Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 172


__ADS_3

Sepasang pengantin baru sedang menikmati kebersamaan di balkon kamar. Mereka berdua masih sama-sama belum mulai bekerja.


Fai duduk bersandar, sedang Mika tiduran berbantalan paha suaminya.


"Mas, tadi kamu udah telpon mas Aziz?"


"Udah, tapi Dian yang angkat. Aziz nya lagi solat!".


"Tapi bilang kan, kita mau ke butik buat fitting baju?"


"Huum. Udah sayang!", kata Fai sambil asik membaca tabloid bisnisnya.


"Mas....!", panggil mika lagi.


"Kenapa sayang?!"


"Habis dari butik, kita main ke Dian yuk!"


"Ngapain? Kan kita juga ketemu di butik!"


"Emang Dian ikut?"


"Iya. Mereka ada di kantor DWP, Dian kan CEO DWP yang baru."


"Oh...jadi yang papa bilang ada acara penting tuh ini, perkenalan Dian ke rekan bisnisnya?"


"Iya mungkin. Papa nggak bilang sama mas!"


"Ya udah mas, kamu bantu papa aja di kantor. Lagian, kamu kan nggak tiap hari ke showroom."


"Mika sayang, kalau mas mau kerja di kantor mah tinggal kerja aja di kantor Abah. Apa bedanya coba? Sama-sama punya orang tua kita kan?"


"Emang kalau showroom punya mu pribadi?"


"Dulu punya om Salman. Tapi dia udah nggak mau nerusin. Dia milih balik ke solo. Jadi, Abah ambil alih terus mas yang ngurusin. Intinya, masih punya Abah juga kan?"


"Tapi... kalo bukan buat kamu mas, buat siapa lagi coba? Kan anaknya cuma kamu!"


"Iya...tapi selama Abah masih bisa sendiri ya nggak apa-apa lah. Toh mas juga bisa penuhin kebutuhan istri mas kan? Kebutuhan....!"


"Lahir dan batin!", mika menimpali sambil mengusap pipi suaminya.


"Nggak usah mancing kenapa?!"


"Setdaaah....mancing apa sih mas????"


"Kamu tuh yah bikin gemes tahu nggak!"


"Tahu...lah....!"


"Dasar...pede nya luar biasa!"


"Eh...pede itu penting lho mas!"


"Iya lah, mas juga tahu itu."


Mika cengengesan, dan Fai mengusap kepala istrinya yang sedang tak berhijab.


"mas tahu nggak...?!"

__ADS_1


"Nggak!", langsung dijawab 'Nggak' oleh Fai. padahal mika belum selesai bicara.


"Iiih...mas Fai mah....!"


"Hehehehe iya apa sayang???!"


"Aku nyesel kenapa dari dulu aku nggak kenal kamu, kita baru ketemu dan nikah sekarang!"


Fai menatap wajah istrinya itu.


"Kok kamu bilang kaya begitu sih mika? Ini semua kan memang rencana Nya."


"Iya...iya...bukan nyesel yang gimana-gimana mas. Jangan salah sangka!"


"Terus apa dong maksud omongan mu barusan?"


"Ya...andai saja kita ketemu dari dulu, menikah dari dulu...mungkin kita nggak perlu melewati fase ini."


"Fase apa sih Mika?",tangan Fai mengusap kepala mika lagi.


"Fase dimana kita patah hati! Dan...fase...saat kita ingin melupakan seseorang...."


"Sssst.. jangan bicara seperti itu lagi. Anggap saja, semua ini pelajaran yang bisa kita ambil untuk masa yang akan datang."


"Kenapa bisa begitu?"


"Iya lah. Kita pacaran setelah menikah. Kita bisa bebas melakukan apa pun karena kita di ikat oleh hubungan yang sah. Kalau kita berantem, nggak usah merajuk bilang 'udah ah kita putus'.


Iya kan?"


"Iya sih mas....!", Mika memeluk pinggang suaminya, otomatis wajahnya menempelkan di perut Fai.


"Kamu mau manja kaya apa juga mas dengan senang hati memanjakan mu Mika!"


"Hahahah nggak usah ngeres! Udah, kita siap-siap ke butik Tante Farah! Kasian Aziz sama Dian kalau sampe kesana duluan nungguin kita!"


"Iya, aku pake jilbab dulu ya!"


"Iya nyonya. Mas tunggu di bawah ya?!"


"Iya mas!!!"


Fai pun turun terlebih dahulu menuju garasi. Setelah beberapa saat, mika pun turun.


"Sayang....!", panggil mika.


"Kenapa yang?", Fai menengok ke arah Fai.


"Naik motor aja ya mas."


"Jangan Mika, ini panas banget. Nanti kamu kepanasan!"


"Iiih... suamiku sweet banget sih ah....!", Mika menowel pipi Fai. Di perlakukan seperti itu membuat pipi Fai memerah.


"Tapi aku pengen naik motor, buat romantis. Bisa peluk-peluk kamu dari belakang. Ya mas ya????"


"Dari kemaren juga bisa peluk-peluk mas kan Mika???!"


"Ah...mas Fai mah...ayolah...mika mau naik motor!"

__ADS_1


Fai hanya sanggup mengiyakan permintaan istri nya itu.


"Iya...iya...tapi pakai jaket ya! Panas! Terus itu, ganti heels nya pake sepatu kets. Biar kakimu nggak belang!"


"Aduh ...Tuan besar segitunya memperhatikan Mika....ah ...jadi semakin cinta deh!!!!" mika kembali mencubit pipi suami nya lalu beranjak ke dalam rumah untuk mengganti sepatu dan memakai jaket.


Mika ...sikap mu yang kaya gini nih, malah bikin susah lupakan Dian. Naik motor? Bahkan selama empat tahun bersama Dian, kemanapun aku pergi selalu naik motor. Benar katamu, biar romantis. Bisa peluk-peluk dari belakang. Ah. ..otak...otak...mikir apa sih! Udah, Lo udah lupa sama cinta Lo ke Dian. Lo cuma wajib mencintai istri Lo. Mikayla!


Mika pun datang ke garasi dengan memakai sepatu kets nya dan jaket jeans nya.


"Sudah siap nih kang ojek ganteng!", ledek Mika.


"Siap nyonya! Jangan lupa bayarannya di lebihin ya!"


"Lebihin pake apa?", tanya mika.


"Pake pelukan yang kenceng!", sahut Fai.


"Ah...kang ojek ganteng bisa aja. Jangan kan pelukan, lebih dari itu juga ikhlas saya mah.....!"


Kami tertawa bersama-sama. Setelah itu, mika naik di belakang ku.


"Siap nyonya Rifai?", tanya Fai.


"Siap pak suami!", jawab Mika.


Dan motor pun melaju perlahan keluar dari kompleks rumah mewah itu.


Di sepanjang perjalanan, Mika tak melepas sedikit pun pelukannya dari punggung sang suami. Mereka bercerita tentang banyak hal. Sesekali tertawa bersama, sesekali juga berteriak karena tak mendengar ucapan satu sama lain.


Tak terasa motor sudah mendekati butik yang di tuju. Motor Fai berhenti di traffic light perempatan dekat butik.


Saat menengok ke sisi kiri, Fai melihat mobil Aziz. Yang pertama kali ia lihat adalah Dian. Dian sedang memangku Diaz yang tertidur pulas. Wajah mika yang terlihat cerah memakai jilbab pink, terlihat semakin cantik. Matanya tak beralih sampai akhirnya kendaraan di belakang memberi klakson padanya.


Motor Fai pun mendahului mobil Aziz.


Dan tanpa sengaja...ku lihat motor yang baru saja menyalip kami. B 5492 DS. Itu motor mas Fai kan?


Mas Fai naik motor berduaan dengan mika?


Kenapa ingatanku kembali ke masa itu? Nggak , aku nggak boleh ingetin kenangan ku bersama mas Fai. Itu semua hanya masa lalu!


"Dek, kita mau makan dulu nggak?"


Aku terdiam, tak mendengar ucapan mas Aziz. Lalu mas Aziz menepuk bahu ku.


"Dek...!"


"Ah...iya mas Kenapa?"


"Kamu bengong?"


"Iya, inget tadi aja." Aku memasang senyum ku.


"Owh ..tadi mas nanya, kita mau makan dulu nggak?"


"Ntar aja di butik mas."


"Owh ..ya udah deh!"

__ADS_1


*****


Gimana reaksinya Dian dan Fai ketemu di butik ? Fai sama mika mau fitting baju pengantin lho Dian....jangan ada drama cemburu ya???!!!!


__ADS_2