Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Masa Lalu Dadan


__ADS_3

Hari Minggu, kios buka agak siang. Usai sarapan ia memasuki kamarnya. Melihat bayi mungilnya yang menggeliat menggemaskan. Dengan cepat ia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia tak ingin lama-lama ingin menyentuh titisan nya itu.


Kini, pria tampan itu sudah rapi dengan kaos berkerah dan celana selutut. Buru-buru ia menghampiri bayi lelakinya. Dia heran, kenapa Dian meninggalkan Diaz disaat dia sudah bangun, kemana Dian pergi.


"Sayang ayah, mmmmhhh....", tak henti-hentinya ia mencium putranya itu. Sebenarnya dia ingin menggendong nya, tapi dia takut. Takut salah pegang yang ada nanti anaknya kenapa-kenapa.


"Lho mas, Diaz sudah bangun? Pasti kamu yang bangunin ya?", dian menghampiri Diaz sambil mengangkat dari box bayinya.


"Enak aja ya enggak lah, kamu yang dari mana dek. Ninggalin Diaz."


"Aku ke meja makan mas, beresin bekas makan mu tadi."


"Ya udah sih, Diaz kan anak pinter. Nggak nangis inih lah."


"Iya mas."


"Kamu seger banget mas?", aku mengendus parfum khas dari tubuh suamiku.


"Seger lah, apalagi ditemenin dua orang yang sangat aku cintai ini."


"Oh iya mas, udah pedekate sama kang Dadan?Apa informasi yang mas dapet dari dia?"


"Gimana ya dek."


Mas Aziz menjatuhkan bobotnya disampingku.


"Apa nya yang gimana?"


"Dadan pernah menikah sama orang yang kita kenal."


"Hem? Masa sih?"


"Kamu pasti nggak nyangka dek."


"Emang siapa? Ya bagus dong kalo kita kenal."

__ADS_1


"Masalahnya...."


"Apa?", aku masih penasaran dengan kalimat mas Aziz yang berujung menggantung.


"Febyna Maulida. Ulat bulu versi nya Imah dek."


"Hah? Masa sih? Kayanya nggak mungkin deh mas."


"Mas juga awalnya nggak percaya dek."


"Memangnya, mas liat buktinya kalau kang Dadan pernah menikah sama Feby? Kayanya nggak mungkin banget deh mas. Maap...maap ...kata ya mas, mereka itu kontras banget. Liat aja gimana glamornya mbak Feby."


"Maap...maap...kata ,kaya pemain sitkom aja kamu dek. Beneran ketularan Imah ini."


"Heheh...iya, lanjut dong ceritanya."


"Kata kang Dadan...waktu mereka kuliah, Feby pernah hamil sama pacarnya. Tapi, pacarnya nggak tanggung jawab. Nah, emaknya kang Dadan itu art di rumah Feby. Karena selama ini mereka merasa berhutang budi sama keluarga Feby, emak meminta kang Dadan buat nikah sama si Feby. Mas lihat kok foto mereka."


"Kang Dadan masih nyimpen foto pernikahan mereka?"


"Terus...."


"Tapi, setelah Feby melahirkan, Dadan diminta bercerai. Anak itu justru disuruh ikut Dadan, emaknya juga dipecat jadi art."


"miris....", gumamku.


"Setelah Dadan resmi cerai, Dadan buka warung soto mie itu. Dibantu sama emaknya. Dadan udah terlanjur sayang sama anak tirinya dek katanya", mas Aziz mendesah.


"Baik banget ya kang Dadan. Ternyata ada yang kisahnya lebih miris dibandingkan aku. Hah...mungkin aku yang terlalu mendramatisir", ucapku pelan. Tapi aku yakin, mas Aziz masih menangkap ucapanku.


"Dek, tolong maafin mas ya?", ucapnya sendu.


"Maaf untuk apa?"


"Mas sudah pernah menyakiti kamu."

__ADS_1


"Sudah kumaafkan mas. Cuma...nggak akan mungkin bisa lupa hal menyakitkan itu."


"Iya, mas paham. Bahkan ,mas orang paling beruntung. Mendapatkan kesempatan kedua dari istri sebaik dan sesabar kamu."


"Sabar sih sabar...tapi nggak usah ndusel-ndusel gitu. Diaz lagi ***** ini".


"Oops...maaf sayang. sekarang puas-puasin deh ya sayang, nanti kalau udah giliran ayah kamu jangan reseh ya." Mas Aziz menowel pipi Diaz dengan gemas.


"Mulai kan???", candaku. Mas Aziz hanya cengengesan.


"Oh iya, Imah udah tahu masa lalu nya kang Dadan?"


"Mas rasa belum, biar Dadan sendiri ah yang nuampein. Biarpun mas suka iseng sama bocah Jawir itu, tapi kayanya mas nggak sanggup ngomong nya. Bukan apa-apa, mas takut kalau dia nanya pake basa planetnya dia yang mas nggak tahu."


"Mas.... aku serius ini", ku cubit perut nya yang kini mulai mengendut.


"Hehehe, iya sayang....mas ga mau ngomong itu sama Imah, udah itu mah urusan kang Dadan sama si Jawir."


"Mas, ngomong-ngomong itu perut makin tebel deh? Mana kotak-kotak nya?", aku pura-pura mengamati.


Mas Aziz memang sekarang terlihat lebih berisi, berbanderol terbalik dengan ku yang makin kurus pasca melahirkan.


"Ohh...iya. Itu dek, portal nya udah lepas. Jadi harap maklum, semuanya bermuara disini."


Kini justru mas Aziz yang menepuk perutnya sendiri.


Aku tertawa terpingkal-pingkal. Bagiamana tidak, beberapa bulan yang lalu priaku ini sangat memperhatikan bentuk tubuhnya. Perut kotak, lengan berotot dan sekarang...sedikit mengendur dan mulai timbul lemak di perutnya. Tapi, tidak mengurangi kadar ketampanannya. Mungkin, selain dia merasa bahagia sudah punya anak juga faktor usia. Dia sudah mendekati usia tiga puluh empat tahun.


Eh... ngomongin usia, kayanya sebentar lagi mas Aziz ulang tahun deh. Aha... aku punya ide, aku bakal ngerjain dia.


Aziz menatap istrinya penuh cinta, setelah sekian purnama dilalui, akhirnya Allah mengembalikan Diandra yang dulu. Yang selalu ceria dan bawel. Bukan Dian yang terpuruk saat masalah melanda keluarga kami.


"Mas, bantu Imah aja sana. Kasian lho kalo dia kerepotan."


"Iya, ya udah ya...mas kedepan dulu."

__ADS_1


Mas Aziz mengecup puncak kepalaku dan juga pipi Diaz. Alhamdulillah, rejeki bukan hanya soal uang. Merasa bahagia saja sudah merubah rejeki yang tak ternilai harganya.


__ADS_2