
"Wan, besok kamu kumpulkan berkas-berkas yang di butuhkan. Aku akan menikahi Lili!", ucap Stevan pada asistennya.
"Siap bos. Tapi....!", kata asisten Stevan, Wawan.
"Tapi kenapa?", tanya bos nya.
"Maaf bos, bukankah Anda dan nona lili berbeda keyakinan?", jawab Wawan ragu.
Ya, Wawan benar. Bagaimana mungkin pernikahan ini dilaksanakan, jika di antara kami berdua tidak ada yang mengalah?
"Oke. Kamu tunda saja dulu. Kerjakan saja hal yang lebih penting!"
"Baik bos!"
Wawan pun meninggalkan ruangan bos nya.
Benar juga ya Wawan, aku tak berpikir ke arah sana. Hah! Lili...lili...aku akan mengikuti permainan mu.
Stevan menyungginggkan senyum sinisnya.
*****
Di rumah Aziz....
"Sayang....! Kamu masih marah?", tanya Aziz.
"Marah soal apa?", tanyaku pura-pura.
"Soal...aku bilang kalau kamu cemburu apa nggak Fai akan menikah?"
"Untuk apa aku marah mas!", aku melipat baju Diaz di ranjang ku.
"Alhamdulillah. Makasih ya sayang!", Aziz mengecup bahuku.
"Kios sudah tutup?", tanyaku.
"Sudah dek!"
Aku mendengar suara dentingan sendok dan piring di dapur. Pasti Imah baru sempat makan malam.
"Mas, aku mau ngobrol sama Imah dulu ya."
"Mas juga ikut dong dek!"
"Dari tadi di kios emang nggak ngobrol?"
"Ya...ngobrol biasa aja sih. Kali aja Imah mau ngobrol soal rencana pernikahan nya?"
"Oh, iya juga sih. Ya udah ,ayok!"
Benar tebakan ku, Imah baru saja menyendok nasi kemulutnya.
"Eh, mbak ku...mas ku...makan yuk!", tawar Imah.
"Iya, makan aja. Nanti selesai makan, kita ngobrol yuk Mah!", ajakku. Aku merasa sejak kepergian Feby, aku dan Imah kurang berinteraksi.
"Oke mbak. Tunggu ya!", kata Imah.
"Pelan aja. Kita tunggu di depan tv aja ya!", aku berdiri meninggalkan meja makan.
Mas Aziz sedang membuat kopi untuk nya sendiri. Lalu membawa ke depan tv.
"Lha, kok bikin sendiri mas? Kenapa nggak nyuruh aku?"
"Nggak apa-apa lah, cuma kopi aja!"
Mas Aziz duduk di sampingku. Aku sengaja memilih duduk di dekat pintu kamarku. Agar aku mendengar kalau-kalau Diaz terbangun.
Usai mencuci piring nya, Imah menyusul duduk di depan tv bersama kami.
"Mah, gimana persiapan pernikahan kamu?", tanyaku. Mas Aziz fokus melihat berita di tv.
"Em...Imah...kayanya harus balik ke malang dulu deh mbak!", kata Imah.
"Ngapain ke malang lagi Mah?", tanya Aziz.
"Kan surat-surat Imah di sana mas."
"Terus gimana?"
"Ya...niatnya , Imah mau bikin surat pindah dulu ke sini. Setelah itu, Imah bikin surat rekomen numpang nikah di sini."
"Owh...emang bisa cepet ya mah ngurus surat pindah?"
"Nggak tahu mbak. Mungkin bikin surat numpang nikah dulu, nanti surat pindah nya nyusul. Yang penting Imah balik dulu ke malang. Lagi pula...Imah juga udah lama belom ziaroh ke makam bapak."
Ziaroh makam? Iya, aku pun sama. Terakhir ke sana kapan? Ya Allah, anak macam apa aku ini. Aku berkata dalam hatiku.
"Kira-kira rencananya kapan? Mau pergi sama siapa?", tanya Aziz.
"Kapan ya mas? Sendiri aja deh!"
"Kok sendiri? Nggak sama kang Dadan?", tanyaku.
"Kang Dadan sih mau mbak, tapi kan...dari kemaren warung nya ditinggal-tinggal Mulu. Belum lagi warung nya yang baru."
"Tapi kan ada orang kepercayaannya?", kata Aziz.
__ADS_1
"Udah, Imah bisa sendiri kok! Imah biasa ke mana-mana sendiri."
"Kenapa nggak kamu aja yang nemenin mas?"
"Kalau aku nemenin Imah, kamu sama Diaz doang di rumah?"
"Ya...nggak apa-apa lah mas. Dulu....!"
"Jangan samain dulu dan sekarang dong dek. Sekarang ada Diaz yang juga harus di jaga."
"Wes ...wes ..Ndak usah debat. Dibilang Imah bisa sendiri kok."
"Tapi mah, mbak kan khawatir...!?"
"Mbakku yang paling cantik, makasih udah khawatir sama Imah. Tapi, mbak tenang aja. Insyaallah, Imah bisa jaga diri sendiri kok."
"Ya sudah kalau begitu", jawaban pasrah.
"Kamu ke pulang kampung naik pesawat aja mah!", kata Aziz.
"Moh ah, Wedi aku mas. Imah mau naik bis aja kaya biasanya."
"Kalau naik bis kan lama imah....!"
"Ya nggak apa-apa mas. Naik bis itu ada rasa apa ya....pokoknya seru-seru gimana gitu lah!"
"Ya wes. Sakarepmu mah!", kata Aziz.
"Heheheh....Yo wes, kalau hari Minggu besok boleh toh?"
"Iya...boleh!", sahut Aziz.
"Makasih masku....mbakku....!", Imah memelukku.
"Udah malem, tidur sana. Anak perawan jangan suka begadang!", pintaku.
"Hehehe...anak perawan, tapi status nya beda mbak?!"
"iya, bentar lagi juga ganti status kok. Jadi nyonya Dadan Ramdani. Besok udah ngga bisa ngomong 'Opo' bisanya 'naon-naon' gitu." Aku meledek Imah yang memang suka berbahasa Jawa medok.
"Nanti, kang Dadan yang ngikutin omongan Imah mbak....!"
"Iya mah...iya....!"
"Yo wes, Imah balik ke kamar ya!"
"Iya." Sahut ku dan mas Aziz bareng-bareng.
Aku berdiri dari sofa akan ke kamar. Tapi mas Aziz meraih tangan ku.
"Dek, kenapa nggak nonton tv dulu?"
"Ya udah, mas juga ikut rebahan deh!"
Mas Aziz menyusul ku di belakang.
Aku menengok Diaz sebentar. Seperti nya Diaz masih belum haus jadi belum terbangun.
Aku merapikan bantal sebelum merebahkannya diri.
"Sayang....!", kata mas Aziz lirih.
"Nggak. Aku capek mas!"
"Yah....kok gitu sih dek!"
"Mas, maaf ya...kali ini aku beneran capek."
"Ya udah...ya udah....!", kata Aziz mengalah.
"Oh iya dek. Baju Fai udah kamu cuci kan?"
"Baju apaan? "
"Itu yang di ransel? Merusak pemandangan tahu nggak!"
"Dih, biarain sih. Baju nya dia kok. Ngapain aku yang harus repot nyuciin. Ogah ah!"
"Emang baju Fai itu ada najisnya?", tanya Aziz.
"Yang bener aja sih kamu mas. Masa aku disuruh nyuciin bajunya? Emang aku kang londri? Kamu aja sana!"
"Ya kali...kalau mau berbuat baik jangan nanggung-nanggung."
"Nanggung apanya? Oh iya...tuperware ku mas????!!!"
"Ya ampun dek, timbang kotak nasi aja ....!"
"apa katamu mas? Cuma? " Mataku melotot. Kaum Adam tidak tahu rasanya kehilangan tuperware seperti apa.
"Iya...iya... besok mas minta!", kata Aziz takut-takut.
"Ya udah ah, aku mau tidur!"
"Iya...selamat istirahat ya sayangkuh."
"Hem....!", sahutku.
__ADS_1
Sebenarnya apa sih yang di pikirin mas Aziz? Yang bener aja, aku suruh nyuci baju kotor nya mas Fai? Bukan masalah najis enggaknya, tapi di rasa kok kurang etis banget sih? Apalagi kalau suruh pegang kain segitiga nya ....?
Iiiihhhj....aku bergidik ngeri.
******
Aku terbangun karena suara mesin cuci sudah menderu-deru sejak sebelum azan subuh. Mataku tertuju pada jam dinding. Masih jam empat. Aku meraba mas Aziz, dia sudah bangun? Jangan-jangan dia yang nyuci lagi.
Aku pun bergegas menuju teras belakang. Tempat aku mencuci pakaian.
Benar dugaan ku, mas Aziz sudah memasukkan pakaian kotor kami. Yang menarik perhatian ku, ransel mas Fai ada disini.
"Mas!", panggil ku.
"Dek, kamu udah bangun?"
"Yang kamu lihat?"
"Dek, kamu kan ga mau cuciin baju Fai. Ya udah mas aja!"
"Sebenarnya kamu itu kenapa? Kenapa tiba-tiba sebaik itu sama Fai?"
"Kenapa ya? Lagi pengen berbuat baik aja sih dek!"
"Aneh!"
Azan subuh berkumandang.
"ya udah, kita solat dulu yuk!", ajak mas Aziz.
"Iya."
Kami pun solat berjamaah di kamar. Diaz masih tertidur pulas di boxnya.
Aku tak tega melihat mas Aziz mengerjakan pekerjaan ku. Baiklah, kali ini aku mengalah.
"Dek, mas lanjut nyuci lagi ya!", pamit mas Aziz sambil melepaskan sarung nya.
"Udah mas. Nggak usah. Biar aku aja!"
"Tapi dek...kan ada bajunya Fai!"
"Iya. Nggak apa-apa. Pake mesin cuci ini. Tapi, besok-besok nggak ada sok-sokan berbuat baik ke dia. Apalagi nyuciin bajunya mas Fai."
"Makasih sayangku....makasih!", mas Aziz memelukku.
"Apaan sih mas....!"
"Mas semakin yakin...kalau istri mas ini, benar-benar amat sangat mencintai mas!"
"Maksudnya? Selama ini mas nggak yakin aku mencintaimu mas?"
"Heheheh bukan gitu sayang. Pokoknya mas makin sayanggggg banget sama kamu."
"Ya udah, iya...iya. Aku ke belakang lagi ya. Jagain Diaz."
"Siap nyonya."
Aku pun beranjak ke dapur. Menyiapkan beras untuk ku masak di magicom. Setelah itu, aku kembali ke ruang cuci pakaian.
Cucian kami sudah dalam mode mengering kan. Ini pekerjaan mas Aziz dari sebelum subuh. Dan sekarang....aku harus membuka ransel itu.
Hah! Kenapa aku harus menyentuh barang pribadi nya?
Aku keluarkan pakaian kotornya. Aroma parfum nya masih tercium. Dia masih menggunakan parfum favorit ku yang pernah aku pilihkan untuk nya.
Aku mulai memasukkan celana panjang, kaos dalam dan kemeja serta kaos oblong nya. Eh... ternyata ada kancutnya! Dengan menggunakan jari dan jempol ku, aku meletakkan barang itu kedalam mesin. Buru-buru aku memasukkan ke dalam mesin.
Di balik pintu, Aziz mentertawakan tingkah isterinya. Setelah itu, dia kembali ke kamar.
Aku meraih ransel nya. Mungkin masih ada barang yang perlu di cuci. Benar. Ada sapu tangan berwarna biru.
Ini...sapu tangan pemberian ku?
Kupandangi inisial di masing-masing pojokan.
ARDS.
Ya ampun mas Fai, kamu masih menyimpan nya? Apa yang ada dalam pikiran mu mas???
Aku kembali memasukan nya ke keranjang. Sambil menunggu cucian mas Fai, aku menjemur pakaian kami sekeluarga.
Setelah itu, aku kembali ke dapur. Menyiapkan untuk sarapan. Ternyata Diaz sudah bangun, mas Aziz mengantarkan padaku.
"Dek, Diaz kasih ***** dulu deh. Kerjaan nya ntar lagi."
''Iya mas.Oh, iya itu kopinya."
"Makasih sayang....!"
Mas Aziz pun membawa cangkir kopinya ke depan tv. Sedang aku, aku memilih duduk di sofa untuk menyusui Diaz.
Menikmati rutinitas pagi, hal yang saat itu pernah aku inginkan. Dan saat ini...semua menjadi nyata. Alhamdulillah, terimakasih ya Allah.
*******
Numpang promosi boleh lah ya... liat-liat karya saya yang lain. Judulnya "Menikahi mantan kekasih ibu tiriku"
__ADS_1
& "Cinta kita sama , Iman kita yang berbeda"
Makasih....maapkeun yang kurang berkenan. Mamak benar-benar othor amatir 😁😁😁😁🙏🙏🙏