Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Liburan


__ADS_3

"Mbak, bawa baju ganti ora Yo mbak? Imah Pengan naik itu lho....yang kapal nyebur."


Aku tersenyum menanggapi Imah.


"Bawa aja mah, sekalian sama baju renang. Bikini yang kaya di tipi itu. Ntar kita ke pantai Ancol. Kamu mau berendam apa berenang juga boleh." ledek Aziz.


"Mas ...hobi banget sih ngeledek Imah."


"Tau tuh pak bos. punya dendam pribadi ya mas ke Imah?"


"Lagian, kaya bocah kecil aja sih."kata Aziz lagi.


"Biarin....kan Imah emang belom pernah ke Ancol mas. Kalo boleh kan Imah mau nyobain semuanya."


"Sakarepmu!", kata mas Aziz ketus. Heran kenapa mereka berdua selalu bermusuhan. Meskipun cuma candaan, kalau orang yang tak akrab dengan mereka pasti omongan mereka di anggap serius. kalo di perhatikan...Imah dan Aziz punya kesamaan. Tapi apa ya? Pokoknya dari segi wajah, mereka pantas seperti kakak adik.


"Bekal sudah siap semua mah?"tanyaku.


"Sudah nyonya....", sahutnya .


"Semua sudah diperiksa mas? kios sudah dikunci? Barang-barang penting sudah masuk Brankas?" tanyaku memastikan. Ya...semua harus diantisipasi. Meski ada cctv, tapi mencegah lebih baik bukan?


"Sudah Bu bos!" jawab pak suami .


"Ntar mampir ke indopril ya mas." ujar Imah.


"Ngapain? Kan bekal makanan jajanan sudah kubeliin semalam."


"Anu....itu mas....Imah mau beli antimo. Ke Ancol kan jauh mas, Imah jarang najk mobil mbok mabok heheheheh.....".


"Ya ampun Imah ....", Aziz pun geregetan.


Meskipun tadi Aziz menjawab dengan geregetan, tetep aja mampir ke indopril.


"Kami turun sendiri ya mah. Kita tunggu disini. Awas, nanti jangan salah masuk mobil orang. Liat plat nomornya. Satu lagi jangan pake lama.....", titah mas Aziz.


"Mas...jangan galak-galak gitu ah....", ku elus pundaknya.


"Iya iya pak bos bawel....", canda Imah sambil keluar dari mobil.


Sesampainya di dalam indopril, Imah langsung menuju kasir.


"Mba...ada antimo?"

__ADS_1


"Ada mba."


"Satu ya mba, sama permen ini." Imah menyerahkan permen dan uang nya. Saat dia berbalik badan tiba-tiba dia menabrak seseorang.


"Eh...maaf...maaf....", spontan Imah mengeluarkan kata maaf.


"Kalo jalan lihat-lihat dong. Punya mata nggak sih?"


Pas Imah mendongak, dia melihat ternyata si cewe yang pake baju kurang bahan berada dihadapan nya.


"Ih...mbak yang salah kok. Saya juga udah minta maaf. Malah sewot."


"Kamu lagi, dasar bocah udik."kata lili.


"Situ yang udik, udah kurang duit apa gimana sih? Pake baju kurang bahan begitu? Ga takut masuk angin? Oh.... jangan-jangan .....", kata Imah berhenti ngomong.


"Ngatain gue kurang duit lagi, yang ada Lo tuh mau-mau an jadi kacung nya Dian tuh. "


"Ya biarin...yang penting halal week....udah ah males ngeladenin Mak lampir kaya situ."


Imah memalingkan wajahnya seperti sedang akting disinetron-sinetron.


"Ada apa sih sayang....", sapa seorang laki-laki yang sudah terlihat berumur menghampiri lili.


"Dih ..sayang? Hahahaha......", Imah terbahak-bahak.


"Lo ngetawain gue?" bentak Lili.


"Udah sayang, biar sih ga usah urusin bocah tengil begitu. Cakep sih....", kata si bapak tua itu.


"Ih...sayang...kamu gitu ah."


Imah yang menyaksikan bergidik ngeri melihat pemandangan itu. Lalu dia melirik mbak kasir seperti nya dia punya pemikiran yang sama ke lili.


"Mbak...mbak...kasir, anggap aja ga liat apa-apa ya." Si kasir hanya mengangguk dan melempar senyum.


"Apaan sih Lo cewek udik."


"Nggak, udah deh. ..saya sibuk. Udah ditungguin sama bos-bos yang baik hati. Takut ancol keburu tutup." katanya sambil melenggang.


"Dasar norak. Orang udik kagak pernah nginjek Ancol ya kaya gitu."


Setelah itu, Imah tak mendengar apapun lagi yang lili ucapkan.

__ADS_1


"Lama banget sih mah? Garing tau nungguin kamu doang!"


"Ya maap. Tadi tuh di dalam ,ketemu sama Mbak yang pake baju kurang bahan itu. Dia yang salah, malah dia yang sewot."


"Mbak yang mana Imah?" tanya ku.


"itu lho mba, yang di kios. yang masuk cctv itu."


"Lili?" gumamku.


"Masa ya mbak. Dia kan cantik, masih mudah kok sayang-sayangan sama bapak-bapak lebih tua dari bapakku malah mbak. Aneh ya hahahah....kaya ga ada cowok gitu. nyari pacar meh embah-embah ngunu."


"Masa sih mah?" tanya Aziz.


"Ehemmm...", aku berdehem.


"Apa sih dek....", kata Aziz.


"Gapapa. Kering tenggorokan ku. Bagi air mah, yang dingin. Tiba-tiba dadaku panas. " aku melirik suamiku.


"Mulai deh...." sahut Aziz.


"Mas kan cuma tanya sama Imah. Masa iya seorang lili mau sama om-om gitu. itu doang?!"


Imah yang duduk dibelakang hanya mendengar obrolan kedua bosnya itu. Dia menyerahkan botol minuman yang dingin pada ku.


"Maksud mu, kamu pikir selera Lili berubah gitu dari kamu terus ke om-om itu?"


"Buk...bukan...itu dek....", Aziz menggaruk-garuk kepalanya.


"Wis toh mbak...mas.... ga usah berantem. Masa model mba...mba...tadi, siap lili bikin mba Dian cemburu. Ga level lah mbak ku. Mana bisa sih dia di sejajarin sama peyan yang cantik, sopan salihah lagi." kata Imah berusaha melerai ku .


"Tapi kenyataan nya gitu Imah....buktinya mereka pernah...", aku hampir keceplosan.


Mas Aziz melirikku tajam. Yah... bagaiamana pun juga, biarlah ini menjadi rahasia keluargaku. Aku tak ingin menjatuhkan marwahnya di depan Karyawan nya sendiri.


"Pernah apa mbak? Pernah pacaran maksudnya? Ya itu kan masa lalu mbak. Wis Ra usah ndelok spion. Ndelok ae depan mbak. Nggaraih loro ati." ucap Imah. Meski aku tak paham betul bahasanya, tapi aku tau apa yang ingin Imah sampaikan.


Mas Aziz diam membisu, mungkin memikirkan apa yang baru saja terjadi. Sampai kapanpun , bagi siapa pun pasti tak akan pernah melupakan peristiwa menyakitkan seperti ini.


Andai kamu tahu mah, apa kamu bisa bicara seperti itu. Apalagi, kami tipikal orang yang mudah berapi-api menghadapi setiap masalah.


Sepanjang perjalanan ke Ancol, kami diam dengan pikiran kami masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2