
"Sudah kenapa ma acara peluk-pelukkannya!", mas Aziz merajuk.
"Ciye ngiri...ciye....", ledek Imah.
"Kenapa? mau gantian?", ledekku.
"Dih... apaan.Gak lah.Emang lagi acara reality show gitu?Big NO!",kata mas Aziz.
"Di,sejak kapan suami mu begini?", tanya mama.
"Sejak bergaul sama Imah ma,ketularan anehnya." kataku.
"Enak aja!", sahut suamiku.Iya,memang sejak kehadiran Imah di rumah ini sisi humor mas Aziz jauh lebih baik.Sudah nggak dingin,kaku pula.
"Emang aku aneh opo toh mbak?",kata Imah manyun.
"Gak.Amit...amit...jabang bayi,kamu jangan kaya tantemu itu ya jagoan ibu!",kataku mengelus perut buncitku.
"Jagoan?Cucu mama jagoan?Alhamdulillah." Kini mama yang menghujani ku dengan ciuman dan pelukan hangat.Apakah mama benar-benar sudah berubah?
"Insyallah ma...", jawabku.
"Aduh....dasar emak-emak."kata mas Aziz mencebikkan mulutnya.
"Eh...mas,aku belom emak-emak lho." Imah menyahut.
"Iya,tapi kan pernah jadi istri orang.Sudah emak-emak dong!" kata mas Aziz ga mau kalah. Udah,cocok mereka berdua berantem begitu. Pantas saja,tiap kali mereka berantem aku melihat ada kesamaan pada diri mereka. Dan...ini lah jawabannya.Karena mereka memang bersaudara.
"Pernah jadi istri orang?Wait...wait....kok kamu bisa nyasar ke sini Imah?", tanya mama.
"Ceritanya begini Bu ....", Imah mau mengulang ceritanya .
"Tante....Imah, bukan Bu."kata mama.
"Sayang, lmas ke kamar dulu ya.Capek mau istirahat.Kalian ngobrol aja dulu."kata mas Aziz berlalu.
"Iya mas."sejenak,kulupakan kemarahan ku tadi siang gara-gara bertemu Lili lagi.
"Oh...iya Tante...maksud saya itu."
Lalu Imah menceritakan awal mula nya ia menikah dan sampai akhirnya bekerja disini. Dan,aku pun tertidur disofa dengan posisi duduk.Entah setelah itu,apa yang Imah dan mama obrolkan.Aku tak mendengarnya.
Aku terbangun saat azan magrib berkumandang.
"Astagfirullah....",aku bangun karena kaget.Tapi sekarang aku sudah berbaring ditempat tidur. Perasaan tadi aku duduk di sofa?
"Capek banget ya dek?", tanya mas Aziz yang sudah rapi dengan baju koko dan sarung nya.
__ADS_1
"Kamu ga bangunin aku sih mas?", kataku beranjak ke kamar mandi.
"Pelan saja dek.Jangan buru-buru gitu."
Aku pun mandi kilat,lalu menunaikan salat magrib sendiri.Karena mas Aziz pasti sudah berangkat ke mushola.
Aku panjang kan zikir ku,sampai mas Aziz pulang dari mushola.Dia menghampiri ku,lalu mengusap perut ku sambil mengecup puncak kepalaku.
"Sayang...kamu tahu nggak.Tadi,ibu mu bobo di sofa." kata mas Aziz.Aku mencubit lengannya.
"Aw...", pekik nya.
"Kenapa kamu ga bangunin aku sih mas,mama mana?Terus,kok aku bisa tiba-tiba bangun sudah ada di kamar?", cerocos ku.
"Satu-satu kenapa tanyanya.Mama sudah pulang,tadinya mas suruh nginep.Tapi mama bilang,mau beresin rumah dulu.Kan udah lama di tinggal.Mama juga cerita,mba Imas udah nikah sama orang Surabaya.Sayangnya dia ga ngabarin kita." kata mas Aziz.
"Terus,aku gimana pindah ke sini?", tanyaku.
"Digotong Imah sama mama!", katanya bangun dari duduknya.
"Masa sih?Kayanya nggak mungkin!"
"Iya jelas nggak mungkin.Memang siapa lagi yang kuat ngangkat kamu kalo bukan mas mu?", tanyanya balik.
"Tuh kan....aku berat ya mas?", tanyaku.
"Kok gitu jawabnya? Kamu mau bilang aku gendut banget ya mas?".
"Enggak.Mas ga bilang apa-apa.Kan mas bilang mas kuat ngangkat kamu.Berati belum gendut banget, tapi....gendut doang."jawaban sambil tertawa.
"Iihhh...kamu mas!", kataku mencubit perutnya yang sekarang sedikit membuncit.
"Mas,perut mu juga sekarang gede lho mas. Nih,lemaknya diperut.... lipatannya bisa dihitung.Hahahha." gantian aku yang mentertawakannya.
"Kan gara-gara kamu dek.Tiap kamu makan ga habis,mas yang habisin."
Aku tersenyum mengejek.
"Jadi, siapa yang gendut?", tanyaku.
"Iya,mas yang gendut deh."
Kami tertawa bersama.Sudah berapa lama kami tak pernah bercanda seperti ini hingga tawa kami lepas.
"Tadarus bentar ya.Sambil nunggu azan isya."
"Siap bos!", aku pun turut membaca kitab suci ku.Kami membaca surat yang sama.Surat Yusuf.Semoga...kelak anak kami setampan Yusuf, begitu pula dengan akhlaknya.
__ADS_1
Bersamaan dengan kumandang azan isya, tadarus kami pun usai.Lalu kami solat berjamaah.
"Dek, mas ke depan ya."katanya beranjak dari duduknya.
"Iya, nanti aku nyusul!''.
"Jangan, kamu istirahat saja.Kasian Dede bayi diperut, kecapekan."
"Nggak mas. Bentar aja kok!", sahutku.
"Ya sudah. Mas ke depan duluan.Kamu makan saja!".Aku pun mengangguk,dari pada mendengar dia yang sekarang pandai mengomeli ku.
Sepeninggal mas Aziz,aku beranjak ke dapur. Makan nasi dengan lauk seadanya.
Sudah lewat jam 8, mas Aziz masih belum kembali ke rumah. Lebih baik aku ikut ke kios. Lagipula aku sudah tidur sejak sore tadi. Energi ku sudah lebih baik.Ternyata kios memang sedang ramai.Pantas dia belum kembali ke rumah. Aku berinisiatif membantu mas Aziz dan Imah.Kulayani semampuku para pelanggan kami.
Akhirnya... sekitar jam 9, kios mulai sepi. Kami bertiga bernafas lega. Alhamdulillah untuk rejeki hari ini.Bisa liburan, bertemu mama, mengetahui kalau ternyata Imah bukan orang lain.
"Alhamdulillah, rejeki anak Soleh." kata mas Aziz menghitung pendapatan kios yang baru buka habis magrib tadi.
"Alhamdulillah." kataku dan Imah bersamaan.
"Mah, ternyata....kamu itu kan bukan orang lain buat mas Aziz gimana kalau kamu pindah ke dalam aja?".
"Hahaha....nggak mba.Aku disini saja lah. Sudah terbiasa nyaman disini." jawab Imah santai.
"Maafkan mbak ya mah, kalau perlakuan mbak selama ini kurang baik sama kamu." kataku.
"Kurang baik apa nya sih mbak.Mbak tuh kelewat baik sama aku, nggak kaya yang itu...tuh...", kata Imah menunjuk mas Aziz dengan dagunya.
"Sopan dong.Sama bos nih!", kata mas Aziz bergaya.
"Sakarepmu bos....!", kata Imah sambil tertawa.
"Sudah dong mas, kalian tuh bersaudara sudah sama-sama tua jangan kaya bocah deh suka berantem."
"Siapa yang mulai coba dek?!", ketus sekali mas Aziz.
"Udah...udah...deh. Imah...mau ya pindah ke dalam." bujukku.
"Mbak ku yang paling cantik,maaf.... sekali bukan maksud menolak ajakan mbak. Tapi bener deh,Imah lebih nyaman disini. Jadi berasa punya rumah sendiri. Heheheh....", sahutnya.
"Ya sudah kalau begitu, mbak ga akan maksa."
"Tutup kios mah.Sudah malam, capek juga kan kamu." kata mas Aziz.
Akhirnya kios pun tutup. Tidak bisa di pungkiri,rasa leleh memang sudah mendera tubuh kami.
__ADS_1