
Aziz sudah menyelesaikan urusannya dengan Rasyid. Dan semoga saja kali ini Rasyid tidak akan berulah kembali. Mbak Imas pun tetap tenang menjalani kehidupan rumah tangganya. Andai Rasyid mencoba bermain-main lagi dengan Aziz, dia tak segan-segan membuat nya mati kutu.
"Masalah sudah selesai! Saat nya memberikan kejutan untuk istri tercinta."
Aziz bermonolog dengan riangnya. Sebelum ia menuju bandara, ia lebih dulu menemui mama Farah dan kakak serta keponakannya, Aqeela.
.
.
.
Meeting dengan Oliver pun sudah selesai. Saatnya bertemu dengan Karen.
"Karen juga menginap di sini lho Ra?!", kata Oliver.
"Kak Ben, Karen pernah bilang waktu itu balik ke sini. Belum sempat ketemu, dia udah balik ke Singapura lagi."
"Beberapa bulan lalu ya? Iya, Karen sempat keguguran. Makanya, dia langsung balik ke Singapura. Kan kamu tahu sendiri, dia udah nggak punya siapa-siapa di sini? Jadi mau nggak mau kan ortu ku yang ngurusin."
"Hem. Iya ...sih!"
"Ya udah, kita temui Karen sekarang?"
"Ayok?????!!!", kataku semangat. Aku dan Oliver berjalan beriringan. Sedangkan Julian, berjalan di belakang kami.
Ponsel Julian bergetar.
"Kalian duluan aja. Aku mau angkat telpon dulu!", kata Julian sambil menjauh dari ku dan oliver.
Aku dan Oliver bercanda sambil mengingat-ingat kenangan ku bersama Karen semasa kuliah dulu.
Entah kenapa tiba-tiba kepala ku pusing. Hampir saja aku terjatuh. Tapi, Oliver menangkap ku dengan sigap.
Jepret!!!!!
Ada seseorang yang menangkap momen itu.
"Are you okay?", tanya Oliver cemas.
"Iya kak. Aku baik-baik saja!"
Akhirnya kami berhenti di depan pintu kamar hotel. Niat hati mau bikin kejutan buat Karen, malah aku yang terkejut saat dia histeris memanggil namaku. Dan langsung menyeretku ke dalam kamar nya.
Spontan,aku pun mengekor karen.
Di ujung lorong, seseorang kembali mengambil momen epic di depan kamar hotel itu.
Bukan hanya foto, tapi juga video dimana Dian masuk ke dalam kamar dan di susul oleh Oliver yang sedari tadi menyunggingkan senyuman nya.
Usai menangkap momen itu, orang itu buru-buru meninggalkan lorong itu. Dan tanpa sengaja menabrak Julian.
Brukkk....
"Im sorry mister!", kata orang itu.
"Its okey!", jawab Julian singkat.
Dia siapa? Ngapain buru-buru begitu di tempat sepi begini? Pikir Julian.
Selang berapa lama, Julian pun turut masuk ke dalam kamar Karen.
"Nah...kan Aspri Lo Dateng!", kata Karen.
__ADS_1
"Hehehe bukan Aspri Ren, teman debat mah iya hahahaha!", kataku.
Julian mencebikkan mulutnya.
Andai saja kamu masih sendiri Diandra, aku ingin kamu bergabung jadi anggota keluarga ku juga seperti Karen. Batin Julian.
"Eh, ngomong-ngomong Diaz udah bisa apa?", tanya Karen.
"Udah belajar berdiri sih, tapi ya masih jatoh-jatoh. Maklum lah ya ...baru mau sembilan bulan."
"Wah...lucu banget ya???!", kata Karen.
"Terus, Theresia kenapa nggak kamu ajak?"
"Mami nggak ngijinin!", kata Karen.
"Boong! Gimana mau ngijinin Ra. orang kita abis ini mau bulan madu, masa bawa There", sahut Oliver.
"Ciye... bulan madu....!"
Karen tersenyum malu.
"Iya Ra. kemarin pas ke sini, gue sempet keguguran. Jadi.... sekarang, kita lagi usah lagi deh?"
"Hemmm..!!!"
"Aspri Lo tuh Ra, tunangan dah lama banget nggak nikah-nikah!", kata Karen.
"Tau nih, kawin Mulu. Nikah kagak!", Oliver menimpali.
Hah? Apa maksud Karen?
"Apaan sih!" kata Julian datar.
"Nggak tahu lah. Belum pengen berkomitmen."
Ujar Julian santai.
"Emang nunggu apa lagi mas Jul?", tanyaku.
Kalau boleh, nungguin kamu Dian. Sayangnya...kamu sudah ada yang punya. Batin Julian.
"Heh!? Nunggu apa ? Nggak tahu."
"jangan bilang, nunggu stevi ya? Dia udah di teng-tengin sama Damar!", kataku.
"Apa itu di teng-tengin?", tanya Oliver dan Julian bersmaan.
Aku dan Karen tertawa bersama -sama.
"istilah yang tepat apa ya Ra?", tanya Karen.
"Nggak tahu deh. Pokoknya mah, Stevi udah ada yang punya."
"Wait, Stevi.... anaknya om Stevanus?", tanya Oliver.
"Iya. Kenal juga kak?"
"Mereka kan dari kecil sama-sama, gimana nggak kenal."
"Tapi...bukannya, Stevi udah lama ngilang ya?", tanya Oliver.
"Stevi ada di rumah ku kak?!"
__ADS_1
"Oh ya? Gimana dia sekarang? Makin seksi dong?", tanya Oliver.
Sontak, pukulan kencang mendarat di lengan Oliver.
"Beib...owh...sakit!!", pekik Oliver.
"Ngapain nanya-nanya seksi apa nggak Stevi sekarang? Aku kurang seksi hah??", kata Karen kesal.
"Sssttt ...jangan salah sangka Ren. Stevi mualaf, dia pake jilbab yang gede kok!"
"Hah?"
"Biasa aja mangapnya....!"
"Stevi mualaf Ra?", Oliver meyakinkan.
"Iya."
Oliver pun menggut-manggut. Kami pun mengobrol banyak hal kali ini. Julian masih dengan mode es batu nya. Dingin! Meskipun ia berada di lingkungan saudara nya sendiri.
.
.
.
.
.
Sebuah notifikasi dari aplikasi hijau milik Aziz berbunyi.
Ting...Ting....
Aziz menerima video dari nomor yang tidak ia kenal. Di dalam video itu, yang hanya beberapa detik menunjukkan saat Fai dan Dian tak sengaja saling bertabrakan di depan ruangan Dian. Terlihat jelas saat Fai tak sengaja mencium puncak kepala istrinya. Dan begitu juga saat wajah Dian terbenam di dada bidang Fai.
Mereka terlihat saling diam dan bicara 'maaf' secara bersama-sama mungkin. Sampai akhirnya Fai menarik tangan Dian sesaat. Tapi Dian menampiknya dan berlalu meninggalkan Fai.
Aziz mencoba menenangkan perasaan nya yang sudah terbakar cemburu. Dadanya memang terasa sesak, tapi dari video itu dia tahu jika mereka memang tidak sengaja. Lagi pula, keduanya juga sudah mengatakan hal itu kemarin. Jadi, mereka tidak salah bukan? Tidak ada yang mereka rahasia kan dari Aziz.
Siapa yang dengan sengaja mengirim video ini? Niat banget ya? Kok bisa kebetulan pas sekali dengan momen mereka bertabrakan? Apa memang ada yang mengawasi Dian? Atau mengawasi Fai?
Aziz mencoba menerka-nerka dalam hatinya.
Di dalam pesawat, Aziz Masi terus berpikir. Diandra sekarang, bukan Dian yang dulu. Dia harus ada yang selalu melindungi. Dan...Julian tentu saja tidak bisa sepenuhnya mendampingi Dian kapan pun. Musuh-musuh di dunia bisnisnya pasti banyak yang ingin menjatuhkan istrinya. Tapi...apa tujuan orang itu mengirim video itu pada Aziz?
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Aziz menatap awan putih di jendela pesawat. Pikirannya menerawang ke tempat dimana istri dan anaknya berada.
Semua berjalan lebih cepat dari rencana awal. mbak Imas yang sudah mulai pulih, masalah Rasyid yang sudah selesai pula. Kini, ia benar-benar harus fokus untuk butik dan juga membantu perusahaan istrinya.
Apa reaksi Dian saat aku sudah ada di rumah ya? Padahal.... rencananya dua hari aku di Surabaya. Tapi kenyataannya, aku hanya menginap semalam di sana.
Mas kangen banget sama kamu dek, Diaz....! batin Aziz.
*****
Hayo? Siapa yang udah nangkep momen kebersamaan Dian dan Fai? Kebetulan yang pas y?
Lalu? Bagaimana dengan pertemuan Dian dan Oliver? Ada dampak nya kah untuk hubungan Dian dan Aziz????
π€π€π€π€π€π€π€π€π€π€
Bantu cari ide gaes βοΈβΊοΈπ
__ADS_1