
Malam pun tiba....
"Mas, di rumah ada mika sama mas Fai."
Dengan malas, Aziz pun bangkit dari bangkunya.
"Mbak Hayu, saya tinggal dulu ya."
"Iya mas."
Hayu pun menatap punggung bosnya itu.
Pandangan Hayu beralih ke arah lain setelah punggung Aziz benar-benar sudah tak terlihat.
Ya Allah ,Hayu! Jaga pandangan mu! Jangan berpikir yang macam-macam. Dia itu bos mu! Kurang baik apa Dian sama kamu Hayu! Cukup! Kamu cukup mengagumi Aziz dalam hatimu! Jangan biarkan dia tumbuh, dan merusak kepercayaan mereka padamu.
Astagfirullah hal adzim, ampuni hamba ya Allah.Batin Hayu.
Di ruang tamu....
"Diaz nempel terus sama kamu ya mas?", tanya mika.
"Iya lah, om nya kan ganteng!", kata Fai dengan penuh percaya diri.
"Iya iya... aunty nya juga cantik kan mas?"
"Iya lah cantik, masa ganteng sih?"
Ehem....!
suara deheman Aziz terdengar seperti peringatan keras bagi seorang Fai.
"Masih ngambek aja sih bro. Udah di jelasin juga."
"Siapa yang ngambek!", sahut Aziz ketus.
"Nah, itu apaan kalau nggak ngambek!"
Aku datang membawa nampan berisi minuman untuk kami berempat. Tumben sekali Diaz belum tidur jam segini. Mungkin efek dari imunisasi yang membuat diaz sedikit tidak nyaman. Tapi dari tadi di pangkuan mas Fai, Diaz anteng aja.
"Siniin anak gue!"
"Ini juga anak gue bro!", kata Fai sambil menyerahkan Diaz ke Aziz.
"Makanya bikin, biar punya anak. Jangan anak orang di akuin!"
"Ih, makin tua makin baperan aja sih nih bapak-bapak!"
"Biarin!"
"Dian, Diaz nggak demam kan habis imunisasi tadi?",tanya mika.
"Alhamdulillah nggak, cuma sedikit rewel. Mungkin berasa kurang nyaman aja. Buktinya jam segini belum bobo. Biasanya mah udah!"
"Syukurlah kalo begitu."
"Ziz, gue sama mika ke sini mau minta tolong. Lo berdua sama Dian, ikut acara lamaran di rumah papa nya Mika ya? Lo berdua kan spesial. Jadi, gue maunya ngomong langsung ke Lo. Jadi, Lo jangan merasa cemburu gara-gara di kira di kasih tahu belakangan."
"Iya!", sahut Aziz singkat.
"Dian, apa suami mu kurang sajen ya? kok tumben gitu?", ledek Fai.
"Bukan kurang sajen mas, mungkin belum di servis kali!", Mika turut menimpali candaan calon suaminya.
Benar-benar pasangan yang cocok!
"Terserah Lo berdua ah!"
__ADS_1
"Ya udah dong jangan ngambek. Oh iya, ini ada dress code buat kalian. Ini buat lho berdua, ini Imah sama Dadan, ini buat Diaz ,Farhan , dan Faiz. Dan ini buat Mama Farah." Fai menjelaskan satu persatu paper bag yang di bawanya.
"Nah, ini buat siapa Mika?," Fai bingung.
"Buat mbak Hayu mas."
Mika menunduk.
Mika menyiapkan juga buat Hayu?Batin Fai.
"Buat Hayu?", tanya Fai.
"Iya, dan...buat kak damar sudah ku berikan tadi pagi di rumah sakit."
"Owh....!", kata Fai.
"Mika?", panggil Aziz.
"Iya mas, kenapa?"
"Apa kamu sudah tahu tentang Hayu?"
"Iya mas , aku tahu. Bahkan aku tahu kalau ternyata mereka sempat punya anak diluar pernikahan mereka."
Mika memaksakan diri untuk tersenyum.
"Itu masa lalu mereka Mika, masa depan mu ada di samping mu. Hanya saja.....?!!", Aziz sengaja menggantung kalimatnya. Terus terang, aku merasa tidak enak kalau tiba-tiba omongan mas Aziz ini kurang enak di dengar.
Aziz mau ngomong apa sih? Batin Fai.
"Hanya apa sih mas?", mika penasaran dengan ucapan Aziz yang menggantung.
"hanya saja, kamu harus kuat mental. Punya suami kaya Fai ini. selain plin plan, dia juga pelupa."
Ah, lega. Kirain mas Aziz mau ngomong apa! Batinku.
Gue pikir, Lo mau ngomong macem-macem Ziz! Batin Fai.
Kenapa tebakan mika bener sih?????
Aku senyum sedikit, beda dengan Fai yang mendadak memasang wajah sok cool nya.
"Memang acaranya jam berapa?",tanya Aziz.
"Hari Rabu mas, bada ashar."
"Kok nanggung, biasanya malam kan?"
"Nggak, kita pengen beda aja. Biar malamnya, kita bisa makan malam bersama-sama." Mika menjawab dengan mantap.
"Masih lusa kan?", tanyaku.
"Iya", jawab mika.
"Soalnya Imah sama mama kan belum balik."
"Eh iya, ngomong-ngomong Imah kapan nikahnya? Nggak bentrokan kan?"
"Mungkin dua seminggu lagi. Yang penting surat-surat nya sudah lengkap. Mereka hanya ingin ijab qobul di rumah Dadan aja. Ternak keputusan nya begitu !", jawabku.
"nggak jadi sewa balai RW?", tanya Fai.
"Kayanya nggak."
"Owh...ya terserah mereka saja, kita tinggal dukung saja."
"Iyalah, emang Lo mau biayain?", celetuk mas Aziz yang dari tadi diam sambil mengusap-usap Diaz sampe tertidur.
__ADS_1
"Kalau Dadan mau mah nggak apa-apa Ziz! Dadan sama imahnya nggak mau. Dadan masih sanggup,kenapa nggak?"
"Alasan Lo!", sahut Aziz ketus.
"Ya udah Ziz, udah clear kan? Lo nggak ngambek lagi kan?", ledek Fai.
"Heum!",
"Kami pamit ya Dian, mas Aziz!", kata Mika.
"Iya. Hati-hati."
"Assalamu'alaikum!", pamit mika dan Fai.
"Walaikumsalam."
Kami mengantar mereka sampai teras. Mobil mereka pun meninggalkan rumah kami.
Mas Aziz masuk terlebih dulu, membawa Diaz ke kamar lalu menidurkan nya si box. Sedangkan aku membereskan meja ruang tamu dari gelas-gelas yang kami pakai tadi.
"Mbak Dian!", sapa Hayu dari pintu dapur.
"Eh iya, udah tutup ya mbak?"
"Iya."
"Lho, ada Faiz?", tanyaku.
"Iya Tante, tadi di anterin sama ustadz Zaki."
"Owh...gitu. Kebetulan mbak Hayu. Sebentar!"
Aku mengambil paper bag yang berisi baju hayu dan Faiz.
"Mbak, ini dress code buat acara lamaran mas Fai dan mbak Mika. Besok Faiz juga ikut ya, eh .. lusa bukan besok!"
"Saya...ikut mbak?", tanya Hayu.
"Iya, mika memberikan pakaian seragam ini buat mbak Hayu sama Faiz!"
"Tapi, kami kan....?!"
"Kalian kan keluarga kami, keluarga mas Fai juga!"
"Baiklah mbak, terimakasih!"
"Iya. Sama-sama!"
"Oh iya mbak, ini omset penjualan hari ini."
"Iya, mbak. Makasih ya."
"Sama-sama mbak. Assalamualaikum!"
"Walaikumsalam."
Setelah mencuci gelas, aku mengunci pintu gerbang dan pintu lorong samping.
Setelah memeriksa semuanya, aku masuk ke kamar. Mas Aziz sudah rebahan di kasur.
"Capek ya mas?", tanyaku.
"Iya, capek banget. Pengen di elus-elus bobonya."
"Manja deh....!"
"Iya nggak apa-apa kan?"
__ADS_1
"Iya, sini!"
Mas Aziz pun meletakkan kepalanya di pangkuan ku. Sampai akhirnya dia tertidur pulas .