
Hari yang di tunggu oleh keluarga besar Nugraha pun tiba.
Pernikahan Imah dan Dadan akan dilangsungkan pagi ini. Imah yang notabene adalah cucu dari keluarga Nugraha memilih untuk menikah secara sederhana. Tidak di gedung yang megah, tidak pula di hiasi dengan pelaminan berdekorasi indah.
Imah dan Dadan memutuskan hanya akan melangsungkan akad nikah, tanpa pesta. Itu sudah menjadi kesepakatan mereka berdua. Mama Farah berusaha membujuk Imah agar mereka mau melangsungkan resepsi, tetapi usahanya selalu gagal. Dua orang berbeda suku itu, memiliki konsep yang sama 'sederhana namun sakral'.
Sederhana? Kaya warung makan di perempatan kota saja....✌️😁
"Masyaallah...adekku cantik banget!", puji ku pada Imah yang baru saja selesai di make over oleh MUA. Gadis hitam manis dan tinggi semampai itu tampak 'pangling' dengan polesan make up. Imah memang sudah cantik alami, dia bahkan tidak pernah menyentuh make up selain bedak bayi dan liptin.
"Makasih mbakku....tapi mbakku tetap yang paling cantik!", justru Imah yang memuji ku. Hari ini, aku memakai baju sarimbit dengan mas Aziz. Kebaya warna ungu muda, sedang mas Aziz kemeja lengan panjang dengan warna senada.
"Aku deg...deg...Leh mbak. Piye Iki??.", tanya Imah gugup.
"Tarik nafas.... hembuskan! Lakukan berulang-ulang, sampai kamu merasa tenang. Bismillah, semoga di lancarkan semuanya."
Aku mengusap bahu Imah.
Sekilas aku melirik Hayu yang sedang menyuapi Faiz yang tak jauh dari tempat Imah duduk. Hayu seperti salah tingkah menyadari keberadaan ku.
"Dek, ajak Imah jalan. Kang Dadan udah nunggu di masjid", seru mas Aziz dari luar kamar. Mas Aziz tak berani menatap siapapun selain aku.
"Mas...kamu nggak mau muji adikmu yang cantik Iki Tah?", tanya Aziz. Aziz pun melihat Imah sebentar.
"Iya, Imah kamu cantik banget. Pasti kang Dadan bakal terkesima dengan kecantikan mu hari ini", puji Aziz kepada adiknya itu.
"Muji nya Ndak tulus toh?", ledek Imah.
"Di puji salah, nggak di puji minta! Dasar Jawir!", mas Aziz menowel hidung Imah.
"aw...jangan mas, ntar bedak nya luntur...aku jelek lagi dong....!", rengek imah.
Aku dan Imah berdiri di depan pintu. Mbak MUA dan Hayu serta dua orang temannya duduk bersimpuh di dekat kasur Imah.
"Bedak mahal mah nggak luntur Mah!", ucap Aziz.
"Kita jalan sekarang?", tanyaku.
__ADS_1
"Iya."
Aku menengok ke arah Hayu dan yang lain.
"Mbak Hayu, kami jalan duluan ya. Nanti mbak Hayu sama Faiz di jemput pakai mobil yang lain ngga apa-apa kan?", tanyaku.
"Iya mbak. Nggak apa-apa. Faiz juga belum selesai makannya", jawab Hayu .
Aku dan mas Aziz menggandeng Imah di lengan kanan kirinya.
"Susan men Yo... nganggo ngene iki? Mlakune angel tenan!", celetuk Imah.
(Susah amat ya pake beginian? Jalan nya sulit banget)
"Sekali seumur hidup Mah!", ucap Aziz.
Imah menatap kakak sepupunya itu. Tiba-tiba ia memeluk Aziz.
"Eh, kenapa ini?", tanyaku. Bukan karena aku cemburu Imah memeluk suamiku, tapi Imah kenapa?
"Kamu kenapa sih Mah?", tanya Aziz tanpa melepas pelukannya.
"Sstttt....kamu nangis begini nanti bedak nya luntur lho." Aziz melepaskan pelukannya dengan Imah. Aku jadi terharu melihat kedekatan mereka berdua.
"Katamu bedak mahal nggak luntur mas?", tanya Imah.
"Ya udah, ayo cepetan berangkat. Kasian kang Dadan nunggu kelamaan."
Aku ,mas Aziz dan Imah masuk ke mobil ku. Fai dan Mika sudah ada di mobil Fai bersama Diaz dan Mama.
Ada Damar yang sengaja menunggu Hayu keluar dari kamar Imah.
"Kamu yakin kalau mbak Hayu mau jalan sama kak Damar mas?", tanya Mika pada Fai.
"May be yes!", sahut Fai.
Rombongan pengantin pun keluar dari rumah Aziz. Kini tersisa Hayu dan Faiz yang sedang mengunci pintu penghubung kios dan rumah. Langkah Hayu terhenti saat ia melihat hanya mobil damar yang tersisa di sana.
__ADS_1
"Umi, apa kita naik mobil om itu?", tanya Faiz sambil menarik-narik gamis Hayu.
"Kita....!", ucapan Hayu terhenti.
"Iya Faiz , kita naik mobil om ya? Mobil yang lain udah penuh!", bujuk damar sambil melirik Hayu.
"Ngga usah mas, kami bisa naik taksi", sahut Hayu ketus.
"Jangan umi, nanti kita nggak liat pengantin dong", rengek Faiz.
"Iya Stev...."
"Hayu!"
"Iya... maksud ku, Hayu. Kita naik mobilku saja. Biar lebih cepat sampai." Damar masih berusaha membujuk Hayu. Sayang nya penolakan Hayu berujung sia-sia.
Faiz sudah terlebih dulu masuk ke mobil sedan Damar.
"Ayo om, kita berangkat!", kata Faiz semangat.
"Lihatlah Hay, Faiz sudah masuk ke mobil!", kata Damar.
Mau tidak mau, Hayu pun mengikuti langkah Damar menuju mobilnya.
"Umi, umi di depan sama Om....?", Faiz bertanya nama Damar mungkin.
"Om Damar ,Faiz!", jawab Damar.
"Oke. Umi nemenin om damar di depan, Faiz pengen di belakang sendiri", celoteh Faiz.
Kali ini, aku kalah lagi oleh Faiz. Aku duduk di samping Damar yang siap dengan kemudinya.
Usai menutup gerbang, mobil kami pun melesat meninggalkan rumah Aziz.
Ada rona bahagia di wajah Damar. Meskipun terpaksa, setidaknya ini sebuah kemajuan. Ia bisa duduk di samping Hayu. Mungkin... kedepannya nanti , hubungan mereka bisa di perbaiki. Dan...berlanjut.
"Hay....aku...!"
__ADS_1
"Aku tidak ingin bicara apa pun tentang masa lalu kita mas. Ada Faiz!", kata Hayu dengan wajah datar nya.
Niat hati ingin menyampaikan maaf, damar urungkan sampai akhirnya mobil mereka pun sampai di masjid tempat Dadan dan Imah melangsungkan akad nikah.