cantik kan relatif Dian."


"Iya. Tapi Mika itu selain cantik, dia juga gadis yang menyenangkan lho Mi."


"Memangnya kamu Deket sama Mika ?"


"Heum! Kami berteman baik Mi."


"Owh.... Alhamdulillah kalau begitu",umi mengisap pipiku.


"Siapapun jodoh mas Fai, umi doakan ya v terbaik ya Mi. Insyaallah, dokter Mika adalah jodoh terbaik yang Allah kirimkan buat mas Fai. Dian...cuma kepingan masa lalu Mas Fa'i."


Kami berdua masih saling berpelukkan.


"Kamu ikhlas Rifai nikah sama Mika?",tanya Umi.


Sebenarnya, banyak art yang dari tadi lalu lalang menyiapkan barang-barang yang di perlukan untuk acara pernikahan Fai dan mika besok.


"Ya ikhlas atuh Mi!", jawabku. Masih ada rasa sedikit di ujung Berung sudut hatiku. Kecil, sangat kecil. Sudut itu terisi oleh kenangan bersama mas Fai. Empat tahun saling mengenal, tiga tahun berpacaran. Tidak semudah yang orang bayangkan. Kan nggak ngapa-ngapain? Nggak sampe kebablasan juga kan? Tapi yang namanya hati? Siapa yang mampu menebak nya?


"Makasih ya Dian. Sudah mau memaafkan Fai. Dan...kalian masih bisa bersilaturahmi dengan baik."


"Insyaallah kami tetap berteman baik."


Umi pun semakin erat memelukku.


******

__ADS_1


"Lo sengaja ke sini?", tanya Fai di sela-sela mengganti pakaian nya.


"Bisa iya. bisa nggak!", jawab Aziz sambil membiarkan Diaz bergulang guling di atas kasur Fai.


"Absurb!"


"Kita dari kantor. Demi Lo ya, yang harusnya jadwal pertemuan nya tuh besok. di undur lagi."


"Ah...kalian emang de bes!"


"Basi Lo!", sahut Aziz.


"Eh, ngomong-ngomong apa gue harus hafalin teks ijab qobul nya ya?!"


Fai mengambil kertas yang tadi abah kasih.


"Hafalin lah. Awas aja kalau sampe salah nyebut nama. Keceplosan nyebut bini gue. Gue habisin Lo!"


"Insyaallah...gue nggak janji!"


"Eh, dasar sengak Lo?!",umpat Aziz.


"Gue nggak nyangka sumpah, kenal aja baru kemarin. udah mau gue nikahan Njirrr....!"


"Itu namanya takdir!"


"Hehehe iya ya. Mana kita senasib pula. Si mika, cinta nya bertepuk sebelah tangan sama si Damar temen kita sendiri. Nah gue? Cinta gue juga, cinta gue di embat sama lo. Teman gue juga. Kan apes kuadrat namanya?!"


"Apes dari mananya? Yang ada Lo berdua beruntung. Sama-sama merasakan cinta yang tak sampai. Makanya, berusaha lah buat saling menjaga perasaan."


"Iya... insyaallah!",sahut Fai.


"Lo mau tahu rahasia gue buat bikin bini gue seneng ga?"


"Maksudnya?", Fai bingung.


"Otak Lo kan demen traveling noh, gue mau kasih tahu rahasia gue. Kenapa Dian demen banget kalau gue ajak begituan!"


"Anjayyy!"


"Mau nggak? Kalau mau, besok bisa langsung Lo praktekin sama Mika. Tapi ingat ya, jangan berimajinasi bini gue?!"


"Apaan sih...????," Fai makin penasaran.


Lalu Aziz membisik kan sesuatu di telinga Fai. Hal itu membuat Fai melotot.


"Biasa aja kali !" kata Aziz meraup wajah sahabat nya .


"Yakin Lo?", tanya Fai.


"Ya iyalah. Gue udah buktiin!"


"Nggak ah. Gue aja belum kenal banget sama Mika!"


"Ye...tapi kan besok di halalkan !"


"Ya udah deh, gue coba!"


"Nah, gitu dong!", Aziz menepuk bahu sahabatnya itu.


****


Mas Aziz bisikin apa sih? Jadi penasaran!


Jangan-jangan ngajarin Fai yang enggak-enggak lagi 🤔🤔🤔


Eits....jangan lupa Al Kahfi ya, jangan cuma baca novel doang 🤗🤗😁😁

__ADS_1


__ADS_2